Daftar Blog Saya

Sabtu, 31 Desember 2022

MESIR DALAM KITAB SUCI

 



Suatu peradaban kuno di sepanjang Sungai Nil di Afrika timur laut, dan suatu lambang belenggu dan perbudakan yang kuat di dalam Kitab Suci. Sejarah Mesir sudah lima ribu tahun umurnya, dan bagi sebagaian besar dari keberadaan Israel kehadiran Mesir merupakan bayangan buruk.

      Hingga penaklukan Persia, Mesir diperintah oleh para Firaun, seorang raja-bagaikan dewa yang mempunyai kekuasaan mutlak. Masyarakat dikendalikan dengan ketat sekaligus diatur dengan baik. Orang Mesir terutama sangat piawai memeras tenaga pekerja rodi seperti yang ditunjukkan dalam pembangunan priramida-piramida.

 

I. PEMBABAKAN SEJARAH MESIR

Seorang imam kafir dari Mesir yang bernama Manetho pada abad ketiga SM menulis suatu sejarah Mesir yang masih bertahan dalam rupa fragmen-fragmen dan berbagai ikhtisar. Pembabakan yang dibuatnya atas sejarah Mesir, dengan berbagai tambahan dan perubahan, menjadi dasar yang berguna bagi para ahli sekarang:

Masa Pra Sejarah – Pra Dinasti (10.000 – 3300 SM).

Masa Kuno – Dinasti 1-2 (2920-2575 SM)

Kerajaan Lama – Dinasti 3 – 8 (2575 – 2134 SM)

Masa Antara Pertama – Dinasti  9 – 10 (2134-2040 SM)

Kerajaan Tengah – Dinasti 11-12 (2040-1640 SM)

Masa Antara Kedua – Dinasti 13-17 (1640-1550 SM)

Kerajaan Baru – Dinasti 18-20 (1550-1070 SM)

Masa Antara Ketiga – Dinasti 21-25 (1070-712 SM)

Periode Akhir – Dinasti 26-30 dan Periode Persia (712-332 SM)

Periode Yunani- Roma – Dinasti Ptolemeus dan pemerintahan provinsi Roma (332SM – 395 M).

 

II. PADA MASA PARA BAPA BANGSA

Mesir sudah kuno pada masa Abraham, yang oleh kebanyakan para ahli diperkirakan mengunjungi Mesir (Kej 12:10-20) pada awal Masa Kerajaan Tengah. Yusuf muncul sebagai pegawai pemerintahan Mesir beberapa generasi sesudah Abraham (Kej 41:39-40). Ia memanfaatkan pemerintahan Mesir dan organisasinya yang efisien dan membuat persediaan gandum selama tujuh tahun panen raya sehingga negara itu dapat mengatasi masa kelaparan tujuh tahun berikutnya (Kej 41:34-36). Selama masa wabah kelaparan itu seluruh keluarga Yakub pindah ke Mesir, di mana mereka disambut dan diberi lahan untuk menggembalakan ternak mereka (Kej 45:16-46:7).

 


III. PADA MASA KELUARAN

Selama Masa Kerajaan Baru, Mesir membangun suatu kerajaan yang terbentang dari Sudan hingga Efrat. Para ahli pada umumnya menempatkan peristiwa Keluaran dan penaklukan Kanaan dalam periode ini – di masa firaun-firaun baru yang “tidak lagi mengenal Yusuf”, dan mengikuti kecurigaan umum atas orang-orang asing sebagai alasan untuk memperbudak keturunan Yakub (Kel 1:8-11). Keluaran dari Mesir merupakan peristiwa yang sangat menentukan dalam sejarah Israel: ceritanya dicantumkan dalam empat kitab : Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan, dan bangsa Israel selalu mengingat Allah mereka sebagai Dia “yang membebaskan kamu dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan” (Kel 20:2; bdk Yos 24:17; Hak 2:12; 6:8; 1 Sam 8:8; 10:18; 1 Raj 8:16; 9:9; 2 Raj 17:7; Neh 9:9; Mzm 81:10; Yer 16:14).

 

IV. PENGARUH ATAS ISRAEL DAN YEHUDA

Mesir tidak dapat mempertahankan cakar kekuasaannya atas bangsa Israel, atau atas negeri Palestina atau atas negeri-negeri jajahan lainnya, tetapi ia tetap merupakan kekuatan besar di dalam politik Israel dan Yehuda. Firaun Sisak (oleh sejarawan Mesir dikenal sebagai Sosenk I, memerintah dari 945 hingga 924 SM) menyerbu Palestia dan menaklukkan Yerusalem (1 Raj 14:25-28; 2 Taw 12:2-9). Pengepungan Asyur atas Yerusalem pada masa pemerintahan Hizkia merupakan bagian dari perang besar Asyur dengan Mesir (bdk 2 Raj 19:9; Yes 37:9). Firaun Neko (Neko II) melakukan peperangan menahan naiknya kekuatan baru Babilon: Raja Yosia merintangi jalannya dan tewas karena luka di pertempuran Megido. Neko mengangkat Elyakim, putera Yosia, menjadi raja alih-alih Yoahaz, dan mengganti namanya menjadi Yoyakim (bdk 2 Taw 35:20). Neko dikalahkan di Karkemis pada tahun 605 oleh Nebukadnezar, dan dalam konflik selanjutnya Yehuda dan Yerusalem sama-sama dihancurkan, banyak penduduk Yehuda melarikan diri ke Mesir dengan membawa nabi Yeremia (Yer 41-44). Maka, dalam masa Pembuangan, peristiwa Keluaran secara simbolis terbalik keadaannya: Israel kembali lagi dibelenggu (bdk Yer 23:7-8).

 


V. PADA MASA MAKABE

Persia memperlakukan Mesir sebagai suatu satrapi (provinsi) dari kerajaannya. Efektivitas pemerintahan provinsi itu berbeda-beda derajatnya sampai Aleksander Agung menaklukkan Mesir di tahun 332. Aleksander mendirikan suatu kota baru, Aleksandria, yang menjadi ibukota baru bagi Mesir. Masa pemerintahan Makedonia yang singkat (332-304 SM) berakhir ketika mantan panglima perang Makedonia, Ptolemeus I Soter, yang mencuri jenasah Aleksander Agung memaklumkan diri sebagai raja Mesir. Dinasti Ptolemeus berlangsung dari 304 hingga 30 SM, dengan meluaskan pengaruh Helenisasi atas pemerintahan di Mesir. Aleksandria berkembang dan merupakan pemimpin dalam hal kebudayaan, intelektual dan perdagangan dunia kuno. Pada masa Makabe, Yudea sekali lagi terperangkap dalam persaingan antara Mesir (di bawah Ptolemeus) dan sebuah kerajaan kuat Timur Dekat (kerajaan Seleukus).

      Dengan kematian Kleopatra VII pada tahun 30 SM setelah kalah bersama Markus Antonius dalam pertempuran di Actium tahun 31 SM, Mesir jatuh ke tangan kekuasaan Roma dan dicaplok menjadi wilayah kekaisaran Roma.


 

VI. DI MASA PERJANJIAN BARU

Pada masa Perjanjian Baru ada komunitas besar Yahudi di Mesir (Yahudi Diaspora). Setelah kelahiran Tuhan, Yusuf diberitahu malaikat agar pergi ke Mesir membawa Maria dan kanak-kanak Yesus untuk menjauhi Herodes (Mat 2:13). Mereka tinggal di Mesir setidaknya satu atau dua tahun. Kemudian Yesus keluar dari Mesir, dan secara simbolis mengulangi Keluaran (Mat 2:15). Di tempat lain dalam PB, Mesir biasanya disebut dalam konteks cerita dalam kitab Kejadian atau Keluaran. Kitab Wahyu mengungkapkan kejahatan Yerusalem dengan menyebutnya “Sodom dan Mesir” (Why 11:8), sekali lagi menggunakan Mesir sebagai lambang belenggu rohani.

      Kekristenan didirikan di Aleksandria pada abad pertama M. Paulus tidak mengajar di sana tetapi Santo Markus secara tradisi dihormati sebagai pemimpin jemaat Kristen Mesir. Menjelang abad kedua, sudah ada himpunan umat beriman yang terorganisasi dengan baik di Mesir.

PAUS EMERITUS BENEDIKTUS XVI WAFAT. RIP

 "Dengan sedih saya memberitahukan, bahwa Paus Emeritus Benediktus XVI telah wafat hari ini pkl 09.34 waktu Roma. Vatikan akan memberitahukan informasi selanjutnya", demikian Jurubicara Vatikan Matteo Bruni.

Paus Emeritus Benediktus XVI  tutup usia 95 tahun pada hari ini Sabtu, 31 Desember 2022, pada pukul 14.34 WIB di kediaman beliau Biara Mater Ecclesia Vatican Garden setelah kesehatan beliau merosot sejak hari Rabu yang lalu karena usia tua.

Baca juga: DOA UNTUK PAUS EMERITUS BENEDIKTUS XVI


Beliau sempat mengikuti Misa yang khusus dipersembahkan Paus Fransiskus untuk kesejahteraan beliau tadi malam di kamar beliau. Umat Keuskupan Roma juga memersembahkan Ekaristi khusus untuk mendoakan beliau kemarin senja.


Vikaris Uskup Roma Kardinal Angelo de Donatis yang memimpin perayaan Ekaristi Keuskupan Roma di Basilika Yohanes Lateran pkl 18.30 (pkl 23.30 WIB) menyatakan bahwa sebagai "Imam, Teolog, Uskup, dan Paus, Emeritus Benediktus XVI serentak menunjukkan kekuatan dan manisnya iman, esensi dan kesederhanaan dari seorang yang tahu bahwa jika bersama Tuhan, impiannya akan menjadi kenyataan". Basilika Yohanes Lateran dipilih Paus Benediktus XVI sebagai katedralnya semasa menjadi Paus, Uskup Roma. Perayaan Ekaristi kemarin dimaksudkan untuk mengantar Paus Emeritus XVI dalam langkah terakhir peziarahannya di dunia.


Pada Senin pagi 2 Januari 2023 jenazah Paus Emeritus Benediktus XVI akan disemayamkan di Basilika St Petrus Vatikan agar umat dapat menyampaikan penghormatan terakhir.

Upacara pemakaman akan dilaksanakan pada 5 Januari 2023 dipimpin Paus Fransiskus di Lapangan St Petrus pkl 09.30 waktu Roma atau 14.30 WIB.

Selamat jalan, Bapa Suci Emeritus Benediktus XVI.

Baca Juga: KESEHATAN PAUS EMERITUS BENEDIKTUS XVI MEMBURUK

MUSA

 


Musa adalah pendiri dan pemimpin pertama bangsa Israel. Tuhan memilih Musa untuk tugas ini, yang meliputi misi memimpin Israel keluar dari Mesir, melewati padang gurun Sinai, menuju ke Tanah Terjanji Kanaan (Kel 3:1-22).

      Nama “Musa” dikaitkan dengan bahasa Ibrani masa, “menarik keluar”. Kaitan ini dibuat dalam Kel 2:10, di mana puteri Firaun menamainya Musa karena ia “menariknya [keluar] dari air”. Yang lain mendapatkan permainan kata dengan kata kerja bahasa Mesir msi, yang berarti “melahirkan”.

 

i. Hidupnya dan Kepemimpinannya

ii. Atribut dan Gelar Musa

A. Penulis

B. Pengantara

C. Imam

D. Pemberi Hukum

E. Nabi

iii. Musa Dalam Perjanjian Baru

 

i. Hidupnya dan Kepemimpinannya

Satu-satunya sumber informasi mengenai hidup Musa adalah Kitab Suci. Pada abad kesembilan belas, beberapa ahli meragukan keberadaan tokoh sejarah Musa, namun para ahli modern sekarang pada umumnya menerima Musa sebagai tokoh sejarah yang hidup pada paroh kedua dari milenium kedua SM.

      Menurut Kel 2:1 dan silsilah Kel 6:16-27, Musa berasal dari suku Lewi dari puak Kohat dan putera Amram dengan Yokhebed. Kakaknya yang laki-laki adalah Harun dan yang perempuan Miryam (Bil 26:59). Pada waktu kelahirannya, Israel adalah bangsa budak di Mesir dan karena jumlahnya bertambah begitu cepat maka bayi-bayi laki-laki Ibrani yang baru lahir harus segera dibunuh di Sungai Nil (Kel 1:22). Namun Musa lolos dari nasib demikian karena ibunya menyembunyikan dia dan akhirnya menaruhnya di sebuah keranjang kedap air hingga mengambang di sungai Nil (Kel 2:1-4). Lalu bayi itu diketemukan oleh puteri Firaun dan diangkat anak dalam keluarga kerajaan Mesir (Kel 2:5-10). Maka beralasanlah jika kemudian Musa mendapatkan semua hak dan pendidikan sebagai bangsawan Mesir (Kis 7:22).

      Setelah beranjak dewasa, Musa menyaksikan penindasan yang mengerikan atas orang-orang Ibrani dan sedemikian terusik hatinya sehingga ia membunuh seorang pengawas Mesir yang sedang memukuli pekerja Ibrani (Kel 2:11-12). Takut akan konsekuensi perbuatannya, Musa melarikan diri ke Midian (Kel 2:15). Di sana ia berjumpa dengan Yitro (Rehuel), seorang imam Midian yang mempunyai tujuh orang puteri, yang salah seorang di antaranya, Zipora, dikawinkan Yitro dengan Musa; putera mereka diberinama Gersom (Kel 2:16-22).

      Setelah beberapa tahun Musa tinggal di Midian, Tuhan memanggil Musa dari suatu semak bernyala di Gunung Horeb: “"Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub..... sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir” (Kel 4:6.10). Pada mulanya Musa tidak mau menerima amanat itu tetapi akhirnya ia pulang ke Mesir menuntut pembebasan Israel (Kel 5:1). Penolakan Firaun untuk membebaskan bangsa Yahudi dihancurkan dengan berbagai tulah yang ditimpakan Tuhan, menunjukkan kuasaNya yang lebih besar. Tulah-tulah itu memuncak dengan kematian setian anak sulung Mesir (Kel 7—12). Anak-anak Israel terlewatkan dari tulah yang mematikan itu karena Tuhan sudah menyuruh setiap keluarga untuk mengoleskan darah anak domba yang tidak bercacat pada jenang pintu rumah mereka, sebagai “korban Paskah bagi Tuhan yang melewati rumah-rumah orang Israel” (Kel 12:27).

      Setelah suku-suku Israel dibebaskan dari belenggu perbudakan, Musa memimpin mereka menuju Gunung Sinai, di mana Tuhan membuat suatu perjanjian dengan Israel sebagai suatu bangsa dan menetapkan hukum bagi kehidupan mereka (Kel 19—24). Musa dipilih menjadi pengantara perjanjian itu, sebagai penengah yang menyampaikan petunjuk-petunjuk Tuhan kepada bangsa Israel (Kel 20:18-19; Ul 5:5.22-23).

      Namun perjanjian Sinai yang baru saja ditetapkan segera dilanggar oleh bangsa Israel ketika mereka beribadat kepada patung anak lembu dari emas (Kel 32:1-29). Maka perjanjian itu harus diperbarui lagi dengan perantaraan Musa (Kel 34:10-28), yang berusaha menyelamatkan nyawa bangsa yang dipimpinnya (Kel 32:30-32). Israel harus menghabiskan waktu bertahun-tahun di Sinai sebelum berangkat menuju Tanah Terjanji (Bil 10:11-13). Selama periode pengembaraan padang gurun, Musa melanjutkan peranannya sebagai pemimpin dan pemberi hukum, pengantara dan pembela bangsa Israel (Bil 11—36). Pada suatu kesempatan Musa sendiri melanggar iman kepada Tuhan dan atas pelanggarannya itu ia tidak diperkenankan memasuki Kanaan (Bil 20:2-13; 27:12-14).

      Lalu, pada akhir hayatnya, Musa memberikan pidato perpisahan yang kuat di dataran Moab. Khotbahnya itu menjadi sebagian besar bahan dari kitab Ulangan. Setelah itu Musa meninggal dalam usia 120 tahun, setelah menyerahkan kepemimpinan kepada penggantinya, Yosua (Ul 34:1-9). Kitab Ulangan diakhiri dengan kata pujian yang luar biasa: “Seperti Musa yang dikenal Tuhan dengan berhadapan muka, tidak ada lagi nabi yang bangkit di antara orang Israel, ..... dalam hal segala perbuatan kekuasaan dan segala kedahsyatan yang besar yang dilakukan Musa di depan seluruh orang Israel” (Ul 34:10-12).

 

ii. Atribut dan Gelar Musa

Sulit sekali untuk tidak berlebihan dalam menempatkan Musa dalam sejarah Israel dan di dalam perkembangan sejarah keselamatan. Agama Yahudi, Kristen dan Islam semuanya menghormati Musa sebagai orang yang sangat suci, dan tradisi Kristen pada khususnya menganggap Musa sebagai model awal (tipologi) Yesus Kristus, khususnya di dalam perannya sebagai pembebas, pemberi hukum, dan pengantara di antara Tuhan dan manusia.

 A. Penulis

Beberapa ayat menggambarkan Musa sebagai orang terpelajar yang mencatat pertempuran-pertempuran utama (Kel 17:14), menuliskan perintah-perintah Tuhan (Kel 24:4), dan memelihara catatan perjalanan dan daftar tempat perkemahan Israel di padang gurun (Bil 33:2). Ia juga dilukiskan sebagai pengarang kode hukum Kitab Ulangan (Deuteronomis, Ul 31:9) dan Nyanyian Musa yang puitis (Ul 31:19).Tradisi Yahudi dan Kristen mendapatkan dari sini dan dari pernyataan-pernyataan serupa dalam Perjanjian Baru bahwa Musa adalah pengarang seluruh kitab-kitab Taurat, Pentateukh (bdk Yoh 5:46-47; Rm 10:5).

 B. Pengantara

Orang-orang Israel yang ketakutan memilih Musa sebagai pengantara mereka di Sinai (kel 20:18-19; Ul 5:5.22-23). Dari sejak saat itu dan selanjutnya, Musa berbicara kepada bangsa Israel menyampaikan sabda Allah, dan berbicara kepada Tuhan atas nama bangsa Israel. Ia membela mereka ketika karena dosa-dosa mereka akan dihukum (Kel 32:32-34; Bil 14:13-20; Mzm 106:23). Dari semua nabi, Musa bersahabat sangat dekat dengan Tuhan (33:7-11; Bil 7:89; 12:3-8).

 C. Imam

Musa disebut sebagai imam dalam Mzm 99:6. Harun adalah imam besar bagi Israel, tetapi Musa adalah pemimpin upacara dalam rangka penahbisan Harun dan anak-anaknya (Kel 29:1-46; Im 8:1-36).

 D. Pemberi Hukum

Musa memberikan kepada Israel Sepuluh Perintah Allah (Kel 24:12; 31:18; Ul 5:22), dan berb agai petunjuk tambahan lainnya (Kel 25—31; Im 1—27; Bil 1—10; Ul 5—26). Karena itu ia dielu-elukan sebagai guru Israel (Sir 45:1-5).



 E. Nabi

Musa dihormati sebagai nabi yang terbesar dari semua nabi lainnya (Ul 34:10) dan menjadi model bagi nabi-nabi masa depan (Ul 18:15-18).

 

iii. Musa Dalam Perjanjian Baru

Musa paling banyak disebut ketimbang tokoh-tokoh Perjanjian Lama lainnya di dalam Perjanjian Baru. Suatu tempat utama diberikan kepada Musa dalam peristiwa Transfigurasi, Peralihan Rupa Yesus, yang menyingkapkan Yesus sebagai Musa baru yang lebih besar; Musa ditampilkan sebagai wakil dari Taurat, sedang Elia sebagai wakil nabi-nabi (Mat 17:1-8; Mrk 9:2-18; Luk 9:28-36). Bersama-sama, mereka menunjuk pada pembentukan Israel baru dan penyingkapan kedatangan Kristus yang Mulia (KGK 554-556). Injil-injil Sinoptik menyatakan juga hubungan Musa yang erat dengan Hukum (bdk Mat 8:4; 19:7-8; 22:24; Mrk 1:44; 7:10; 10:3-4; 12:9; Luk 5:14; 20:28).

      Musa juga dilihat secara tipologis, seperti dalam Injil Yohanes: “sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus” (Yoh 1:17). Di tempat lain Paulus memandang peristiwa Keluaran sebagai tipologi dari baptis (1 Kor 10:2). Lebih jauh lagi Paulus mengembangkan kontras antara Hukum Musa dan Injil Kristen dalam 2 Kor 3:7-18. Di situ ia menulis tentang  “pelayanan yang memimpin kepada penghukuman” (bdk Kel 34:29-35) dan “pelayanan yang memimpin kepada pembenaran” (2 Kor 3:9) yang dilakukan Kristus dan kontras antara harapan Kristen dengan cara Musa menyembunyikan cahaya wajahnya di balik kerudung, “supaya mata orang-orang Israel jangan melihat hilangnya cahaya yang sementara itu” (2 Kor 3:13). Dengan cara yang serupa, pidato Stefanus yang panjang dalam Kis 7:2-53, penolakan Musa oleh rakyatnya sendiri secara implisit dibandingkan dengan penolakan Kristus oleh orang-orang Yahudi (Kis 7:25-29.39-40.52).

      Surat Ibrani 3:1-6 menekankan bahwa Kristus lebih unggul dari Musa sekalipun:

Pandanglah kepada Rasul dan Imam Besar yang kita akui, yaitu Yesus, yang setia kepada Dia yang telah menetapkan-Nya, sebagaimana Musapun setia dalam segenap rumah-Nya. Sebab Ia dipandang layak mendapat kemuliaan lebih besar dari pada Musa, sama seperti ahli bangunan lebih dihormati dari pada rumah yang dibangunnya. Sebab setiap rumah dibangun oleh seorang ahli bangunan, tetapi ahli bangunan segala sesuatu ialah Allah. Dan Musa memang setia dalam segenap rumah Allah sebagai pelayan untuk memberi kesaksian tentang apa yang akan diberitakan kemudian, tetapi Kristus setia sebagai Anak yang mengepalai rumah-Nya; dan rumah-Nya ialah kita, jika kita sampai kepada akhirnya teguh berpegang pada kepercayaan dan pengharapan yang kita megahkan.

Jumat, 30 Desember 2022

KONSILI VATIKAN II DAN PAUS BENEDIKTUS XVI

 


Beberapa hari setelah Ikafite mengadakan perayaan Ekaristi Syukur atas Karunia Pembaruan 60 Tahun Konsili Vatikan II di Kentungan, Yogyakarta, 16 Oktober 2022, pada 19 Oktober 2022 yang lalu, Paus Emeritus Benediktus XVI mengirim surat kepada Pater Dave Pivonka, TOR, presiden Universitas Fransiscan Steubenville di Steubenville, Ohio, A.S. yang menyelenggarakan suatu konferensi dua hari dan berakhir Jumat 21/10/2022 mengenai teologi Paus Benedictus XVI/Joseph Ratzinger dan Konsili Vatikan II. 

Dari surat tiga setengah halaman itu terpancar pandangan segar atas Konsili Vatikan II dari salah seorang di antara beberapa teolog besar yang sangat berperan dalam Konsili 60 tahun yang lalu. "Ketika saya belajar teologi pada Januari 1946 tak seorang pun berpikir tentang suatu Konsili Ekumenis... " kenang Paus Emeritus berusia 95 tahun itu. "Dan ketika Paus Yohanes XXIII mengumumkan Konsili, orang meragukan, apakah akan bermakna, dan terutama apakah mungkin mengumpulkan pandangan atas semua persoalan dalam satu pernyataan konsili yang menyeluruh dan dengan demikian memberi arah pada Gereja dalam perjalanan selanjutnya".

"Ternyata Konsili Vatikan II sungguh bermakna dan penting. Untuk pertama kalinya masalah teologi agama tampak bersama akar-akarnya. Demikian pula hubungan antara iman dan dunia. Kedua hal ini saja tak pernah terbayangkan dengan cara itu sebelumnya. Maka dari dua topik itu saja Konsili pertama-tama dirasakan mengusik bahkan menggoyangkan Gereja, sebelum orang merasakan pemberian arah yang lebih jelas pada misi Gereja".

"Sementara itu, kebutuhan untuk merumuskan ulang hakekat dan misi Gereja semakin mengemuka. Lalu berangsur-angsur daya positif dari Konsili Vatikan II semakin dirasakan."

Eklesiologi, teologi tentang hakekat Gereja, berkembang sejak sesudah Perang Dunia I,  Pada waktu itu yang dipikirkan adalah terutama aspek kelembagaannya, dan sekarang barulah dimensi spiritual Gereja  diwacanakan  lebih luas dengan sukacita. Konsep mengenai Gereja sebagai Tubuh Mistik Kristus dipikirkan secara kritis."

Mengakhiri suratnya, Paus Emeritus Benediktus XVI berharap, "Simposium internasional Universitas Fransiscan Steubenville di Steubenville, Ohio, A.S. menjadi bantuan bagi pergumulan untuk mendapatkan pengertian yang benar tentang Gereja dan dunia di zaman kita".

Tentang Surat Paus Emeritus Ben XVI klik tautan : https://youtu.be/diHhK8zDjE0

Konferensi Internasional Universitas Fransiscan Steubenville di Steubenville, Ohio, A.S. antara lain membahas teologi Paus Emeritus Benediktus XVI tentang Gereja sebagai komunio: https://youtu.be/3dCcdFVw7O4

Tentang Gereja dan ekumenisme : https://youtu.be/3D1VR_FgLus

Tentang Kitab Suci dan Evangelisasi : https://youtu.be/Fw_tthmHo58

Dan tentang jalan ke depan: https://youtu.be/9-Eep8TEapw

Ketika Ikafite sedang menyambut Peringatan 60 Tahun Konsili Vatikan II hingga 2025, dan sekarang ini perhatian dunia sedang tertuju pada kondisi kesehatan Paus Emeritus Benediktus XVI/Joseph Ratzinger, saya tertarik memelajari visi Paus Benediktus XVI tentang Konsili Vatikan II selama masa kepausan beliau 2005-2013, dan kemudian mundur lagi menilik dinamika pemikiran beliau sebagai Kardinal Joseph Ratzinger Prefek Kongregasi (Dikasteri) Pewartaan Iman sebelum dipilih menjadi Paus yang mewarnai Gereja pasca Konsili Vatikan II.

(Bersambung)


IMAM - IMAMAT DALAM KITAB SUCI

 



Seorang imam adalah pengantara yang mendapat wewenang menyampaikan korban persembahan kepada Allah atas nama orang lain. Kristus adalah imam yang sempurna sebab Ia dipersatukan dengan Allah dalam kodrat ke-Allah-anNya, namun sepenuhnya satu dengan kita dalam kodratNya sebagai manusia.  Katekismus Gereja Katolik mengajarkan:

Segala sesuatu yang sudah ditandakan sebelumnya dalam imamat Perjanjian Lama, menemukan kepenuhannya dalam Yesus Kristus, yang adalah "pengantara antara Allah dan manusia" (1 Tim 2:5). Melkisedek, "imam Allah yang mahatinggi" (Kej 14:18), dipandang tradisi Kristen sebagai "pratanda" imamat Kristus, "imam besar satu-satunya menurut peraturan Melkisedek" (Ibr 5:10; 6:20). Kristus itu "kudus, tanpa salah, tanpa noda" (Ibr 7:26), dan "oleh satu kurban saja... Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan" (Ibr 10:14), yaitu oleh kurban di salib-Nya, satu kali untuk selamanya. (KGK 1544).

 

I. Imamat dalam Perjanjian Lama

A. Zaman Bapa Bangsa

B. Israel, Bangsa Imamat

C. Imamat Lewi

II. Imamat dalam Perjanjian Baru

A. Imamat Kristus

B. Imamat Umum Kaum Beriman

C. Imamat Jabatan

 

I. Imamat dalam Perjanjian Lama

Bisa kita lihat dua periode pokok keimaman di dalam Perjanjian Lama: pada masa para Bapa Bangsa dan imamat Lewi. Periode para Bapa Bangsa terutama dalam Kitab Kejadian, sedangkan periode imam-imam Lewi disajikan dalam bagian selebihnya dari Pentateukh dan terentang sampai Kristus datang.

 

A. Zaman Bapa Bangsa

Ada dua golongan imam sebagai profesi pada zaman sebelum imamat Lewi. Dasar agama para Bapa Bangsa adalah susunan keluarga biasa. Dalam konteks ini, wewenang dilimpahkan dari bapak kepada anak laki-kali, dan korban dipersembahkan bukan di tempat-tempat lain, melainkan di tempat yang dikehendaki Bapa Bangsa, yang menjalankan semacam agama alam. Tindakan suci meliputi pembuatan altar atau mezbah (Kej 12:8), menanam pohon (Kej 21:33), menyampaikan korban persembahan (Kej 8:20), dan mendirikan tugu peringatan (Kej 28:11-22).



      Asal-usul jabatan imam dengan demikian dapat dilacak dari wewenang rohani yang unik, fungsi perwakilan, dan pelayanan keagamaan yang dilakukan para bapa keluarga. Serentak dengan itu, jabatan rajawi terwujud dalam tugas kewajiban sekular para bapak keluarga, khususnya peranannya dalam memimpin dan mengatur keluarga atau puak. Dengan demikian imamat tidak terpisahkan dari posisi sebagai bapak (bdk Ayb 1:15).

      Bentuk tipologi awal dari imam-raja pada zaman para Bapa Bangsa adalah Melkisedek, raja (sekaligus) imam dari Salem (yaitu Yerusalem; Mzm 76:2). Tokoh misterius ini adalah orang pertama yang disebutkan dalam Kitab Suci sebagai imam (Kej 14:7-20); ia mempersembahkan roti dan anggur untuk Abram (Abraham) dan kemudian memberikan berkat kepada Abraham dan para pengiringnya.

 

B. Israel, Bangsa Imamat

Perjanjian Lama merunut perkembangan dosa dan dampaknya yang mengerikan pada keluarga manusia – sejak dari jatuhnya Adam sampai dengan perbudakan Israel di Mesir, yang digambarkan dalam permulaan kitab Keluaran. Kita lihat suatu pola yang terus menerus di sepanjang kisahnya: tragedi dan dosa membuat para putra sulung kehilangan hak warisnya (mis Kain, Ismael, Esau, Ruben, Er, Peres, Manasye). Pola-pola yang terdapat pada orang perorangan itu kemudian diulangi di dalam Israel sebagai suatu bangsa. Musa diberitahu di dekat semak yang bernyala: “Israel adalah anakKu yang sulung” (Kel 4:22). Pentingnya putera sulung diungkapkan pada waktu Paskah ketika anak-anak sulung Israel ditebus dengan darah anak-domba Paskah. Maka setelah itu putera-putera sulung harus dipersembahkan untuk melayani ibadat Tuhan (Kel 13:2; 22:29).



      Tuhan memerintahkan Israel, “anakNya yang sulung”, untuk melaksanakan panggilan dan tugas khusus menjadi suatu “bangsa yang kudus dan kerajaan imam”, menjadi pengantara antara Bapa dengan keluarga bangsa manusia. Namun status itu sepenuhnya bergantung pada syarat tertentu (seperti yang ditunjukkan dalam contah-contoh di depan mengenai anak-anak sulung yang kehilangan hak warisnya), yaitu pada kepatuhan Israel kepada Perjanjian: “jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri …. Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus” (Kel 19:5-6). Bangsa Israel cepat sekali melanggar kesetiaan mereka pada Tuhan dengan beribadat kepada lembu emas, dan berkat untuk anak sulung dengan demikian dialihkan kepada suku Lewi karena jasa mereka membalaskan murka Tuhan seperti yang diperintahkan Musa (Kel 32:25-29; Lewi). Kejadian ini menandai mulainya periode kedua imamat Perjanjian Lama, yaitu imamat Lewi.

 

C. Imamat Lewi

Seperti yang diungkapkan kitab Keluaran, kekejian Israel dengan insiden anak lembu emas di Sinai memerlukan pembaruan Perjanjian – mula-mula dengan Musa sendiri (Kel 33-34), tetapi kemudian meluas dengan Israel dengan perintah untuk membuat Kemah Pertemuan dan menahbiskan Harun sebagai imam besar (Kel 35-40). Tuhan kemudian hanya memerintahkan Musa berbicara mengenai macam-macam korban persembahan (bakaran, penebusan dosa, pendamaian) yang pelaksanaan persembahannya oleh Harun dan anak-anaknya atas nama umat Israel dan menurut Kode Hukum Imamat (Im 1-16). Akhirnya kode hukum kekudusan diberikan kepada para imam Lewi untuk diajarkan pada kedua belas suku Israel yang awam (Im 17-26).



      Hasilnya adalah suatu sistem pengantaraan imam yang sangat rinci berdasarkan tata susun hirarki Musa, Harun (dan anak-anak keturunannya), suku Lewi dan keduabelas suku Israel (imam besar, imam-imam keturunan Harun, dan Lewi) yang berlangsung terus (dengan beberapa variasi kecil) di seluruh sejarah Israel: pada masa padang gurun, penaklukan Kanaan, dan menetap di Kanaan, kerajaan, hingga masa sesudah Pembuangan.

      Dampak dari penyelewengan Israel yang kedua dalam penyembahan berhala di Bet-peor (Bil 25:1-3) adalah diberlakukannya perjanjian Ulangan (Deuteronomis) atas keduabelas suku di dataran Moab, tempat di mana mereka melakukan kekejian baru (Ul 3:29; 4:3). Ketika perjanjian Ulangan ini disahkan, suatu struktur dua  perjanjian diterapkan atas keduabelas suku Israel (yos 8:30-35). Dari ketentuan-ketentuannya, Israel ditempatkan di bawah supervisi administratif kaum Lewi (Ul 27:9-26). Pihak Lewi terikat dengan “perjanjian Lewi” (Yer 33:17-26; Mal 2:4-8) yang dibuat bagi mereka oleh Musa di Sinai sesudah peristiwa anak lembu emas. Perjanjian Lewi itu kemudian diperbarui lagi oleh cucu Harun, Pinehas, pada akhir pengembaraan Israel selama empat puluh tahun di padang gurun. Pinehas mendapatkan “suatu perjanjian imamat kekal” sebagai penghargaan atas kesungguhannya dalam membalaskan murka Tuhan pada praktek penyembahan berhala generasi kedua yang beribadat kepada Baal di Peor (Bil 25:13).

      Pada masa sesudah menetap di Kanaan, perjanjian yang diperbarui itu terus dilaksanakan dengan memengaruhi bentuk imamat Perjanjian Lama, yang memuncak dengan jatuhnya keluarga imam Eli (1 Sam 2:27-36), terusirnya Abiatar dari jabatan imam besar (1 Raj 2:26-35), dan kemudian naiknya imam Zadok sebgai imam besar di Yerusalem (1 Raj 2:35). Yang penting dalam perkembangan ini adalah bukti kepantasan keturunan dari Pinehas ada pada Zadok, tetapi lenyap dalam Eli dan Abiatar (1 Sam 22:9-20). Jabatan imam besar keturunan Zadok di Bait Allah Yerusalem menjadi salah satu ciri yang paling unik dari masa kerajaan Daud, di mana suku Lewi mendapat tugas-tugas yang semakin mengkhusus di dalam Bait Allah (musik ibadat, penyanyi, penjaga pintu, pengurus harta benda Bait Allah dan sebagainya, 1 Taw 9:22-34; 23:2-28).

      Pentingnya imam besar Israel sesudah zaman Pembuangan memberikan bayangan awal visiun Yehezkiel tentang pemulihan Yerusalem di bawah imam-imam besar (keturunan Zadok, Yeh 43-45). Situasi ini merupakan salah satu alat untuk menjelaskan uraian yang kurang pas dari Zakharia mengenai pemasangan mahkota raja yang dilakukan oleh imam besar Yosua (Za 6:9-13), bukan oleh Zerubabel keturunan Daud yang memainkan peran penting dalam pembangunan  kembali Bait Allah (Ezr 5:2).

      Selanjutnya pandangan ini tampaknya dipuji Sirakh dalam catatannya atas tokoh-tokoh dari Harun hingga imam besar pada zamannya, Simon, yang dihargai sebagai “pemimpin saudara-saudaranya dan kebanggaan bangsanya” (Sir 50:1). Sumber-sumber di luar Kitab Suci selanjutnya menggambarkan Mesias sebagai gabungan antara kualitas rajawi Daud dan wewenang imam agung (Pseudografia: T Slm 7.13; T Lev 2:10-11; 5:2; 8:2-15; bdk Mzm 110:1-4). Harapan dan pandangan Mesianik dalam abad pertama M di kalangan Yahudi Kristen kiranya dipengaruhi oleh pandangan ini, dan pengarang Surat Ibrani menjadikannya sebagai dasar dalihnya mengenai kedudukan imamat rajawi Kristus “menurut peraturan Melkisedek” (Ibr 7).

      Jabatan imam besar keturunan Zadok berlangsung di Yerusalem sampai Antiokhus IV Epifanes (masa dinasti Seleukus) mendepak Onias II pada tahun 175 SM dan menggantikannya dengan Yason (bekerja pada 175-172 SM). Para penguasa Seleukus kemudian menunjuk imam-imam besar bukan dari keluarga Zadok sampai mereka dikalahkan pada tahun 153 SM oleh keluarga Hasmona, yang melanjutkan jabatan imam besar di luar keluarga Zadok sampai datangnya orang-orang Roma dalam abad pertama SM. Selanjutnya pengangkatan imam besar dilakukan hanya dengan persetujuan dinasti Herodes dan pejabat Roma. Kebiasaan ini berlangsung sampai Bait Allah Yerusalem dihancurkan pada tahun 70 M. Dengan peristiwa itu sinar terakhir imamat Lewi – dan Perjanjian Lama – lalu padam (KGK 63.1539-1543).

 


II. Imamat dalam Perjanjian Baru

Dengan kedatangan Kristus sebagai Anak Sulung Allah (Ibr 1:6) dan Imam Agung rajawi (Ibr 2:2-17; 5:1-10), berakhirlah pemisahan kuasa antara imam dan raja. Dengan mendirikan GerejaNya sebagai “jemaat anak-anak sulung” (Ibr 12:23), Kristus menggabungkan lagi jabatan imam dan kuasa rajawi, dan memulihkan “kerajaan imam” (1 Ptr 2:9) dari umat Allah, yang sekarang menjadi “Israel Allah” (Gal 6:12).

      Imamat Yesus perlu dilihat dalam terang imamat Perjanjian Lama, dan pengertian yang sepenuhnya tentang imamat Perjanjian Baru niscaya berawal dari periode Bapa Bangsa dan tempat kedudukan anak sulung. Luk 2:7 menyebut Yesus sebagai “yang sulung” yang menunjukkan bahwa Yesus berhak menerima segala hak dan kedudukan sebagai anak sulung menurut Hukum Musa (bdk Kel 13:2; Ul 21:15-17). Mungkin penting sekali diperhatikan, bahwa ketika Yesus dipersembahkan di Bait Allah (Luk 2:23), uang tebusan sebesar lima syikal (dengan mana seorang Lewi menggantikan anak sulung dalam mengabdi Tuhan: Bil 8:15-16) tidak disebutkan. Jika demikian, sudah ditunjukkan bahwa Yesus dipersembahkan untuk melayani Allah dan tidak “ditebus kembali” oleh orangtuanya. Maka kemudian kita memandang Yesus dalam peranNya sebagai seorang imam dalam kaitan dengan kedudukanNya sebagai anak sulung dalam pengertian Bapa Bangsa.

 

A. Imamat Kristus

Surat Ibrani memberikan kepada kita bahasan lengkap mengenai keimaman Kristus di dalam Perjanjian Baru. Menurut pengarang Surat Ibrani, imamat Yesus dipahami sehubungan dengan imamat Lewi dari Harun, namun dalam segala hal imamat Yesus lebih unggul daripada imamat Lewi karena Yesus adalam imam yang tidak berdosa (Ibr 4:15), sementara imam-imam Harun adalah pendosa dan harus mempersembahkan korban bagi diri mereka sendiri maupun bagi orang lain (Ibr 5:1-3). Yesus adalah imam yang kekal (Ibr 7:24), sementara imam-imam Harun adalah fana dan harus digantikan oleh rentetan orang-orang lain yang tidak ada habisnya (Ibr 7:23). Yesus adalah Imam Agung surga (Ibr 4:14; 8:1-2), sementara para imam Perjanjian Lama bekerja melayani di tempat suci dunia (Ibr 8:4-5). Yesus adalah imam rajawi yang dijanjikan dengan sumpah dalam |Mazmur Mesias, Mzm 110:4 (Ibr 5:6; 7:17) sementara para imam Lewi memangku jabatan tanpa sumpah sama sekali (Ibr 7:21).

      Sebagai imam yang lebih sempurna, Kristus mempersembahkan kepada Bapa korban yang lebih sempurna daripada yang dipersembahkan imam-imam Lewi: korban Kristus dipersembahkan sekali untuk selamanya (Ibr 10:10), berlainan dengan rangkaian korban yang terus menerus diharuskan menurut Perjanjian Lama (Ibr 10:11). Soalnya, korban Kristus sungguh mendatangkan penghapusan dosa (Ibr 9:11-14.28; 10:12-18) sebaliknya korban persembahan Lewi berfungsi mengingatkan akan dosa tanpa bisa membersihkan dosa itu (Ibr 10:4.11).



      Latar belakang pernyataan-pernyataan ini adalah keyakinan, bahwa Yesus bukan imam yang berasal dari peraturan Harun, melainkan dari zaman Bapa Bangsa menurut peraturan Melkisedek (Ibr 5:6; 6:20). Gagasan ini dikembangkan lagi dalam Ibr 7 dengan berdasarkan Mzm 110, yang memandang Mesias baik sebagai Raja yang bertahta (Mzm 110:1) maupun sebagai imam Melkisedek (Mzm 110:4). Gagasannya adalah bahwa Kristus berasal dari angkatan imamat asli yang dilaksanakan pada zaman sebelum imam-imam Lewi.

      Dari sini jelas mengapa pengarang Surat Ibrani begitu menekankan aspek keputeraan Yesus dalam hubungan dengan imamatNya (Ibr 2:10; 5:5-10). Secara khusus, ia menekankan bahwa Kristus adalah “Anak Sulung” dari Bapa (Ibr 1:6) yang mewakili umat beriman baik sebagai saudara (Ibr 2:11-12) maupun sebagai sosok Bapa (Ibr 2:13-14). Malah boleh jadi Melkisedek yang adalah pendahulu sekaligus gambaran awal, dipandang demikian oleh pengarang surat dan para pembacanya yang mengenal tradisi Yahudi, disamakan dengan Sem, anak sulung Nuh.

      Aspek lainnya dari imamat Melkisedek juga merujuk pada Kristus. Misalnya Melkisedek adalah imam-raja dari Salem (Ibr 7:1) yng adalah sebutan kuno untuk Yerusalem atau Sion (Mzm 76:2). Ciri-ciri imam-raja Melkisedek menjadi gambaran awal dari jabatan imam-raja Yesus di dalam “Yerusalem surgawi” (Ibr 12:22). Demikian juga, karena Melkisedek mempersembahkan roti dan anggur (Kej 14:18), renungan Kristen memandang hal itu sebagai gambaran purba dari Ekaristi, perjamuan korban Kristus bagi kaum beriman dalam rupa roti dan anggur (Mat 26:26-29).



 

B. Imamat Umum Kaum Beriman

Kristus sebagai Imam Agung dan pengantara, menjadikan Gereja “suatu kerajaan, imam–imam bagi Allah dan Bapa” (Why 1:6). Ia telah memulihkan dan memenuhi dalam dirinya imamat anak sulung keluarga, panggilan yang ditujukan pada Israel, dengan membagikan martabat keputeraan sulung dan imamat itu (bdk Kel 4:22; 19:6).

      Umat Allah dengan demikian ikut serta dalam martabat imamat Kristus melalui baptis, berpartisipasi dalam tugas perutusanNya sebagai imam, nabi dan raja berdasarkan panggilan masing-masing (1 Ptr 2:5-9). Karena rahmat, Gereja ikut serta dalam keputeraan Kristus, dan dengan demikian ikut serta pula dalam tugas perutusan imamatNya. Gereja dipercaya melaksanakan panggilan yang semula telah ditujukan bagi Israel di antara bangsa-bangsa.

 

C. Imamat Jabatan

Partisipasi yang kedua dari kaum beriman dalam imamat Kristus adalah melalui imamat jabatan hirarkis. Kedua bentuk partisipasi ditata sedemikian seperti yang diajarkan Lumen Gentium art 10, namun pada dasarnya keduanya berbeda (dalam jenisnya, bukan saja dalam derajatnya). Imamat umum kaum beriman dilaksanakan melalui rahmat pembaptisan, sedangkan imamat jabatan melayani dan menguduskan kaum beriman dan diberikan hanya melalui sakramen tahbisan imam.

      Yesus memilih kedua belas rasul untuk berfungsi sebagai kepala-kepala dari umat Allah (Mat 19:28; Why 21:12-14). Sebagai  partisipan dalam imamat Kristus yang satu yang berasal dari peraturan M|elkisedek, para rasul niscaya melayani sebagai imam-imam anak sulung, bertindak selaku saudara yang lebih tua dan bapa bagi jemaat yang dipercayakan kepada mereka (bdk Kis 15:23; 1 Kor 4:15). Sebaliknya, para rasul mengangkat pengganti-pengganti mereka sebagai penatua atau imam-imam atas jemaat yang telah mereka dirikan (Kis 14:23). Jelaslah, Perjanjian Baru tidak menyebut pelayan-pelayan jemaat Kristen sebagai “imam-imam” (Bahasa Yunani hieresis) namun sebagai “uskup-uskup” (Yunani episkopoi) dan presbiter (Yunani presbiteroi). Sekalipun demikian sebenarnya dari kata yang terakhir itulah, presbiter, muncul kata Inggris “priest”, artinya imam.

      Berkat rahmat sakramen tahbisan imamat, para imam bertindak dalam prbadi Yesus Kristus, Kepala Gereja. Seperti ditulis oleh St Tomas Aquinas, “Kristus adalah sumber segala imamat: imamat hukum lama merupakan gambaran dari Kristus, dan imam hukum baru bertindak dalam pribadi Kristus” (Summa theologiae III.22.4c). Para pelayan yang tertahbis menghadirkan Kristus sebagai Kepala Gereja menjadi tampak bagi jemaat. Paus Yohanes Paulus II menulis dalam Pastores Dabo Vobis:

Di dalam Gereja dan atas nama Gereja, imam-imam merupakan wakil sakramental dari Yesus Kristus, Kepala dan Gembala, yang berwenang mewartakan sabda, mengulang tindakan pengampunanNya berulang kali serta tawaran keselamatanNya khususnya Baptis dan Ekaristi, menunjukkan perhatian kasihnya hingga memberikan diri secara total kepada kawanannya.... Dengan kata lain, imam ada dan bertindak untuk menyatakan Injil kepada dunia dan membangun Gereja dalam nama dan pribadi Kristus, Kepala dan Gembala (art 15).

 

Dari sejak semula, para uskup dan imam jemaat Kristen memberikan sakramen-sakramen, mengajar dan menyampaikan ajaran yang benar, dan memimpin sebagai gembala-gembala. Berdasarkan tahbisan yang mereka terima, mereka ikut serta dalam tugas perutusan umum yang dipercayakan oleh Kristus kepada para rasul. Mereka diberdayakan bukan hanya untuk melayani jemaat setempat tetapi juga ikut serta dalam tugas perutusan menyelamatkan seluruh dunia (Kis 1:8). Pelaksanaan imamat jabatan selalu diukur menurut teladan yang tertinggi dari Kristus (Mrk 10|:43-45; 1 Ptr 5:3) (KGK 1544-1568).

DOA UNTUK PAUS EMERITUS BENEDIKTUS XVI

Pada hari ini Jumat 30 Desember 2022 pkl 18.30 waktu setempat (pkl 23.30 WIB), Keuskupan Roma akan mempersembahkan ekaristi khusus untuk Paus Emeritus Benediktus XVI dipimpin oleh Vikaris untuk Roma, Kardinal Angelo de Donatis di Katedral St Yohanes Lateran, katedral Paus Emeritus Benediktus XVI semasa menjadi Uskup Roma. 

Untuk mengikuti Misa itu silakan klik: https://youtu.be/dMOzPyTWc0Q

Di Jerman, sejak kemarin Kamis 29/12 umat katolik atas permintaan para Uskup Jerman berdatangan berdoa di Kapel Rahmat-Karunia di Altoetting, suatu tempat peziarahan di dekat kota kelahiran Paus Emeritus Benediktus XVI, Marktl amm Inn. Herbert Hofauer, mantan walikota, yang sempat mengunjungi Paus Emeritus Benediktus XVI pada musim semi yang lalu menyatakan: "Paus Ratzinger (Benediktus XVI) sedang bersiap-siap pulang ke rumah abadi. Ia sungguh tenang menyongsong perjumpaannya dengan Tuhan".  Di gereja St Oswald, tempat Ratzinger dibaptis di Marktl, sebuah foto besar Paus Benediktus XVI dipajang di dekat altar agar umat lokal dapat berlutut mendoakan beliau.  Berbagai pernyataan umat setempat: "Kami bangga punya Paus dari Bavaria sini". "Beliau seorang yang baik dan paus yang besar". "Kami sangat terkejut mendengar berita tentang beliau dan sangat sedih". "Semoga beliau dimudahkan dan tidak terlalu menderita". 



Situasi yang sama di Katedral Regensburg, uskup auksilier yang mempersembahkan Misa meminta umat mendoakan Paus Emeritus Benediktus XVI  dalam perjalanannya yang terakhir.

Di lapangan Basilika St Petrus Vatikan terjadi antrean panjang para peziarah, berbaur dengan wisatawan, mau berdoa di Basilika, di Kandang Natal dan di bawah Pohon Natal juga, menyebut nama Ratzinger atau Benediktus XVI.


Kondisi Paus Emeritus Benediktus XVI naik turun, dapat beristirahat dengan baik dan sadar, wajahnya berseri, cenderung stabil, namun dalam pengawasan tanpa henti para dokter. Paus Fransiskus di sela-sela tugasnya melakukan audiensi yang telah terjadwal dengan kelompok-kelompok tamu tertentu, selalu datang menemani dan berdoa untuk Paus Emeritus Benediktus XVI di Biara Mater Ecclesiae di lingkungan Taman Vatikan.  

Di Keuskupan Roma pembicaraan antisipasi acara upacara pemakaman Paus Emeritus Benediktus XVI berlangsung dalam suasana keprihatinan yang mendalam.


Kamis, 29 Desember 2022

KESEHATAN PAUS EMERITUS BENEDIKTUS XVI MEMBURUK

Pada tanggal 9 November 2022 Paus Emeritus Benediktus menerima kunjungan Uskup Agung Utama Gereja Katolik Yunani Ukraina, Sviatostal Shevchuk di Rumah Biara Mater Ecclesiae. "Saya terus mendoakan rakyat Ukraina", kata Paus Emeritus Benediktus XVI. Uskup Agung Shevchuk diangkat menjadi pemimpin Gereja Katolik Yunani Ukraina oleh Paus Benediktus XVI pada 25 Maret 2011. Sebelumnya, oleh Paus Benediktus XVI pada 14 Januari 2009 Shevchuk diangkat menjadi pemimpin eparki Santa Maria del Patrocinio di Buenos Aires, Argentina, di mana ia bertemu dengan Kardinal Bergoglio (Paus Fransiskus).

Pada 27 Agustus 2022 Paus Fransiskus bersama 17 Kardinal yang baru diangkat juga mengunjungi Paus Benediktus di kediaman beliau di Vatikan.



Namun pada hari Rabu 28 Desember 2022 setelah berkunjung pada Paus Emeritus Benediktus XVI dalam rangka Hari Natal, Paus Fransiskus dalam Audiensi Umum meminta agar umat Katolik mendoakan Paus Emeritus Benediktus XVI yang memburuk situasi kesehatannya, "Ingatlah beliau, sekarang sakit keras; dalam kesunyian beliau selalu berdoa untuk Gereja" - "Mohonlah agar Tuhan meringankan beliau dan memberi kekuatan kepada beliau". 
Setelah Audiensi Umum Paus Fransiskus pergi ke biara Mater Ecclesiae di Vatikan untuk menunggui Paus Emeritus Benediktus XVI. 

Hari ini 29/12 hingga sore hari kondisi beliau semakin memburuk karena usia (95 tahun) namun berangsur stabil lagi dan terus dalam pengawasan para dokter. Demikian dikemukakan juru bicara Vatikan,  Matteo Bruni. 

Paus Emeritus Benediktus XVI mengundurkan diri pada 2013 karena kesehatan yang memburuk menyebabkan beliau merasa tidak mampu lagi melaksanakan tugas.