Daftar Blog Saya

Tampilkan postingan dengan label pengampunan dosa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pengampunan dosa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Desember 2022

KONSEKUENSI INKARNASI (1)

 



 

 Memahami doa

Wartakanlah Sabda Tuhan kemana saja kamu pergi, gunakan kata-kata, jika perlu

Fransiskus Asisi

 Dalam Injil Matius, Yesus mengajar bahwa doa kepada Allah tidak pernah gagal: “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah maka kamu akan mendapat; ketUklah maka pintu akan dibukakan bagimu. Kerana setiap orang yang meminta, menerima, dan setiap orang yang mencari, mendapat, dan setiap orang yang mengetuk, baginya pintu akan dibukakan” (Mat 7: 7-8). Namun mengapa dalam kenyataannya tidak selalu seperti itu? Berulang kali kita meminta namun tidak menerima, kita mencari namun tidak mendapat, dan kita mengetok namun tetap saja pintunya tertutup rapat bagi kita. Namun Yesus tampaknya tetap menjanjikan kebalikannya. Mengapa Tuhan tidak selalu menjawab doa-doa kita?

            Kita punya banyak jawaban untuk itu. Mungkin karena iman kita tidak cukup. Mungkin karena kita memohon hal yang salah, sesuatu yang tidak baik bagi kita. Mungkin Tuhan sudah mengabulkan apa yang kita mohon, tetapi dengan cara yang berbeda. Tuhan adalah Bapa yang penuh kasih, yang mengetahui apa yang baik bagi kita (bdk Mat 7:11) – dan orang tua macam apa yang memberikan pisau kepada anaknya untuk bermain-main? Suatu ketika di kemudian hari kita akan memahami kebijaksanaan Allah yang sangat dalam, mengapa Ia tidak menjawab doa tertentu. Ada kebijaksanaan dan kebenaran di dalam semua alasan di atas, namun tidak satu pun dari alasan-alasan itu merupakan alasan yang sesungguhnya, dan dalam Injil Matius pun dikatakan mengapa doa permohonan sering tidak dijawab. Di antara para penulis Injil, Matius adalah satu-satunya yang mengaitkan doa permohonan dengan tindakan nyata di dalam komunitas Kristiani. Dia adalah seorang teolog Kristiani, bukan sekedar seorang yang percaya kepada Tuhan. Dengan demikian baginya doa permohonan mempunyai kekuatan sejauh terkait dengan tindakan yang nyata di dalam suatu komunitas iman dan kasih – dan sebaliknya. Sebagai orang Kristiani kita berdoa kepada Allah “dengan perantaraan Kristus” dan, di dalam berusaha menjawab doa itu, Allah menghormati Inkarnasi, yaitu bahwa kuasa Allah kini sebagian bergantung kepada tindakan manusia.[i] 

            Sebagai orang Kristiani, kita punya seperangkat kata rumusan, untuk mengakhiri doa-doa kita, yaitu: “Doa permohonan ini kami sampaikan dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami.” Rumusan kata-kata ini lebih dari sekedar formalitas, suatu tanda ritual bagi Allah bahwa doa kita sudah selesai. Jika kita berdoa “dengan perantaraan Kristus” kita berdoa melalui Tubuh Kristus yang maknanya meliputi Yesus, Ekaristi dan persekutuan kaum beriman (yaitu kita sendiri) yang ada di dunia. Kita berdoa melalui semuanya ini. Maka bukan hanya Allah di surga yang menjadi alamat doa permohonan kita dan diharapkan untuk bertindak. Kita sendiri juga mendapat bagian untuk bertanggungjawab mengabulkan doa itu, sebagai bagian dari Tubuh Kristus. Maka berdoa sebagai orang Kristiani menuntut suatu keterlibatan konkret untuk berusaha mewujudkan apa yang kita mintakan dalam doa itu. Berikut suatu contoh:[ii]

            Seorang suster biarawati tua mengunjungi pembimbing rohaninya. Ia berbagi cerita tentang seorang suster muda yang baru saja keluar dari tarekat. Suster senior itu sangat menyukai suster muda itu dan menghargai keceriaan dan kekuatan yang dibawa suster muda itu ke dalam komunitas. Tetapi setahun kemudian ia memerhatikan suster muda itu jelas tertekan hatinya, bergumul dengan persoalan apakah dia akan terus tinggal bersama atau pergi meninggalkan komunitas, dan apakah komunitas benar-benar membutuhkan dirinya. Maka suster senior itu berdoa bagi suster yang muda, mendoakan agar suster muda itu tetap tinggal dalam komunitasnya, berdoa agar suster muda itu dapat mewujudkan keinginan dan apa yang bernilai baginya, berdoa agar Tuhan memberi kekuatan kepada suster muda itu sehingga dapat mengatasi keragu-raguannya. Namun suster tua itu tidak pernah meluangkan waktu untuk menemui suster yang muda itu dan bicara dengannya. Sebagai seorang senior dia tidak pernah memberi-tahu yuniornya itu betapa ia menghargai bakat yang dibawa suster muda itu kepada komunitasnya. Sekarang ia sedih karena gadis muda itu keluar meninggalkan tarekat.

            Pokok ceritanya jelas. Suster senior itu berdoa sebagai orang yang percaya kepada Tuhan, tetapi dia tidak berdoa sebagai orang Kristiani. Ia tidak pernah memberi kulit pada doa-doanya. Dia tidak pernah secara konkret melibatkan diri di dalam upaya mewujudkan apa yang dimohonkannya kepada Tuhan agar dilakukan. Bagaimana mungkin Tuhan memberi tahu kepada suster yunior itu bahwa kehadirannya di dalam komunitas itu dihargai, jika komunitas itu sendiri tidak pernah menyatakan penghargaannya? Ketika kita berdoa “dengan pengantaraan Kristus”, doa itu lebih dari sekedar memohon campur tangan Allah di surga agar melakukan karya pemeliharaan ilahi saja. Namun di dalam doa itu pun terkandung keharusan diri kita sendiri untuk ikut terlibat di dalam upaya mewujudkan apa yang kita mintakan itu, dan bukan sekedar memohon belaka.

            Maka, jika ibu saya sakit dan saya berdoa memohon agar dia cepat sembuh tetapi saya tidak membawa dia berobat, saya berdoa sebagai orang yang percaya kepada Tuhan, tetapi bukan sebagai orang Kristiani. Saya tidak memberikan daging inkarnasi, kulit, pada doa saya itu. Maka adalah lebih sulit bagi Tuhan untuk menjawab doa semacam itu. Jika saya melihat seorang rekan atau teman yang tampak tertekan hatinya dan berdoa baginya tetapi tidak bicara dan mendengarkan dia, maka doa saya lebih merupakan doa orang yang percaya kepada Tuhan, tetapi bukan doa orang Kristiani. Bagaimana Tuhan akan memberikan penghiburan kepada teman itu? Mengirimkan e-mail dari surga? Suara dan perhatian sayalah yang dipanggil untuk itu, karena saya anggota dari Tubuh Kristus, dan saya berdoa tepatnya melalui Tubuh Kristus, dan saya berada dalam Tubuh Kristus itu, dan tersedia untuk bicara dengan dia. Jika saya berdoa untuk seorang teman dekat hari ini, tetapi tidak mengirimkan sesuatu yang menyatakan pada teman itu bahwa saya memikirkannya, bagaimana mungkin doa saya itu menyentuh dia? Jika saya berdoa untuk perdamaian dunia, namun dalam diri saya sendiri saya tidak mengampuni mereka yang menyakiti hati saya, bagaimana Tuhan memberikan damai-Nya atas planet kita ini? Doa kita memerlukan daging sebagai penunjangnya.

            Di dalam film Ingmar Bergman, The Serpent’s Egg, ada suatu adegan yang melukiskan hal ini dengan sangat kuat. Ceritanya begini: Seorang imam baru saja mengakhiri persembahan Misa dan berada dalam sakristi dan melepaskan jubah upacara ketika seorang wanita masuk di sana. Wanita setengah baya yang punya kebutuhan besar, kesepian dalam perkawinannya, sangat menderita perasaan bersalah yang berlebihan secara keagamaan itu mulai terisak-isak menangis dan menyatakan dirinya tidak dikasihi Tuhan: “Saya merasa ditinggalkan sendirian, Pastor, tak seorang pun mengasihi saya! Tuhan begitu jauh rasanya! Saya tidak bisa membayangkan Tuhan mengasihi saya! Saya tidak bisa memikirkan hal semacam itu berdasarkan situasi saya sekarang! Segala sesuatu begitu gelap bagi saya!” Pada mulanya pastor itu agak marah ketimbang berbelas kasihan, tetapi pada saat itu ia berkata kepada wanita itu: “Berlututlah dan akan kuberikan berkat padamu. Tuhan terasa jauh. Beliau tidak dapat menyentuhmu sekarang, aku tahu itu, tetapi aku akan kutumpangkan tanganku di atas kepalamu dan kusentuh kamu – supaya kamu tahu bahwa kamu tidak sendirian, dan bahwa kamu dikasihi, dan bahwa kamu tidak berada dalam kegelapan. Tuhan ada di sini, dan Tuhan sungguh mengasihi kamu. Ketika aku menyentuhmu, Tuhan pun menyentuh kamu.”[iii] Ini adalah gambaran seseorang yang berdoa secara Kristiani, seseorang yang memberikan daging inkarnasi, kulit, kepada doanya.

 

Rekonsiliasi dan pemulihan

Ketika Yesus melawat di bumi, orang disembuhkan dan didamaikan dengan Allah hanya dengan menyentuh Dia atau disentuh oleh-Nya. Motif dari sentuhan fisik ini terjadi di mana-mana dalam pekerjaan pelayanan Yesus. Banyak orang selalu berusaha menyentuh Dia dan Yesus sering menyembuhkan orang dengan menyentuh mereka.

            Salah satu contohnya di dalam Injil Markus kita dapatkan cerita ini (Mrk 5:25-34). Ada seorang wanita yang menderita karena pendarahan selama dua belas tahun. Ia sudah mengusahakan segala macam cara pengobatan dan mengunjungi setiap macam tabib, namun tidak sembuh juga. Akhirnya, ia berkata pada dirinya sendiri: ‘Jika aku menyentuh ujung jumbai jubah Yesus, aku pasti sembuh.’ Ia mengikuti Yesus dari belakang di tengah-tengah kerumunan banyak orang dan menyentuh jubah-Nya. Seketika itu juga pendarahannya berhenti, dan ia pun sembuh. Namun Yesus yang merasakan ada kuasa yang mengalir dari diri-Nya berpaling dan bertanya: ‘Siapa yang menyentuh Aku?’ Murid-murid-Nya menjawab: ‘Orang banyak berdesak-desakan di sekeliling Guru. Tentu saja banyak orang menyentuh Guru.’ Namun Yesus terus memandang berkeliling. Akhirnya, wanita yang ketakutan itu, yang merasa bahwa dirinya telah disembuhkan, maju ke depan, dan Kitab Suci mengisahkan, ia ‘dengan tulus memberitahukan segala sesuatu kepada-Nya.’ Yesus kemudian berkata kepadanya, ‘imanmu telah menyembuhkan kamu – pergilah dengan selamat.’

            Perhatikan bahwa di dalam cerita ini wanita itu disembuhkan semata-mata dengan menyentuh Yesus, bahkan sebelum ia bicara pada Yesus. Di sini ada dua momen penyembuhan: yang pertama, ketika terjadi sentuhan tanpa bicara, dan selanjutnya ketika terjadi pembicaraan eksplisit di antara dia dengan Yesus. Mengada dua momen? Apa yang ditambahkan oleh pembicaraan eksplisit itu pada momen dasar berupa sentuhan itu? Dengan membawa risiko berupa penafsiran atas kategori penyembuhan lainnya, seseorang mungkin berkata bahwa ketika wanita itu menyentuh ujung jumbai jubah Yesus, ia sebenarnya telah disembuhkan, dan ketika ia berbicara secara eksplisit dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya seluruh kebenaran, wanita itu lalu disembuhkan sepenuhnya.

            Teks ini merupakan teks yang mengandung suatu paradigma (struktur atau rumus sempurna dari sesuatu). Dibentangkan suatu pola di dalamnya. Kita lihat dalam hubungan dengan Inkarnasi, di dalam teks cerita itu bagaimana penyembuhan dan rekonsiliasi bekerja di dunia. Pendeknya, dalam pola penyembuhan dan rekonsiliasi, sama seperti wanita itu, kita akan mendapatkan kesembuhan dan kepenuhannya dengan menyentuh Tubuh Kristus, dan sebagai anggota Tubuh Kristus, kita dipanggil untuk menyampaikan kesembuhan dan kepenuhannya dari Allah dengan menyentuh orang lain juga. 

Apakah inti pokok dari sakramen rekonsiliasi atau pengampunan dosa? Bagaimana dosa-dosa kita membuat kita diampuni?

            Umat Katolik Roma dan umat Protestan sudah lama berdebat mengenai soal ini. Sementara umat Katolik Roma menekankan pentingnya pengakuan dosa baik mengenai jenis dosa yang bersangkutan maupun frekuensi terjadinya dosa, kepada seorang imam, kebanyakan umat Protestan menyatakan bahwa suatu penyesalan yang sungguh-sungguh di hadapan Tuhan saja sudah cukup memadai. Bahasan tentang itu saja bisa panjang lebar, namun cukuplan dikatakan bahwa keduanya menekankan hal yang sangat penting, dan keduanya secara sangat mendasar, menekankan kebenaran yang makin radikal dari Inkarnasi, yaitu pertama-tama sakramen pengampunan itu adalah menyentuh jumbai jubah Yesus, Tubuh Kristus. Dosa-dosa kita diampuni dalam cara yang sama dengan wanita yang di dalam Injil Markus itu sembuh dari pendarahannya setelah menyentuh Tubuh Kristus, yaitu Ekaristi dan persekutuan (komunitas) umat.

             Bayangkanlah gambaran berikut: Anda pada suatu malam duduk di tengah-tengah keluarga anda. Anda merasa marah, terlalu lelah, tetapi kurang dihargai. Sesuatu menyebabkan anda hilang sabar dan anda meledak marah. Anda berteriak kepada setiap orang, menyatakan bahwa mereka itu mementingkan diri sendiri, anda membanting cangkir kopi anda, lalu sebagai penutup anda pergi dan membanting pintu keras-keras. Lalu anda duduk di dalam kamar anda sendirian mengasingkan diri. Berangsur-angsur hati anda sembuh dan rasa sesal mengatasi rasa kasihan pada diri sendiri, namun harga diri yang terluka dan kekasaran yang telah terjadi mencegah anda masuk lagi ke ruang keluarga dan minta maaf. Akhirnya anda tertidur, membiarkan segala sesuatu tanpa rekonsiliasi. Pagi berikutnya, jelas menunjukkan penyesalan dan agak malu-malu, sekalipun masih membawa beban harga diri yang terluka, anda menggabungkan diri di meja makan keluarga. Semuanya duduk di sana dan sedang sarapan. Anda mengambil lagi cangkir kopi anda (yang ternyata tidak pecah ketika anda banting, telah dicuci dan digantungkan kembali ke tempatnya!), menuang kopi dan tanpa bilang apa-apa duduk di meja itu – penyesalan dan harga diri anda yang terluka bisa dilihat oleh setiap anggota keluarga anda dari setiap gerak-gerik anda. Dan mereka bukanlah bodoh, begitu pula anda. Mereka semua tahu apa maksud semuanya itu. Tanpa kata-kata, hal yang mendasar telah disampaikan. Anda sedang menyentuh jumbai jubah, anda sedang melakukan gerakan dasar menuju rekonsiliasi, tubuh anda dan tindakan anda mengatakan sesuatu yang lebih penting daripada kata-kata apapun: “Aku ingin menjadi bagian dari kalian semua.” Pada saat itu pendarahan pun berhenti (sekalipun hanya untuk saat itu).  Seandainya anda jatuh mati di tempat itu saat itu, anda mati dalam perdamaian dengan keluarga anda.

            Namun ini lebih dari sekadar analogi gambaran tentang caranya rekonsiliasi bekerja dalam Inkarnasi. Ini adalah kenyataan. Apa yang dilukiskan itu, sekalipun kasar, dalam bentuknya yang tanpa basa-basi, adalah sakramen rekonsiliasi, sakramen perdamaian. Dosa-dosa kita dimaafkan dengan berada di dalam persekutuan dengan satu sama lain, berada di meja bersama satu dengan yang lain. Pendek kata, kita tidak akan masuk neraka sejauh kita bersentuhan dengan komunitas persekutuan – menyentuhnya dengan tulus dan dengan rasa penyesalan akan apa yang telah terjadi. Agar jelas sekalipun caranya rada kasar, jika saya melakukan dosa serius pada Sabtu malam dan, bagaimana pun keadaan fisik saya pada Minggu paginya, jika saya masuk gereja dengan tulus dan menyesal di hati, dosa-dosa saya diampuni. Sebab saya telah menyentuh jubah Kristus.

            Santo Agustinus (yang Uskup Hippo, bapa gereja, 354-430) tentang Tubuh Kristus, di dalam beberapa homili yang disampaikannya di hari Minggu Paskah kepada orang dewasa yang baru dibaptis, menyatakan, bahwa ketika mereka berada di sekeliling altar sebagai suatu persekutuan, suatu komunitas, dan mendoakan Doa Tuhan (Bapa Kami), maka dosa-dosa yang telah mereka perbuat diampuni.[iv] Santo Agustinus benar. Sedemikian itulah daya kekuatan Inkarnasi. Demikian besarnya kekuatan dan tanggungjawab yang diberikan Allah kepada kita dalam Kristus. Sebagaimana dikatakan oleh Yesus sendiri: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu” (Yoh 14:12).

 Mengikat dan melepaskan

Apa yang kita lakukan jika mereka yang kita sayangi tidak lagi seiman dengan kita, tidak lagi menghargai nilai-nilai dan moral yang mendalam seperti kita?

            Misalkanlah, sebagai contoh yang paling umum, sebagai orangtua anda kehilangan anak-anak anda, dalam arti bahwa mereka tidak lagi melaksanakan iman yang sama dengan anda. Anak anda sendiri tidak lagi pergi ke gereja, tidak berdoa, tidak mematuhi hukum Gereja (terutama yang bersangkutan dengan seks dan perkawinan), dan menganggap praktek iman anda entah sebagai sesuatu yang naif, entah suatu kemunafikan belaka (pura-pura atau hipokret). Anda sudah bicara dengan mereka, berdebat dengan mereka, dan sudah mengusahakan segala cara untuk meyakinkan mereka, namun tidak berhasil. Pada akhirnya anda mengalami keadaan yang tidak membahagiakan dalam hidup anda sekarang. Anda melaksanakan iman, anak-anak anda tidak. Salah satu ikatan yang paling dalam di antara anda telah diputuskan. Lebih-lebih jika anda lalu mengkhawatirkan mereka yang tampaknya menghayati kehidupan tanpa Tuhan. Apa yang anda lakukan?

            Yang jelas anda dapat terus mendoakan mereka dan menghayati hidup anda sendiri sesuai dengan keyakinan anda, dengan harapan dapat lebih meyakinkan mereka dengan hidup anda ketimbang dengan kata-kata. Namun anda dapat berbuat lebih dari itu. Anda dapat terus menyayangi dan mengampuni mereka dan, sejauh mereka menerima kasih dan pengampunan dari anda, mereka juga tetap menerima kasih dan pengampunan dari Tuhan. Anda adalah bagian dari Tubuh Kristus dan mereka menyentuh anda. Di dalam misteri Inkarnasi yang luar biasa itu, anda melakukan perintah Yesus yang disampaikan-Nya lewat perkataan: “Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kau lepaskan di dunia ini akan terlepas di surga” (Mat. 16:19). Dan “Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa itu tetap ada, dosanya tetap ada” (Yoh 20:23).[v]

            Jika anda seorang anggota Tubuh Kristus, ketika anda mengampuni seseorang, maka ia diampuni; jika anda tetap mengikat dia dalam kasih, ia tetap terikat dengan tubuh Kristus. Neraka hanya mungkin ketika seseorang menempatkan diri sama sekali terpisah jauh dari jangkauan kasih dan ampunan, kasih dan ampunan insani, ketika orang itu sama sekali tidak bisa dicintai dan menolak ampunan dengan secara aktif menolak hal-hal yang tidak terlalu eksplisit merupakan praktek dan ajaran yang bersifat keagamaan dan moral, seperti kasih kemanusiaan yang tulus. Secara lebih konkretnya: Jika seorang anak, atau saudara lelaki atau perempuan atau siapa pun yang anda kasihi memisahkan diri dari Gereja sehubungan dengan pelaksanaan iman dan moralitas, namun selama anda terus mengasihi orang itu dan mengikat dia dalam kebersamaan dan ampunan satu sama lain, dia menyentuh jumbai jubah dan terikat pada Tubuh Kristus, dan karenanya diampuni oleh Tuhan tanpa memandang hubungan resmi lahiriahnya pada Gereja dan moralitas Kristiani. Sentuhan anda adalah sentuhan Kristus. Jika anda mengasihi seseorang, kecuali jika dia secara aktif menolak kasih dan ampunan anda, dia tetap terikat pada keselamatan. Dan ini benar, sekalipun sudah melalui kematian. Jika seseorang yang dekat dengan anda meninggal di dalam situasi yang secara lahiriah terpisah dari Gereja yang kelihatan baik secara iman maupun moral, kasih dan ampunan anda terus mengikat orang itu kepada Tubuh Kristus dan terus mengalirkan pengampunan kepadanya, sekali pun sesudah kematian.

            Salah seorang apologet (yang membela iman dan memberi penjelasan tentang iman yang diyakini) yang terbesar dalam zaman kita, G.K. Chesterton (penulis dari Inggris yang sangat berpengaruh, 1876-1936), suatu ketika menulis parabel kecil tentang ini:

Seorang lelaki yang sama sekali tidak peduli pada hidup rohani mati dan pergi ke neraka. Dia sangat diratapi di bumi oleh teman-teman lamanya. Agen-agen bisnisnya pergi ke gerbang neraka untuk melihat-lihat apakah ada peluang untuk membawanya pulang. Namun, sekalipun sudah meminta-minta agar gerbang itu dibuka, gerbang besi itu tidak pernah membuka. Bahkan pastornya juga datang dan memberi pembelaan: ‘Dia pada dasarnya bukanlah orang jahat, berilah waktu dan dia akan menjadi lebih baik lagi. Biarlah dia keluar, tolonglah!’ Namun gerbang neraka itu tetap saja tertutup tak peduli pada suara-suara mereka. Akhirnya ibunya datang, ia tidak meminta anaknya untuk dibebaskan. Dengan tenang, dan dengan nada suara yang asing, ia berkata kepada iblis penjaga gerbang itu: “Biarkan aku masuk.” Dengan segera pintu besar itu terbuka. Karena kasih turun menembus pintu neraka dan di sana menebus mereka yang mati.[vi]

          

            Di dalam Inkarnasi, Allah mengambil rupa manusia dalam Yesus, dalam Ekaristi, dan dalam semua orang yang tulus beriman. Rahmat kemurahan yang berlimpah-limpah, kuasa dan kerahiman yang datang ke dunia dalam Yesus masih berada di dunia ini, sekurangnya secara potensial demikian. Dalam diri kita, Tubuh Kristus. Apa yang dulu dilakukan Yesus juga dapat kita lakukan sekarang; dan sesungguhnya, itulah yang diminta agar kita laksanakan.

 Pengurapan satu sama lain menghadapi kematian

Di dalam film, Dead Man Walking, terdapat suatu adegan yang sangat mengesan: Suster Helen Prejean, seorang biarawati Roma Katolik yang membantu Patrick Sonnier, seorang terpidana mati, menyiapkan diri untuk mendapatkan gilirannya dieksekusi. Ia berkata kepada si terpidana itu, agar ketika didudukkan di kursi eksekusi dan disuntik dengan zat yang mematikan, dan menunggu maut, terpidana itu harus memandang wajah sang suster, “dengan cara itu maka hal terakhir yang kamu lihat sebelum kematian adalah wajah seseorang yang mengasihi kamu.” Terpidana itu melakukannya dan ia mati dalam kasih, bukan dalam kepedihan.

            Di dalam Injil-injil ada suatu peristiwa di mana seorang wanita yang bernama Maria, sebenarnya melakukan hal seperti itu pada Yesus. Di Betania, beberapa hari menjelang kematian Yesus, Maria mengurapi kaki Yesus dengan munyak wangi yang mahal harganya dan Yesus berkata: “Ia membuat suatu persiapan untuk penguburan-Ku” (Mat 26:12; Mrk 14:8; dan dalam versi yang agak lain dalam Luk 7:38.47). Ada bermacam-macam makna dari pernyataan ini, namun antara lain, Yesus berkata: “Karena hal ini jadi makin mudah untuk tidak menyerah kalah kepada kepahitan, dan lebih mudah untuk mati. Karena tahu bahwa Aku begitu dicintai maka akan lebih mudah untuk meninggalkan dunia ini tanpa kemarahan di hati.” Inilah maknanya mendapat pengurapan.

            Kita mengenal suatu ritus yang kita sebut sakramen untuk orang sakit. Yaitu pengurapan minyak yang dimaksudkan untuk memenuhi seruan Kitab Suci:

 Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni. Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, jika dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya. (Yak 5:14-16).

Tetua dalam gereja adalah seseorang yang dalam rahmat iman berkelimpahan dan dewasa, seperti Sr Helen Prejean, sehingga dapat berkata kepada orang lain: “Jika kamu pahit hati dan marah, lihatlah wajahku dan akan kamu lihat muka seseorang yang mengasihi kamu. Peganglah tanganku dan tolaklah kepahitan. Berilah maaf dan pergilah dalam damai.” Maka setiap orang dari kita yang mengunjungi orang sakit atau orang yang hendak meninggal, tanpa peduli betapa kurang mampunya kita menyusun kata-kata dan berbicara, hendaklah mengoleskan minyak, seperti seorang imam dalam sakreamen orang sakit. Sentuhan pada orang sakit atau mengucapkan kata-kata penghiburan atau kasih sayang pada seseorang yang hendak meninggal, dengan caranya sendiri, adalah melakukan apa yang dilaksanakan oleh wanita di Betania itu untuk Yesus (dan seperti apa yang dilakukan suster Helen Prejean bagi Patrick Sonnier). Suatu pengurapan untuk mempersiapkan kematian. Inkarnasi memberikan kepada kita daya kuasa yang luar biasa ini.

Beberapa catatan penutup menanggapi beberapa keberatan

Sekalipun benar, sungguh sulit dipercaya!

Beberapa karangan pendek tentang Inkarnasi mengungkapkan dasar-dasar yang sudah disampaikan secara garis besarnya di sini. Banyak orang yang berkeberatan atas dasar ini: “Bagaimana anda bisa mengatakan bahwa kita dapat mengampuni dosa-dosa dan melakukan segala sesuatu yang hanya dapat dilakukan oleh Kristus sendiri?” Dasar penolakan itu sungguh benar, kecuali untuk pandangan tentang Inkarnasi yang dinyatakan di sini, yang tak pernah menyatakan bahwa kita sendiri  mampu mengampuni dosa, mengikat dan melepas, menyembuhkan satu sama lain, atau bahwa kita saling mengurapi. Adalah Kristus yang bekerja melalui kita melaksanakan semua ini. Kuasa itu adalah kuasa Tuhan, bukan kuasa kita, namun di dalam Inkarnasi dengan cara yang luar biasa Tuhan telah berkenan memilih untuk melimpahkan kuasa itu mengalir melalui kita, sehingga daging kita mewujudkan kuasa-Nya itu.

            Namun juga ada keluhan yang menggelitik dan menyatakan: “Ini tentu tidak benar, sebab begitu bagusnya hingga sulit dipercaya kebenarannya!” Jawaban pada komentar itu hanyalah : Begitulah hebatnya Inkarnasi. Begitu hebat hingga kita sulit percaya, apakah sesungguhnya begitu. Tepat karena hakekatnya yang baik luar biasa dan tak terbayangkan itulah maka kita menyanyikan dengan gembira lagu-lagu Natal kita: “Joy to the world, the Lord has come!” (Sukacita bagi dunia, Tuhan telah datang!). Dengan kelahiran Yesus, sesuatu yang mendasar telah berubah. Tuhan telah memberi kita kuasa harafiah untuk saling menjauhkan satu sama lain dari neraka.

 Lalu di mana tempatnya sakramen pengakuan Katolik?

Jika dosa-dosa kita mendapat pengampunan hanya dengan menyentuh persekutuan (komunitas) dan dengan menghadiri Ekaristi, lalu apa ada perlunya atau adakah tempat bagi pengakuan dosa eksplisit di hadapan seorang pastor?  Di mana tempatnya pengakuan yang eksplisit dari pribadi ke pribadi?

            Bagaimana pun inilah yang sekurang-kurangnya dapat disampaikan dalam konteks pembicaraan kita. Yang baru saja kita bicarakan mengenai pengampunan dosa dengan menyentuh Tubuh Kristus sama sekali tidak mengecilkan pentingnya pengakuan eksplisit. Jika dipahami dengan benar, justru sebaliknya. Jika seseorang memahami dirinya sebagai bagian dari Tubuh Kristus dan yang bersentuhan dengan Tubuh Kristus, bisa timbul pemikiran individualis yang tepatnya mencobai kita, agar tidak mengaku dosa kepada pribadi lain, terutama kepada pejabat yang mewakili Gereja. Gagasan semacam itu justru runtuh dan kita sebenarnya malah spontan mulai merasakan kewajiban yang mendesak (jauh dari  hukum gereja yang mewajibkan) untuk mengaku dosa. Namun harapan dalam pengakuan eksplisit itu bukanlah apakah Tuhan mengampuni dosa kita atau tidak.

            Secara mendasar di semua tingkatan, pengakuan eksplisit kepada seorang imam bukanlah supaya dosa kita diampuni – itulah kebenaran yang secara utuh diajarkan dalam Kitab Suci, dalam tulisan para bapa gereja, di dalam teologi segala ragam, di dalam tradisi dogmatik (bahkan dalam Konsili Trente dan teologi dan katekismus pendukungnya sekalipun), dalam tradisi gereja, dan khususnya dalam praktek pelaksanaan iman[vii].  Dasar dari sakramen rekonsiliasi selalu kesungguhan dan penyesalan ketika sesorang menyambut Ekaristi dan menyentuh persekutuan (komunitas) Kristiani. Namun itu tidak menyatakan bahwa pengakuan adalah tidak penting dan perlu.

            Di dalam cerita tentang wanita yang menyentuh jumbai jubah Yesus ada dua saat penyembuhan, yaitu sentuhan dan pengakuan eksplisit. Pengakuan kepada seorang imam dan pengampunan semata-mata dengan menentuh persekutuan (komunitas) terkait dengan cara yang sama seperti pembicaraan eksplisit antara wanita itu dengan Yesus terkait dengan sentuhannya pada jumbai jubah Yesus. Percakapan dari pribadi-ke-pribadi itu melengkapkan sesuatu yang sangat penting dan merupakan bagian dari gerakan oraganik menuju rekonsiliasi yang sepenuhnya, damai dan sikap yang dewasa. Pengakuan eksplisit dalam kaitan dengan sakramen rekonsiliasi adalah merupakan permohonan maaf secara eksplisit demi kesembuhan. Tindakan memang bicara lebih kuat ketimbang kata-kata, dan bagian dasar dari rekonsiliasi terjadi melalui suatu tindakan. Namun kata-kata pada titik tertentu juga menjadi sangat penting. Orang yang dewasa meminta maaf secara eksplisit dan kita menjadi dewasa dengan meminta maaf. Selain itu, sebagaimana akan dikatakan oleh mereka yang pernah diperlakukan secara keliru oleh orang lain, pengakuan eksplisit, yakni pengakuan kesalahan secara tulus adalah diharapkan, sebab tanpa itu masih dirasakan sesuatu yang tidak lengkap. Maka demikian pula, seseorang yang akrab dengan penyembuhan orang yang kecanduan, yang memahami cara bekerjanya program dua belas langkah, niscaya dapat menyatakan kepada anda, bahwa barulah jika seseorang menghadapi dosa-dosanya dengan jujur dan mengatakannya dengan berhadapan muka pada seseorang yang lain, terjadi penyembuhan yang sejati dan diperoleh kedamaian. Jika seseorang percaya bahwa dirinya pada dasarnya telah didamaikan dengan menyentuh persekutuan (komunitas) iman hal ini tidaklah mengurangi perlunya pengakuan secara pribadi. Dari situlah berawal suatu proses yang dalam kaitan dengan kedewasaan membuat orang memahami, seperti yang dialami wanita yang menyentuh jumbai jubah Yesus itu, bahwa kini sungguh penting sekali untuk melaksanakan perjumpaan dan pembicaraan secara sangat pribadi, bersemuka, dan tulus.

Memahami Bimbingan

Apakah perbedaan cara bagaimana kita mencari bimbingan dari Allah, bergantung dari situasi kita apakah kita orang Kristiani atau bukan, atau semata-mata orang yang percaya kepada Tuhan? Di dalam hal ini pertobatan Santo Paulus menjadi Kristiani sangat banyak memberi petunjuk, sebagaimana Inkarnasi pada umumnya. Pertobatan Santo Paulus ini diceritakan dalam Kitab Kisah Para Rasul (Kis 9:1-19).

            Paulus (sebelumnya bernama Saulus) adalah seorang yang percaya kepada Allah, tulus dan saleh. Begitu matangnya dia di dalam imannya maka ia memburu dan menganiaya umat Kristiani, karena yakin bahwa mereka itu tersesat dari jalan iman yang (baginya) benar. Namun pada suatu hari, ketika ia melakukan perjalanan (dari Yerusalem) ke Damaskus untuk menangkap dan memenjarakan kaum Kristiani ia jatuh dari kudanya karena tertimpa cahaya yang menyilaukan dan mendengar suatu suara berkata: “Saulus, Saulus, mengapa kamu menganiaya Aku?” Paulus tidak pernah bertemu dengan Yesus, tetapi ia dituduh menganiaya Kristus, maka karena ingin tahu ia bertanya: “Siapa Tuhan?” Ia mendapat jawaban : “Akulah Yesus yang kamu aniaya.” Perhatikan bahwa Yesus sejarah adalah dinyatakan identik dengan tubuh umat beriman sebagai suatu kesatuan.

            Dan Paulus disentuh hatinya dan di sana, di tempat itu juga, ia memberikan hidupnya kepada Kristus, namun dengan segera ia menerima pelajaran pertamanya sebagai implikasi dari sentuhan itu. Ia bukannya menerima petunjuk yang jelas dari surga harus pergi ke mana dan melakukan apa, namun ia diperintahkan agar membiarkan dirinya dituntun dan dibimbing masuk ke dalam kota Damaskus di mana komunitas Kristiani akan memberitahukan kepadanya apa yang harus dilakukan. Sebagai seorang Kristiani Paulus harus menerima bimbingan bukan hanya dari Tuhan yang di atas sana, tetapi juga dari komunitas iman di bumi.

            Sebagai orang Kristiani kita mencari bimbingan “dengan pengantaraan Kristus”. Namun karena Kristus merujuk baik kepada Yesus yang historis yang sudah diangkat ke surga, maupun bebadan kaum beriman yang konkret dan historis di sini di dunia, maka bila kita mencari bimbingan dalam arti berbagai pertimbangan dan keputusan kita memandang bukan hanya Tuhan di surga, namun juga yang ditunjukkan kepada kita sebagai Tubuh Kristus, yakni keluarga, teman-teman, gereja dan komunitas kristiani.

            Seorang pembimbing rohani bagi para seminaris menyampaikan pengalamannya. "Sangat sering seorang pria muda datang pada saya, sedang bergumul dengan keputusan apakah hendak menerima tahbisan atau meninggalkan seminari. Pada umumnya di dalam usaha mempertimbangkan hal ini ia menyandarkan diri nyaris secara eksklusif pada suatu perasaan hati yang dialaminya berdasarkan doa dan renungan pribadi. Jarang sekali ia bersedia dengan bobot pertimbangan yang setara, meminta pendapat komunitas seminari dan mereka yang telah menyertainya di dalam berbagai situasi kebersamaan. Pendek kata, ia melakukan pertimbangan sebagai seorang yang percaya kepada Tuhan – “Apa yang Tuhan di surga kehendaki agar saya lakukan?” – dan tidak melakukan apa yang diperintahkan kepada Paulus agar dilakukan, yaitu membiarkan dirinya dituntun oleh sesama dan mendengarkan perkataan mereka mengenai persoalannya.

            Yohanes dari Salib (Pujangga gereja dan mistikus, 1542-1591) suatu ketika pernah berkata bahwa bahasa Tuhan adalah pengalaman yang dituliskan Tuhan dalam hidup kita.[viii] Ini merupakan komentar Inkarnasi yang bagus. Tuhan tidak bicara kepada kita melalui mimpi-mimpi dan penglihatan dan yang paling penting ialah bahwa apa yang hendak Tuhan katakan tidak disampaikan secara luar biasa dalam visi mistikus. Tuhan Inkarnasi mempunyai tubuh nyata di bumi dan bicara kepada kita dalam tetek-bengek hidup keseharian, melalui semua yang punya kulit --  situasi historis, keluarga kita, tetangga kita, gereja kita, dan bahkan teman-teman yang mungkin berada di ambang setengah gila yang dengan caranya mengingatkan bahwa kita ini bukanlah Tuhan. Jika kita mencari bimbingan Tuhan maka niscayalah suara-suara dari dunia ini melengkapi suara dari surga.

Memahami Komunitas

Fakta bahwa Allah menjadi manusia dengan daging dan darah mempunyai konsekuensi yang agak berat sehubungan dengan spiritualitas dan komunitas. Spiritualitas, setidaknya spiritualitas Kristiani, bukan merupakan sesuatu yang anda lakukan sendiri. Komunitas merupakan bagian yang tak terpisahkan dari bagian inti Kristianitas, dan maka dari itu juga dari spiritualitasnya. Allah memanggil kita menempuh pemuridan, bukan sendirian, melainkan dalam kelompok. 

            Di dalam setiap Injil ada pola tertentu : khotbah Yesus pada awalnya menyebabkan Dia jadi sangat populer. Orang berkumpul untuk mendengarkan Dia, menjadikan Dia idola dan ingin menjadikan-Nya seorang raja. Namun akhirnya sesuatu terjadi, suatu pemahaman lain akan pesan-pesan-Nya mulai meresap, lalu popularitasnya turun dan kian memburuk sampai titik di mana orang malahan mau dan sungguh-sungguh membunuh Dia. Injil Yohanes memberikan alasan yang sangat jelas mengapa pada titik tertentu itu kerumunan orang buyar ilusinya dan marah pada Yesus. Di mana titik puncaknya, seperti yang dilukiskan Yohanes? (Yoh 6:41-71).

            Di dalam Injil Yohanes, Yesus mencapai titik puncak popularitas-Nya segera sesudah Ia menggandakan roti dan ikan. Pada titik itu, ia harus memisahkan diri dari kerumunan orang karena mereka mau menjadikan diri-Nya seorang raja. Namun segera setelah itu ia mulai memberi penjelasan lebih dalam apa maksudnya roti hidup itu, dan ini membuat-Nya mengalami kesulitan. Ia berkata kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya, jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup dalam dirimu” (Yoh 6:53). Dan reaksi mereka mengejutkan. Sesudah itu mereka pergi meninggalkan Dia dan berkata: “Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?” (Yoh 6:60).

            Apakah yang dikatakan Yesus sedemikian keras dan tajam, sehingga orang-orang yang tadinya hendak menjadikan diri-Nya raja berbalik menjadi orang yang mau membunuh Dia? Bagaimana seseorang yang sangat populer tiba-tiba menjadi persona non grata (orang yang tidak berharga) hanya karena suatu homili? Jawabannya adalah karena ajaran Yesus, yaitu bahwa, “jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu.” Apa maksudnya?

            Debat yang sengit terjadi karena kalimat ini. Sebagian komentator menyatakan bahwa kalimat ini begitu mengecewakan pendengar Yesus karena berkaitan dengan kanibalisme (manusia makan manusia). Siapapun akan kecewa atas ajaran agar memakan daging manusia. Yang lain menerjemahkan Ekaristi di dalam kalimat ini dan menyatakan bahwa orang-orang kecewa karena Yesus memberikan implikasi bahwa Dia secara fisik, daging dan darah, hadir dalam Ekaristi dan menerima Dia berarti secara harafiah makan daging-Nya.

            Pada akhirnya kedua penafsiran itu meleset. Mereka benar hanya dalam arti bahwa masalah Tubuh fisik Kristus bagaimana pun menjadi suatu persoalan di sini. Namun, baik soal kanibalisme maupun penerimaan wafer yang dikonsekrasikan sama-sama tidak dimaksudkan di sini. Apa yang membedakan gandum dari ilalang bukanlah kemampuan atau ketidakmampuan orang menyusuri lorong gereja untuk menerima komuni suci. Tantangan Yesus di sini jelas lebih besar lagi. 

            Kunci pemahaman atas tuntutan Yesus di sini terletak pada kata yang digunakan-Nya. Yesus menggunakan kata Yunani sarx untuk menyebut tubuh-Nya. Suatu pilihan kata yang mengherankan. Perjanjian Baru di dalam teks aslinya yang bahasa Yunani menggunakan dua kata untuk tubuh, yaitu keseluruhan diri manusia – sarx dan soma. Kata soma digunakan untuk menyebut orang sejauh dia itu baik atau netral. Kata sarx di pihak lain selalu merujuk orang sejauh dia itu dalam situasi tidak menyenangkan. Maka sebagai misal saya adalah sarx sejauh saya sakit, berbau, berdosa dan mati, namun saya adalah soma sejauh saya ini sehat, menarik, melakukan hal-hal yang mulia, dan bangkit dari mati.

            Dengan menggunakan latar belakang ini – fakta bahwa tubuh Kristus bukan hanya manusia historis Yesus dan kehadiran nyata dari Tuhan di dalam Ekaristi, tetapi juga tubuh kaum beriman yang konkret historis di dunia ini juga – kita lihat dengan lebih jelas apa maksud Yesus di sini, dan mengapa perkataan-Nya jadi sangat kuat dan akibatnya menceraikan. Dengan menggunakan kata sarx itu, Yesus memaksudkan tubuh-Nya yang tepatnya yang bukan tanpa dosa, yang dimuliakan di surga, tetapi juga bukan yang dimurnikan  sebagai wafer komuni yang putih di gereja. Yang disuruh “dimakan” adalah bagian dari tubuh-Nya yang lain, yaitu komunitas, persekutuan kaum beriman yang bernoda di sini di dunia.

            Pada intinya, Yesus mengatakan : Kamu tidak dapat berurusan dengan Allah di surga yang sempurna, maha-kasih, maha-pengampun dan maha-tahu, jika kamu tidak dapat mengurus komunitas di dunia yang kurang sempurna, kurang memaafkan dan kurang pengertian ini. Kamu tidak dapat berpura-pura berurusan dengan Tuhan yang tidak kelihatan jika kamu menolak berurusan dengan keluarga yang kelihatan. Mengajarkan kebenaran ini dapat dengan cepat menghancurkan popularitas seseorang. Orang-orang dengan demikian mendapatkan ajaran ini sebagai “perkataan yang sangat keras” dan menjumpai penolakan yang sama dewasa ini.

            Untuk lebih mengonkretkan hal ini, marilah kita bayangkan suatu contoh: Anda bergabung dengan suatu komunitas paroki baru. Mula-mula, ketika berjumpa dengan orang-orang ini pertama kalinya, anda mendapatkan mereka itu baik-baik dan anda suka pada mereka. Anda begitu terkesan dalam fakta bahwa anda ikut terlibat baik dalam dewan paroki maupun dalam paduan suara. Namun pada akhirnya ketika anda mengenal setiap orang lebih mendalam, ilusi anda buyar. Anda tahu bahwa pastor anda punya beberapa kelemahan dan kesalahan yang nyata, bahwa visi dewan paroki anda remeh dan sempit, bahwa komunitas itu sendiri sangat mementingkan diri sendiri dan tidak peduli pada kebutuhan pihak di luar dirinya. Lalu tibalah pada suatu malam ketika dalam rapat dewan seseorang menuduh anda terlalu sombong dan terlalu memaksakan kehendak. Semangat anda merosot drastis dan anda walk-out, keluar tidak lagi mengikuti rapat itu, kata anda pada diri sendiri: “Ini tak bisa diterima! Aku tak mau berurusan dengan hal seperti ini! Aku keluar dari sini!”

            Anda menjauhkan diri dari sarx, karena selalu seperti itulah kelihatannya tubuh Kristus yang konkret di dunia ini. Berkata, “aku tak mau berurusan dengan hal seperti ini” adalah bertentangan dengan ajaran Kristus sebab inilah tepatnya yang mau disampaikan-Nya ketika Ia berkata: “jikalau kamu tidak makan daging-Ku kamu tidak punya hidup dalam dirimu.” Yesus, sekurangnya di dalam Injil Yohanes, begitu jelas. Kita tidak dapat melompati, “by-passing”, keluarga yang punya cacat di dunia ini untuk berhubungan dengan Tuhan yang tanpa cacat di surga. Komunitas yang konkret merupakan elemen yang tidak bisa ditawar di dalam persoalan spiritual karena tepatnya kita ini orang Kristiani, bukan sekedar orang yang percaya kepada Tuhan. Tuhan bukan hanya berada di surga, tetapi juga ada di dunia.

            Ini mempunyai banyak konsekuensi yang jauh jangkauannya. Di antaranya lalu menggugurkan salah paham populer yang utama (suatu bidat yang bagaikan virus) yang begitu negatif pengaruhnya pada pemikiran populer dewasa ini. Salah paham ini punya bermacam-macam ungkapan yang berbeda, namun dapat diikhtisarkan dalam satu perkataan yang sederhana: “Aku orang Kristiani yang baik, seorang yang tulus mengabdi Tuhan, tetapi aku tidak membutuhkan gereja – aku dapat berdoa sama baiknya di rumah saja.” Itu memang benar tepatnya karena anda seorang yang beriman kepada Tuhan, tetapi tidak benar bagi orang Kristiani (juga bagi penganut Yudaisme juga). Sebagian dari esensi Kristianitas adalah bersekutu, berhimpun bersama di dalam suatu komunitas yang konkret, dengan segala cacat kesalahan yang manusiawi yang ada di sana, dan segala ketegangan dan keruwetan yang diakibatkannya. Bagi seorang Kristiani, spiritualitas tak pernah merupakan suatu usaha yang bersifat individualistis, mau mengejar Tuhan di luar keluarga, komunitas dan gereja. Tuhan yang ber-Inkarnasi menyatakan bahwa barang siapa yang berkata bahwa dia mencintai Tuhan yang tidak kelihatan di surga dan tidak mau berurusan dengan sesama yang kelihatan di dunia adalah seorang pembohong, sebab tak seorang pun dapat mengasihi Allah yang tidak dapat dilihat jika ia tidak mengasihi sesama yang kelihatan (1Yoh 4:20). Maka spiritualitas Kristiani selalu menyangkut baik hubungan antar orang  maupun hubungan dengan Tuhan. 

Baca juga: SPIRITUALITAS INKARNASI

 


Catatan dan Rujukan

 [i] Untuk suatu analisis yang sangat bagus dari soal ini, lihat Jerome Murphy O’Connor, “Prayer of Petition and Community” dalam buku What Is Religious Life? – Ask the Scripture, Supplement to Doctrine and Life, Vol 11, hal 31-40, Dublin, Dominican Publications.

 [ii] Idem hal 36.

 [iii] Ini bukan suatu kutipan langsung, melainkan gubahan.

 [iv] Ini disampaikan Santo Agustinus beberapa kali dalam homili-homili tentang Ekaristi, misalnya lihat Sermo 272, In die Pentecostes Postremus (b) – Ad Infantes, de Sacramento, Vol. 38.  Di sini, di dalam menjelaskan tatanan Ekaristi satu demi satu, ia berkata kepada baptisan baru: “Kemudian diucapkan doa Bapa Kami yang telah kamu terima dan hapalkan. Mengapa doa itu diucapkan sebelum penerimaan Tubuh dan Darah Tuhan? Karena mungkin kelemahan pikiran manusiawi kita membayangkan sesuatu yang bukan-bukan yang tidak akan menjadi kenyataan, mata kita melihat sesuatu yang tidak pantas, telinga kita mendengarkan secara berlebihan hal-hal yang tidak layak. Jika seandainya hal-hal seperti itu terus terjadi karena pencobaan dan kelemahan hidup insani, semua itu dibersihkan oleh doa Bapa Kami pada saat kita mengucapkan ‘ampunilah kesalahan kami’ sehingga kita pantas dan layak menerima sakramen.” (Terjemahan ke dalam bahasa Inggris dari bahasa Latin oleh Johannes van Bavel, disampaikan di dalam kuliah, Universitas Louvain, 1981 ).

 

[v] Salah satu catatan lain diperlukan di sini: Adalah mudah untuk menerima fakta bahwa Tuhan dapat meratifikasi, mengesahkan, pengampunan kita satu sama lain, namun tidaklah mudah menerima bahwa Tuhan juga meratifikasi  dendam dan ketidaksediaan kita untuk mengampuni. Dapatkah kita menahan dosa orang seperti kita mengampuni dosa mereka? Jawabannya jelas, tidak. Logika rahmat hanya berjalan satu arah – rahmat hanya dapat melimpah dengan murah tetapi tidak dapat dalam hal ini sekaligus pelit dan semena-mena. Allah hanya meratifikasi apa yang kita lakukan sejauh kita bertindak seperti yang dilakukan oleh Yesus. Namun ini merupakan pembicaraan yang rumit dan seperti ladang yang mengandung banyak ranjau. Untuk pembahasan yang ebih penuh, silakan baca: “In exile”, Ronald Rolheiser, ‘Our Power to Bind and Loose’, dalam  Western Catholic Reporter, 13 Mei 1996; dan dalam Catholic Herald, 23 April 1996.

 [vi] Sedikit diubah redaksinya dari karya GK Chesterton, The Everlasting Man, New York, Image Books, 1955.

 [vii] Suatu catatan khas Katolik diperlukan di sini: Di sini banyak umat Katolik akan menolak, dengan menyatakan bahwa Konsili Trente menentukan secara dogmatik bahwa tidak ada pengampunan bagi dosa berat tanpa pengakuan secara pribadi kepada seorang imam. Sesungguhnya, tak seorang pun dapat menyatakan dalam nama Kristus bahwa dosa berat di dunia ini tidak diampuni Tuhan, selain jika orang yang berdosa itu mengakukannya kepada pejabat yang tertahbis. Namun pengakuan eksplisit tetap perlu karena inkarnasi Sang Sabda.

[viii] John of the Cross, “The Living Flame of Love”, komentar atas Stanza satu no.7. Lihat The Collected Works of John of the Cross, terjemahan K. Kavanaugh, Washington DC, ICS Publications, 1991 hal 643.