Daftar Blog Saya

Tampilkan postingan dengan label Tipologi Yesus Dalam Makam dan Bangkit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tipologi Yesus Dalam Makam dan Bangkit. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Oktober 2022

YUNUS DAN NINIWE

 CATATAN PINGGIR KITAB SUCI HARI INI



Yunus  

Nama dalam bahasa Ibrani, artinya “merpati”. Yunus adalah nabi kecil yang kelima dan tokoh utama dalam kitab Yunus. Nabi Yunus berasal dari Gat-heper di Galilea, putera Amitai (2 Raj 14:25). Ia hidup pada zaman pemerintahan Yoas (sekitar 798-782 SM) dan Yerobeam II (793-753 SM), raja Israel. Hanya sedikit saja yang kita ketahui tentang nabi Yunus ini sebelum dia ditugasi oleh Allah seperti yang diceritakan dalam kitab Yunus; 2 Raj 14:25 merupakan satu-satunya petunjuk tentang dia di dalam Perjanjian Lama di luar kitab Yunus. Kitab Yunus mengisahkan bagaimana Yunus mendapat tugas dari Tuhan supaya pergi ke kota Asyur Niniwe dan menyatakan kehancurannya karena kejahatannya. Ia dipanggil Allah untuk menyampaikan nubuat itu dan menyerukan pertobatan. Tetapi Yunus seorang patriot Israel yang membenci Asyur, musuh bebuyutan Israel. Ia tidak suka jika ibukota Asyur diselamatkan. Maka ia menghindari tugas dari Allah itu. Ia lari sejauh mungkin ke tempat yang berlawanan arah, berlayar dari Yope (Jaffa) ke Tarsis. Di laut, badai menerjang dan para pelaut yang merasakan adanya seseorang yang membawa kutuk celaka, membuang undi untuk menemukan sumber petaka. Dan undi itu jatuh pada Yunus, yang mengaku dan meminta para pelaung supaya membuang dirinya ke laut supaya terbebas dari kutuk celaka itu (Yun 1:1-16).

                Tuhan mengirim seekor ikan besar yang menelan Yunus dan menyelamatkannya dari tenggelam (Yun 1:17). Dalam suatu momentum kritis yang luar biasa dan ekstrem, Yunus berseru kepada Tuhan dan menyanyikan mazmur (Yun 2:2-9). Seruannya didengar dan sesudah tiga  hari ia dimuntahkan ke pantai oleh ikan itu (Yun 2:10). Setelah membebaskan Yunus dari laut, Tuhan mengulangi lagi perintahNya agar Yunus pergi ke Niniwe.

                Kali ini Yunus patuh. Ia pergi ke Ninive dan memperingatkan rakyat akan bencana yang akan datang. Yunus terguncang ketika rakyat dan raja benar-benar percaya kepada pesannya dan bertobat mengenaikan pakaian duka dan abu. Karena kesungguhan tobat mereka, Tuhan membatalkan hukuman bencana atas mereka (Yun 3).

                Marah karena Niniwe, musuh yang dibenci Israel diselamatkan, Yunus mengeluh pada Tuhan. Ia membuat sebuah pondok di sebelah timur kota “menantikan apa yang akan terjadi pada kota itu” (Yun 4:5).

                Di sini Tuhan menyiapkan suatu petunjuk praktis untuk Yunus. Tuhan mengirimkan suatu tanaman (sejenis pohon castor oil plant, atau tanaman ricinus communis [Jarak], yang tumbuh cepat dengan daun-daun yang lebar) hingga menaungi Yunus dan menyenangkannya. Tetapi dengan segera Tuhan mengirimkan ulat yang menyerang tanaman itu, hingga keesokan harinya layu dan sekali lagi Yunus mengeluh kepada Tuhan. Lalu Tuhan mengecam Yunus karena mementingkan diri sendiri: ia mengeluh demi sebatang tanaman yang layu dan serentak dengan itu mengharapkan agar Tuhan jangan menaruh iba pada pertobatan beribu-ribu rakyat di kota (Yun 4).

                Yunus disebutkan beberapa kali di dalam Perjanjian Baru (Mat 12:41; Luk 11:32). Yesus merujuk waktu ketika Yunus berada di dalam perut ikan sebagai tipologi dari pemakaman dan kebangkitanNya sendiri (Mat 12:39-30; 16:4; Luk 11:29-31). Yunus sering dilukis dalam perut  ikan di katakomba-katakomba sebagai tipologi Kristus. Suatu tradisi yang disimpan melalui Santo Hieronimus (Comm.Jon. Prol) menyatakan bahwa Yunus adalah anak seorang janda dari Sarfat yang dihidupkan kembali oleh nabi Elia (1 Raj 17-24).


Niniwe  

Kota utama dan ibu kota terakhir dari Asyur. Niniwe terletak di tepi timur Sungai Tigris, bersebelahan dengan kota modern Mosul, Irak. Menurut Kej 10:11-12, Niniwe adalah salah satu kota yang didirikan oleh Nimrod setelah ia meninggalkan Babilonia. Tempat itu dihuni orang sejak milenium keempat SM dan menjadi kotaraja Asyur dalam abad ketujuh SM di bawah Tiglat-pileser I. Ketika Sargon berkuasa (722-705 SM) ibukota dipindahkan ke Dur Sharukkin (sekarang Khorsabad), tetapi kemudian dikembalikan lagi ke Niniwe di bawah Sanherib (memerintah 705-681 SM). Suatu kompleks istana yang luas didirikan di Niniwe beserta pembangunan benteng yang ambisius, dan istana-istana tambahan didirikan oleh Esarhadon (memerintah 681-669 SM) dan Asurbanipal (memerintah 669-630 SM). Niniwe pada akhirnya ikut runtuh bersama dengan jatuhnya Kerajaan Asyur, setelah dikepung oleh Babilonia dan Media pada tahun 614 SM dan kemudian direbut tahun 612 SM. Kota itu dihancurkan sama sekali dan tinggal puing-puingnya menjadi sejarah (Zef 2:13-3:7).

                Dalam Perjanjian Lama, kota Niniwe diperikan sebagai kota raja-raja Asyur, yang beberapa kali menyerbu Israel, menghancurkan kota-kota besar dan kecil, dan menggiring banyak orang Israel menjadi tawanan. Maka mudah sekali memahami mengapa Yunus begitu tidak suka dengan pertobatan singkat dari Niniwe, yang menyebabkan kota itu lolos dari kehancuran pada zamannya (Yun 3:1-4:5). Namun pembaruan itu tidak bertahan lama sehingga Tuhan mengutus nabi-nabi lain untuk menyatakan hukuman akhirnya (Nah 2:10-3:19; Zef 2:13-15). Peringatan akan kehancuran kota itu di masa depan mendesak Tobit, seorang buangan di Niniwe, dan menyuruh puteranya segera pergi sebelum hukuman Tuhan akhirnya menimpa kota itu (Tob 14:4.8.15).