Daftar Blog Saya

Tampilkan postingan dengan label Ikafite. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ikafite. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Desember 2022

IDENTITAS DAN AKTIVITAS

 


Pada 29 November 2022 saya berbagi angsuran tulisan Pokok2 Katekese Iman Kita yang kedua.  Teman saya yang anggota Ikafite menanggapi. Saya sampaikan dalam skrinshot di bawah ini.


Saya mencatat komentar Mas Yohanes Slamet dan merenungkannya. Tersurat ia meminta saya menulis perihal BERiman katolik dan BERkatekese sebagai bantuan bagi umat untuk sadar aktif BERiman katolik. Agak "luas" dan "dalam" perenungan saya menjelang tidur, dan akhirnya menyembulkan suatu tantangan besar: "Tunjukkan imanmu melalui kegiatanmu agar jadi contoh bagi sesama umat untuk sadar aktif". Mengingatkan ucapan St Yakobus, tentang iman dan perbuatan. Saya lalu berasosiasi pada lagu yang kadang saya nyanyikan, "Remember me" (lagu thema dari film Troy (2004) yang salah satu frasanya adalah "I am all I have done", aku adalah semua yang telah aku lakukan. Bahwa saya katolik haruslah tampak dari perbuatan saya.

https://youtu.be/VSVnFMjCCj0 

"I am all I have done" juga tantangan untuk identitas Ikafite. Identitas kita berlapis dan di antaranya adalah katolik, dan anggota Ikafite lagi, artinya menjadi alumni Filsafat Teologi Sanata Dharma yang menimba kekatolikan lebih mendalam. Walau "tersurat" tantangan mas Yohanes Slamet tertuju pada saya, namun "tersirat" tantangan itu tertuju kepada semua anggota Ikafite termasuk mas Yohanes Slamet sendiri. Dalam rangka beriman katolik kita telah menimba ilmu di seminari, bahkan sampai di Filsafat Teologi Kentungan. Lalu sesudahnya, apa yang telah aku lakukan dengan semua pengalaman itu?

Charles Taylor dalam bukunya, Sources of the Self, The Making of the Modern Identity(Cambridge University Press, 1989) merujuk pada pengalaman sosial sebagai experiential meaning di mana identitas sesorang dikaitkan dengan aktivitasnya sehingga mendapatkan penerimaan umum dan mendapat pengakuan melalui intersubjective meaning yang selanjutnya meneguhkan identitasnya.

Maka saya mengundang teman-teman Ikafite dalam kerangka kekatolikan dan ke-Ikafite-an menelusuri "Aku adalah semua yang telah kulakukan" dan membagikannya dengan "menulis perihal BERiman katolik dan BERkatekese sebagai bantuan bagi umat untuk sadar aktif BERiman katolik."

"Bila engkau menemui sesuatu yang berharga, maka engkau ingin membagikannya dengan orang lain... Lakukan ini juga dalam urusan-urusan kerohanian. Bila engkau menuju Tuhan, jangan pergi sendirian" demikian saya ingat nasehat Santo Gregorius Agung (Homilae in Evangelica, 6.6. PL 76, 1098). 


Selasa, 13 September 2022

Konsili Vatikan II. Petunjuk Arah dan Ikafite



Pada umumnya anggota Ikafite yang sekarang masih ada dididik dan dibina menurut Konsili Vatikan II. Sedikit sekali yang mengalami masa pra-Konsili Vatikan II dan mengenali perbedaan ajarannya. Namun tidak berarti seluruh ajaran Konsili Vatikan II telah dipahami dan dilaksanakan. Konsili Vatikan II memberi cakrawala yang sangat luas walaupun masih berupa prinsip-prinsip pokok, baik dalam Liturgi, paham Gereja dan menggereja, pelayanan pastoral, moral sosial, hubungan dengan agama lain, penggunaan teknologi dan sebagainya. Cakrawala yang digelar Konsili Vatikan II adalah cara baru artikulasi iman melalui dialog dengan situasi. Pembaruan terjadi setiap kali iman yang sama dan terpelihara dalam khasanah bersama dalam kesatuan bertemu dan berdialog dengan situasi baru  sepanjang jalan di setiap kurun masa.

Hermann Portmeyer, seorang eklesiolog Jerman, menggambarkan Konsili Vatikan II sebagai "bangunan yang belum selesai". Suatu pryek eklesiologi yang terbuka, yang masih menunggu langkah pembangunan selanjutnya. Setelah periode sidang-sidang Konsili 1962-1965, prinsip-prinsip yang telah dibangun sebagai fondasi dilengkapi dengan ajaran-ajaran selanjutnya, baik dari Paus maupun dari Sinode Para Uskup, berdaur ulang, menggelinding semakin besar dari tahun ke tahun. Baik para Paus Konsili Vatikan II, Yohanes XXIII, Paulus VI, Yohanes Paulus II, Benediktus XVI, hingga sekarang Fransiskus, adalah Konsili Vatikan II dalam perjalanan dan berdialog dengan situasi melaksanakan prinsip-prinsip Konsili Vatikan II dalam pelbagai Ensiklik, Motu Proprio, Keputusan Apostolik, surat-surat lain dan pesan-pesan serta katekese mereka.[1] 

Sekedar gambaran, Konsili Vatikan II adalah pembangunan ulang Basilika St Petrus dengan fondasi yang diletakkan pada abad 16.  Fondasi baru ditambahkan mengikuti fondasi lama dengan unsur-unsur baru. Artinya, basilika baru yang lebih besar didirikan mengikuti fondasi lama namun mengandung unsur-unsur baru yang berasal dari semua benua, seluruh dunia, bukan hanya unsur-unsur dari Eropa saja. Hasil-hasil Konsili Vatikan II adalah pilar-pilar, kolom-kolom baru yang didirikan  meluaskan bangunan lama. Ruang dan dinding-dindingnya masih dalam pembangunan dari masa-masa setelah 1962-1965 hingga sekarang dan ke masa depan , masih perlu penyelesaian hingga pemasangan kubahnya.  

Semangat dialog, kerjasama, partisipatif dalam persatuan dan kesatuan, dengan solidaritas dan subsidiaritas menjadi pengikat para pembangun, baik itu para Uskup maupun seluruh umat lokal yang dipimpin setiap Uskup, dengan berjalan bersama mengarungi waktu ke depan.

Dengan gambaran ini sebagai perkumpulan para alumni IFT-FTW Sanata Dharma, Kentungan Yogyakarta hendak merayakan Konsili Vatikan II, bukan saja mengingatnya sebagai "Tonggak Sejarah" masa lalu, tetapi undangan partisipasi untuk membangun diri ke masa depan, menyumbangkan elemen-elemen dari seluruh dunia mengikuti "Pedoman Arah" yang ada dalam hasil-hasil Konsili Vatikan II.

Di satu pihak kajian fundamental atas hasil-hasil Konsili Vatikan II semakin diperdalam, sekaligus berdialog dengan konteks zaman mengayun langkah ke depan dengan diksi baru, sikap baru, melengkapkan dimensi baik interior maupun eksterior Basilika yang dirancang Konsili Vatikan.

Ikafite mengawali langkah "Menuju 60 Tahun Konsili Vatikan II" dengan "perayaan" rohani sekaligus kegiatan yang tampak, entah itu disebut "rekoleksi" (apa pun artinya: mengenang kembali, menghimpun tenaga kembali, menyatukan semuanya lagi) entah dialog kontekstual entah proyek masa depan, dengan melihat hamparan semua tantangan di depan.

Semua komponen Ikafite diajak bergabung dalam perjalanan bersama ini dengan sekadar peran dan sumbangan masing-masing, melengkapkan bangun Basilika "global" Gereja kita. 



[1] Hermann J. Pottmeyer, Towards a Papacy in Communion:  Perspectives from Vatican Councils I & II (New York:  Crossroad, 1998), 110.