Daftar Blog Saya

Tampilkan postingan dengan label Daftar Pertanyaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Daftar Pertanyaan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Oktober 2022

SELINTAS PERSIAPAN KONSILI VATIKAN II



Pada tanggal 11 Oktober kita akan memeringati Paus St Yohanes XXIII, terutama perannya dalam Konsili Vatikan II. Tanggal 11 Oktober dipilih untuk mengenang dia karena pada hari itu terlaksanalah cita-citanya untuk menyelenggarakan Konsili Vatikan II. Pada 11 Oktober 1962 Konsili Ekumenis Vatikan II dibuka.

Paus St Yohanes XXIII yang sebelum terpilih menjadi  penerus Paus Pius XII  berkesempatan menjadi duta besar Vatikan di banyak tempat (Bulgaria, Turki, Paris, UNESCO)  merasakan tuntutan besar yang berbeda terutama berkaitan dengan perdamaian dunia dan persatuan umat kristiani, dan menginginkan masa kepausannya sebagai masa transisi.

Paus St Yohanes XXIII menggagas Konsili baru, sebab menurut Paus Yohanes XXIII dalam 50 tahun terakhir, telah terjadi perubahan yang sangat besar di dunia yang membutuhkan suluh iman dari Gereja. Konsili Vatikan IIbaginya harus menjawab tantangan baru yang dihadapi Gereja  dari perkembangan situasi dunia yang membutuhkan tuntunan iman. Di satu pihak hidup Gereja Katolik  dalam ajaran dan tindakan sejak pertengahan abad ke-19 dan permulaan abad ke-20 berhadapan dengan gelombang  Protestanisme yang marak dengan perpecahan di sana-sini serta berhadapan dengan paham-paham rasionalisme, liberalisme, komunisme, sosialisme, modernisme, fasisme, dan kristianitas semakin mengandalkan sentralisasi ke Vatikan, sehingga Gereja semakin terkonsentrasi bagaikan benteng tertutup yang aman. Di pihak lain perkembangan dunia pasca Revolusi Rusia 1917, Perang Dunia I dan Perang Dunia II 1945 memerlukan panduan yang sesuai dengan situasi dan kondisi: Perang Dingin antara blok Komunisme dan blok  Demokrasi; munculnya gerakan non-blok, Perang Korea dan Perang Vietnam; Krisis Hungaria; Krisis Sino-Soviet dan kosekuensinya atas Perang India; dekolonisasi Afrika dan maraknya nasionalisme dengan munculnya negara-negara yang baru merdeka, bahaya kelaparan di Afrika dan Asia, semua itu menyadarkan bahwa  Gereja perlu  keluar dari bentengnya dan membuka pintu-pintunya, memperbarui kehadiran dan misinya di dunia untuk dapat berdialog dan aktif terlibat dalam kehidupan dunia sebagai sakramen keselamatan bagi dunia. Suatu aggiornamento, pembaruan, dengan meneguk kembali dari sumber-sumber  imannya yang asli.

Kehendak Paus Yohanes XXIII itu lalu dikemukakan di hadapan 17 Kardinal yang berkumpul  di Aula Utama Biara Benediktin, setelah di  Basilika St Paulus merayakan peringatan pertobatan St. Paulus.  Terutama karena merebaknya krisis iman dan moral yang serius, Gereja dirasa jauh dari kehidupan sehari-hari dan pergumulan dunia, terpusat hanya dalam ritual saleh dalam Misa berbahasa Latin yang tidak dimengerti sebagian besar umat di dunia.  Maka seperti St Paulus yang disapa Kristus,  bertobat dan melaksanakan amanat perutusan, demikianlah  Gereja juga.  Pernyataan Paus itu di kemudian hari digambarkan sebagai “ilham dari Allah, bunga musim semi yang tak terduga” (Motu propio Superno Dei Nutu, 5-6 1960: Acta et Documenta Concilio Oecumenico Vatican II apparando, Series I, vol. I, Typis Polyglottis Vaticanis 1960, p. 93.)

Maklumat Paus St Yohanes XXIII tentang penyelenggaraan Konsili Vatikan II itu sangat mengejutkan. Dan selanjutnya baik di dalam Gereja untuk teologi  maupun di luar Gereja untuk sisi moral sosial politik dan ekonomi,  gema maklumat itu bergaung sampai jauh, di satu pihak menimbulkan harapan dan optimisme baru, di pihak lain membangkitkan spekulasi mengenai apa yang akan terjadi, termasuk praduga-praduga yang keliru.

Melanjutkan gagasan tentang Konsili, dengan penuh iman setia kepada Tuhan, tanpa menunda-nunda lagi, Paus St Yohanes XXIII pada 15 Mei 1959 membentuk panitia pra-persiapan Konsili Vatikan II  dipimpin Kardinal D. Tardini, dan memerintahkan  konsultasi seluas-luasnya untuk menentukan tema-tema yang perlu dipersiapkan untuk Konsili.

Pada hari Pentakosta, 18 Juni 1959, disebarkan kuesioner konsultasi kepada para Uskup di seluruh dunia, tentang materi apa yang perlu dibicarakan dalam Konsili Vatikan II.

Bahan-bahan (Quaestiones Commissionibus praeparatoriis Concilii Oecumenici Vaticani II positae) dikumpulkan Panitia Persiapan dari Komisi Teologi tentang Sumber Wahyu, tentang Gereja (Tubuh Mistik Kristus, Uskup, Awam), tentang Tertib Moral Adikodrati (berhadapan dengan materialisme, komunisme, naturalisme, laikisme), tentang lembaga Perkawinan, dan tentang Ajaran Sosial Gereja. Dari para Uskup berkenaan dengan pembagian dan batas keuskupan, tentang wewenang dan kuasa Uskup (dalam hubungan dengan Kuria Roma, pastor-pastor di bawahnya, dan dengan ordo/tarekat), tentang pastoral teritorial (dan kemungkinan mendirikan paroki personal), dan tentang para pendatang (imigran). Tentang Imam dan Umat Awam: penyebaran imam, pemindahan imam, busana imam, Hari Raya Gerejawi, Katekese, Kesejahteraan Gereja,  dan tentang serikat persaudaraan seiman. Dari Komisi Hidup Bakti, tentang pembaruan hidup bakti (penyesuaian konstitusi, pedoman dll), tentang persatuan dan konfederasi antar-tarekat, tentang privilegi dan karya kerasulan, tentang busana para religius. Dari Komisi Sakramen, tentang penguatan, pengakuan, tahbisan (minor, diakonat dan praktek kuno), tentang perkawinan, tentang imam yang sudah tidak berfungsi. Dari Komisi Liturgi, tentang perubahan kalender liturgi, tentang Misa, tentang Ritus-ritus, tentang Sakramen, tentang Ibadat Harian dan tentang bahasa Liturgi. Dari Komisi Studi dan Seminari, tentang panggilan, tentang kurikulum pembinaan calon imam, tentang pembinaan rohani para imam, tentang pembinaan pastoral, tentang disiplin, tentang sekolah katolik. Dari Komisi Gereja Timur: tentang peralihan ritus, tentang ibadat bersama, tentang rekonsiliasi. Dari Komisi Misi, tentang karya misi, tentang panggilan misionaris, tentang misionaris, tentang imam pribumi, tentang relasi Keuskupan dan karya misi. Dari Komisi Awam, tentang kerasulan awam, tentang Aksi Katolik, tentang serikat-serikat awam. Akhirnya tentang pers dan media: tentang ajaran Gereja, tentang pembinaan hati-nurani melalui media, tentang keselarasan iman dan moral dengan karya seniman, tentang media dan karya kerasulan. Schema pro Concilio Oecumenico yang bersifat tentatif diserahkan kepada Paus St Yohanes XXIII oleh Kardinal Tardini pada 10 Maret 1960.

Keseluruhan lebih dari 2700 uskup dan superior general serta 62 lembaga akademis dihubungi. Jawaban diterima dari 2100 pihk atau 76.4% dari sebaran. Dari jawaban yang diperoleh Komisi Persiapan Konsili lalu membuat agenda skema-skema tema dan jadwal pembahasan, yang hasilnya akan dituangkan dalam dokumen-dokumen. Komisi Persiapan Konsili diperbarui mengingat meluasnya harapan-harapan yang diterima.


25 Desember  1961  Paus St Yohanes XIII menerbitkan surat apostolik, Humanae Salutis, suatu pernyataan resmi mengundang Konsili Vatikan II. Beliau menyatakan alasan yang mendesak: “Dewasa ini Gereja menyaksikan suatu krisis yang menerpa masyarakat. Sementara manusia berada di ambang zaman baru,  suatu tugas yang sungguh berat dan luas menunggu Gereja , sebab dalam masa-masa yang paling tragis dalam sejarahnya, yaitu bagaimana menyampaikan daya kekuatan Injil yang memberikan hidup kekal kepada dunia modern, dunia yang sedang mengagungkan penguasaan teknik dan ilmiah yang membawa konsekuensi  membutuhkan tatanan fana tanpa Tuhan. Karenanya masyarakat modern diwarnai oleh kemajuan besar secara material namun tidak disertai kemajuan moral.  Dengan demikian melemahlah penghargaan pada nilai-nilai kerohanian, semakin besarlah kecondongan untuk mendapatkan kenikmatan duniawi semata yang ditawarkan oleh kemajuan teknologi yang dapat dengan mudah dijangkau semua orang; dari situ tampillah fakta baru yang yang sungguh mengganggu: adanya suatu ateisme militan yang bekerja di seluruh dunia.” 

“Keprihatinan yang menyesakkan ini mengingatkan agar kita selalu berjaga dan senantiasa membangunkan rasa tanggungjawab kita. Sementara jiwa-jiwa yang tidak beriman hanya melihat kegelapan yang menyelimuti dunia , kita memilih menguatkan iman kita pada Sang Penyelamat, yang tidak meninggalkan begitu saja dunia yang telah ditebus olehNya. Sesungguhnya, dengan mengindahkan nasihat Yesus agar kita membaca “Tanda-tanda zaman” (Mat 16:4), kiranya niscaya bagi kita di tengah kegelapan yang sedemikian pekat ini, untuk  mendapatkan lebih banyak petunjuk yang memberikan harapan atas nasib Gereja dan umat manusia. Perang-perang pertumpahan darah yang terjadi silih berganti di zaman kita, kehancuran rohani yang disebabkan berbagai ideologi, serta pahit getir yang kita alami adalah pelajaran yang sungguh mahal. Kemajuan ilmiah melulu justru telah memberikan kemampuan kepada manusia untuk menghasilkan bencana yang menyebabkan kehancuran sehingga sungguh patut diragukan; memaksa manusia berpikir keras;  lebih menyadari keterbatasan mereka, merindukan damai, dan lebih menyadari pentingnya nilai-nilai rohani; terjadi percepatan untuk memajukan kerjasama erat dan integrasi timbal balik antara pribadi-pribadi, golongan-golongan masyarakat dan bangsa-bangsa ke arah mana, kendati di tengah ribuan ketidakpastian, keluarga manusia tampak  sudah bergerak. Semua ini niscaya memudahkan tugas kerasulan Gereja, sebab banyak orang yang di masa lalu tidak menyadari betapa penting misi perutusannya, sekarang setelah belajar dari pengalaman, lebih siap untuk menerima ajarannya.”

“Berhadapan dengan dua sisi pemandangan—suatu dunia yang berada dalam situasi kemiskinan rohani dan Gereja Kristus yang tetap ceria oleh daya hidup –kami, sewaktu, oleh karena penyelenggaraan ilahi kendati merasa kurang pantas, diangkat kepada jabatan kepausan, serta merta merasakan tugas mendesak  mengumpulkan putra-putra untuk berhimpun demi kemungkinan bagi Gereja memberi sumbangsih yang lebih efektif guna memecahkan masalah-masalah zaman modern.  Untuk itulah, dengan menyambut datangnya suara batin dari atas dari Roh kita, kami kira sudah tibalah saatnya untuk memberikan kepada Gereja Katolik dan dunia suatu Konsili ekumenis baru, sebagai tambahan dan kelanjutan dari rangkaian dua-puluh Konsili  yang sepanjang berabad-abad terdahulu merupakan karunia rahmat penyelenggaraan ilahi  bagi kemajuan umat kristiani. Gema penuh sukacita yang timbul dari maklumat tentang Konsili ini, dilanjut peran serta penuh doa dari segenap Gereja dan kerja keras dalam menyiapkannya yang sungguh menambah semangat, serta minat besar atau setidaknya perhatian yang penuh penghargaan dari pihak-pihak bukan-katolik dan bukan-kristiani, telah menunjukkan dengan jelas bahwa Konsili yang penting dalam sejarah ini tidak akan dilewatkan oleh siapa pun.”