Daftar Blog Saya

Tampilkan postingan dengan label Samaria. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Samaria. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Oktober 2022

Samaria, Orang Samaria

 


Samaria adalah ibukota kerajaan utara Israel di bawah dinasti Omri pada awal abad kesembilan SM (1 Raj 16:23-24), sampai kota itu ditaklukkan oleh bangsa Asyur sekitar tahun 722 SM. Sekarang kota Samaria disamakan dengan kota modern Sebastiya (Sebaste). Orang-orang Samaria adalah penduduk Kanaan tengah, wilayah di sekeliling Samaria. Para ahli menduga nama penduduk itu berasal dari nama kotanya, tetapi ada ahli lain yang mengaitkannya dengan kata Ibrani yang berarti “penjaga” atau “pemelihara” .



 

I. Samaria

A. Kota

B. Wilayah

II. Orang Samaria

A. Perdebatan tentang Asal-usul

B. Agama Samaria

C. Orang Samaria dan Orang Yahudi

D. Yesus Di antara Orang-orang Samaria

 

I. Samaria

A. Kota

Tentang didirikannya kota Samaria dilukiskan dalam 1 Raj 16:24: “Kemudian ia [Omri] membeli gunung Samaria dari pada Semer dengan dua talenta perak. Ia mendirikan suatu kota di gunung itu dan menamainya Samaria, menurut nama Semer, pemilik gunung itu”. Sejak tahun ketujuh pemerintahan Omri, kota Samaria menjadi ibukota kerajaan utara, Israel.

      Samaria meluas dan diperindah oleh Raja Ahab (memerintah 874-853 SM), yang menambahkan istana gading (1 Raj 22:39; Am 6:4). Tetapi Dinasti Omri surut ke dalam bencana, dan kota Samaria mengikuti nasib kerajaan yang tak menentu. Samaria rusak berat oleh berbagai pengepungan selama pertempuran dengan Aram (1 Raj 20:1-2), dan pemberontakan Yehu (2 Raj 10:1-36). Akhirnya kota Samaria jatuh ke tangan Asyur di bawah Salmaneser V dan Sargon II (2 Raj 17:1-6) sesudah dikepung selama tiga tahun dari 725 dampai dengan 722 SM.

 

B. Wilayah

Catatan kronik Asyur menegaskan bahwa Sargon mengirim penduduk kota Samaria dan kawasan sekitarnya (sekitar 27 000 orang) ke tempat lain dan mendatangkan penduduk-penduduk baru dari tempat lain di Samaria dan sekitarnya: “Raja Asyur mengangkut orang dari Babel, dari Kuta, dari Awa, dari Hamat dan Sefarwaim, lalu menyuruh mereka diam di kota-kota Samaria menggantikan orang Israel; maka orang-orang itupun menduduki Samaria dan diam di kota-kotanya” (2 Raj 17:24; bdk Ezr 4:2.6). Pengaturan kependudukan ini menghasilkan sinkretisme agama dan budaya: penduduk baru terus beribadat kepada dewa-dewa dari negeri asal mereka, tetapi mereka juga beribadat kepada Allah sebagai dewa lokal (2 Raj 17:26-28). Selanjutnya Raja Hizkia mencoba mengubah praktek kultis Samaria (2 Taw 30:1-11), dan Samaria diikutsertakan dalam program reformasi Yosia yang luas (2 Raj 23:19).

      Samaria dikenal buruk karena kejahatannya. Para nabi tidak mengucapkan hal-hal yang baik tentang kota itu, tetapi mengecamnya dengan kata-kata yang paling keras. Yesaya menyebut Samaria sebagai “Mahkota kemegahan pemabuk-pemabuk Efraim” (Yes 28:3). Ia juga menubuatkan kebinasaannya: “dan bunga yang sudah mulai layu di perhiasan kepala mereka yang indah-indah itu--yaitu kota yang terletak tinggi di atas bukit, di atas lembah yang subur--nasibnya akan seperti nasib buah ara yang masak duluan sebelum musim kemarau: baru saja dilihat orang terus dipetik dan ditelan” (Yes 28:4). Ia berbicara tentang penaklukkan oleh Asyur (Yes 9:8-12; 10:9-11; 36:19). Amos menggambarkan para wanita Samaria sebagai: “lembu-lembu Basan, yang ada di gunung Samaria, yang memeras orang lemah, yang menginjak orang miskin, yang mengatakan kepada para suami mereka: bawalah ke mari, supaya kita minum-minum!” (Am 4:1). Hosea 7:1 dan 8:5 serta Mi 1:5-7 menyebut kejahatan kota ini; Mikha membandingkan Samaria dan Yerusalem dalam arti bahwa Samaria menjadi pusat kedosaan Israel, sedang Yerusalem menjadi pusat kedosaan Yehuda.



      Setelah Samaria ditaklukkan Asyur pada 722 SM kota itu lalu beralih ke tangan kerajaan-kerajaan lain selanjutnya, termasuk Persia, Seleukus dan Roma. Akhirnya Sikhem menggantikan Samaria sebagai kota utama di daerah Samaria, namun kota Samaria tetap penting secara strategis. Pada tahun 109 SM kota Samaria dihancurkan dalam pengepungan yang dilakukan Yohanes Hirkanus dan di kemudian hari dibangun lagi oleh bangsa Roma. Herodes Agung meluaskan dan membuatnya lebih indah pada tahun 25 SM dan memberinya nama baru Sebaste, atau dalam bahasa Latin, Augustus, kaisar pelindung Herodes). Herodes menempatkan beberapa ribu veteran prajurit Roma di kota itu. Distrik Samaria kemudian disatukan dengan Yudea dan membentuk bagian dari daerah kekuasaan Arkhelaus, tetapi setelah pemerintahan Arkhelaus jatuh, pemerintahan atas Samaria dilakukan oleh prokurator (Roma) untuk Yudea.

      Dalam Perjanjian Baru disebutkan beberapa tempat dalam kawasan itu termasuk Samaria (Sebaste), Sikhem, Sumur Yakub, dan Gunung Gerizim (Yoh 4:20, hanya disebut “Gunung”). Samaria menjadi penting pada hari-hari awal Gereja (Kis 1:8; 8:4-24)



 

II. Orang Samaria

A. Perdebatan tentang Asal-usul

Perkataan “Orang Samaria” muncul dalam PL hanya dalam 2 Raj 17:29, yang menggambarkan mereka sebagai kaum pemuja berhala. Orang Yahudi Palestina mamandang semua orang Samaria sebagai keturunan penduduk yang berasal dari daerah asing yang ditanamkan oleh bangsa Asyur – dan asal-usul itu membuat orang Yudea merendahkan derajat orang Samaria. Di pihak lain, orang Samaria menyatakan bahwa mereka adalah keturunan Israel dari suku Efraim dan Manasye yang lolos dari kehancuran kota yang dilakukan Asyur.

      Dalam penilaian kitab 2 Raja-raja, agama Samaria adalah blasteran antara penyembahan berhala dan ibadat kepada Yahweh (2 Raj 17:29-34). Karena kerusakan iman ini, orang Samaria dan Yudea bermusuhan selama berabad-abad. Misalnya, ketika gelombang pertama kepulangan orang Yahudi dari tanah pembuangan bekerja dan akan bekerja membangun kembali Bait Allah, orang Samaria yang mau membantu upaya pemugaran itu dihina oleh para pejabat Yahudi (Ezr 4:1-4). Orang Samaria yang sakit hati kemudian mengusahakan untuk menghentikan proyek pembangunan itu dengan melakukan intimidasi dan gangguan politik (Ezr 4:5). Begitu pula nanti ketika Nehemia akan membangun kembali tembok-tembok kota Yerusalem, ia menghadapi oposisi keras dari musuh-musuh, termasuk di antaranya orang-orang Samaria (Ezr 4:7-24; Neh 4:1-9).

      Sejarah selanjutnya dari orang Samaria tidak bagus. Pada masa pemberontakan Makabe, orang-orang Samaria bersekutu dengan kaum Seleukus (1 Mak 3:10). Pada tahun 108 SM, Yohanes Hirkanus menghancurkan Bait Allah Samaria yang dibangun di atas Gunung Gerizim. Ketika di bawah pendudukan Roma, orang Samaria mengalami pembantaian besar-besaran atas perintah Pontius Pilatus pada tahun 35 M; peristiwa berdarah itu amat berlebihan dan menyebabkan Pilatus dicopot dari jabatannya sebagai prokurator.

 

B. Agama Samaria

Pada masa Yesus, orang Samara menjalankan agama Musa yang khas; yang tidak mau menerima semua tradisi yang berasal dari Daud. Mereka hanya mengakui Kitab Suci bagian Pentateukh Ibrani saja, dan mungkin juga kitab Yosua dan Hakim-hakim, tetapi bagian Nabi-nabi dan kitab-kitab lainnya mereka tolak. Mereka menunggu kedatangan Mesias (Yoh 4:25), menerima Sabat, perayaan-perayaan dan sunat. Tetapi mereka menolak Bait Allah Yerusalem dan keimaman dan mendirikan Bait Allah sendiri di Gunung Gerizim (Yoh 4:20).

 


C. Orang Samaria dan Orang Yahudi

Dalam perjumpaan Yesus dengan wanita Samaria (Yoh 4:4-42), wanita itu heran bahwa ada seorang Yahudi mau bercakap-cakap dengan seorang Samaria. “Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?'' Hal itu jelas aneh, ”Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria” (Yoh 4:9). Bahkan para rasul sendiri terheran-heran  karena Yesus bercakap-dengan dengan  wanita itu (Yoh 4:27). Sejarawan Yosephus menceritakan bahaya dari orang Samaria yang dihadapi para peziarah Yahudi dari Galilea yang hendak pergi ke Yerusalem melalui daerah Samaria. Pada suatu kali orang Samaria tidak mau bersikap ramah tamah terhadap Yesus dan para muridNya dalam perjalanan mereka dari Galilea menuju Yerusalem (Luk 9:52-56). Yesus mengecam amarah Yakobus dan Yohanes sehubungan dengan itu.

 

D. Yesus Di antara Orang-orang Samaria

Kendati permusuhan tradisional di antara orang Yahudi dan orang Samaria, Yesus berbicara baik mengenai orang Samaria dan mendapatkan beberapa dari mereka terbuka mau menerima pesanNya. Ia menggunakan seorang Samaria di dalam suatu kisah perumpamaan yang penting (Luk 10:30-37), menunjukkan gambaran kontras antara orang Samaria yang Baik Hati dengan imam dan orang Lewi di dalam contoh mengenai mengasihi sesama. Penderita kusta yang orang Samaria adalah satu-satunya yang mengucapkan terima kasih kepada Yesus dari antara kesepuluh orang kusta yang disembuhkan (Luk 17:16). Pada mulanya Yesus melarang para muridnya mewartakan Injil kepada orang Samaria (Mat 10:5), hal itu karena Injil harus diwartakan lebih dahulu kepada orang Israel. Ketika para rasul di kemudian hari mewartakan Injil kepada orang Samaria, mereka berhasil, dan salah satu jemaat Kristen yang didirikan pada masa awal adalah jemaat Kristen Samaria (Kis 8:4-17; 9:31; 15:3).



      Di dalam ajaran Yesus, orang Samaria menjadi sarana yang sangat kuat untuk mengungkapkan seruan radikal yang disampaikanNya di dalam Injil. Maka Injil adalah untuk orang Samaria juga, dan kasih Kristen berhasil menjembatani permusuhan yang sudah menahun dan menjangkau semua orang. Karena pada abad pertama tidak ada permusuhan yang lebih sengit dari pada permusuhan antara orang Yahudi dan orang Samaria, Yesus membuat tuntutan yang mencengangkan bahwa kasih kepada sesama juga berarti mengasihi orang Samaria, dan bahwa membangun persaudaraan termasuk dengan musuh besar itu. Yesus Sang Mesias menyatukan kerajaan Yehuda dan Israel yang terpisah di bawah kerajaan yang dipulihkan ketika Ia meresmikannya dengan Perjanjian Baru.

      Namun suatu kelompok kecil kaum Samaria terus bertahan melangsungkan tradisi agamanya dari abad ke abad. Mereka terus merayakan Paskah setiap tahun di Gunung Gerizim.