Daftar Blog Saya

Tampilkan postingan dengan label Gereja sebagai Kerajaan Allah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gereja sebagai Kerajaan Allah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Oktober 2022

KerajaanMu datanglah

Dalam Injil Lukas 11:6-13 yang dibacakan hari ini, Yesus mengajarkan doa Bapa Kami. Antara lain memohon kepada Bapa, "datanglah KerajaanMu". Artikel tentang Kerajaan menurut Kitab Suci ini relatif panjang. Silakan dibaca berdikit-dikit sesuai kesempatan yang tersedia. Semoga berguna. 

Kerajaan

Sebentuk masyarakat dengan pemerintahan monarki yang dikepalai seorang raja atau ratu. Dalam Perjanjian Baru, sebutan “kerajaan” biasanya merujuk pada “Kerajaan Allah”. Istilah dan konsep itu mempunyai suatu latar belakang yang kaya, karena “kerajaan” merupakan suatu tema dan gambaran yang penting di seluruh Kitab Suci. Adam berperan bagaikan raja atas alam ciptaan. Kemudian Tuhan menjanjikan kepada Abraham bahwa akan timbul raja-raja dari antara keturunannya. Israel, umat Tuhan, mula-mula di bentuk menjadi suatu kerajaan oleh Saul, yang dengan cepat digantikan oleh Daud dan keturunannya. Kerajaan Israel di bawah Daud dan para pewarisnya menjadi bayangan awal Kerajaan Allah dalam Perjanjian Baru – sesungguhnya, Kerajaan Allah dapat dipahami dalam arti tertentu sebagai perubahan kerajaan Daud. Namun kerajaan itu dapat disamakan dengan (1) Kristus sendiri, atau (2) pemerintahan Kristus di hati kaum beriman, atau (3) Gereja, himpunan kaum beriman dan tubuh Mistik Kristus.



I. Kerajaan Dalam Kitab Suci, dari Kejadian hingga Wahyu

II. Kerajaan Allah dalam Perjanjian Baru

                A. Istilah Kerajaan Allah

                B. Tiga Dimensi Teologis dari Kerajaan Allah

                C. Kerajaan Allah sebagai Pemenuhan Tipologis Kerajaan Perjanjian Lama.

 

I. Kerajaan Dalam Kitab Suci, dari kitab Kejadian hingga kitab Wahyu

Dorongan arah menuju suatu Kerajaan sudah ada dalam kisah Penciptaan dalam kitab Kejadian. Tuhan menciptakan manusia “menurut gambar dan keserupaan denganNya”. Kata yang pertama, “gambar”, bahasa Ibraninya “Selem”, terutama sangat kaya dengan konotasi kerajaan. Adalah umum bagi para raja Timur Dekat kuno untuk menempatkan gambar ukiran (patung, Ibrani: selamim) dari diri mereka di seluruh batas geografis kerajaan mereka sebagai tanda kehadiran kekuasaan politik mereka di kawasan itu. Maka, Kej 1-2 mau menyatakan bahwa seluruh alam ciptaan adalah ruang Kerajaan Allah, dan manusia ditempatkan dalam ruang itu sebagai wakil Tuhan yang menghadirkan kekuasaan Tuhan. Ini selanjutnya diteguhkan dengan suatu mandat penciptaan kepada Adam dan Hawa supaya “berkuasa” (bahasa Ibrani rada) atas bumi, suatu istilah yang digunakan di mana-mana untuk melukiskan pelaksanaan kuasa raja (1 Raj 4:24; Mzm 72:8; 110:2). Adam merupakan puncak tertinggi hirarki ciptaan dan de fakto raja di antara segala mahluk. Maka, kisah penciptaan menyajikan suatu situasi paradigma ideal di mana tatanan seluruh ciptaan adalah suatu kerajaan yang dikuasai manusia atas nama Tuhan.

                Selanjutnya di dalam sejarah keselamatan Nuh adalah sosok seorang “Adam baru” yang sekali lagi ditempatkan de fakto sebagai manusia yang merajai seluruh ciptaan (bdk Kej 9:2). Dorongan arah menuju kerajaan itu juga ditemukan dalam hubungan dengan Abraham. Dalam Kej 14, Abraham mengalahkan gabungan raja-raja Timur Dekat dan  itu menjadikannya pemimpin militer negeri itu, sehingga punya dasar untuk menyatakan diri sebagai raja. Namun sebaliknya, Abraham malah mengakui wewenang rajawi dari imam-raja misterius Melkisedek dari Salem (yaitu Yerusalem). Namun di kemudian hari keturunan Abraham sendiri akan menjadi raja Yerusalem – suatu petunjuk dari hal ini diberikan dalam Kej 17:6, yang menjanjikan raja-raja yang timbul dari antara keturunan Abraham sebagai bagian dari perjanjian Tuhan dengan Abraham.

                Janji ini mengerucut pada satu garis keturunan Abraham dalam Kej 49:8-10, yang menjanjikan “anak singa” dan “tongkat kerajaan” kepada Yehuda, yang akan menerima ketundukan bukan saja dari suku-suku Israel selebihnya, tetapi juga dari bangsa-bangsa yang bukan Israel.

                Melalui Musa, Tuhan memberikan pemerintahan gabungan, kesatuan antara imam dan raja kepada bangsa Israel, dengan syarat agar mereka setia kepada perjanjian Sinai: “jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, ….Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus” (Ibrani mamleket kohanim; Yunani basileion hierateuma; Kel 19:5). Namun bangsa Israel tidak menaati perjanjian mulai dari insiden anak lembu emas dan melanjutkan pemberontakan selama berputar-putar di padang gurun. Janji pemerintahan sebagai raja untuk keturunan Abraham perlu diwujudkan dengan cara yang berbeda.

                Setelah pemerintahan Saul dari suku Benyamin yang berakhir buruk, nubuat Yakub atas Yehuda mendapatkan kepenuhannya di dalam dinasti raja-raja Yehuda yang didirikan oleh Daud (2 Sam 5:3).

                Kerajaan Daud merupakan tipe atau gambar awal Perjanjian Lama atas Gereja dan strukturnya. Untuk itu baik jika ciri-ciri utamanya dipaparkan:

1. Kerajaan Daud didirikan atas suatu perjanjian ilahi (bahasa Ibrani berit, bahasa Yunani diatheke), satu-satunya kerajaan insani di dalam Perjanjian Lama yang memiliki hak khusus semacam itu (lihat 2 Sam 7:8-16; 23:5; 1 Raj 8:23-24; Mzm 89:3; 2 Raj 13:5; 21:7; Sir 45:25; Yes 55:3; Yer 33:14-26).

2. Raja yang berasal dari keturunan Daud diangkat sebagai anak Allah. Hubungan filial (anak-bapa) dari raja keturunan Daud dengan Allah sudah dikemukakan dalam teks undang-undang dasar perjanjian Daud (2 Sam 7:14), tetapi juga di tempat lain yang berkaitan dengan Daud (lihat Mzm 2:7; 89:26; 1 Taw 17:13; 28:6).

3. Raja Anak Daud itu adalah “Kristus” yaitu “Mesias”. Status sebagai yang diurapi dari raja keturunan Daud tak terpisahkan dari identitasnya dan bahwa ia sering disebut semata-mata sebagai ”dia yang diurapi” saja, atau “dia yang diurapi Tuhan” (1 Sam 16:13; 2 Sam 19:21; 22:51; 23:1; 1 Raj 1:38-39; 2 Raj 11:12; 23:40; 2 Taw 6:42; 23:11; Mzm 2:2; 18:50; 20:6; 84:9; 89:20.38.51; 132:10.17).

4. Pembangunan Bait Allah merupakan salah satu tanggungjawab utama raja keturunan Daud. Daud sendiri mempersiapkannya (1 Taw 22:1-9), Salomo menyelesaikannya (1 Raj 8:12-13), dan raja-raja selanjutnya memelihara Bait Allah (2 Raj 12:4-16; 22:3-7). Pembangunan Bait Allah merupakan syarat utama perjanjian Daud dari awal, dan dapat dilihat sebagai permainan kata, yaitu kata Ibrani yang sama baith (rumah) yang digunakan baik untuk dinasti maupun untuk tempat tinggal Allah, dalam 2 Sam 7:11-13. Sekalipun sesudah Bait Allah itu dihancurkan, para nabi sungguh yakin bahwa Tuhan akan memulihkan Bait Allah hingga mulia seperti dulu dan akan menjadi rumah doa bagi segala bangsa (Yes 2:1-4; 56:6-8; 60:3-16; 66:18-21; Yer 33:11; Yeh 40-44; Dan 9:24-27; Yl 3:18; Hag 2:1-9; Mi 4:1-4; Za 6:12-14; 8:20-23; 14:16).

5. Wangsa keluarga Daud terkait terus dengan erat pada Yerusalem, utamanya Gunung Sion, yang merupakan milik pribadi Raja Daud dan ahli warisnya (2 Sam 5:9). Yerusalem tidak akan mendapat peran yang besar dalam sejarah Israel seandainya Daud tidak menjadikannya sebagai ibu kota kerajaan (bdk Yos 15:63; Hak 1:21; 19:10-12; Sam 5:6-12).

6. Raja keturunan Daud akan memerintah dalam suatu kerajaan internasional yang terdiri dari segala bangsa. Daud dan Salomo memerintah tidak hanya atas semua suku-suku Israel tetapi juga bangsa-bangsa asing di sekitarnya (lihat 2 Sam 8:11-12; 10:19; 12:30; 1 Raj 3:1; 4:20-21;10:15). Mazmur-mazmur secara teologis membenarkan hal pemerintahan bangsa-bangsa itu (Mzm 2:8; 18:43; 47:1.9; 72:8.11; 66:8; 67:2-5; 86:9; 89:27; 96:7; 99:1), dan para nabi menubuatkan pemulihan kerajaan ini (Yes 2:3-4; 42:1-6; 49:1-7.22-26; 51:4-6; 55:3-5; 56:3-8; 60:1-16; 66:18-19; Am 9:11-12; Mi 4:2-3; Za 14:16-19).

7. Kerajaan Daud akan kekal untuk selama-lamanya. Salah satu yang sangat ditekankan dalam Mazmur dan sejarah Deuteronomis adalah bahwa wangsa keluarga Daud itu abadi (2 Sam 7:16; 23:5; Mzm 89:35-36). Bukan hanya dinastinya, tetapi juga jangka kehidupan raja yang memerintah digambarkan sebagai kekal (lihat Mzm 21:4; 72:5; 110:4).

8. Dalam pemerintahan raja-raja keturunan Daud terdapat peran bagi Ibu Suri (1 Raj 2:19-20; 15:13; 2 Raj 24:12.14; Yer 13:18; 22:26; 29:2); peran bagi Menteri Utama  atau menteri kepala (bhs Ibrani ‘aser ‘al-habbayit, orang yang kedudukannya berkuasa atas rumah/istana raja: 1 Raj 4:7; 18:3; 2 Raj 15:5; 18:18.27; 19:2; Yes 22:15-24) dan dua belas orang [pembantu raja] atas seluruh Israel (1 Raj 4:7).

                Kerajaan Daud dipahami lebih dari sekadar suatu tatanan politik. Bagi para pengarang Kitab Suci, kerajaan itu sakral karena mengungkapkan pemerintahan Tuhan di atas bumi. Perspektif ini jelas dalam beberapa Mazmur (Mzm 2; 110) tetapi terutama dalam 1 Taw 28: 5, ketika Daud menyatakan bahwa “Ia [Tuhan] telah memilih anakku Salomo untuk duduk di atas tahta pemerintahan Tuhan atas Israel”, dan 2  Taw 23:8, yang berbicara tentang ”kerajaan Tuhan yang dipegang keturunan Daud”. Frasa “kerajaan Tuhan” ini merupakan padanan yang paling dekat dari frasa Perjanjian Baru “Kerajaan Allah”.

                Walaupun dinasti Daud merupakan dinasti yang berlangsung paling lama dalam dunia Timur Dekat kuno, tetapi ia runtuh juga di tangan Nebukadnezar dari Babilonia pada tahun 586 SM (2 Raj 25:1-26). Sesudah pulangnya orang Yudea dari Pembuangan ke Yerusalem di bawah pemerintahan Koresy yang Agung dari Persia, harapan akan kerajaan bersemi ketika Zerubabel, seorang keturunan Daud, ditunjuk menjadi bupati kepala pemerinta daerah Yehuda (bdk Hag 2:20-23), namun tidak terjadi apa-apa. Jauh di kemudian hari harapan itu menyala lagi, mula-mula karena Dinasti Hasmona (134-67 SM), dan kemudian secara lebih sempit lagi karena Dinasti Herodes (37 SM – 66 M), yang sama-sama menduduki tahta Yerusalem dan meluaskan wilayah kerjaaan hingga hampir sama besarnya dengan Kerajaan Daud dan Salomo. Namun keduanya bukan keturunan Daud; Hasmona (yaitu keluarga Makabe) berasal dari suku Lewi, sedang Herodes Agung dan keturunannya adalah keturunan Edom (keturunan Esau).

                Dalam konteks harapan yang tak sampai bagi pemulihan kerajaan Daud di Israel tidaklah mengherankan jika baik Matius maupun Lukas mengawali Injil mereka dengan menekankan silsilah Yesus yang berasal dari Daud (Mat 1:1; Luk 1:27.32). Kedua penulis Injil dengan susah payah menyatakan Yesus sebagai Anak Daud yang rajawi, yang akan memulihkan kerajaan dan perjanjian Daud. Maka Matius sudah menyatakan hal itu sejak waktu kelahiran Yesus ketika para majus datang dari timur untuk mendapatkan kanak-kanak Kristus (Mat 2), sementara pewaris Daud yang terbesar, Salomo mendapat kehormatan seperti itu pada puncak pemerintahannya (1 Raj 4:34). Demikian pula, ketika dalam Luk 1:31-33 Gabriel menyampaikan kabar sukacita perkandungan Kristus pada Maria, kata-katanya mengambil kata-kata yang digunakan dari pokok-pokok teks perjanjian Daud, 2 Sam 7:8-17, khususnya ayat 13-16.

                Yesus mengawali karirnya dengan pergi ke seluruh Galilea mewartakan Kerajaan (Mat 3:2; Mrk 1:15; Luk 4:43). Khotbahnya yang paling panjang berfokus pada Kerajaan (Mat 5-7; Luk 6:20-49), dan sebagian besar perumpamaanNya mengajarkan aspek-aspek Kerajaan (Mat 13:1-51). Mujizat-mujizat yang dilakukan Yesus, khususnya pengusiran roh jahat, merupakan tanda-tanda bahwa Kerajaan Allah sudah dekat dan bahkan sudah sangat dekat sekali (bdk Mat 12:28). Pada Perjamuan Terakhir, ia membagikan Kerajaan itu pada para muridNya, dan mengangkat mereka pada jabatan-jabatan yang punya wewenang di dalamnya (Luk 22:29-30). Sesudah kebangkitan, Kerajaan menjadi topik utama wacana Yesus dengan para murid dalam empat puluh hari sebelum Ia naik ke surga (Kis 1:3).

                Walaupun rujukan pada Kerajaan Allah sangat dominan dalam pengajaran Yesus, tema Kerajaan tetap penting di dalam tulisan-tulisan Perjanjian Baru lainnya. Ajaran mengenai Kerajaan Allah mengawali dan mengakhiri Kisah Para Rasul (Kis 1:3; 28:31). Maksud dari model sastra pembukaan dan penutup ini adalah bahwa semua selipan di tengahnya (“inclusion”) menunjukkan bahwa rasul-rasul, utamanya Paulus (bdk Kis 14:22; 19:8; 20:25; 28:23) melanjutkan karya Yesus dalam mewartakan Kerajaan itu. Paulus sendiri menyebut Kerajaan Allah empat belas kali dalam surat-suratnya (dari Roma hingga Filemon), sering mengingatkan mereka akan praktek perilaku hidup yang dapat menyebabkan mereka tidak akan diterima dalam Kerajaan (1 Kor 6:9-10; Gal 5:21; Ef 5:5). Walau Surat Ibrani jarang menyebut Kerajaan secara eksplisit, surat itu dengan jelas menggambarkan Yesus sebagai Imam-Raja menurut peraturan Melkisedek (Ibr 7:1-9.15-17), dan menerapkan Mazmur-mazmur Daud dan nubuat-nubuat bagi Yesus (Ibr 1:5-9), dan melukiskan tahtanya di surga (Ibr 1:3; 2:7-9). Semua ini menyatakan bahwa Kristus memerintah KerajaanNya hingga sekarang. Menjelang akhir surat Ibrani, Yesus dilukiskan dalam gaya bahasa dan gambaran yang khas dalam kerajaan Daud: “Tetapi kamu sudah datang ke Bukit Sion, ke kota Allah yang hidup, Yerusalem sorgawi dan kepada beribu-ribu malaikat, suatu kumpulan yang meriah, dan kepada jemaat anak-anak sulung, yang namanya terdaftar di sorga, ..... dan kepada Yesus, Pengantara perjanjian baru” (Ibr 12:22-24).  Hak istimewa untuk mendekati Kristus sang Imam-Raja yang bertahta di surga ini membangkitkan rasa syukur: “Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur” (Ibr 12:28). 

                Dalam Kitab Wahyu ada beberapa kata kunci, rujukan eksplisit pada Kerajaan yang menunjukkan bahwa para pengikut Kristus sudah ikut serta di dalam Kerajaan itu: “[Untuk Dia] yang telah membuat kita menjadi suatu kerajaan, menjadi imam-imam bagi Allah, Bapa-Nya, -- bagi Dialah kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya” (Why 1:6; bdk Why 1:9; 5:10). Tema Kerajaan dalam kitab Wahyu dikuatkan dengan kutipan-kutipan yang dikenakan pada Kristus detil uraian yang menggambarkan baik secara eksplisit maupun implisit tradisi monarki dari Daud (Why 1:5 bdk dengan Mzm 89:27; Why 2:27 bdk dengan Mzm 2:9;  Why 3:7 .21; 5:5; 12:5; 22:16). Panggung utama untuk adegan dalam kitab ini adalah istana-bait surgawi Allah, di mana Tuhan bertahta (Why 4:2) bersama dengan tangan-kananNya, sang Anak Domba, berada di sampingNya (Why 5:5-6:13) dikelilingi oleh para menteri, para penatua yang didudukkan pada tahta masing-masing dan diberi mahkota (Why 4:4). Suatu titik puncak adegan dicapai dalam Why 11:15: "Pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapi-Nya, dan Ia akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya." Konsep Kerajaan surga ini didirikan di dunia dan kemudian dikembangkan lebih lanjut dalam Why 21-22, di mana Yerusalem surgawi (ibukota Daud) turun ke bumi, dan dari ditu Tuhan dan Kristus Anak Domba memerintah semesta. Tekanan yang berkelanjutan atas identitas Kristus yang rajawi dari  Daud bahkan sampai di akhir kitab -- “Aku adalah tunas, yaitu keturunan Daud, bintang timur yang gilang-gemilang." (Why 22:16), menunjukkan bahwa kerajaan Daud sudah disatukan dengan Kerajaan Allah dengan cara analog seperti kesatuan kodrat manusia dan kodrat Allah pada Kristus.

II. Kerajaan Allah dalam Perjanjian Baru

                A. Istilah Kerajaan Allah

Walaupun “Kerajaan Allah” merupakan istilah yang paling sering digunakan, para penulis Perjanjian Baru  menggunakan beberapa padan kata yang pada dasarnya menggambarkan realitas yang satu dan sama. “Kerajaan Surga” merupakan suatu ragam sebutan  yang unik khas bagi Matius, yang digunakannya dalam tiga puluh dua kesempatan yang dalam Injil-injil Markus dan Lukas disebut “Kerajaan Allah”. Beberapa variasi sebutan yang digunakan para pengarang Perjanjian Baru termasuk    “Kerajan Kristus dan Allah” (Ef 5:5), “kerajaan PuteraNya yang terkasih” (Kol 1:13),     “Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus” (2 Ptr 1:11) dan "Pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapi-Nya, " (Why 11:15). Selain itu, Yesus mengatakan “kerajaanKu” (Yoh 18:36; Luk 22:30) dan “kerajaan BapaKu” (Mat 26:29); orang lain berkata kepada Yesus tentang “kerajaanMu” (Mat 20:21; Luk 23:42), dan ada berbagai sebutan yang semata-mata “kerajaan” saja tanpa embel-embel lain (Mat 24:14; 25:34; Luk 12:32; Kis 20:25). Semua variasi sebutan ini mungkin mmpunyai sedikit konotasi yang berbeda, namun mereka merujuk pada realitas yang sama dari frasa “Kerajaan Allah”. Sebagian dari ragam sebutan itu menunjukkan dengan jelas perbedaan antara Kerajaan Allah dengan Kerajaan Kristus (bdk 2 Ptr 1:11; Why 11:15).

                B. Tiga Dimensi Teologis dari Kerajaan Allah

Para Bapa Gereja mengenali tiga dimensi Kerajaan Allah, dan semua dimensi itu tetap sah sepanjang masa.

                Yang pertama adalah dimensi Kristologis, di mana Kerajaan itu adalah |Kristus sendiri (bhs Yunani “autobasileia”). Yesus adalah inkarnasi dari Kerajaan Allah. Sebagai Raja, Ia mewujudkan Kerajaan itu dan menghadirkannya: di mana Raja berada, di situ pulalah kerajaanNya. Maka dalam ayat-ayat tertentu Yesus menunjukkan Kerajaan yang sudah hadir dalam diriNya sendiri: “Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu” (Luk 11:20); atau “Sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu” (Luk 17:21). Dimensi inilah yang mungkin juga tampak di dalam perumpamaan-perumpamaan kerajaan sebagai mutiara yang berharga (Mat 13:45-46) atau sebagai harta yang tersembunyi di suatu ladang (Mat 13:44). Kristus adalah mutiara dan harta, yang untuk memilikiNya orang mau berkorban apa saja.

                Dimensi yang kedua bersifat idealis dan mistik. Di dalamnya Kerajaan dipahami sebagai berada di dalam hati (yaitu dalam batin setiap orang) kaum beriman. Ini berkaitan dengan pandangan yang terdahulu karena |Kristus berdiam, berkat Roh Kudus, di dalam hati setiap muridNya (Ef 3:16-17). Oriegenes yang pertama-tama mengemangkan pandangan teologis ini menyatakan bahwa barangsiapa yang mendoakan Bapa Kami “mendoakan datangnya Kerajaan yang sudah hadir di dalam diri mereka”. Ia menambahkan, “di dalam setiap orang kudus adalah Tuhan yang meraja”. Pandangan mistik ini tampak dalam pernyataan Yesus bahwa “Sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu” (Luk 17:21), yang kemudian dimengerti dalam arti “Kerajaan Allah itu ada di dalam masing-masing dari kamu”. Paus Benediktus XVI memadatkan pandangan ini dengan menyatakan, “Kerajaan Allah tidak diketemukan dalam peta manapun... sebab adanya adalah di dalam batin manusia.”

                Dimensi yang ketiga adalah dimensi eklesiologis: Kerajaan itu adalah Gereja. Dimensi ini berkaitan dengan kedua dimensi yang terdahulu karena di satu pihak Gereja pada hakekatnya adalah tubuh mistik Kristus, yang adalah Raja dan Kerajaan; di pihak lain, Gereja adalah himpunan dari jemaat yang di dalam mereka Kristus sang Raja bersemayam.

                Dimensi ketiga ini diungkapkan dengan paling jelas dalam beberapa perumpamaan tentang Kerajaan Allah di dalam Mat 13. Kerajaan dilukiskan sebagai suatu ladang di mana terdapat gandum dan semak berduri, yang akan dipilah pada akhir zaman. Begitu pula Kerajaan adalah jala yang menangkap ikan yang baik maupun yang buruk, dan yang buruk hanya akan dipilah oleh para malaikat pada akhir masa. Kedua perumpamaan itu menunjukkan bahwa Kerajaan merupakan realitas yang sudah ada, sekalipun campur aduk, yang akan disempurnakan pada akhir sejarah nanti. Situasi sekarang dari Kerajaan yang campur aduk itu dipahami sebagai Gereja yang ada di dunia, Gereja yang sedang berjuang; sedangkan perwujudan Kerajaan yang sempurna adalah Gereja di surga, Gereja yang Jaya, ke arah mana Gereja yang sedang Berjuang sekarang melakukan perjalanan ziarahnya.

                Ajaran tentang Kerajaan lainnya di dalam Perjanjian Baru membenarkan pandangan eklesiologis itu. Ketika bercakap-cakap dengan Nikodemus, Yesus berkata: “sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Yoh 3:5). Perkataan ini bisa dipahami dalam kaitan dengan baptis, dengan mana seseorang memasuki Gereja. Dalam hal ini Gereja dalam arti tertentu adalah Kerajaan yang dimasuki seseorang yang dilahirkan dari air dan Roh.

                Kepada Jemaat Kolose Paulus menjelaskan bahwa Tuhan “telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih” (Kol 1:13). Dengan demikian para anggota Gereja sudah serta merta berada di dalam Kerajaan (bdk Why 1:6. 9:; 5:10).

                Salah satu pernyataan yang dengan jelas menyamakan Gereja dengan Kerajaan terdapat dalam Ibr 12:22-28. Penulis surat mula-mula memberitahu para pembaca bahwaa mereka  “sudah datang ke Bukit Sion, ke kota Allah yang hidup, Yerusalem sorgawi dan kepada beribu-ribu malaikat, suatu kumpulan yang meriah, dan kepada jemaat anak-anak sulung, yang namanya terdaftar di sorga, ..... dan kepada Yesus” (Ibr 12:22-24). Dan sesudah menggambarkan hakekat sorgawi Gereja, di mana para pembaca yang masih hidup di dunia sudah ikut serta di dalamnya, pengarang surat Ibrani melanjutkan: “Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur” (Ibr 12:28). Maka menjadi “jemaat anak-anak sulung” (Ibr 12:23) serentak berkait dengan “menerima kerajaan” (Ibr 12:28).

                Akhirnya, seperti yang telah kita bicarakan di depan, kitab Wahyu merupakan suatu visiun tentang Gereja yang Jaya yang berhimpun di sekeliling Tuhan, yang masih tertunda. Namun secara serentak : tahta, mahkota dan berbagai gambaran kerajaan lainnya menjelaskan bahwa para malaikat, orang kudus, para penatua dan lain-lain yang berhimpun di sekeliling tahta Allah dan Anak Domba juga mewujudkan suatu Kerajaan.

                Untuk menopang persamaan antara Gereja dengan Kerajaan, perlu ditangkap juga ajaran yang tersirat dalam kitab Wahyu bahwa Gereja pada hakekatnya merupakan suatu realitas surgawi. Gereja yang ada di surga, Gereja yang Jaya, merupakan wujud yang sepenuhnya dari Kerajaan. Pada akhir zaman, ketika semua anggota Gereja yang masih Berjuang telah memasuki Gereja yang Jaya, dan karena itu Gereja yang sedang Berjuang sudah tidak ada lagi, maka Gereja sama dan sebangun dengan Kerajaan. Namun sekarang ini adalah tidak tepat jika kita menyangkal bahwa Gereja yang sedang Berjuang mewujudkan Kerajaan Allah, sebab sesungguhnya Gereja yang sedang Berjuang adalah bagian dari Kerajaan Allah itu sekalipun dalam rupa yang tidak sempurna. Konstitusi Dogmatik [Konsili Vatikan II] tentang Gereja Lumen Gentium menyatakan hubungan itu dengan cermat dan indah : “untuk memenuhi kehendak Bapa, Kristus memulai Kerajaan sorga di dunia, dan mewahyukan rahasia-Nya kepada kita, serta dengan ketaatan-Nya Ia melaksanakan penebusan kita. Gereja, atau dengan kata lain, kerajaan Kristus yang sudah hadir dalam misteri, atas kekuatan Allah berkembang secara nampak di dunia” (LG art 3). “Gereja, ..... menerima perutusan untuk mewartakan Kerajaan Kristus dan Kerajaan Allah, dan mendirikannya di tengah semua Bangsa. Gereja merupakan benih dan awal mula Kerajaan itu di dunia. Sementara itu Gereja lambat-laun berkembang, mendambakan Kerajaan yang sempurna, dan dengan sekuat tenaga berharap dan menginginkan, agar kelak dipersatukan dengan Rajanya dalam kemuliaan” (LG art 5).



                C. Kerajaan Allah sebagai Pemenuhan Tipologis Kerajaan Perjanjian Lama.

Setelah Kerajaan Allah bisa dilihat sebagai Gereja, maka pemenuhan tipologi kerajaan dalam Perjanjian Lama kiranya juga bisa diketahui.

                Yang pertama dan terutama, Gereja merupakan pemenuhan kerajaan Daud. Gereja bisa dilukiskan sebagai pemulihan dan penyempurnaan, atau mungkin transfigurasi (peralihan rupa yang lebih mulia) dari kerajaan Daud. Seorang ahli Kitab Suci Katolik, Raymond Brown menyatakan: “Kerajaan yang didirikan Daud... merupakan paralel yang paling dekat dari Perjanjian Lama pada Gereja Perjanjian Baru.” Maka, ciri-ciri dari kerajaan Daud (lihat di atas) bisa diketemukan [adanya dalam Gereja] setelah diperhitungkan dan diubah oleh Kristus. Sebagaimana kerajaan Daud didirikan atas suatu perjanjian ilahi maka Kerajaan Yesus di dunia didasari dengan dengan suatu “perjanjian baru”, yang ditetapkan dengan penyerahan tubuh dan darahNya. (Luk 22:20). Yesus dapat mengadakan perjanjian ini karena Dia  adalah anak Allah dan “Kristus [Dia yang diurapi] Tuhan” dalam arti kata yang lebih dalam daripada raja-raja keturunan Daud di masa lampau:  Yesus bukan hanya anak angkat, melainkan pada hakekatnya adalah Anak Allah yang sesungguh-nya (bdk Luk 1:35). Dan  Ia adalah “Kristus” yang bukan diurapi dengan minyak melainkan dengan Roh Kudus (Luk 3:22; 4:1). Kerajaan ini masih terkait terus dengan Yerusalem. Namun di sini ada unsur tranformasi, bahkan trans-lokasi : ibukkota Yerusalem tidak lagi berada di dunia melainkan Zion/Yerusalem surgawi, sebagaimana yang ditekankan dalam kitab Wahyu maupun Surat Ibrani (Ibr 12:22-24; Why 21:1-27).  Begitu pula Anak Daud masih terus membangun Kenisah  atau Bait Allah di dalam Kerajaan ini. Namun Bait Allah ini juga sudah ditransformasikan. Nukan lagi bangunan dari batu, melainkan bait untuk tubuhNya yang bersifat fisik (Yoh 2:21) tetapi juga mistik (Mat 16:18; 1 Kor 12:27; Ef 4:15-16.20-22). Bait Kerajaan ini adalah sungguh-sungguh bersifat internasional, karena Kristus memerintah atas seluruh Israel dan juga segala bangsa-bangsa (Mat 22:19; Luk 24:47; Why 7:1-21). Kerajaan Kristus [yang  kekal untuk selama-lamanya (Luk 1:33)] mempertahankan pemerintahan rajawi Daud  termasuk memberikan tempat yang terhormat kepada Ibu Suri (Luk 1:42. 48-49; Why 12:1) suatu peran bagi Menteri Utama  (Mat 16:18-19; bdk Yes 22:22). Serta kedua belas pejabat [pembantu Raja] atas seluruh Israel (bdk 1 Raj 4:7), yaitu para rasul yang kepada mereka Yesus secara harfiah “menjanjikan” (bhs Yunani diatithemi) Kerajaan dan mempercayakan kekuasaan sebagai wakilNya  (Luk 22:29-30).

                Kis 15:1-21 menunjukkan sejauh mana para rasul memahami Gereja sebagai pemenuhan kerajaan Daud. Dalam penutupan Konsili Yerusalem, Yakobus menguatkan keputusan Petrus untuk menerima bangsa-bangsa lain di dalam Gereja, sebagian karena ia memahaminya sebagai pemenuhan dari nubuat Am 9:10-11: “Kemudian... Aku akan kembali dan membangunkan kembali pondok Daud yang telah roboh, dan reruntuhannya akan Kubangun kembali dan akan Kuteguhkan,    supaya semua orang lain mencari Tuhan dan segala bangsa yang tidak mengenal Allah, yang Kusebut milik-Ku” [Kis 15: 16-17]. Namun frasa sang nabi Amos [dalam Am 9:11]: "Pada hari itu Aku akan mendirikan kembali pondok Daud yang telah roboh” di dalam konteks ini adalah suatu rujukan pada dinasti dan kerajaan Daud yang tidak terwujud di zaman Amos. Visiun Amos mengenai pemulihan kerajaan Daud dan bangsa-bangsa yang berduyun-duyun masuk ke dalamnya, di dalam pandangan Yakobus terpenuhi dengan masuknya bangsa-bangsa bukan Yahudi ke dalam Gereja. Maka Yakobus memandang Gereja sebagai kerajaan Daud yang sudah diubah. Konsep yang sama mendasari khotbah Petrus dalam Kis 2:29-36 dan Paulus dalam Kis 13:22-23.32-37.

                Wahyu 21-22 menyatukan dengan cara yang mencolok tema-tema Kerajaan Allah, kerajaan Daud dan Gereja di dalam visiun mengenai Yerusalem Baru yang turun dari Allah. Pertama, orang dapat mengenal Yerusalem Baru itu sebagai Gereja karena diperikan sebagai “pengantin perempuan, mempelai Anak Domba” (Why 21:9; bdk Why 21:2), suatu pelukisan bagi Gereja seperti yang ditunjukkan dengan jelas oleh kitab-kitab lain (Ef 5:23-32; tetapi renungkan juga Mat 22:1-14; 25:1-13). Yerusalem Baru itu juga dibangun di atas “dua belas batu dasar dan di atasnya tertulis kedua belas nama kedua belas rasul” (Why 21:14), yang mengingatkan pada uraian tentang “Gereja yang dibangun di atas dasar para rasul” (Ef 2:20).

                Kedua, orang dapat menyamakan Yerusalem Baru dengan kerajaan Daud, atau setidaknya intinya atau pusatnya. Bagaimanapun [sekalipun Baru] dia adalah Yerusalem, Kota Daud (1 Raj 8:1), ibukotanya yang dulu (2 Sam 5:9) dan di sana Anak Daud, Anak Domba itu adalah “Singa dari suku Yehuda” (Why 5:5), “tunas, yaitu keturunan Daud” (Why 22:160, memerintah dari satu tahta bersama dengan Allah.

                Maka kedua bab terakhir dari kitab Wahyu merupakan pemadatan pelukisan yang di antara yang lain-lainnya menunjukkan pemenuhan kerajaan Daud di dalam Kerajaan Allah yang adalah Gereja surgawi.

                Di dalam Gereja-sebagai-Kerajaan Allah, orang dapat mengenali pemenuhan tipologi lain dari kerajaan Perjanjian Lama. Petrus memastikan bagi umat Kristen bahwa mereka adalah “bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus” (1 Ptr 2:9). Dengan kata lain, janji Tuhan kepada Israel akan suatu bangsa imamat-rajawi di masa Musa di Sinai (Kel 19:6) diwujudkan di dalam jemaat Kristen.

                Janji kepada Abraham bahwa “dari padamu akan berasal raja-raja” (Kej 17:6) juga terwujud sepenuhnya di dalam Kristus Raja, sehingga dari Dia, Abraham menjadi “bapa dari banyak bangsa-bangsa” berdasarkan iman (Rm 4:16-17).

                Akhirnya peran paradigmatis dari Adam sebagai wakil-penguasa atas alam semesta juga sudah dilunaskan tuntas dalam Kristus, Adam yang Baru (Rm 5:14), yang menjadikan Gereja tubuhNya juga menjadi “manusia baru” (Ef 2|:15), dan bersama dengan tubuhNya itu berkuasa atas segala sesuatu, yang telah diletakkan di bawah kakiNya (bdk Kej 1:26.28; Mzm 8:3-9; Ef 1:20-23; Ibr 2:6-9). Atas alasan ini, kitab Wahtu menggambarkan Yerusalem Baru, kota-tempat-bertahtanya Anak Domba, juga sebagai Eden yang baru, di mana mengalir sungai kehidupan (bdk Kej 2:10-14; Yeh 47:1-12; Why 22L1-2), dan tempat Pohon Kehidupan bertumbuh (bdk Kej 3:22-24; Why 22:2); kutuk laknat yang menyertai jatuhnya manusia dalam dosa di Eden (Kej 3:14-19) telah dihapuskan (Why 22:3).