Daftar Blog Saya

Tampilkan postingan dengan label Yesus Anak Allah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yesus Anak Allah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 September 2022

ANAK ALLAH

 



Anak Allah: Gelar sebutan dan jati diri ilahi Yesus Kristus. Walapun seorang manusia sejarah, Yesus adalah sungguh Anak Allah yang mempunyai hubungan yang tiada duanya dan kekal dengan Allah, BapaNya (Mat 11:25-27; Yoh 1:14,18; 3:16-18; 17:1-5). Iman Kristen bergantung pada kepercayaan bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah (Yoh 20:31; 1 Yoh 4:4-15). Secara statistik, sebutan Yesus Anak Allahmuncul lebih dari 100 kali dalam Perjanjian Baru. Sebutan Anak Allah juga ditemukan baik dlm PL maupun dlm PB (KGK 441-445).

 

I.             Dalam Perjanjian Lama

A.            Bangsa Israel sebagai Anak Allah

B.            Raja Israel sebagai Anak Allah

II.            Dalam Perjanjian Baru

A.            Yesus sebagai “Anak Allah” dalam Pengertian Perjanjian Lama

B.            Yesus sebagai “Anak Allah” dalam Arti Ilahi

 

I. Dalam Perjanjian Lama

A. Bangsa Israel sebagai Anak Allah

Dalam Perjanjian Lama, “anak Allah” adalah sebutan yang diberikan kepada berbagai macam orang atau mahluk, termasuk malaikat (Ayb 1:6; 38:8; Mzm 89:6) dan orang yang jujur dan saleh (bdk Ayb 1:6; 2:1; Mzm 88:7; Keb 2:13).

                Yang menyolok ialah Perjanjian Lama menggunakan sebutan itu untuk anak-anak Israel. Dalam Kel 4:22, Musa diperintahkan untuk memberitahu Firaun: “Beginilah firman Tuhan, Israel adalah anakKu, anakKu yang sulung.” Dalam Ul 14:1 suku Israel disebut “anak-anak Tuhan, Allahmu”. Sebutan itu menunjukkan pilihan atas Israel, prakarsa ilahi dalam memilih Israel untuk mendapatkan hak khusus dan tanggungjawab dari status anak angkat melalui perjanjian (bdk Yes 2:1; Yer 3:19, 31:9; Hos 11:1; 13:13).

 

B. Raja Israel sebagai Anak Allah

Raja-raja Israel juga disebut anak-anak Allah (2Sam 7:14; 2 Taw 22:10; Mzm 2:7; 89:28). Sebagaimana lazimnya di Timur Dekat, ini bukan suatu pernyataan mengenai keilahian dari pihak Israel. Sebaliknya, pernyataan sebagai anak Allah itu merupakan perluasan dari status keputraan Israel; raja adalah anak Allah karena dia adalah pemimpin dan wakil dari bangsa Israel di hadapan Allah. Secara lebih spesifik, pengangkatan raja menjadi anak angkat Allah merupakan suatu berkat dari perjanjian Daud (2 Sam 7:14). Dengan mengangkat raja-raja sebagai anak, Allah memilih raja-raja keturunan Daud untuk melaksanakan tujuan keselamatan dariNya dan harapan masa depan akan Mesias: “Apabila umurmu sudah genap dan engkau telah mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangmu, maka Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, anak kandungmu, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya.  Dialah yang akan mendirikan rumah bagi nama-Ku dan Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya untuk selama-lamanya” (2 Sam 7:12-13) (KGK 441).

 

II. Dalam Perjanjian Baru

A. Yesus sebagai “Anak Allah” dalam Pengertian Perjanjian Lama

Dalam Perjanjian Lama, sebutan “anak Allah” dipahami sebagian digunakan untuk menunjuk Yesus sebagai Mesias yang ditunggu-tunggu dan Raja Israel “yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud, dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa” (Rm 1:3-4). Pemahaman tradisional semacam itu masih tampak dalam kata-kata Natanael, pada pertemuannya yang pertama dengan Yesus, ketika ia menyebut Yesus “Anak Allah” (Yoh 1:49).

 


B. Yesus “Anak Allah” Dalam Arti Ilahi.

Para penulis Perjanjian Baru memahami Yesus lebih dari Mesias yang diharapkan, selaras dengan pernyataan Yesus sendiri akan statusNya sebagai Anak Allah (mis Mat 11:27; 21:33-41; 24:36; Mrk 13:32; Luk 10:22, 20:9-16; Yoh 3:16; 10:36). Yesus adalah pemenuhan harapan-harapan mesianis dari Israel, tetapi di dalam pemenuhan ini, Yesus mengungkapkan suatu aspek yang lebih dalam lagi mengenai status keputraan ilahiNya, sebab hanya Dialah yang mempunyai hubungan yang unik dan kekal dengan Allah sebagai Bapa, dan Dia sebagai Putera Tunggal-Nya (Mat 7:21-23; 10:32; 11:25-30; 24:30.31; 27:25; 28:19.20; Mrk 12:2.6.37; 14:61-62; Luk 2:49; Yoh 6:10; 16:1.5; 20:17.20-23). Ada dua peristiwa yang terutama penting sebagai penegasan keputeraan ilahi Yesus. Yang pertama terkait pembaptisanNya (Mat 3:13-17; Mrk 1:9-11; Luk 3:21-22): “lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: ‘Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan’.''  (Mat 3:17; bdk Mrk 1:11; Luk 3:22). Yang kedua terkait Perubahan Rupa (Transfigurasi) Kristus (Mat 17:5-13; Mrk 9:2-13; Luk 9:28-36; 2 Ptr 1:16-18): “Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: ‘Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.’” (Mat 17:5; bdk Mrk 9:6; Luk 9:35).



                Ketika Petrus menyampaikan pengakuannya yang dramatis kepada Yesus: ''Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!'' (Mat 16:16; Bdk Mat 14:33), Yesus berkata kepadanya: ''Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga,” menunjukkan bahwa Petrus mengungkapkan imannya atas keilahian Yesus dan atas peran Yesus selaku Mesias.

                Tetapi hanya di dalam misteri Paskah-lah makna yang sesungguhnya dari Anak Allah ini dipahami umat beriman: Waktu kepala pasukan yang berdiri berhadapan dengan Dia melihat wafat-Nya demikian, berkatalah ia: 'Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!' (Mrk 15:39). Dalam Gal 4:4-5, Paulus menulis “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak” (bdk. Rm 8:14-15; Ef 1:5; Kol 1:13). Melalui wafat dan kebangkitan Yesus Ia menunjukkan Diri-Nya sebagai Anak Allah yang sesungguhnya, dan bahwa Ia menjadikan kita semua anak-anak Allah juga. Yohanes menyatakan kepada kita hal itu ketika ia menulis di dalam Injil-nya “supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya” (Yoh 20:31). Yohanes menegaskan hubungan mesra di antara status keputraan Yesus dan rahmat ilahi yang menjadikan kita anak-anak Allah (Yoh 1:12; 1 Yoh 3:1-2.9; 5:1) (KGK 442-445).


Bambang Kussriyanto