Daftar Blog Saya

Tampilkan postingan dengan label Komisi Metodis-Katolik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Komisi Metodis-Katolik. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Oktober 2022

KABAR BARU DARI VATIKAN 3

 

Pada 5 Oktober Paus Fransiskus menerima kunjungan anggota Komisi Internasional Methodist-Roman Catholic (MERCIC). Komisi, yang mulai bekerja sejak 1967 terus menerus melakukan pertemuan dan kali ini di Roma di Casa Maria Immacolata untuk pleno pertama dari dialog putaran ke-12. Komisi ditemani Kardinal Kurt Koch, Prefek Dikasteri untuk Memajukan Kesatuan Kristiani.

Salah satu ketua Komisio itu dari Katolik Mgr Shane Mackinlay dari Dioses Sandhurst, Australia, menyampaikan laporan kerja Komisi yang sekarang fokus pada misi dan sinodalitas dan khususnya tentang cara misi melakukan perumusan ajaran. Tanggapan dari ketua Methodist, Revd Professor Edgardo Colón-Emeric, melaporkan kepada Paus Fransiskus penyelesaian putaran dialog ke-11, tentang Allah dalam Kristus yang melakukan Rekonsiliasi: Di Jalan Menuju Persekutuan Penuh dalam Iman, Sakramen, dan Misi. Paus Fransiskus menyambut dengan renungan atas perumpamaan anak yang hilang, menegaskan renungan yang terdapat dalam laporan putaran dialog ke-11 itu, bahwa baik Katolik maupun Methodists adalah “anak-anak Bapa” yang oleh dosa menjauh dari rumah Bapa, dan sekarang keduanya ingin pulang kembali kepada Bapa demi mendapatkan persatuan dalam iman dan hidup sakramental.

Anggota MERCIC dari pihak Katolik: Mgr Shane Mackinlay (Ketua), Australia; RD Anthony Currer (Secretaris), Dikasteri untuk Memajukan Persatuan Kristiani; Dr Catherine E. Clifford, Kanada; RD Dr Gerard Kelly, Australia; RP Dr Jorge Scampini, OP, Argentina; Dr Clare Watkins, Inggris; Suster MarySylvia Nwachukwu, DDL, Nigeria; RP Daniel Franklin Pilario, CM, Filipina; dan RP Martin Browne, OSB, Irlandia.

Para anggota Methodist : Revd Dr Edgardo Colón-Emeric, (Ketua) AS; Revd Matthew A. Laferty (Secretaris), Biro Ekumenis Methodist Roma; Dr Jung Choi, Korea/AS; Dr Geordan Hammond, Inggris; Bishop Lizette Gabriel Montalvo, Puerto Rico; Revd Dr Glen O’Brien, Australia; Revd Dr Hermen Shastri, Malaysia; and Professor Lilian Cheelo Siwila, Afrika Selatan.

&&&

Telegram Paus Fransiskus melalui Kardinal Sekretaris Negara untuk para korban serangan atas panti penitipan anak-anak di Uthai Sawan (Thailand), 07.10.2022




TO THE APOSTOLIC NUNCIATURE IN THAILAND

DEEPLY SADDENED TO LEARN OF THE HORRIFIC ATTACK THAT TOOK PLACE AT A CHILD-CARE CENTRE IN UTHAI SAWAN, HIS HOLINESS POPE FRANCIS OFFERS HIS HEARTFELT CONDOLENCES AND THE ASSURANCE OF HIS SPIRITUAL CLOSENESS TO ALL THOSE AFFECTED BY THIS ACT OF UNSPEAKABLE VIOLENCE AGAINST INNOCENT CHILDREN. IN IMPLORING DIVINE HEALING AND CONSOLATION UPON THE INJURED AND THE GRIEVING FAMILIES, HIS HOLINESS PRAYS THAT, IN THIS HOUR OF IMMENSE SADNESS, THEY MAY DRAW SUPPORT AND STRENGTH FROM THE SOLIDARITY OF THEIR NEIGHBOURS AND FELLOW CITIZENS. UPON ALL THE BELOVED THAI PEOPLE, THE HOLY FATHER INVOKES THE BLESSINGS OF PEACE AND PERSEVERANCE IN EVERY GOOD.

CARDINAL PIETRO PAROLIN - SECRETARY OF STATE

(Kepada Nunsio Apostolik di Thailand. Sangat bersedih setelah mengetahui terjadinya serangan mengerikan atas panti penitipan anak-anak di Uthai Sawan. Yang mulia Paus Fransiskus menyampaikan ucapan dukacita setulus hati dan simpati sedalam-dalamnya kepada mereka yang terdampak oleh kekerasan yang tak terperikan atas anak-anak yang tidak bersalah. Seraya memohonkan penyembuhan ilahi atas mereka yang luka-luka dan penghiburan bagi keluarga yang berduka, Paus Fransiskus berdoa agar dalam masa berkabung ini, mereka mendapat bantuan dan kekuatan dari solidaritas para tetangga dan sesama warganegara. Untuk rakyat Thailand Bapa Suci memohonkan rahmat perdamaian dan bertekun dalam segala kebaikan).




Pada hari Kamis 6 Oktober 2022 seorang mantan anggota kepolisian Thailand yang sedang diadili atas tuduhan terkait narkoba mengamuk, menembaki dan membunuh 36 anak dan guru di suatu panti penitipan anak-anak di Uthai Sawan. Selanjutnya penyerang itu bunuh diri setelah lebih dulu membunuh isteri dan anak-anaknya di rumahnya.

&&&

KASUS-KASUS USKUP YANG MELAKUKAN PELECEHAN SEKSUAL



Vatikan terus dihujani kecaman karena lamban menangani kasus-kasus Uskup yang melakukan pelecehan seksual pada anak-anak. Kasus Uskup Ximenes Belo dari Timor Leste menyebabkan para wartawan mengungkap kembali deretan kasus-kasus antara lain mantan kardinal Theodore McCarrick (Washington, AS),  Uskup Gustavo Zanchetta (Oran, Argentina), Uskup Franz-Josef Bode (Osnabruck, Jerman), Uskup Rick Stika (Knoxville, Tennessee, AS), dan beberapa lainnya. Setelah dikeluarkannya Pedoman Penanganan Pelecehan Seksual oleh Kongregasi Ajaran Iman 2020 mestinya dilakukan pemeriksaan yang berbeda dan lebih tegas, namun nyatanya yang terjadi tetap sama dan tidak ada perubahan. Tindakan Vatikan dianggap lebih memedulikan martabat sakramen tahbisan saja dan masa depan saja, tidak peduli aspek pidana kejahatan masa lalu dan nasib pada para korban terbukti dari perlakuan yang lunak sebatas restriksi (larangan) berupa tahanan rumah, suspensi (kasus Belo), dan laikisasi pelaku (kasus Ted McCarrick), tanpa hukuman yang sepadan dan berkeadilan.