Daftar Blog Saya

Tampilkan postingan dengan label Anak Manusia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anak Manusia. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Januari 2023

SABAT, ABYATAR, ANAK MANUSIA

 Untuk memperkaya latar informasi renungan bacaan Injil hari ini: Mrk 2:23-28



Sabat    

Hari ketujuh dalam pekan Yahudi, dari matahari tenggelam hari Jumat hingga matahari tenggelam hari Sabtu (Kel 20:8-11). Dalam Hukum Taurat, hari Sabat dihormati sebagai hari istirahat dan suatu tanda perjanjian di antara Tuhan dan Israel (Kel 31:12-17). Di antara umat Kristen Sabat dipindahkan dari hari ketujuh dalam pekan menjadi hari pertama dalam pekan, yaitu Minggu, sebagai pengakuan pada ciptaan baru yang ditandai dengan Kebangkitan Kristus pada hari Minggu (KGK 2168-2176).

 

I. Dalam Perjanjian Lama

A. Hukum Dasar Bagi Umat Allah

B. Tanda Perjanjian Tuhan

C. Seruan Nabi agar Sabat Diindahkan

II. Dalam Perjanjian Baru

A. “Sabat Diadakan Untuk Manusia”

B. Hari Minggu, Sabat Umat Kristen.

 

I. Dalam Perjanjian Lama

A. Hukum Dasar Bagi Umat Allah

Istilah Ibrani sabat muncul lebih dari seratus kali dalam Perjanjian Lama, empat puluh di antaranya dalam Pentateukh, dan berasal dari akar Ibrani yang berarti “berhenti atau beristirahat”. Pentingnya Sabat berawal dari Penciptaan (Kej 1:1-2|:4), di mana Sabat merupakan puncak pekerjaan Allah, ketika Ia beristirahat (Ibrani: sabat). Sabat juga sangat penting karena mengindahkan sabat berarti melaksanakan salah satu dari Sepuluh Perintah Allah (Kel 20:8-10; Ul 5:12-15). Sabat adalah hari yang suci dan penuh berkat (Kej 2:3; Yes 58:13).

 

B. Tanda Perjanjian Tuhan

Tuhan tidak hanya beristirahat pada hari ketujuh; Ia juga memberkati dan menguduskan hari itu (Kej 2:2-3). Ia tidak beristirahat karena kecapaian, tetapi karena bermaksud menetapkan hari Sabat sebagai tanda perjanjian-Nya (Kel 31:12-17). Hari Sabat bukan sekedar suatu waktu untuk beristirahat tetapi juga saat untuk merenungkan karya Allah sebagai Pencipta. Dalam terang ini, dalam konteks Perjanjian Lama Sabat menimbulkan rasa syukur dan kebergantungan serta iman kepada Tuhan (KGK 345-347).

      Sesudah membebaskan Israel dari Mesir pada waktu Keluaran, Sabat juga menjadi tanda bagi karya penebusan Tuhan: yaitu campurtangan Tuhan dalam sejarah yang memberikan kepada Israel istirahat dari beban perbudakan. Maka perintah mengenai hari Sabat di dalam kitab Keluaran terkait dengan Sabat bersama Tuhan Sang Pencipta, dan Sabat dari kitab Ulangan terkait dengan Sabat bersama Tuhan Sang Penebus.

      Sabat kemudian mendapat tempat dalam inti Hukum Israel; bersama dengan sunat, kepatuhan pada ketentuan-ketentuan itu menjadi tanda lahiriah bagi keanggotaan seseorang dalam Israel (bdk Yeh 20:13; Neh 13:17-18). Sabat merupakan hari keagamaan untuk berhimpun dan beribadat (Im 23:1-3). Hukum Perjanjian (Kel 21-23) memuat berbagai ketetapan dan syarat perjanjian, termasuk istirahat pada hari Sabat, “hari yang ketujuh” (Kel 23:12). Jelas bahwa ini merupakan hukum yang ramah dan praktis, namun tujuan utama Sabat adalah mengenangkan Tuhan dan tindakanNya yang menyelamatkan (Ul 5:15): “haruslah kauingat, bahwa engkaupun dahulu budak di tanah Mesir dan engkau dibawa keluar dari sana oleh Tuhan, Allahmu dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung; itulah sebabnya Tuhan, Allahmu, memerintahkan engkau merayakan hari Sabat.”

      Semua bentuk pekerjaan yang tidak wajib dilakukan dilarang dikerjakan pada hari Sabat. Bahkan pelayan dan hewan-hewan pun harus mendapatkan istirahat (Kel 20:8-10; 31:13-17). Berbagai peraturan khusus dikeluarkan sehubungan dengan memasak (Kel 16:23), membajak dan menuai (Kel 34:21), mengumpulkan kayu (Bil 15:32-36), menyalakan api (K|el 35:3), perdagangan dan pertukaran (Neh 13:15-22), mengangkut beban (Yer 17:21-27), dan membebani binatang (Neh 13:15). Karena pekerjaan dilarang, makanan harus disiapkan pada hari sebelum Sabat; maka hari sebelum Sabat dikenal sebagai hari persiapan (Mat 27:62; Mrk 15:42).

 C. Seruan Nabi agar Sabat Diindahkan

Pelanggaran atas hari Sabat bisa dikenai hukuman mati (Kel 31:14-15; Bil 15:32-36), namun kendati ada hukuman seperti itu, ketidakpatuhan pada peraturan Sabat sudah menjadi masalah baik sebelum maupun dalam masa Pembuangan (Yer 17:19; Yeh 20:13.16.21.24; 22:8; 23:38). Amos menggambarkan keadaan kepatuhan hukum yang menyedihkan dalam kerajaan Israel dengan menunjukkan bergairahnya perdagangan untuk hari Sabat sampai matahari terbenam (Am 8:5). Para nabi dengan demikian menekankan kepatuhan yang tepat (Yes 1:13; 56:6; Yeh 20:12). Yesaya memandang Sabat bukan sebagai beban, melainkan sebagai kegembiraan dan sukacita:

Apabila engkau tidak menginjak-injak hukum Sabat dan tidak melakukan urusanmu pada hari kudus-Ku; apabila engkau menyebutkan hari Sabat "hari kenikmatan", dan hari kudus Tuhan "hari yang mulia"; apabila engkau menghormatinya dengan tidak menjalankan segala acaramu dan dengan tidak mengurus urusanmu atau berkata omong kosong, maka engkau akan bersenang-senang karena Tuhan, dan Aku akan membuat engkau melintasi puncak bukit-bukit di bumi dengan kendaraan kemenangan; Aku akan memberi makan engkau dari milik pusaka Yakub, bapa leluhurmu, sebab mulut Tuhanlah yang mengatakannya  (Yes 58:13-14)

 Yeremia menyatakan bahwa kelangsungan hidup kerajaan Yehuda sungguh bergantung kepada kepatuhan pada perjanjian dan tuntutan Sepeluh Perintah Allah, termasuk perintah menghormati Sabat (Yer 17:19-27; bdk Rat 2:6). Yehezkiel seperti Yesaya dan Yeremia, menyatakan bahwa Sabat adalah hari Tuhan (Yeh 20:12-13.20-21.24; 22:26; 23:38; 44:24) dan suatu tanda perjanjian (Yeh 20:12).

      Dengan kepulangan dari pembuangan Babilon, Sabat terus dipatuhi secara longgar, suatu sumber keprihatinan bagi Nehemia. Dalam reformasi selanjutnya, suatu komitmen yang teguh atas Sabat menjadi tulang punggung pengakuan keaslian jati diri Yahudi (Neh 13:15-22). Namun pada akhirnya kepatuhan pada Sabat diwarnai oleh kekakuan yang berlebihan melampaui Hukum. Pada masa Makabe, sebagian orang Yahudi membiarkan diri dibantai oleh pasukan Seleukus ketimbang bertempur dan membela diri pada hari Sabat (1 Mak 2:35-38; 2 Mak 8:26). Yang lain, seperti Matatias dan teman-temannya, memilih membela diri dan mengikuti pendekatan yang tidak terlalu ketat walaupun mereka berhenti melakukan penyerangan musuh pada hari Sabat (1 Mak 2:39-41).

 II. Dalam Perjanjian Baru

A. “Sabat Diadakan Untuk Manusia”

Dalam Perjanjian Baru kepatuhan pada hukum Sabat menjadi topik perbantahan, paling sering di dalam Injil-injil. Pada umumnya dikatakan bahwa Yesus sebagai seorang Yahudi yang saleh pasti terbiasa mengikuti aturan-aturan Sabat, karena kita lihat Ia sering hadir di sinagoga di Galilea (Mrk 1:21; 3:1; Luk 4:16). Tetapi tindakanNya pada hari Sabat menjadi sumber ketegangan dengan para ahli kitab dan kaum Farisi, karena Yesus sering memilih melakukan penyembuhan dan mujizat-mujizat pada hari suci untuk istirahat itu (mis Mat 12:9-14; Mrk 1:21-28; Luk 14:1-16; Yoh 5:1-9). Menurut para pemimpin agama, ini merupakan pekerjaan yang melanggar hukum, dan Yesus harus dikecam atau disingkirkan (Mat 12:14; Yoh 5:1-9). Bagi para ahli kitab dan kaum Farisi, ketidakpatuhan Yesus merupakan bukti bahwa “''Orang ini tidak datang dari Allah, sebab Ia tidak memelihara hari Sabat.” (Yoh 9:16).

      Yesus menanggapi tuduhan ini dengan cara yang mengungkapkan misteri yang lebih dalam dari jatidiriNya dan makna yang lebih mendalam dari Sabat sendiri juga. Di satu pihak, ia menyatakan diriNya sebagai “Tuhan atas hari Sabat” (Mat 12:8; Mrk 2:28). Karena Bapa-Nya di surga adalah Pencipta hari Sabat, dan Bapa sendiri terus bekerja pada hari Sabat, Putera ilahi hanya dapat melakukan apa yang dilakukan Bapa (Yoh 5:8). Orang Yahudi menangkap pernyataan ini sebagai usaha Yesus “menyamakan diri dengan Allah” (Yoh 5:18). Di pihak lain, Yesus menanggapi tuduhan bahwa dirinya melanggar Sabat dengan menyatakan sebaliknya, bahwa Ia memenuhi maksud Sabat yang sebenarnya (Luk 13:10-17). Dengan kata lain, dengan menyembuhkan dan memulihkan, ia mengangkat beban dari kehidupan orang-orang, dan memberikan istirahat, membebaskan mereka dari beban fisik dan rohani yang mereka tanggung selama bertahun-tahun. Maka Sabat adalah membebaskan, bukan membelenggu (Luk 13:10-17). Sabat “dibuat untuk manusia”, bukan sebaliknya (Mrk 2:27). Tindakan amal kasih dan yang wajib dilakukan dengan demikian selaras dengan pentingnya Sabat dalam pengertian yang paling dalam (Mat 12:1-6; Luk 6:9).

 B. Hari Minggu, Sabat Umat Kristen.

Paulus menggolongkan Sabat di antara kepatuhan ritual |yahudiyang tidak lagi wajib dilakukan umat Kristen (Kol 2:16; Gal 4:9-10; Rm 14:5). Namun Paulus biasa menghadiri ibadat Sabat di sinagoga bukan karena ia berkewajiban melakukannya, melainkan karena ia mengambil kesempatan untuk mewartakan Injil di kalangan sesama orang Israel. Tampaknya Sabat tidak dibicarakan dalam Konsili Yerusalem, tetapi kaum beriman yang berasal dari bangsa lain berhimpun pada hari Minggu (Kis 20|:7-12; 1 Kor 16:2), yang kemudian menjadi hari ibadat Kristen mengenangkan Kebangkitan Tuhan (KGK 349.2174-2176).

      Akhirnya dalam Ibr 4 ada kaitan antara Sabat dengan warisan kekal dalam Perjanjian Baru. Istirahat dalam Perjanjian Lama yang ditandai oleh istirahat Sabat di akhir penciptaan (Kej 2:2), juga oleh istirahat yang diberikan Yosua kepada Israel di Tanah Terjanji.

Abyatar

Seorang keturunan Itamar, anak bungsu Harun, dan anak Ahimelekh dari keluarga Eli (1 Sam 22:2-23; 1 Raj 2:27; 1 Taw 24:3). Abyatar menjadi imam di Nob bersama Ahimelekh. Ia memberi roti sajian untuk Allah kepada Daud yang kelaparan untuk makan (1 Sam 21:1-6; Mrk 2:23-26). dan satu-satunya yang selamat dari pembantaian para imam yang diperintahkan oleh Saul di Nob (1 Sam 22:20). Ia melarikan diri kepada Daud dengan membawa efod (1 Sam 23:6), dan selanjutnya menjadi imam utama Daud selama masa dikejar-kejar Saul. Tugasnya pada masa itu tidak menentu, tetapi ia teguh setia kepada Daud selama pemberontakan Absalom (2 Sam 15:1-12). Sesudah pemberontakan, Abyatar tetap mengabdi kepada Daud bersama dengan Zadok di Yerusalem. Selama pemerintahan Daud, Abyatar terbilang sebagai salah seorang imam kepala (bdk 1 Taw 15:11; 2 Sam 20:25).

      Ketika Daud hampir mati, Abyatar memberikan dukungannya bukan kepada Salomo, melainkan kepada Adonia, sedang Zadok membela Salomo (1 Raj 1-2, 19,25; 2:22). Begitu dinobatkan, Salomo mencopot jabatan iman Abyatar dan mengasingkannya ke Anatot; Abyatar tidak dihukum mati karena pengabdiannya selama banyak tahun kepada Daud (1 Raj 2:26-27). Zadok mendapatkan jabatan Abyatar (1 Raj 2:35). Berakhirnya masa jabatan imam Abyatar memenuhi ramalan yang dibuat 150 tahun sebelumnya (1 Sam 2:27-36) bahwa keluarga imam Eli akan berakhir karena ketidaksetiaan. 


Lihat juga: Anak Manusia

Jumat, 25 November 2022

ANAK MANUSIA

 Anak Manusia adalah sebutan gelar yang sering digunakan Yesus bagi DiriNya sendiri. Pilihannya atas ungkapan itu mungkin terkait dengan maknanya yang berbeda. Pada tingkat tertentu, “anak manusia” hanyalah semata-mata suatu cara ungkapan Semit untuk menyebut seorang manusia – yaitu seseorang yang berbagi dalam keterbatasan-keterbatasan manusia yang fana (Ayb 25:6). Kadang-kadang Yesus tampak menggunakan ungkapan “anak manusia”  dengan arti umum ini, misalnya ayat-ayat paralel dalam Injil memperlakukannya sebagai kata ganti orang ketiga yang setara dengan kata ganti orang pertama yang mengucapkan “aku” (bdk Mat 16:13 dengan Mrk 8:27). Pada tingkat yang lain, sebaliknya, sebutan gelar “Anak[1] Manusia” mempunyai hubungan yang tegas dengan visiun/penglihatan Mesianis dari Daniel 7, di mana “seseorang seperti anak manusia”  di atas awan-awan langit dan diberi kerajaan yang tidak berkesudahan (Dan 7:13).  Tidak diragukan lagi, Yesus bermaksud menyamakan DiriNya dengan tokoh di dalam Kitab Daniel itu dan dengan demikian menggunakan sebutan gelar “Anak Manusia” itu dalam konotasi makna yang sepenuhnya Mesianis. Hal ini sangat jelas di dalam ayat-ayat di mana Yesus berbicara tentang “Anak Manusia” di dalam hubungan dengan gambaran semacam “awan-awan langit” (Mat 24:30; Mrk 14:61-62) (KGK 440).



 

I.                LATAR BELAKANG PERJANJIAN LAMA

Di dalam Perjanjian Lama, “anak manusia” dapat dianggap padan-kata yang sifatnya puitis dari “manusia” yang sungguh fana (Bil 29:19; Mzm 8:4; Sir 17:30). Istilah itu banyak sekali digunakan dalam Kitab Yehezkiel, di mana sang nabi disebut sekitar sembilan puluh kali oleh Allah sebagai “anak manusia” (Yeh 2:1.3 dst). Dalam Kitab Daniel satu-satunya penggunaan sebutan “anak manusia” dengan konotasi makna seperti itu adalah pada Dan 8:17. Sedangkan dalam Dan 7, sesudah munculnya keempat binatang yang besar, dahsyat menakutkan, Allah duduk di atas takhtanya seperti “dahulu kala” (Dan 7:9) dan ke hadapanNya datanglah ”seorang seperti anak manusia” dengan awan-awan langit (Dan 7:13). “Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah” (Dan 7:14).

      Anak Manusia jelas ditampilkan di sini sebagai sosok Mesianis yang mengungkapkan kebijaksanaan Allah dan yang kuasanya akan menengarai kekalahan penghabisan musuh-musuh Allah. Tulisan-tulisan apokrif Yahudi melebih-lebihkan peran Daniel sebagai Anak Manusia. Anak Manusia yang dikemukakan dalam perumpamaan dalam 1 Henokh 37-71 adalah penguasa Mesianis yang kuat, seorang tokoh eskatologis yang akan datang pada akhir zaman melakukan pengadilan. Sebelum itu, ia masih tersembunyi bersama dengan Allah, walaupun ia sudah terpilih sebelum adanya ciptaan, dan dia akan membawa keselamatan bagi seluruh ciptaan baru. Peran pokok dari Anak Manusia adalah sebagai Hakim ( 1 Henokh 49.4; 51.1-3), Mesias (1 Henokh 48.10), Cahaya bagi Bangsa-bangsa lain (1 Henokh 48.4) dan sebagai Yang Benar ( 1 Henokh 46.3).

 

II.              PENGGUNAAN DALAM PERJANJIAN BARU

Yesus menyebut DiriNya sendiri “Anak Manusia” di sepanjang pemunculannya di depan umum. Kadang-kadang Ia membicarakan DiriNya dengan kata-kata manusia yang jelas, melakukan kegiatan seperti beristirahat (Mat 8:20; Luk 9:58), makan dan minum (Mat 8:20; Luk 7:34) dan mengalami kesedihan (Mrk 8:31). Tetapi Yesus juga mempunyai kuasa ilahi yang melebihi daya-daya manusia, semisal hal mengampuni dosa (Mat 9:6; Mrk 2:10; Luk 5:24) dan menggugurkan tuntutan hari Sabat (Mat 12:8; Mrk 2:28; Luk 6:5). Dalam Injil Yohanes Anak Manusia tampil sebagai Hakim (Yoh 5:7) dan sebagai Dia yang turun dari surga dan akan naik kembali ke surgga (Yoh 6:62); Dia adalah pengantara di antara surga dan bumi (Yoh 1:51) dan dimuliakan oleh Allah yang dimuliakanNya (Yoh 13:31).

      Tak pelak lagi Yesus menggunakan pengertian “Anak Manusia” yang berasal dari Dan 7:13 ketika Ia menyatakan bahwa Ia akan bertahta di surga (Mat 19:28; 25:31) dan bahwa Kerajaan adalah milikNya (Mat 16:28; Luk 9:26-27). Di dalam dua konteks Ia menyebutkan “awan-awan langit” yang  tampak jelas dalam visiun/penglihatan Daniel : yaitu ketika Ia menubuatkan kedatanganNya untuk yang kedua kalinya (Mat 24:30; Mrk 13:26), dan ketika Ia menubuatkan pengadilanNya di hadapan imam besar yang sudah siap mau menjatuhkan hukuman kepadaNya (Mat 26:64; Mrk 14:62).

      Yang unik di dalam gambaran Yesus sendiri mengenai “Anak Manusia” bukanlah bahwa Ia mampu untuk menonjolkan aspek-aspek duniawi dan Mesianis, melainkan fakta bahwa Ia mengaitkan statusNya sebagai Anak Manusia itu dengan tugas penyelamatan di dalam penderitaan. Sesungguhnya, pernyataannya yang lebih dini mengenai Penderitaan Sengsara-Nya yang disebutkan di dalam Injil-injil disampaikan dengan konotasi mengenai apa yang akan terjadi pada “Anak Manusia” (Mat 12:40; 17:12.22; 20:18; Mrk 9:31; 10:33; Luk 9:44; 18:31). Walaupun mungkin bahwa pembaca Kitab Daniel melihat adanya hubungan di antara ”anak manusia” dalam Daniel 7:13 dan ”dia yang diurapi” yang disingkirkan dalam Dan 9:26, kiranya Yesus menghendaki agar para muridNya mengaitkan anak manusia Daniel dengan Hamba yang Menderita dari Yes 52-53. Dengan demikian para pengikutNya dapat memahami bahwa penderitaan yang dialamiNya sampai mati merupakan permulaan yang penting bagi pemuliaan dan pentahtaanNya di surga.



[1] Terjemahan bahasa Indonesia dalam Alk LAI konsisten menggunakan “anak”. Tetapi dalam KKK digunakan dua terjemahan: “anak” (misalnya dalam Yeh) dan “putra” (dalam Injil). Terjemahan “putra” lebih memerhatikan gender dari bahasa Inggris “son”.