Daftar Blog Saya

Tampilkan postingan dengan label panggilan umum pada kesucian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label panggilan umum pada kesucian. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 November 2022

PANGGILAN UMUM KEPADA KEKUDUSAN (LUMEN GENTIUM 39-42)

 


39. (Prakata) 

Kita mengimani bahwa Gereja, yang misterinya diuraikan oleh Konsili suci, tidak dapat kehilangan kesuciannya. Sebab Kristus, Putera Allah, yang bersama Bapa dan Roh dipuji bahwa "hanya Dialah Kudus" (Misal Romawi, "Kemuliaan kepada Allah di surga". Lih. Luk. 1:35; Mrk. 1:24; Luk. 4:34; Yoh. 6:69: "Yang Kudus dari Allah"; Kis. 3:14; 4:27 dan 30; Ibr. 7:26; 1Yoh. 2:20; Why. 3:7.) , mengasihi Gereja sebagai mempelai-Nya. Kristus menyerahkan diri baginya, untuk menguduskannya (lih. Ef 5:25- 26), dan menyatukannya dengan diri-Nya sebagai tubuh-Nya. Ia melimpahinya dengan karunia Roh Kudus, demi kemuliaan Allah. Maka dalam Gereja semua anggota, entah termasuk Hirarki entah digembalakan olehnya, dipanggil untuk kesucian, menurut amanat Rasul: "Sebab inilah kehendak Allah: pengudusanmu" (1Tes 4:3; lih. Ef 1:4). Adapun kesucian Gereja itu tiada hentinya tampil dan harus nampak pada buah-buah rahmat, yang dihasilkan oleh Roh dalam kaum beriman. Kekudusan itu dengan aneka cara terungkapkan pada masing-masing orang, yang dalam corak hidupnya menuju kesempurnaan cintakasih dengan memberi teladan baik kepada sesama. Secara khas pula nampak dalam penghayatan nasihat-nasihat, yang lazim disebut “nasihat Injil”. Penghayatan nasihat-nasihat itu atas dorongan Roh Kudus ditempuh oleh banyak orang kristiani, entah secara perorangan, entah dalam corak atau status hidup yang disahkan oleh Gereja, serta menyajikan dan harus menyajikan di dunia ini kesaksian dan teladan yang ulung tentang kesucian itu.  



40. (Panggilan umum kepada kesucian) 

Tuhan Yesuslah Guru dan Teladan ilahi segala kesempurnaan. Dengan kesucian hidup, yang dikerjakan dan dipenuhi-Nya sendiri, Ia mewartakan kepada semua dan masing-masing murid-Nya, bagaimana pun juga corak hidup mereka: “Kamu harus sempurna, seperti Bapamu yang di surga sempurna adanya” (Mat. 5:48) (Lih. ORIGENES, Komentar pada Rom. 7:7: PG 14,1122B. Pseudo. MAKARIUS, Tentang Doa 11: PG 34,861AB. S. TOMAS, Summa The-ol. II-II, soal 184, art. 3). Sebab kepada semua diutus-Nya Roh Kudus, untuk menggerakkan mereka dari dalam, supaya mengasihi Allah dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap akal budi dan dengan segenap tenaga mereka (lih. Mrk. 12:30), dan saling mencintai seperti Kristus telah mencintai mereka (lih. Yoh. 13:34; 15:12). Para pengikut Kristus dipanggil oleh Allah bukan berdasarkan perbuatan mereka, melainkan berdasarkan rencana dan rahmatNya. Mereka dibenarkan dalam Tuhan Yesus, dan dalam baptis iman sungguh-sungguh dijadikan anak-anak Allah dan ikut-serta dalam kodrat ilahi, maka sungguh menjadi suci. Maka dengan bantuan Allah mereka wajib mempertahankan dan mengembangkan dalam hidup mereka kesucian yang telah mereka terima. Oleh Rasul mereka dinasihati, supaya hidup “sebagaimana layak bagi orang-orang kudus” (Ef. 5:3); supaya “sebagai kaum pilihan Allah, sebagai orang-orang kudus yang tercinta, mengenakan sikap belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemah-lembutan dan kesabaran” (Kol. 3:12); dan supaya menghasilkan buah-buah Roh yang membawa kepada kesucian (lih. Gal. 5:22; Rom. 6:22). Akan tetapi karena dalam banyak hal kita semua bersalah (lih. Yak. 3:2), kita terus-menerus membutuhkan belaskasihan Allah dan wajib berdoa setiap hari: “Dan ampunilah kesalahan kami” (Mat. 6:12) (Lih. S. AGUSTINUS, Penarikan kembali, II, 18: PL 32,637 dsl. PIUS XII, Ensiklik Mystici Corporis, 29 Juni 1943: AAS 35 (1943) hlm. 225). Jadi, bagi semua jelaslah, bahwa semua orang kristiani, bagaimanapun juga status atau corak hidup mereka, dipanggil untuk mencapai kepenuhan hidup kristiani dan kesempurnaan cinta kasih (Lih. PIUS XI, Ensiklik Rerum Omnium, 26 Januari 1923: AAS 15 (1923) hlm. 50 dan 59-60. Ensiklik Casti Connubii, 31 Desember 1930: AAS 22 (1930) hlm. 548. PIUS XII, Konstitusi apostolis Provida Mater, 2 Februari 1947: AAS 39 (1947) hlm. 117. Amanat Annus sacer, 8 Desember 1950: AAS 43 (1951) hlm. 27-28. Amanat Nel darvi, 1 Juli 1956: AAS 48 (1956) hlm. 574 dsl). Dengan kesucian itu juga dalam masyarakat di dunia ini cara hidup menjadi lebih manusiawi. Untuk memperoleh kesempurnaan itu, hendaklah kaum beriman mengerahkan tenaga yang mereka terima menurut ukuran yang dikaruniakan oleh Kristus, supaya dengan mengikuti jejak-Nya dan menyerupai citra-Nya, dengan melaksanakan kehendak Bapa dalam segalanya, mereka dengan segenap jiwa membaktikan diri kepada kemuliaan Allah dan pengabdian terhadap sesama. Begitulah kesucian Umat Allah akan bertumbuh dan menghasilkan buah berlimpah, seperti dalam sejarah Gereja telah terbukti dengan cemerlang melalui hidup sekian banyak orang kudus. 


41. (Bentuk pelaksanaan kesucian) 

Dalam aneka bentuk kehidupan serta tugas satu kesucian yang sama diamalkan oleh semua, yang digerakkan oleh Roh Allah, dan yang dengan mematuhi suara Bapa serta bersujud kepada Allah Bapa dalam roh dan kebenaran, mengikuti Kristus yang miskin, rendah hati dan memanggul salib-Nya, agar mereka pantas ikut menikmati kemuliaan-Nya. Adapun masing-masing menurut karunia dan tugasnya sendiri wajib melangkah tanpa ragu-ragu menempuh jalan iman yang hidup, yang membangkitkan harapan dan mewujudkan diri melalui cinta kasih.  

Terutama para Gembala kawanan Kristuslah yang wajib menjalankan pelayanan mereka dengan suci dan gembira, dengan rendah hati dan tegas, menurut citra Imam Agung dan Abadi, Gembala dan Pengawas jiwa kita. Dengan demikian pelayanan yang mereka lakukan juga bagi mereka sendiri akan menjadi upaya penyucian yang ulung. Mereka dipilih untuk mengemban kepenuhan imamat, dan dikaruniai rahmat sakramental, supaya dengan berdoa, mempersembahkan korban dan mewartakan sabda, melalui segala macam perhatian dan pengabdian Uskup, melaksanakan tugas sempurna cinta kasih kegembalaan (Lih. S. TOMAS, Summa Theol. II-II, soal 184, art. 5 dan 6. Tentang kesempurnaan hidup rohani, bab 18. ORIGENES, Tentang Yesaya, Homili 6,1: PG 13,239), dan supaya jangan takut menyerahkan jiwa demi domba-domba, dan dengan menjadi teladan bagi kawanan (lih. 1Ptr. 5:3), lagi pula dengan contohnya memajukan Gereja menuju tingkat kesucian yang kian hari makin tinggi. 



Hendaklah para imam, serupa dengan para Uskup yang mempunyai mereka sebagai mahkota rohani (Lih. S. IGNASIUS Martir, Surat kepada umat di Magnesia 13,1: terb. FUNK, I, hlm. 241.) , dan dengan ikut-serta mengemban rahmat tugas para Uskup, melalui Kristus satu-satunya Pengantara abadi, dengan menunaikan tugas harian mereka, berkembang dalam cinta kasih akan Allah dan sesama. Hendaklah mereka melayani ikatan persekutuan para imam, melimpah dalam segala kebaikan rohani, dan memberi kesaksian hidup tentang Allah kepada semua orang (Lih. S. PIUS X, Amanat Haerent animo, 4 Agustus 1908: ASS 41 (1908) hlm. 560 dsl. Kitab Hukum Kanonik (lama) kanon 124. PIUS XI, Ensiklik Ad catholici sacerdotii, 20 Desember 1935: AAS 28 (1936) hlm. 22 dsl). Semoga mereka meneladan para imam, yang dalam peredaran masa meninggalkan contoh kesucian yang gemilang, dengan pengabdian mereka yang sering amat  sederhana dan tersembunyi. Pujian terhadap mereka menggema dalam Gereja Allah. Hendaklah mereka berdasarkan jabatan berdoa dan mempersembahkan korban bagi jemaat mereka dan segenap Umat Allah, menyadari apa yang mereka jalankan dan berusaha menghayati apa yang mereka lakukan (Tata-laksana Tahbisan Imam, dalam kotbah pada awal upacara).  Jangan hendaknya mereka dihambat oleh kesibukan-kesibukan, bahaya-bahaya dan kesukaran-kesukaran dalam kerasulan, melainkan hendaklah justru karena itu semua mereka mencapai taraf kesucian yang lebih tinggi; sebab mereka menguatkan serta memupuk kegiatan mereka dengan kelimpahan hasil kontemplasi, sehingga menggembirakan seluruh Gereja Allah. Hendaklah semua imam, dan terutama mereka yang karena alasan khas tahbisan mereka disebut imam diosesan (projo), mengingat, betapa pentingnya bagi kesucian mereka hubungan yang setia dan kerjasama yang ikhlas dengan Uskup mereka. 

Dalam perutusan dan rahmat Imam tertinggi secara khusus ikut serta pula para pelayan tingkat lebih rendah, terutama para Diakon, yang melayani misteri-misteri Kristus dan Gereja (Lih. S. IGNASIUS Martir, Surat kepada umat di Tralles 2,3: terb. FUNK, I, hlm. 244), dan karena itu wajib mempertahankan kemurniannya dari segala cacat dan berkenan kepada Allah, serta menyediakan segala macam kebaikan di hadapan orang-orang (lih. 1Tim. 3:8-10 dan 12-13). Para rohaniwan, yang dipanggil oleh Tuhan dan dikhususkan bagi-Nya, menyiapkan diri untuk tugas-tugas pelayanan di bawah pengawasan para Gembala. Mereka wajib menyesuaikan budi dan hati mereka dengan pilihan seluhur itu, bertekun dalam doa, berkobar cinta kasihnya, mencita-citakan apa saja yang benar, adil dan pantas dipuji, dan menjalankan segalanya demi kemuliaan dan keluhuran Allah. Menyusul para awam yang terpilih oleh Allah, dan – untuk membaktikan diri sepenuhnya kepada karya kerasulan –  dipanggil oleh Uskup, serta bekerja di ladang Tuhan dengan menghasilkan banyak buah ( PIUS XII, Amanat Sous la maternelle protection, 9 Desember 1957: AAS 50 (1958) hlm. 36). 



Para suami-isteri dan orang tua kristiani wajib, menurut cara hidup mereka, dengan cinta yang setia seumur hidup saling mendukung dalam rahmat, dan meresapkan ajaran kristiani maupun keutamaan-keutamaan Injil di hati keturunan, yang penuh kasih mereka terima dari Allah. Sebab dengan demikian mereka memberi teladan cinta kasih yang tak kenal lelah dan penuh kerelaan kepada semua orang, memberi contoh kepada persaudaraan kasih, dan menjadi saksi serta pendukung kesuburan Bunda Gereja. Mereka menjadi tanda pun sekaligus ikut serta dalam cinta kasih Kristus terhadap Mempelai-Nya, sehingga Ia menyerahkan Diri untuknya (PIUS XI, Ensiklik Casti Connubii, 31 Desember 1930: AAS 22 (1930) hlm. 548 dsl. Lih. S. YOH KRISOSTOMUS, Tentang Ef, Homili 20,2: PG 62,136 dsl.) Teladan serupa disajikan dengan cara lain oleh para janda dan mereka yang tidak menikah, yang juga dapat menyumbang banyak sekali bagi kesucian dan kegiatan Gereja. Adapun mereka yang sering menanggung beban kerja berat hendaknya menyempurnakan diri melalui pekerjaan manusia, membantu sesama warga, dan mengangkat segenap masyarakat serta alam tercipta kepada keadaan yang lebih baik. Selain itu hendaklah mereka dengan cinta kasih yang aktif meneladan Kristus, yang dulu menjalankan pekerjaan tangan, dan selalu berkarya bersama Bapa demi keselamatan semua orang. Hendaklah mereka berharap dan gembira, saling menanggung beban, dan melalui pekerjaan mereka sehari-hari mencapai kesucian yang lebih tinggi dan bersifat apostolis.  

Khususnya, hendaklah mereka yang ditimpa oleh kemiskinan, kelemahan, penyakit dan pelbagai kesukaran, atau menanggung penganiayaan demi kebenaran – merekalah, yang dalam Injil dinyatakan bahagia oleh Tuhan, dan yang “Allah, sumber segala rahmat, yang dalam Kristus Yesus telah memanggil kita ke dalam kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan dan mengokohkan, sesudah mereka menderita seketika lamanya” (1Ptr. 5:10), – hendaklah mereka semua mengetahui, bahwa mereka dipersatukan dengan Kristus yang menderita sengsara demi keselamatan dunia. 

Jadi semua orang beriman kristiani dalam kondisi-kondisi hidup mereka, dalam tugas-tugas serta keadaan mereka, dan melalui itu semua, dari hari ke hari akan makin dikuduskan, bila mereka dalam iman menerima segala-sesuatu dari tangan Bapa di surga, dan bekerjasama dengan kehendak ilahi, dengan menampakkan dalam tugas sehari-hari kepada semua orang cinta kasih Allah terhadap dunia. 

42. (Jalan dan upaya kesucian) 

“Allah itu kasih, dan barangsiapa tetap berada dalam kasih, ia tinggal dalam Allah dan Allah dalam dia” (1Yoh 4:16). Adapun Allah mencurahkan cinta kasih-Nya ke dalam hati kita melalui Roh Kudus yang dikaruniakan kepada kita (lih. Rom. 5:5). Maka dari itu karunia yang pertama dan paling perlu yakni cinta kasih, yang membuat kita mencintai Allah melampaui segalanya dan mengasihi sesama demi Dia. Akan tetapi, supaya cinta kasih bagaikan benih yang baik bertunas dalam jiwa dan menghasilkan buah, setiap orang beriman wajib mendengarkan sabda Allah dengan suka hati, dan dengan bantuan rahmat-Nya, dengan tindakan nyata melaksanakan kehendak-Nya. Ia wajib sering menerima sakramen-sakramen, terutama Ekaristi, dan ikut serta dalam perayaan liturgi, pun juga dengan tabah berdoa, mengingkari diri, melayani sesama secara aktif, dan mengamalkan segala keutamaan. Sebab cinta kasih, sebagai pengikat kesempurnaan dan kepenuhan hukum (lih. Kol. 3:14; Rom. 13:10), mengarahkan dan menjiwai semua upaya kesucian, dan membawanya sampai ke tujuannya  (Lih. S. AGUSTINUS, Enchiridion (kamus) 121,32: PL 40,288. S. TOMAS, Summa Theol. II-II, soal 184, art. 1. PIUS XII, Amanat apostolik Menti nostrae, 23 September 1950: AAS 42 (1950) hlm. 660). Maka cinta kasih akan Allah maupun akan sesama merupakan ciri murid Kristus yang sejati. 

Yesus, Putera Allah, telah menyatakan cinta kasih-Nya dengan menyerahkan nyawa-Nya bagi kita. Maka tidak seorang pun mempunyai cinta kasih yang lebih besar dari pada dia yang merelakan nyawanya untuk Dia dan untuk saudara-saudaranya (lih. 1Yoh. 3:16; Yoh. 15:13). Sudah sejak masa permulaan ada orang-orang kristiani yang telah dipanggil, dan selalu masih akan ada yang dipanggil, untuk memberi kesaksian cinta kasih yang tertinggi itu di hadapan semua orang, khususnya di muka para penganiaya. Maka Gereja memandang sebagai karunia luar biasa dan bukti cinta kasih tertinggi kematian sebagai martir, yang menjadikan murid serupadengan Guru yang dengan rela menerima wafat-Nya demi keselamatan dunia, serupa dengan Dia dalam menumpahkan darah. Meskipun hanya sedikit yang diberi, namun semua harus siap sedia mengakui Kristus di muka orang-orang, dan mengikuti-Nya menempuh jalan salib di tengah penganiayaan, yang selalu saja menimpa Gereja. 

Kesucian Gereja secara istimewa dipupuk pula dengan aneka macam nasihat, yang oleh Tuhan dalam Injil disampaikan kepada para murid-Nya untuk dilaksanakan (Tentang nasihat-nasihat itu pada umumnya, lih. ORIGENES, Komentar Rom. X,14: PG 14,1275B. S. AGUSTINUS, Tentang keperawanan suci 15,15: PL 40,403. S. TOMAS, Summa Theol. I- II, soal 100, art. 2 C (pada akhir); II-II, soal 44, art. 4, ad 3.)  Di antaranya sangat menonjol karunia luhur rahmat ilahi, yang oleh Bapa dianugerahkan kepada beberapa orang (lih. Mat. 19:11; 1Kor. 7:7), yakni supaya dalam keperawanan atau selibat mereka lebih mudah membaktikan diri seutuhnya kepada Allah, dengan hati tak terbagi (lih. 1Kor 7:32-34) (Tentang keunggulan keperawanan suci, lih. TERTULIANUS, Anjuran tentang kemurnian, 10: PL 2,225C. S. SIPRIANUS, Tentang para perawan 3 dan 22: PL 4,443B dan 461A dsl. S. ATANASIUS (?), Tentang para perawan: PG 28,252 dsl. S. YOH KRISOSTOMUS, Tentang para perawan: PG 48,533 dsl.).  Tarak sempurna demi Kerajaan surga itu dalam Gereja selalu dihargai secara istimewa, sebagai tanda dan dorongan cinta kasih, dan sebagai suatu sumber kesuburan rohani yang luar biasa di dunia. 

Gereja juga tetap mengingat anjuran Rasul, yang mengundang kaum beriman untuk mengamalkan cinta kasih, dan mendorong mereka supaya menaruh perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang telah mengosongkan diri-Nya dan mengenakan rupa seorang hamba, ..... dan menjadi taat sampai mati” (Flp. 2:7- 8), lagi pula demi kita “menjadi miskin, meskipun Ia kaya” (2Kor. 8:9). Perlulah bahwa cinta kasih dan kerendahan hati Kristus itu senantiasa diteladan dan diberi kesaksian oleh para murid. Maka Bunda Gereja bergembira, bahwa dalam pangkuannya terdapat banyak pria dan wanita, yang mengikuti dari dekat dan memperlihatkan lebih jelas pengosongan diri Sang Penyelamat, dengan menerima kemiskinan dalam kebebasan anak-anak Allah serta mengingkari keinginan-keinginan mereka sendiri. Mereka itulah, yang demi Allah tunduk kepada seorang manusia dalam mengejar kesempurnaan melampaui apa yang diwajibkan, untuk lebih menyerupai Kristus yang taat (Tentang kemiskinan rohani, lih. Mat. 5:3 dan 19:21; Mrk. 10: 21; Luk. 18:22; tentang ketaatan terdapat contoh Kristus dalam Yoh. 4:34 dan 6:38; Flp. 2:8-10; Ibr. 10:5-7. Banyak sekali teladan dikemukakan oleh para Bapa Gereja dan para pendiri tarekat.)

Maka semua orang beriman kristiani diajak dan memang wajib mengejar kesucian dan kesempurnaan status hidup mereka. Oleh karena itu, hendaklah semua memperhatikan, agar mereka mengarahkan keinginan-keinginan hati dengan tepat, supaya mereka dalam mengejar cinta kasih yang sempurna jangan dirintangi karena menggunakan hal-hal duniawi dan melekat pada kekayaan melawan semangat kemiskinan menurut Injil. Itulah maksud nasihat Rasul: Orang yang menggunakan barang dunia ini jangan sampai berhenti di situ: sebab berlalulah dunia seperti yang kita kenal sekarang (lih. 1Kor. 7:31 yun.) (Tentang pelaksanaan nyata nasihat-nasihat, yang tidak diharuskan kepada semua orang, lih. S. YOH KRISOSTOMUS, Tentang Mat., Homili 7,7: PG 57,81 dsl. S. AMBROSIUS, Tentang para janda, 4,23: PL 16,241 dsl.)