Daftar Blog Saya

Tampilkan postingan dengan label Wajah Konsili Vatikan II Lokal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wajah Konsili Vatikan II Lokal. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Oktober 2022

Dari Lokalitas Sekadau Melihat Cermin Konsili Vatikan II

 Bambang Kussriyanto

Merespon undangan anggota Ikafite 1976 dari Sekadau, Paulus Lion Oddy, agar ada wakil dari Ikafite hadir dalam acara peresmian Gereja Agung Paroki Santo Petrus dan Paulus Sekadau pada 19 Oktober 2022 saya langsung bergerak cepat menyiapkan itinerari (terima kasih atas panduan bro Mathias Haryadi) dan tiket ke sana. Waktu begitu sempit sejak dari penerimaan undangan hingga pada hari dan jam pelaksanaan acara. Dengan nekad saya berangkat berserah pada penyelenggaraan ilahi. Bersyukur mendapat bantuan bekal uang dari pengurus Ikafite saya berangkat dari Yogya pada 17 Oktober dan transit melalui Bandara Soetta Jakarta terbang ke Pontianak pada 18 Oktober, lalu menggunakan taksi dari Bandara Supadio Pontianak ke Sekadau menempuh jarak 243 km malam hari, dan sampai di Sekadau pukul 02.30 dinihari 19 Oktober 2022. Menginap di Hotel Vinca Borneo, di dekat Terminal Sekadau, tak jauh dari Gereja lama Paroki Petrus dan Paulus Sekadau. Bersyukur bisa tidur nyenyak 2 jam.



Saya mengemban misi pribadi untuk jemput bola memungut bahan-bahan penulisan Sejarah Gereja Katolik Indonesia sejak 1970-sekarang dari cerita dan catatan-catatan lokal dan berharap mendapat gambaran perkembangan Gereja Keuskupan Sekadau/Sanggau. 

Dalam catatan saya, Prefektur Apostolik Sekadau didirikan pada tanggal 9 April 1968, resmi memisahkan diri dari Keuskupan Ketapang dan Keuskupan Agung Pontianak. Jauh sebelumnya, pada tahun 1925 misionaris Kapusin membuka stasi Sanggau untuk melayani pendidikan katolik di Sejiram. Mereka juga membuka stasi Sekadau yang nantinya menjadi  Paroki St Petrus dan Paulus pada tahun 1950. Pada tahun 1948 di Sanggau diadakan Kongres Partai Persatuan Daya yang didukung banyak aktivis mantan murid-murid sekolah katolik. Setelah 1954 para misionaris Pasionis (CP) melayani umat di Sekadau, yang pada waktu itu menjadi bagian dari Prefektur Apostolik Ketapang. Umat berkembang sangat cepat hingga lebih dari 10.000 orang. Oleh sebab itu pada 1968 Sekadau dilepas dari Ketapang yang sulit dijangkau, dan menjadi Prefektur Apostolik sendiri. Empat belas tahun lamanya Sekadau menikmati status Prefektur Apostolik, sampai kemudian digabungkan dengan eks-dekanat Sanggau dari Keuskupan Agung Pontianak, dan ditingkatkan pada status Keuskupan pada 1982, ketika tahta uskup dipindahkan ke Sanggau yang dalam administrasi pemerintahan berstatus kabupaten Daerah tingkat II, menjadi Keuskupan Sanggau,  Jumlah umat katolik pada 1982 di Keuskupan Sanggau 183.350 orang melebihi 60% jumlah penduduk. Sekadau yang berstatus kecamatan (1970) baru ditingkatkan menjadi kabupaten Daerah Tingkat II pada tahun 2003. Dalam pengakuan sejarah pemerintah Kabupaten Sekadau tertulis: "Seiring dengan perkembangan Daerah dan semangat pemekaran, banyak tokoh masyarakat di Sekadau yang dimotori H.Umar Dja’far, Paulus Lion, Ali Daud, serta beberapa tokoh lainnya pun berinisiatif memperjuangkan pemekaran Kabupaten Sekadau".  Teman kita kentunganensis Paulus Lion Oddy terpilih menjadi anggota DPRD Sekadau perdana. Pembentukan Kabupaten Sekadau tertuang dalam :

  • Undang-undang Nomor 34 Tahun 2003 Tentang pembentukan Kabupaten Melawi dan Kabupaten Sekadau di Provinsi Kalimantan Barat (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 149, Tambahan Lembaran Negara Repeublik Indonesia Nomor 4344).
  • Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan Daerah  sebagai mana telah diubah dengan undang-undang Nomor 12 tahun 2008 tentang perubahan kedua atas undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844).

Paroki St Petrus dan Paulus Sekadau berjalan seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan Kota Sekadau berhubungan sebagian umat menjadi PNS bahkan berada dalam jajaran pimpinan pemerintah daerah kabupaten Sekadau, mulai dari Bupati, kepala-kepala dinas, dan jajaran legislatif DPRD. 

Gereja lama yang menyelenggarakan Misa Hari Minggu empat kali enam tahun terakhir sudah tidak bisa menampung jumlah umat. Sebagian terpaksa luber menghadiri Perayaan Ekaristi di halaman gereja. Maka umat dan pimpinan Gereja mengusahakan pembangunan gedung gereja baru. Seorang umat dermawan, Sunaryo, pedagang pasar, bermurah hati menghibahkan tanah seluas 1,1 hektar di jalan Merdeka arah Sanggau, sekitar 2 km dari lokasi gereja lama. Rancangan bangunan dibuat seorang arstek dari Keuskupan Ketapang, sedang pelaksanaan konstruksi oleh kontraktor Sekadau yang cermat teliti dan kooperatif dengan panitia pembangunan meskipun ia buta huruf. Umat paroki mengawali pengumpulan dana untuk modal pembangunan, disambung dengan dana solidaritas dari Keuskupan Sanggau, dan kemudian dilengkapi dengan dana bantuan Pemerintah Daerah melalui APBD. Pembangunan gereja baru dimulai pada 2019 dan dianggarkan selesai pada akhir 2022.


            Pak Sunaryo (tengah), menyumbangkan tanah 1,1 hektar untuk bangunan gereja baru Sekadau

Berhubung Uskup Sanggau Mgr Mencuccini CP pensiun dan akan digantikan Uskup baru pada 11 November 2022, maka bangunan gereja St Petrus dan Paulus Sekadau walaupun 90% dari rencana penyelesaian perlu diresmikan dan diserahkan untuk digunakan. Misa pertama Uskup baru di Gereja Petrus dan Paulus Sekadau dijadwalkan tanggal 20 November 2022. 

Dari menghadiri acara peresmian Gereja Agung Paroki St Petrus dan Paulus Sekadau, saya yang baru saja mengikuti acara Ikafite di Yogyakarta dalam rangka Syukur atas Anugerah Pembaruan Konsili Vatikan II melihat cermin bagaimana ajaran Konsili Vatikan II dihayati, dilaksanakan, diamalkan oleh umat katolik Sekadau. Pertama-tama bahwa mereka menjadi persekutuan umat Allah dalam Yesus Kristus yang rukun mesra bersatu padu, baik para gembala, awam maupun kaum religius seperti yang diharapkan Konstitusi Dogmatik tentang Gereja Lumen Gentium. Pada hari kerja, acara peresmian dihadiri lebih dari 2000 umat yang bergotongroyong menyukseskan agenda upacara hingga ramah tamah. Lebih dari 60 pastor dari paroki-paroki sekitar ikut meresmikan Gereja Agung Sekadau. Para bruder dan suster pun hadir meramaikan acara ini. Bangunan gereja pada dasarnya adalah rumah besar "betang", dengan corak perpaduan antara gaya Melayu Islam dan struktur ornamental Daya yang kuat dengan paduan warna, yang secara keseluruhan mengingatkan bahtera Nuh, sekali gus mengingatkan pasal-pasal inkulturasi dalam Konstitusi Konsili Vatikan II tentang pembaruan Liturgi Sacrosanctum Concilium. Semangat "aggiornamento" memadukan kepentingan ibadat dengan kebutuhan ruang umat masa sekarang untuk sosialisasi dan perkembangan teknologi, menghasilkan bangunan tiga lantai; lantai pertama untuk ruang parkir, lantai kedua untuk aula serba guna; lantai paling atas untuk ibadat. Acara peresmian melibatkan liturgi yang menunjukkan peran serta aktif seluruh jemaat, khidmat namun penuh semarak dan indah memuliakan Allah. 

Bahwa awam juga berperan besar dalam pembangunan gereja merupakan buah lebat dari Dekrit Kerasulan Awam Konsili Vatikan II Apostolicam Actuositatem. Keterlibatan jajaran pendidikan termasuk alumni sekolah-sekolah katolik lokal yang telah menjadi PNS, polisi dan TNI menunjukkan buah-buah ranum dari Dekrit Konsili Vatikan II Gravissimum Educationis. Para Bruder dan Suster yang meramaikan karya pastoral paroki menunjukkan pelaksanaan Dekrit Konsili Vatikan II Perfectae Caritatis. Tampilnya para imam asli daerah, baik religius maupun diosesan, menunjukkan keberhasilan pelaksanaan Dekrit Konsili Vatikan II baik Optatam Totius tentang pembinaan imam maupun tentang hidup dan karya para imam Presbyterorum Ordinis

Ajaran Ekumenisme dari Dekrit Unitatis Redintegratio dan Dialog karya dari Deklarasi tentang agama-agama non Kristiani Nostra Aetate tampak dalam kehadiran saudara-saudara dari agama Kristen dan Islam, Hindu serta Buddha dan agama lain dalam acara peresmian Gereja Agung. Mereka tergabung dalam Forum Kerukunan Umat Beragama, dan bagi mereka diberikan penghormatan khusus termasuk dalam penyediaan konsumsi halal bagi Muslim dan non-daging untuk yang lain dalam acara ramah tamah. 

Perhatian pada keluarga-keluarga umat, warna-warni kebudayaan, pemberdayaan ekonomi umat dan penghadiran negara yang tampak nyata mencerminkan pelaksanaan Konstitusi Pastoral Konsili Vatikan II Gaudium et Spes. Peliputan dan penyiaran seluruh acara oleh Kominfo Sekadau yang sudah menggunakan teknologi drone dan siaran radio lokal juga menunjukkan pelaksanaan dekrit komunikasi sosial Inter Mirifica dari Konsili Vatikan II. 

Pendeknya, saya menjadi saksi bagaimana sebagian besar dari ajaran Konsili Vatikan II dilaksanakan dengan meriah penuh sukacita dan optimisme oleh seluruh umat paroki St Petrus dan Paulus Sekadau dalam acara peresmian Gereja Agung mereka, menyatakan diri mereka sebagai gereja yang hidup dan saksi Kristus yang dinamis bagi masyarakat di sekitar mereka.

Aspek ajaran tentang Misi Ad Gentes dari Konsili Vatikan II tersembul kemudian ketika saya mengunjungi rumah komunitas suster CP. Dari rumah pertama mereka di Sekadau (1974), para suster CP meluaskan karya di Malang (dan mendirikan rumah provinsialat di Malang). 

                                    Di rumah pertama komunitas suster Pasionis di Sekadau


Terlebih ketika mengunjungi rumah para bruder Maria Tak Bernoda (MTB), saya menjadi saksi perputaran cakra manggilingan karena penyelenggaraan ilahi yang menakjubkan. Para bruder MTB dikirim dari markas mereka di Huijbergen Belanda mula-mula ke Singkawang pada 1921. Mereka melebarkan sayap karya pendidikan ke Nyarumkop, Pontianak, Banjarmasin, Kuala Dua, Putussibau, Sekadau, lalu ke Jawa Blitar, Kudus, Pati, Yogyakarta. Kemudian ke Merauke-Papua. Pada tahun 2017 para bruder MTB menyelenggarakan Kapitel Umum di Huijbergen-Belanda. Pada akhir Kapitel Umum itu diambil keputusan untuk memindahkan markas besar  dan Dewan Pimpinan Umum MTB dari Huijbergen-Belanda ke Pontianak-Indonesia, dengan pertimbangan organisasi bahwa para anggota MTB Huijbergen pada umumnya sudah memasuki usia pensiun sedang pangggilan baru tidak ada, sementara komunitas MTB Pontianak-Indonesia sangat subur, produktif dan muda. Maka sejak 2018 MTB resmi bermarkas besar di Pontianak-Indonesia. MTB-Indonesia bertanggungjawab menghidupi MTB Huijbergen-Belanda dan karya misi MTB lainnya di Brasilia.

                                            Komunitas San Damiano Bruder MTB Sekadau


Mewakili Ikafite mengunjungi Sekadau dengan bantuan Paroki Petrus dan Paulus Sekadau melalui perantaraan anggota Ikafite 1976 Paulus Lion Oddy, membawa buah hasil kesaksian pelaksanaan ajaran Konsili Vatikan II yang amat semarak dan sangat menjanjikan di komunitas Sekadau pada khususnya, di Keuskupan Sanggau pada umumnya, serta secara lebih khusus pada komunitas pasar umat Katolik Sekadau (dengan acara tetap coffee morning mereka), komunitas suster CP Sekadau, dan komunitas San Damiano Bruder MTB Sekadau. Selain itu misi pribadi saya mengumpulkan bahan-bahan sejarah Gereja Katolik lokal Sekadau juga memeroleh sukses awal. 

Semarak peresmian Gereja Agung St Petrus dan Paulus Sekadau dapat disimak dalam karya video di bawah ini: 


https://youtu.be/cpSavR_Sqk0

Terima kasih dan salam saya untuk teman Ikafite 1976, Paulus Lion Oddy yang murah dan rendah hati menerima saya dan mengantar saya berkeliling dan mencerap indahnya persahabatan umat katolik Sekadau. Terima kasih kepada Ibu Lion yang rela meminjamkan suaminya menemani saya blusukan di Sekadau.