Daftar Blog Saya

Tampilkan postingan dengan label Konservasi Alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Konservasi Alam. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 November 2022

ORGANISASI YANG BERTAHAN DAN BERKEMBANG SEABAD LEBIH

Keprihatinan atas perubahan iklim dalam COP27 di Shamr el Sheiks Mesir memunculkan ribuan  organisasi berbasis keilmuan dan kemasyarakatan yang peduli dan berkomitment pada keberlanjutan bumi yang mampu menyangga kehidupan seluruh mahluk berdasarkan persyaratan situasi aneka faktor menurut perhitungan ilmiah. Salah satunya adalah syarat mengurangi level peningkatan pemanasan bumi maksimum 1,5 derajat Celsius pada abad 21 dengan titik-titik kritis yang menentukan tahun 2030, 2050 dan selanjutnya. 



Saya tertarik pada kehadiran dalam COP27 organisasi Nature Conservancy yang bermarkas di Arlington, Virginia, AS, karena visinya untuk merawat seluas mungkin daratan dan perairan yang menjadi tumpuan hidup banyak orang, memungkinkan aneka-ragam hayati berkembang, dan mengajak orang melakukan tindakan melindungi alam demi kepentingan mereka sendiri dan demi pemerkayaan hidup; ambisinya adalah untuk melakukan pemeliharaan separuh dari daratan dan perairan dan memberdayakan masyarakat pribumi. Dari awal yang sangat sederhana pada tahun 1915, Nature Conservancy kini berada dan bekerja di 79 negara dengan menggalang keprihatinan bersama dan kemitraan lokal. 

Yang membuat saya semakin tertarik memerhatikan organisasi ini adalah keterlibatan Shanti L. Poesposoetjipto yang saya kenal dari acara omong-omong tentang Strategic Management tahun 1980 di Sanur, Bali, sebagai Pembina pada organisasi afiliasi Yayasan Konservasi Alam Nusantara yang didirikan pada 2014 ketika usia Nature Conservancy mencapai satu abad. Mbak Shanti yang saya kenal waktu itu adalah CEO dari perusahaan pelayaran Samudera Indonesia, bagian dari Soedarpo Corporation yang didirikan ayahandanya. Yayasan Konservasi Alam Nusantara, is committed to protecting Indonesia's tropical forests, oceans and coasts, demikian ditulis oleh Nature Conservancy tentang mitra kerjanya di Indonesia.





Nature Conservancy pada mulanya adalah perjumpaan beberapa orang ilmuwan dan simpatisan atas prakarsa pribadi-pribadi membentuk Masyarakat Ekologis Amerika Serikat. Secara teratur mereka berkumpul untuk berbagi hasil penelitian dan memusatkan perhatian pada potensi-potensi ancaman kerusakan alam yang memerlukan tindakan baik mitigasi maupun adaptasi di daratan maupun perairan. Pada tahun 1917 mereka membentuk Pantia Perlindungan Kawasan Alam untuk kepentingan penelitian ekologi. Panitia yang berfokus pada penelitian ini dibubarkan pada 1946, dan fokus perhatian dialihkan dari penelitian pada "tindakan langsung perlindungan alam". Pada 1951, Masyarakat Ekologis yang bersifat non-formal itu berubah menjadi suatu organisasi nirlaba berbadan hukum resmi di Columbia, dengan nama Nature Conservancy. Pada tahun 1954 cabang pertama di New York didirikan dan dari sana organisasi melebar ke seluruh negara bagian Amerika Serikat. Pada 1955 Nature Conservancy melaksanakan proyek besar pertama melakukan perlindungan alam hutan Mianus River Gorge seluas 60-acre, dengan modal menggadaikan polis asuransi jiwa para anggota sebesar AS$7.500. Tindakan itu selanjutnya mendatangkan simpati banyak pihak yang mengalirkan donasi untuk mendanai operasi kerja.

Pada 1961 Nature Conservancy membeli tanah yang terbengkalai seluas 3.100 acre dari seorang tuan tanah di California yang tidak sanggup membayar pajak tanah dan melakukan kerjasama pertama dengan satuan kerja pemerintah di bidang Land Management untuk mengurus kelestarian lahan itu. Sejak berita tentang itu tersebar, berangsur-angsur banyak pemilik tanah menyerahkan pengelolaan lahan mereka yang terbengkelai kepada Nature Conservancy. Hak kepemilikan tanah tetap dipegang pemilik lahan, namun hak pemeliharaan dan pengolahan diserahkan kepada Nature Conservancy. Pekerjaan mereka pada 1965 menarik Ford Foundation yang bersedia untuk menyediakan dana penggajian para pengurus Nature Conservancy, dan sejak itu para pengurus dan staf Nature Conservancy mendapat gaji tetap.

Sejak 1980 kegiatan Nature Coservancy melebar ke negara lain. Kegiatan internasional pertama dilakukan di Amerika Latin dengan memberikan bantuan teknis dan keuangan untuk perlindungan daratan dan perairan. Program perlindungan "Parks in Peril" yang mereka lancarkan selanjutnya mendapat pendanaan dari Konggres AS untuk kegiatan di Amerika Tengah, Amerika Selatan dan Kepulauan Karibia. Kegiatan internasional selanjutnya melebar ke Asia Pasifik dan Australia. Pada tahun 1999 keanggotaan Nature Conservancy melampaui sejuta pihak. Kegiatan perlindungan alam mereka mencapai keluasan 30.000 juta acre daratan dan perairan.








Nature Conservancy ikut serta dalam COP Perubahan Iklim dalam rangka mencapai target laju pemanasan global 1,5 derajat Celsius, dan pengurangan emisi gas rumah kaca 1/3 atau 30% karena sejalan dengan proyek-proyek yang mereka kerjakan. Nature Conservancy menjadi mitra dan bagian dari Program Enduring Earth dalam COP Perubahan Iklim PBB. Perawatan dan perlindungan alam khususnya kawasan hutan dan pantai menghasilkan tanaman-tanaman yang mampu menyerap gas-gas rumah kaca khususnya CO2 dari udara dan menyimpannya menjadi "karbon hidup". Dampak perubahan iklim berupa badai, banjir dan kebakaran yang dialami banyak pihak menjadi keprihatinan mereka juga.

Perjalanan dan perkembangan serta model keterlibatan dan komitmen Nature Conservancy dapat memberikan banyak inspirasi untuk Ikatan Alumni Filsafat Teologi, Ikafite, baik dalam perspektif pengembangan organisasi, perencanaan kegiatan maupun cara pendanaan, untuk masa depan yang lebih jauh.


https://www.nature.org/en-us/what-we-do/our-priorities/tackle-climate-change/