Daftar Blog Saya

Tampilkan postingan dengan label Fundamentalisme Umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fundamentalisme Umum. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Oktober 2022

Fundamentalisme Protestan Evangelis

 


Suatu permintaan mengharapkan penjelasan tentang aliran fundamentalisme yang sering menyerang Gereja Katolik. Pada dasarnya tulisan berikut ini saya angkat dari dari paparan Karl Keating (Catholicism and Fundamentalism, Ignatius Press, SF, 1988) dan saya sampaikan dalam dua angsuran. Ini yang pertama mengenai asal-usul Fundamentalisme. 

Ada beberapa hal yang mungkin sedikit menyulitkan jika bicara tentang Fundamentalisme Kristen dan perlu catatan awal. Yang disebut fundamentalisme kristen sebenarnya hanya setitik saja dari Protestantisme. Fundamentalisme kristen secara populer adalah salah satu sayap dari aliran Evangelis. Mereka itu baik-baik saja. Banyak fundamentalis yang terkenal berjuang berdampingan bersama dengan umat Katolik dalam kegiatan sosial politik dan tidak pernah menggunakan kata-kata yang menyakitkan terhadap umat Katolik.  Tetapi yang menjadi fokus percakapan kita adalah aliran  fundamentalisme kristen yang secara aktif melakukan kegiatan anti-Katolik dengan mengusung pokok-pokok masalah tertentu. Dan karena fundamentalisme ini membentuk suatu sub-bagian dalam Protestantisme keseluruhan, maka fundamentalisme yang aktif anti-katolik bisa rancu tak terpisahkan dari fundamentalisme kristen secara keseluruhan. Di sini Fundamentalisme kita batasi pada kelompok yang menyebut diri fundamentalis dan bersikap anti-katolik.

Sejarah Fundamentalisme Kristen berawal di Amerika dan dapat dibagi dalam tiga babak utama.  Awalnya merupakan suatu aliran dalam protestantisme Amerika abad kesembilan belas yang hendak membedakan diri dari protestan liberal modern yang dipengaruhi pemikiran sekular, dan mau bertahan pada ajaran Injil saja. Yang pertama berlangsung satu generasi dari tahun 1890-an hingga Pengadilan Scopes tahun 1925. Di bawah dorongan separatis dan dipengaruhi oleh milenialisme dan dispensasionalisme (keterangan tentang milenialisme dan dispensasionalisme nanti akan disampaikan dalam tulisan ini),  fundamentalisme merebak dari evangelisme, walaupun tidak sepenuhnya, dan karena itu fundamentalisme dianggap sebagai salah satu sayap dari evangelisme. Dalam babak yang kedua, setelah mengalami apa yang oleh banyak orang dipandang sebagai kekalahan telak di Dayton, Tennessee, walaupun selanjutnya kabur keluar dari fokus pandangan namun fundamentalisme tak pernah sungguh-sungguh lenyap dan tak pernah benar-benar kehilangan landasan. Akhirnya, fundamentalisme mendapat perhatian lagi satu generasi yang lalu, dan sejak itu mendapatkan pertumbuhan yang luar biasa.

                Tanpa memperhatikan sekte-sekte setengah Kristen seperti Mormon dan Saksi Yehova, fundamentalisme mengalami pertumbuhan yang sangat besar dalam persentase dibanding dengan aliran kekristenan manapun. Mereka yang bergabung dengan fundamentalisme meliputi orang-orang kristiani yang tidak pernah menggereja maupun drop-out dari denominasi gereja lain. Yang mengherankan adalah bahwa sebagian besar pengikut mereka berasal dari Gereja Katolik. Gereja Katolik di Amerika meliputi seperempat penduduk, sehingga orang dapat memperkirakan seperempat pendukung fundamentalisme dulunya adalah umat Katolik. Memang ada sedikit harapan yang cukup beralasan, bahwa bahkan sebagian kecil dari mereka acuh tak acuh sikapnya karena sebagian sudah pernah punya ikatan dengan suatu gereja, sedangkan mereka yang dulunya tidak menggereja lebih bebas karena lebih terbatas ikatannya. Namun dalam banyak himpunan fundamentalis, sepertiga, separoh atau bahkan mayoritas pernah punya hubungan dengan Katolik Roma.  Memang ada variasi di wilayah  yang satu dengan wilayah lainnya.

                Gereja-gereja fundamentalis di Amerika sebelah selatan menyatakan bahwa di sana hanya sedikit saja pengikut yang dulunya Katolik, karena di kawasan itu memang hanya ada sedikit saja penduduk Katolik. Namun di Amerika bagian Timur-Laut dan Barat-Tengah, di mana jumlah orang Katolik banyak sekali, orang bisa mendapatkan mantan umat Katolik merupakan mayoritas dalam beberapa himpunan fundamentalis. Di Amerika bagian Barat Daya dengan populasi Hispanik yang tinggi, seluruh anggota himpunan fundamentalis adalah mantan umat Katolik. Satu dari setiap enam orang Hispanik di kawasan ini sekarang menjadi fundamentalis. Perkembangan eksodus besar ini terjadi sangat cepat, mengingat dua puluh tahun yang lalu tak ada seorang Hispanik pun yang fundamentalis.

                Walaupun fundamentalisme dewasa ini terutama berawal dari Amerika  dan merupakan gerakan di dalam atau yang searah dengan aliran Evangelis dan relatif agak baru, namun banyak dari pemimpinnya menyatakan bahwa fundamentalisme sudah lama timbul, kendati tersembunyi, bahkan dikatakan sejak zaman Kristus sendiri. Sekurangnya banyak orang, baik di dalam maupun di luar kalangan fundamentalis, mengira bahwa mereka itu agama Reformasi yang murni. Kesan ini dikuatkan oleh para profesional-anti-Katolik yang bicara dan menulis seperti para tokoh Reformasi yang mereka kagumi. Mereka menggeluti Institusi dari Calvin, dan karya-karya Luther, menggunakan kosa-kata abad keenam-belas. Tulisan lawan-lawan mereka sebut “surat-surat jerami” (begitulah Luther menyebut Surat Santo Yakobus). Dengan seenaknya mereka menebar tuduhan “Anti-Kristus” seolah-olah mereka itu wasit penjaga garis. Apa saja yang tidak mereka sukai mereka cap ”menghujat”, sekalipun persoalannya tidak ada hubungannya dengan hujatan. Dan apa yang mereka suarakan dari mimbar-mimbar mereka melahirkan peniru-peniru klise.

                Hubungan antara fundamentalisme dengan Reformasi sebenarnya kabur tidaklah sejelas yang dipikirkan mereka yang non-fundamentalis atau pun yang diharapkan oleh kaum fundamentalis sendiri. Hubungan langsung yang bersifat historis bukan hanya kabur, tetapi juga nyaris tidak ada. Pada tiga dasawarsa yang lalu fundamentalisme mendapat banyak sorotan media, dan khayalak menyadari maraknya gerakan itu kembali, tetapi banyak juga yang mengira bahwa fundamentalisme sudah ada selama berabad-abad dan baru sekarang menjadi terkenal. Keliru!

                Memang, ada orang-orang yang sejak lama menjadi pengikut Calvin, dan fundamentalisme bukanlah apa-apa jika tidak Calvinistis. Namun sampai beberapa waktu yang lalu fundamentalisme yang kita tahu bukanlah gerakan yang terpisah dari Protestantisme, sementara istilah fundamentalisme sendiri belum dikenal. Orang-orang yang sekarang disebut fundamentalis itu dulunya adalah jemaat Gereja Baptis atau Gereja Presbitarian atau apa saja; mereka tidak menganggap diri mereka berasal dari suatu faksi di dalam Protestantisme, suatu faksi yang mengatasi garis-garis denominasi gereja. Dalam dasawarsa terakhir abad kesembilanbelas barulah muncul masalah-masalah yang membuat mereka memisahkan diri dari aliran-aliran utama Protestantisme, hingga sampai sekarang pun, keturunan mereka masih tetap jemaat Gereja Baptis, atau Gereja Presbitarian atau apa saja, merekalah fundamentalis yang pertama, meskipun mereka malu dengan istilah itu dan menggunakan istilah lain yang tidak banyak disalah-gunakan oleh media sekular.

                Masalah yang mula-mula membedakan fundamentalisme jadi lain dari Protestantisme adalah Injil Sosial, suatu kecenderungan sekular dan liberal di dalam Protestantisme; teori evolusi  Darwin yang dianggap menggugat keandalan Kitab Suci, dan aliran kritik tingkat tinggi atas Kitab Suci yang berasal dari Jerman. Para pemikir baru berusaha memadukan sekularisme dengan Kristianitas, yang akhirnya menanggalkan Kristianitas, juga pemikiran-pemikiran yang konservatif. Menanggapi kecenderungan inilah para pemimpin awal fundamentalis bersatu di sekitar beberapa prinsip dasar, namun barulah ketika suatu seri buku dua-belas jilid berjudul “The Fundamentals”  diterbitkan, dari situlah gerakan itu mendapatkan namanya.



                Unsur-unsur dasar fundamentalisme dirumuskan tepatnya hampir seabad yang lalu di Seminari Teologi Princeton, Princeton, New Jersey, oleh Benjamin B. Warfield, Charles Hodge dan rekan-rekannya.  Hasilnya dikenal sebagai teologi Princeton dan menarik bagi Protestan konservatif yang sedang prihatin dengan gerakan Injil Sosial.

                Antara 1909 dan 1915 Milton dan Lyman Stewart bersaudara dengan kekayaan yang berasal dari minyak bumi menerbitkan “The Fundamentals”, yang terdiri dari dua belas jilid. Kata pendahuluan dari buku-buku itu menjelaskan tujuannya: “Pada tahun 1909 Tuhan menggerakkan dua orang awam Kristiani untuk menyisihkan sejumlah besar dana (USD 300.000) untuk menerbitkan dua belas buku yang mengutarakan fundamen-fundamen  (fundamentals)  dari iman Kristiani, yang dikirimkan kepada para pelayan Injil, para misionaris, para penilik Sekolah Minggu, dan orang-orang lain yang sibuk dengan karya Kristiani yang giat di seluruh dunia yang berbahasa Inggris”. Tiga juta eksemplar buku disebarkan. Setiap jilidnya memuat tujuh atau delapan karangan. Selain kajian yang sengit atas soal-soal ajaran, terdapat pula serangan terhadap kritik alkitabiah modern, kecaman terhadap teori-teori ilmiah, kesaksian pribadi, komentar-komentar atas karya misioner dan evangelisasi, dan catatan-catatan tentang bidaah. Kategori terakhir meliputi karangan-karangan tentang “Katolisisme: Apakah itu Kristiani?” dan “Roma, Lawan Bangsa”.

                Tercatat enampuluh empat penulis di dalam buku seri itu, termasuk sarjana-sarjana seperti C.I. Scofield, penyusun Scofield Reference Bible; W.J. Eerdman dan puteranya, Charles; H.C.G. Moule, Uskup Anglikan di Durham; James M. Gray, pemimpin pada Moody Bible Institute; dan Warfield sendiri. Mereka  meliputi para pendeta Gereja Presbitarian, para penginjil Gereja Methodist, para redaktur majalah keagamaan, para profesor, bahkan ahli tentang Mesir (Egyptologist).  Seperti yang dikatakan oleh Edward Dobson, rekan pastor pada Gereja Baptis Thomas Road dari Jerry Falwell, “Mereka itu pastilah bukan kaum fanatik yang anti-intelektual, pawang-ular, dukun dan ahli tenung.”

                Dari fundamen-fundamen yang terdapat di dalam seri buku itu, walau orang berbeda-beda tentang jumlahnya, sebagian menghitung ada empat belas pokok. Sebagian komentator sepakat sekurang-kurangnya dengan kelima hal ini: (1) inspirasi dan tidak bisa kelirunya Kitab Suci; (2) keAllahan Kristus, termasuk kelahiranNya dari seorang Perawan; (3) kematian Yesus sebagai silih tebusan atas dosa manusia; (4) kebangkitanNya dari mati; dan (5) kedatanganNya yang Kedua-kalinya. Dobson menulis, “Walaupun ada yang menambahkan daftar ini, misalnya dengan persoalan surga dan neraka, memenangkan jiwa-jiwa, pribadi Setan, dan Gereja lokal, namun ciri ajaran fundamentalisme tetap memusat di sekitar kelima fundamen itu.”

                Buku-buku itu menarik perhatian banyak orang yang tidak senang pada pandangan-pandangan yang dinyatakan di dalamnya. Pada 22 Mei 1922, Harry Emerson Fosdick yang adalah seorang teolog liberal, mengucapkan khotbah dengan judul: “Bisakah Kaum Fundamentalis Menang?” Ia menggunakan judul buku seri itu untuk menyebutkan orang-orang yang dilawannya, dan sejak itu label Fundamentalis digunakan. Namun bukan dia yang memunculkan istilah Fundamentalis itu. Kehormatan sebagai pengguna pertama istilah itu jatuh pada Curtis Lee Law, yang dalam suatu kolom editorial pada koran Watchman-Examiner New York pada tanggal 1 Juli 1920 merumuskan kaum “fundamentalis” sebagai “mereka-mereka yang bermaksud memperjuangkan fundamen-fundamen itu”. Karya-karya baku tentang fundamentalisme termasuk James Barr, Fundamentalism (Philadelphia, Westminster, 1977), Gabriel Hebert, Fundamentalism and the Church (Philadelphia, Westminster, 1957); George Mardsden, ed. Evangelicalism and Modern America (Grand Rapids: Eerdmans, 1984); Jerry Falwell, The Fundamentalist Phenomenon (New York: Doubleday, 1981); Ernest R. Sandeen, The Roots of Fundamentalism (Chicago: University of Chicago Press, 1970).

                Setidaknya demikian itulah menjelaskan bagaimana nama itu lalu eksis. Gerakannya sendiri membingungkan asal-usulnya. Tidak ada pendirinya, dan tidak ada suatu peristiwa yang dianggap sebagai saat kelahirannya. Para penulis fundamentalis – terutama mereka yang menentang Gereja Katolik – menyatakan bahwa fundamentalisme semata-mata kelanjutan dari aliran asli Kristiani, yang ada sampai tiga abad setelah Kristus, lalu tenggelam di bawah permukaan selama dua belas abad, muncul kembali bersama dengan gelombang Reformasi, mendapat kekuatan dari berbagai sumber, bolak-balik berpengaruh namun semakin kurang nampak. Menurut para partisannya, fundamentalisme adalah apa yang tersisa dari seluruh dunia kekristenan  (jika masih layak menyandang nama kristen) yang jatuh dalam penyelewengan dari prinsip.

                Kisah yang sebenarnya dari fundamentalisme lebih gamblang. Gerakan itu terutama adalah suatu fenomena Amerika yang dipengaruhi oleh Evangelisme Inggris, dan kemudian sulit dilacak keberadaannya lebih jauh dari Zaman Kebangunan Raya (Great Awakening) 1720-an, yang pada ujung akhirnya sekitar dua dasawarsa kemudian, mungkin sepertiga dari penduduk dewasa di daerah-daerah koloni masuk menjadi pemeluk agama. Zaman Kebangunan Raya dapat dikatakan membuat banyak orang Amerika jadi sadar agama, dan maraknya penyebaran rasa keagamaan merupakan lahan yang subur bagi apa yang disebut fundamentalisme itu.

                Kebanyakan para pengamat menganggap abad kesembilanbelas sebagai permulaan dari fundamentalisme. Abad itu menjadi saksi pecah belahnya Protestantisme Amerika, dimulai dari satu kelompok yang tidak puas memisahkan diri dari denominasinya, diikuti oleh yang lain. Misalnya, sisa-sisa Metodis pada tahun 1866 menyelenggarakan perayaan 100 tahun didirikannya Gereja Metodis Amerika, yang memuncak pada Kamp Pertemuan Holiness di Vineland, New Jersey setahun kemudian, dan memuncak lagi dengan terjadinya skisma perpecahan, ketika Gereja-gereja Holiness memisahkan diri dari  Gereja Metodis, yang dulunya juga merupakan pecahan dari Anglikan.

                Abad kesembilan belas menyaksikan munculnya paham milenialisme dan paham dispensasionalisme, keyakinan-keyakinan yang berdekatan. Milenialisme merujuk pada  pemerintahan Kristus di dunia seribu hari (lihat Wahyu 5) dan biasanya disertai dengan kecenderungan menafsirkan nubuat yang dikaitkan dengan masa kini dan peristiwa-peristiwa historis yang besar dari masa belakangan, Perang Dingin dan status Israel. Ada banyak sekali ragam di dalam aliran milenialisme ini, tidak ada garis partai dalam hal itu di antara kaum fundamentalis. Ada sedikit kesepakatan saja tentang kapan terjadinya Kedatangan Kedua Kristus – apakah sebelum atau sesudah tiap ribuan tahun (milenium)? – dan lebih kecil lagi kesepakatan tentang bagaimana caranya memahami apa yang diketahui orang sebagai ramalan masa depan jangka pendek. Seabad yang lalu, milenialisme terutama sangat dikenal karena begitu seringnya unsur-unsur mereka jabarkan penuh persisi, namun kemudian ternyata keliru, menyangkut perkiraan saat-saat akhir dunia (hari kiamat). Sekarang kaum milenialis lebih hati-hati.

                Dispensasionalisme merupakan suatu teori yang dikembangkan oleh John Nelson Darby (1800-1882), pendiri dari Plymouth Brethern (Persaudaraan Plymouth). Darby membagi sejarah menjadi beberapa dispensasi atau era, di mana Allah tinggal dengan cara yang berbeda dengan umat yang berbeda pula. Dispensasionalis membedakan antara Israel dan Gereja – yang satu adalah Umat Allah duniawi, yang lain adalah Umat Allah surgawi. Kata-kata yang khas dari gerakan mereka adalah “Pembagian Sabda Kebenaran”. Ini merujuk pada penentuan mana bagian dari Kitab Suci yang untuk Israel dan mana yang untuk Gereja.

                Era sekarang ini dianggap “zaman Bangsa-bangsa Lain”, di mana Israel menderita menunggu pemenuhan nubuat alkitabiah. Nubuat-nubuat ini akan dipenuhi dimulai dari “Saat Kegirangan” ketika “para orang kudus” diangkat ke surga hidup-hidup. “Saat Kegirangan” ini mendahului “Pengadilan”, yang menyucikan dunia mengantisipasi pemerintahan Kristus. Tulisan-tulisan Darby mempengaruhi C.I. Scofield, dan dewasa ini banyak fundamentalis memperoleh ajaran dispensasionalisme dari The Scofield Reference Bible.



                Baik tokoh-tokoh milenialisme maupun dispensasionalisme tidak terlibat dalam pertengkaran antara Katolik dan fundamentalis, walaupun banyak dari yang terakhir, bersama dengan para Evangelis justru sibuk dengan soal itu, sebagaimana dibuktikan dengan popularitas buku-buku seperti karya Hal Lindsey “Late Great  Planet Earth”. Keluhan-keluhan mengenai Katolisisme jarang merujuk kepada kekhususan ajaran fundamentalis ataupun Evangelis; fokusnya selalu tertuju pada kekhususan ajaran Katolik. Sebaliknya, pihak Katolik tidak begitu berminat dengan milenialisme, walaupun pemikiran semacam itu mengganggu para leluhur pada abad ketujuh,  bahkan dispensasionalisme sama sekali tidak membuatnya bergeming.