Daftar Blog Saya

Tampilkan postingan dengan label Surat-surat Katolik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Surat-surat Katolik. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 November 2022

SURAT-SURAT YOHANES


 


Surat-surat  Yohanes  

Tiga surat menurut tradisi dianggap berasal dari Yohanes, putera Zebedeus, kendati tidak satupun dari surat-surat itu menyebutkan nama Yohanes. Surat-surat itu tergolong Surat-surat Katolik (bersama dengan Surat-surat Yakobus, 1 dan 2 Petrus, serta Yudas)

 1 Yohanes

Sebuah surat yang ditujukan kepada jemaat-jemaat (gereja-gereja) yang tidak disebut namanya; tradisi menduga di sekitar Efesus di Asia Kecil. Pesan surat itu adalah bahwa Tuhan dinyatakan kepada kita dalam Putera, dan bahwa persahabatan dengan Bapa akan diwujudkan dengan hidup di dalam terang, keadilan dan kasih Putera. Surat juga mengoreksi kekeliruan dari mereka yang menyatakan bahwa mereka tidak berdosa dan tidak terikat pada Sepuluh Perintah Allah.

 I. PENGARANG DAN WAKTU PENULISAN

Pengarang surat tidak disebutkan. Dua belas kali surat itu mengisyaratkan bahwa ditulis oleh seseorang (misalnya dari kata“kutuliskan” dalam 1 Yoh 2;1.7.8.12.dst) tetapi ia juga bicara dengan wibawa atas nama yang lain-lain (misalnya dalam frasa “kami tuliskan”, 1 Yoh 1:4).

      Tradisi paling kuno menyatakan bahwa pengarang surat ini adalah Yohanes rasul, anak Zebedeus, (Mrk 3:17). Pernyataan itu tetap mantap di zaman Kristen kuno. Ajaran dan kosa kata surat sangat mirip dengan yang ada dalam Injil keempat, yang juga dianggap berasal dari rasul Yohanes dari masa awal kekristenan (lihat Yohanes, Injil). Namun kemudian beberapa ahli lebih condong beranggapan bahwa pengarang surat ini adalah seorang Yohanes yang lain, “penatua” (2 Yoh 1), atau seseorang yang tidak dikenal yang sangat paham ajaran-ajaran Injil keempat. Namun tidak cukup bukti untuk menggoyahkan tradisi lama Kristen mengenai Yohanes rasul sebagai pengarang surat ini.

      Waktu penulisan surat juga tidak pasti, melampaui batas-batas umum dari tahun 50 hingga 100. Banyak ahli menduga Surat Pertama Yohanes ditulis tak lama sesudah Injil Yohanes. Jika Injil Yohanes ditulis sekitar tahun 90-an, maka surat ini diperkirakan disusun pada tahun 100. Jika Injil Yohanes ditulis sebelum tahun 90-an, maka surat ini juga bergeser ke masa yang lebih dini lagi. Namun juga ada kemungkinan bahwa surat ini ditulis mendahului Injil Yohanes. Pendek kata, mustahil menetapkan waktu penulisan surat ini secara pasti, namun pada akhirnya yang paling mungkin adalah bahwa surat ini ditulis antara tahun 90 dan 100.

 II. ISI

I. Prolog (1:1-4)

II. Allah adalah Terang (1:5-2:6)

III. Perintah Baru (2:7-17)

IV. Antikristus (2:18-29)

V. Anak-anak Allah (3:1-10)

VI. Kasih Satu Pada Yang Lain (3:11-24)

VII. Membeda-bedakan Roh (4:1-6)

VIII. Tuhan adalah Kasih (4:7-21)

IX. Iman dan Dunia (5:1-12)

X. Epilog (5:1-21)

 

III. MAKSUD DAN TEMA

Surat pertama Yohanes ditulis untuk menangkal situasi yang berbahaya: sekelompok pengajar palsu yang memisahkan diri (yang oleh Yohanes disebut para antikristus, penipu, penyesat) membawa umat Kristen pada kesesatan. Yohanes boleh jadi menulis kepada para anggota jemaat di Efesus, dan boleh jadi ia kenal secara pribadi dengan  penerima suratnya (1 Yoh 2:1.12-14; 3:11). Berbeda dengan surat kedua dan ketiga, Surat Pertama Yohanes lebih merupakan suatu khotbah ketimbang sebuah surat.

      Pengajar-pengajar palsu memisahkan diri dari jemaat (1 Yoh 2:19) dan menyangkal bahwa Yesus adalah “Kristus” (1 Yoh 2:22; 5:1) dan “Anak Allah” (1 Yoh 2:23; 5:5), walaupun identitas yang sebenarnya dari bidat itu sulit dipastikan. Mungkin mereka adalah pengikut Kerinti yang menyatakan bahwa Kristus yang ilahi turun pada manusia  biasa Yesus tetapi meninggalkan Dia persis sebelum Sengsara dan mati. Atau mungkin pengikut ajaran Marcion (Docetis) yang percaya bahwa Kristus hanya tampaknya saja menderita dan mati di salib. Atau mungkin mereka adalah pengikut ajaran Gnostis yang percaya bahwa pengetahuan akan Kristus yang sebenarnya dirahasiakan dari semua orang kecuali untuk beberapa kaum pilihan saja. Pengajar-pengajar palsu tampaknya kain bahwa mereka bebas dari dosa, sehingga mereka tidak merasa wajib menaati Sepuluh Perintah Allah, termasuk perintah kasih untuk saling mengasihi.

      Surat Pertama Yohanes mengecam para pengajar palsu itu dengan beberapa butir pokok. Tak ada orang yang kasih pada Allah tanpa mematuhi perintahNya (1 Yoh 2:3.4; 3:24; 5:3) atau yang melakukan dosa semau-maunya (1 Yoh 3:6-8; 5:18). Tidak ada yang dapat menyatakan dirinya bebas dari dosa (1 Yoh 1:10) dan satu-satunya jalan untuk mengatasi dosa adalah mengakui dosa dan meminta pengampunan melalui Kristus (1 Yoh 1:7-9; 2:1.12). Orang tidak mungkin menghormati Allah jika tidak menerima bahwa Yesus Kristus datang dari Allah (1 Yoh 3:23; 4:2.3.14; 15:1) dan barangsiapa tidak mau percaya kepada Putera ia menolak Bapa (1 Yoh 2:22.23).

      Surat ini juga menekankan persahabatan dengan Allah, yang adalah kasih (1 Yoh 4:16). Yesus telah menunjukkan kasih Allah dengan memberikan hidupNya, sehingga kita pun wajib menunjukkan kasih kita kepada sesama (1 Yoh 3:16-18; 4:9-12). Maka perintah terbesar bagi umat Kristen adalah untuk saling mengasihi sebagai saudara (1 Yoh 3:23; 4:21). Sebaliknya, orang yang membenci saudaranya tidak mengasihi Allah (1 Yoh 2:7-11; 3:11; 4:7.8.20; 5:2).

      Suatu kontras yang tajam dilukiskan di antara anak-anak Allah dengan para pengajar palsu yang adalah golongan kaum anti-kristus (1 Yoh 2:18) dan pengikut setan (1 Yoh 3:7-10; 5:19). Anak-anak Allah diurapi (1 Yoh 2:20) dan tidak memerlukan pengajaran; mereka didesak agar berpegang pada apa yang telah diajarkan sejak semula (1 Yoh 2:24). Jika demikian, mereka akan menang jaya (1 Yoh 5:4.5).

 

2 Yohanes

Ditujukan kepada “Ibu yang terpilih dan anak-anaknya”, surat ini mungkin dimaksudkan untuk suatu gereja di Asia Kecil. Surat memuji mereka karena terus gigih berpegang pada iman dan mendesak mereka agar meneruskannya dengan tekun.

 I. PENGARANG DAN WAKTU PENULISAN

Pengarang surat tidak membubuhkan namanya tetapi menyebut dirinya sebagai “penatua” (2 Yoh 1), sebutan yang sama pada surat 3 Yoh. Tradisi Kristen menganggap pengarang ketiga surat Yohanes adalah orang yang sama, yaitu Yohanes rasul, tetapi pandangan ini tidak bulat. Bahkan dari Gereja kuno, ada beberapa (misalnya Papias pada abad kedua) yang yakin bahwa surat-surat 2 dan 3 Yoh ditulis oleh seseorang yang bukan Yohanes rasul, melainkan seorang gembala umat yang bernama “Yohanes sang penatua” yang boleh jadi hidup sezaman dengan Yohanes rasul di Asia Kecil. Di pihak lain, tradisi bahwa Yohanes adalah pengarang ketiga surat sudah lebih kuno, dan ada keserupaan gaya sastra di antara surat kedua dan surat pertama (bdk 1 Yoh 2:27 dengan 2 Yoh 5; 1 Yoh 2:18-22 dengan 2 Yoh 7; 1 Yoh 1:4 dengan 2 Yoh 12). Dengan adanya keserupaan-keserupaan itu amanlah jika disimpulkan bahwa surat-surat 2 dan 3 Yohanes ditulis oleh orang yang sama dengan surat 1 Yoh, dan mungkin hampir bersamaan waktu penulisannya.

 

II. ISI

I. Salam (ayat 1-3)

II.Kebenaran dan Kasih (ayat 4-12)

III. Salam Penutup (ayat 13).

 

III. MAKSUD DAN TEMA

Surat Kedua Yohanes jauh lebih singkat daripada Surat Pertama dan di dalam bentuk suatu surat (sementara Surat Pertama lebih merupakan suatu khotbah). Maksud utamanya adalah menyemangati kaum beriman untuk bertekun gigih berhadapan dengan para pengajar palsu. Para pengajar palsu itu adalah “yang tidak mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia. Itu adalah si penyesat dan antikristus” (2 Yoh 7). Begitu prihatinnya si pengarang mengenai hal itu sehingga ia bermaksud untuk mengunjungi orang yang disuratinya untuk membahas persoalan itu. Sekalipun pendek, surat itu menyampaikan program rangkap tiga, yaitu: kasih persaudaraan, bakti iman, dan perlawanan pada pengajar-pengajar palsu dengan segala ajaran mereka.

 

3 Yohanes

Suatu surat yang ditujukan kepada “Gayus yang kekasih, yang kukasihi dalam kebenaran” ini berkaitan dengan penyelesaian hukum atas persoalan di dalam suatu jemaat setempat (mungkin suatu gereja di dekat Efesus).

 I. PENGARANG DAN WAKTU PENULISAN

Surat Ketiga Yohanes ini menunjukkan kesamaan yang menonjol dalam hal gaya sastra, struktur, dan panjangnya, dengan surat yang kedua. Tradisi lama Kristen menganggap Yohanes rasul sebagai pengarangnya. Beberapa ahli beranggapan bahwa sebenarnya surat yang ketiga ini justru merupakan surat yang tertua dari ketiga surat Yohanes, namun pernyataan itu tidak dapat dipastikan kebenarannya.

 

II. ISI

I. Salam (ay 1)

II. Pujian dan Nasehat kepada Gayus (ay 2-8).

III. Diotrefes dan Demetrius (ay 9-12)

IV. Salam Penutup (ay 13-15).

 

III. MAKSUD DAN TEMA

Surat yang ketiga dari Yohanes ini ditujukan kepada Gayus, yang menjadi tuan rumah, menerima para misionaris Kristen yang melakukan perjalanan (ay 5-8). Pengarang memuji dia sebagai orang yang “hidup dalam kebenaran” (ay 3), dan Gayus disemangati untuk melanjutkan karyanya yang berharga sebagai amal kasih Kristen itu. Surat juga prihatin dengan seorang yang bernama Diotrefes, yang terbukti menjadi pemimpin yang buruk bagi jemaat (ay 9-11) dan tentang Demetrius yang baik (ay 12).

      Surat ini merupakan tulisan yang paling pendek dalam Perjanjian Baru, tetapi ia memberikan kepada kita keterangan penting mengenai keadaan tertentu dari Gereja Purba. Diperlihatkan khususnya bagaimana Gereja membahas persoalan yuridsiksi dan persaingan di antara para pemimpinnya, seperti yang diperlihatkan melalui perselisihan antara Yohanes, sang gembala dan pemimpin komunitas-komunitas di Asia |Kecil, dengan pemimpin setempat Diotrefes yang melaksanakan wewenangnya dengan cara yang kasar dan tidak baik. Di tengah-tengah mereka adalah Gayus, yang oleh si pengarang diharapkan mendukung pemimpin yang sesungguhnya, bertahan dalam iman dan menerima Demetrius. Si penatua berharap akan datang sendiri untuk menyelesaikan soal itu (ay 14) dan “akan meminta perhatian atas segala perbuatan yang telah dilakukannya, sebab ia meleter melontarkan kata-kata yang kasar terhadap kami” (ay 10).