Daftar Blog Saya

Tampilkan postingan dengan label Mengajarkan Hal-hal Baik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mengajarkan Hal-hal Baik. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 September 2022

Manusia Usia Lanjut menurut Kitab Suci

 

Bambang Kussriyanto



Usia saya sudah kepala 7. Saya tak bisa diam, selalu di depan laptop atau hape untuk membaca perkembangan dan menulis sesuatu. Saya berharap yang saya lakukan bermanfaat bagi banyak orang, maka saya bagikan sebagai teks, atau saya tuangkan dalam renungan untuk umat lingkungan atau kategorial, jika ditugaskan memberi renungan dalam perjumpaan mereka. Saya suka melakukan perjalanan sebab situasi sepanjang jalan memberi inspirasi dan semangat untuk melanjutkan hidup. Bagi saya hidup adalah perjalanan, yang suatu waktu akan berhenti.

Namun sebelum saat itu tiba saya ingin terus menjalankan hidup yang migunani. Saya juga menimba semangat dari tulisan-tulisan tentang usia tua. Salah satunya adalah Surat Untuk Para Lanjut Usia dari Paus Santo Yohanes Paulus II. Saya petikkan sebagian.


Manusia Usia Lanjut menurut Kitab Suci

6. "Umur muda dan fajar hidup itu kesia-siaan", kata Pengkhotbah (Pkh 11:10). Alkitab tidak ragu-ragu menunjukkan, ada kalanya disertai realisme yang blak-blakan, hakekat hidup yang sedang lewat dan lalunya hidup yang mustahil dielakkan: "Kesiasiaan belaka, segala sesuatu itu sia-sia, kesemuanya itu sia-sia" (Pkh 1:2). Siapakah tidak akrab dengan suara itu yang mengingatkan si Bijaksana masa lampau? Siapa di antara kita yang lebih tua, karena belajar dari pengalaman, mengerti itu secara istimewa.

Kendati realisme yang pahit itu, Kitab suci mempertahankan visi yang positif sekali tentang nilai hidup. Manusia selamanya tetap "dalam gambar Allah" (bdk. Kej 1:26), dan tiap tahap hidup mempunyai keindahannya sendiri dan tugas-tugasnya sendiri.

Memang benar, dalam sabda Allah, usia lanjut sedemikian rupa dijunjung tinggi, sehingga hidup yang panjang dipandang sebagai tanda kemurahan hati ilahi (bdk. Kej 11:10-32). Dalam kenyataan Abraham, – dan padanya kurnia istimewa usia lanjut ditekankan– anugerah itu berupa janji: "Aku akan menjadikan engkau bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat" (Kej 12:2-3). Di samping Abraham ada Sarah, dan wanita menyaksikan makin tua tubuhnya, tetapi dalam batas-batas lanjut umur dagingnya ia toh mengalami kuasa Allah, yang memperbaiki setiap kekurangan manusiawi.

Musa pun orang lanjut usia, ketika Allah mempercayakan kepadanya perutusan memimpin Umat yang Terpilih keluar dari Mesir. Bukan ketika ia masih muda, tetapi pada umur tuanyalah dia, atas perintah Tuhan, melaksanakan tindakan-tindakan yang agung demi umat Israel. Di antara contoh-contoh lain tokoh-tokoh lanjut usia dalam Alkitab, saya ingin menyebut Tobit, yang rendah hati dan berani memutuskan untuk setia mematuhi Hukum Allah, yakni: membantu rakyat yang miskin dan sabar menanggung kebutaan, sampai malaikat Allah bercampur-tangan untuk meluruskan situasi (bdk. Tob 3:16-17). Ada pula Eleazar, yang kematiannya sebagai martir memberi kesaksian akan jiwa besar dan keteguhan yang luar biasa (bdk. 2 Mak 6:18-31).

7. Perjanjian Baru, dipenuhi cahaya Kristus, mencantumkan contoh-contoh berwicara juga tentang beberapa pribadi lanjut usia. Injil Lukas mulai dengan memperkenalkan pasangan yang sudah menikah dan "sudah lanjut umur mereka" (Luk 1:7), yakni Elisabet dan Zakharia, orangtua Yohanes Pembaptis. Kerahiman Tuhan menyentuh mereka (bdk. Luk 1:5-25, 39-79). Kendati lanjut usia, Zakharia diberitahu, bahwa ia akan menerima putera. Ia sendiri menekankan pokoknya: "Aku sudah tua, dan isteriku sudah lanjut umurnya" (Luk 1:18). Pada kunjungan Maria, saudarinya Elisabet, penuh dengan Roh Kudus, berseru: "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu!" (Luk 1:42); dan ketika Yohanes Pembaptis lahir, Zakharia menganjungkan pujian "Benedictus". Di situlah kita saksikan pasangan lanjut usia yang istimewa, dipenuhi semangat doa yang mendalam.

Dalam Bait Allah di Yerusalem, Maria dan Yusuf mengantarkan Yesus untuk mengorbankan-Nya kepada Tuhan, atau lebih tepat, menurut Hukum, menebus-Nya sebagai putera sulung mereka. Di situlah mereka jumpai Simeon yang lanjut usia, dan sesudah lama sekali mendambakan AlMasih. Seraya menerima kanak-kanak Yesus ke dalam tangannya, Simeon memberkati Allah dan menyerukan pujian "Nunc dimittis": "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai-sejahtera" (Luk 2:29).

Di samping Simeon kita temukan Hana, janda berumur delapan puluh empat tahun, berulang-kali pengunjung Bait Allah, yang sekarang bergembira memandang Yesus. Penginjil menceritakan: "Ia mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem" (Luk 2:38).

Nikodemus pun, seorang anggota Sanhedrin yang tersanjung tinggi, sudah lanjut usia. Pada suatu malam ia mengunjungi Yesus, supaya jangan dilihat. Kepadanya Sang Guru ilahi menyingkapkan, bahwa Ia Putera Allah, yang datang untuk menyelamatkan dunia (bdk. Yoh 3:1-21). Nikodemus tampil lagi pada pemakaman Yesus, ketika – sementara membawakan ramuan mur dan aloe, – ia mengatasi rasa takutnya, dan menunjukkan diri sebagai murid Tuhan yang disalibkan (bdk. Yoh 19:38-40). Semua contoh-contoh, betapa meyakinkannya! Semua contoh itu mengingatkan kita, bahwa pada setiap tahap hidup Tuhan dapat meminta dari kita masing-masing untuk menyumbangkan bakat-kecakapan yang ada pada kita. Pelayanan Injil tiada sangkut-pautnya dengan umur hidup sedikit pun.

Apalagi hendak kita katakan tentang Petrus pada waktu usia lanjutnya, ketika dipanggil untuk memberi kesaksian akan imannya melalui kemartiran? Pernah Yesus berkata kepadanya: "Ketika engkau masih muda, engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kau kehendaki; tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kau kehendaki" (Yoh 21:18). Itulah kata-kata, yang menyentuh saya pribadi sebagai Pengganti Petrus. Itulah yang mengajak saya sungguh merasakan keperluan untuk menggapai dan memegang tangan-tangan Kristus, taat mematuhi perintah-Nya: "Ikutlah Aku!" (Yoh 21:19).

8. Seolah-olah merangkum lukisan-lukisan yang indah tentang para lanjut usia yang terdapat di seluruh Alkitab, Mazmur 92 menyatakan: "Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon ..... Pada masa tuapun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar, untuk memberitakan, bahwa Tuhan itu benar, bahwa Ia gunung batuku dan tidak ada kecurangan padaNya" (ay. 13, 15-16). Menggemakan Pemazmur, Rasul Paulus menulis suratnya kepada Titus: "Laki-laki yang tua hendaklah hidup sederhana, terhormat, bijaksana, sehat dalam iman, dalam kasih dan dalam ketekunan. Demikian juga perempuan-perempuan yang tua, hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang beribadah ....., tetapi cakap mengajarkan hal-hal yang baik dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda, mengasihi suami dan anak-anaknya, ...." (2:2-5).

Begitulah ajaran dan bahasa Kitab suci menyajikan lanjut usia sebagai "masa yang sungguh menguntungkan" bagi usaha mengantarkan hidup hingga pemenuhan-nya, dan – sesuai rencana Allah bagi setiap orang – sebagai waktu segala-sesuatu berhimpun dan lebih memampukan kita menangkap arti hidup serta mencapai "kebijaksanaan hati". Menurut Kitab Kebijaksanaan: "usia lanjut ialah terhormat bukan karena waktunya panjang, dan bukan karena tahunnya berjumlah banyak. Tetapi pengertian orang ialah uban, dan hidup yang tak bercela merupakan usia yang lanjut" (4:8-9). Lanjut usia itu tahap terakhir kematangan manusiawi dan tanda berkat Allah.

 

Dipetik dari Paus Yohanes Paulus II,  Letter to the Elderly, Seri Dokumen Gerejawi No. 59, terjemahan  R. Hardawiryana SJ, ©Dokpen KWI 1999, hal 15-19.