Daftar Blog Saya

Tampilkan postingan dengan label Kampung Lourdes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kampung Lourdes. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Desember 2022

MENGUNJUNGI PAROKI PALING UTARA DI INDONESIA TENGAH 1

Melunasi nadar untuk mengunjungi taman doa di ujung-ujung Indonesia setelah lolos dari Covid19 varian Delta, adik saya menyisakan agenda kunjungan terakhir tahun 2022 di bulan Desember untuk Gua Maria Lourdes Sebatik, Kalimantan Utara. Secara mendadak tanpa persiapan ia mengajak saya yang kebetulan sedang berada di Klaten, Jawa Tengah sejak 3 Desember, untuk ikut menyertai perjalanannya pada 8 Desember 2022. Saya meninggalkan Klaten dan pergi ke rumahnya di Semarang untuk persiapan fisik 6 Desember 2022. Itinerari yang diberikan kepada saya adalah berangkat melalui Bandara Juanda Surabaya menuju Bandara Juwata Tarakan 9 Desember. Lalu dari Pelabuhan Tengkayu Tarakan menggunakan speedboat menuju Pelabuhan Lintas Batas Negara (PLBN) Sei Nyamuk Sebatik. Pelabuhan PLBN Sei Nyamuk Pulau Sebatik dengan trestle yang menjorok sepanjang 2,7 kilometer di perairan tapal batas Tawau Malaysia dibangun sejak tahun 2005. 



Dari Semarang kami berangkat tengah malam 8/12 menggunakan KA Sembrani ke Surabaya, kemudian dari Stasiun Pasar Turi Surabaya pkl 05.00 9/12 kami pergi ke Bandara Juanda untuk terbang dengan Lion Air ke Tarakan pkl. 08.00. Penerbangan Surabaya-Tarakan berlangsung lancar dan pesawat terisi penuh dengan penumpang. 



Dari Bandara Juwata Tarakan kami langsung menuju Pelabuhan Tengkayu untuk menggunakan speedboat Sadewa 18 pkl 13.30 menuju PLBN Sei Nyamuk Sebatik. Perjalanan dengan speedboat berkapasitas 50 penumpang berlangsung 3 jam lebih di perairan yang tenang, kendati dari arah timur awan hitam berarak datang dihiasi pelangi.




Di Sebatik kami menginap di Hotel MA tak jauh dari Pelabuhan Lintas Batas Negara (PLBN).







Pulau Sebatik adalah sebuah daerah yang berada di perbatasan antara Negara Indonesia dan Negara Malaysia. Secara administratif, pulau ini dikuasai oleh dua negara, Sebatik bagian utara di kuasai oleh Kerajaan Malaysia, dan Sebatik bagian selatan dikuasai Republik Indonesia. Pemisahan wilayah Sebatik Indonesia dengan Sebatik Malaysia menggunakan titik koordinat 4°10' sesuai dengan perjanjian Konvensi London 1891, di mana semua wilayah Sebatik yang dikuasai oleh Belanda diambil oleh Indonesia, dan semua wilayah Sebatik yang di kuasai oleh Inggris diambil oleh Malaysia. Wilayah Sebatik Indonesia masuk dalam wilayah Provinsi Kalimantan Utara, dan Wilayah Sebatik Malaysia masuk dalam Negara Bagian Sabah.


 



Asal usul nama Sebatik adalah suatu Tim Ekspedisi Belanda Wallace yang pada saat meneliti di Sebatik  menemukan ular besar sejenis Sanca. Masyarakat menyebut ular yang ditemukan itu ular "Sawa Batik" dan orang Belanda menyebutnya "Sebettik" dan kemudian berangsur-angsur berubah penyebutan hingga menjadi "Sebatik". Mayoritas penduduk Pulau Sebatik adalah suku Bugis dan pendatang dari Bone, Sulawesi.
Sebatik adalah salah satu tempat di mana terjadi pertempuran hebat antara pasukan Indonesia dan Malaysia di Kalimantan Utara pada masa "Konfrontasi" di bawah komando Presiden Soekarno tahun 1964.



Ketika beristirahat di Hotel saya sempat memikirkan apa yang perlu saya dapatkan dari perjalanan ini. Suatu rasa keterhubungan emosi dengan sejarah dengan setempat untuk mewarnai tulisan yang sedang saya siapkan tentang Sejarah Gereja Katolik Indonesia pasca 1970. Saya mencoba mengingat apa yang pernah ditulis teman saya angkatan Merto1970, Mgr Yustinus Harjo MSF dalam Buku Kenangan 40 Tahun Merto 1970 tentang awal tugasnya sebagai Uskup Tanjung Selor 2004.

Dan ternyata saya di malam itu juga menemukan jejaknya di Kampung Lourdes, Sebatik Tengah, di Gereja Stasi Santo Petrus, di mana Taman Doa Maria Lourdes berada dan menjadi tujuan kunjungan adik saya demi memenuhi nazarnya. Mgr Harjo menandatangani prasasti didirikannya Taman Doa Maria Lourdes Sebatik pada 13 Mei 2013.
Lebih dari itu dari perjumpaan dengan sebagian umat Stasi St Petrus yang malam itu berlatih koor untuk persiapan Natal 2022 saya mendapat testimoni jejak kenangan karya almarhum teman saya Rm Dwija Iswara MSF alumni Merto1970 dan Ikafite 1975. Koneksitas emosi historis dalam diri saya dengan tempat itu pun berkembang. 




Pulang dari kunjungan yang berharga secara emosional itu saya dan adik2 pesta durian Sebatik yang maknyus, tiga kilo untuk bertiga, Rp 40.000 per kilo, konon panen durian kali ini di Sei Nyamuk malah kurang durian karena masyarakat menjualnya lintas batas negara ke Malaysia untuk mendapatkan ringgit lebih banyak. Saya tidur nyenyak pada malam 9/12 di tempat kami menginap.

(Bersambung)