Daftar Blog Saya

Tampilkan postingan dengan label Non-Yahudi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Non-Yahudi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 September 2022

INJIL LUKAS

 


Beberapa teman meminta semacam garis besar dari Injil Lukas. Selain Tahun Liturgi C didedikasikan terutama untuk Injil Lukas sebagai santapan Sabda untuk umat pada hari Minggu Pekan Biasa, sejak bulan Agustus ketika memasuki Masa Biasa Kedua hingga nanti pekan terakhir, bacaan Injil Harian juga dipetik dari Injil Lukas. Teman-teman yang aktif menjadi pewarta di  lingkungan-lingkungan memerlukan ikhtisar Lukas ini untuk dasar tafsir dalam renungan-renungan yang mereka susun.

Injil Lukas, kitab ketiga dalam Perjanjian Baru termasuk salah satu dari ketiga Injil Sinoptik. Injil Lukas ditulis untuk umat Kristen dari bangsa bukan Yahudi dan terkenal karena temanya mengenai universalitas, yang menekankan bahwa Injil adalah untuk segala bangsa, terutama kaum miskin dan para pendosa. Lukas mempersembahkan Injil ini kepada Teofilus, seorang yang baru menjadi Kristen, yang kepadanya juga Lukas mempersembahkan Kisah Para Rasul (Kis 1:1). Lukas mengemukakan tujuannya:

“Teofilus yang mulia, Banyak orang telah berusaha menyusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita, seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan Firman. Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu,  supaya engkau dapat mengetahui, bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar.” (Luk 1:1-4)

 


                Injil ini unik dalam dua hal. Pertama injil ini adalah satu-satunya injil yang ditulis oleh seorang yang bukan Yahudi, sementara para penulis Injil yang lain (dan para penulis Perjanjian Baru lainnya) adalah orang Yahudi. Yang kedua, Injil Lukas adalah satu-satunya kitab Perjanjian Baru yang pertama mempunyai dua bagian, di mana bagian yang kedua kemudian menjadi kitab Kisah Para Rasul. Dengan demikian Injil Lukas perlu dikaji dengan kelanjutannya pada Kisah Para Rasul, dan jika digabungkan, maka keduanya mendokumentasikan kemajuan Injil yang tetap dari Nazaret ke Yerusalem, di mana tugas penyelamatan Yesus mencapai puncaknya dan di mana Gereja didirikan; dan kemudian dari Yerusalem sampai ke Roma.

 

I. PENULIS DAN WAKTU PENULISAN

Baik tradisi maupun pendapat para ahli menyatakan Lukas sebagai penulis baik Injil Lukas maupun kitab Kisah Para rasul. Bahwa Lukas adalah penulis karya ini dikuatkan dengan kesaksian dalam empat abad pertama, oleh St Ireneus dan Tertulianus, Kanon Murata, Rigenes, Eusebius dari Kaisarea dan St Hieronimus.

                Waktu penulisan Injil Lukas tidak jelas. Dugaan lama memperkirakan Injil Lukas disusun sebelum Roma menaklukkan Yerusalem pada tahun 70 M. Secara lebih spesifik, waktu penulisan itu diperkirakan hingga awal tahun 60-an, terutama karena di dalam narasi sejarahnya Kisah Para Rasul selesai sekitar tahun 62 M, pada waktu penahanan Paulus di Roma berakhir (Kis 28:14.30). Di dalam teks Injil Lukas maupun Kisah Para Rasul tidak ada petunjuk mengenai masa sesudah tahun ini. Namun para ahli yang kritis condong dengan dugaan bahwa kitab ini diselesaikan pada tahun 80-an, setidaknya karena kebanyakan ahli menyatakan bahwa Lukas menggunakan Injil Markus di dalam menyusun kisahnya. Karena Injil Markus biasanya diduga disusun tak lama sebelum atau sesudah tahun 70, dan dengan memperhitungkan waktu yang diperlukan Injil Markus untuk diperbanyak dan diedarkan, barulah Lukas menuliskan Injilnya.

 

II. ISI

I. Prolog (1:1-4)

II. Kisah Masa Kanak-kanak (1:5-2:52)

III. Persiapan Karya (3:1-38)

IV. Pencobaan Yesus (4:1-13)

V. Karya Yesus di Galilea (4:14-9:50)

VI. Karya Yesus di Yerusalem (9:51-19:44)

VII. Yesus Ditolak di Yerusalem  (19:45-21:38)

VIII. Sengsara dan Wafat (22:1-23:56|)

IX. Kebangkitan (24:1-53)

 

III. CIRI-CIRI SASTRA

Latar belakang Lukas sebagai orang Yunani, seorang yang terpelajar, dan seorang tabib merupakan modal yang sangat baik untuk menyusun suatu Injil, terutama Injil yang ditujukan pada pembaca yang bukan orang Yahudi. Pendidikannya tampak dalam keterampilannya sebagai seorang sejarawan peneliti dan penulis. Tak diragunkan lagi, Injil Lukas merupakan Injil yang paling tinggi nilai sastranya dari antara keempat Injil. Sang penulis memilih kata-kata dan frasa-frasa dengan sangat cermat untuk menyampaikan Kabar Gembira dengan jelas dan lancar. Lepas dari kepentingan spiritual dan tafsir, alur ceritanya merupakan hasil cipta sastra yang sangat bagus.

                Lukas seorang sejarawan yang cermat yang “menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya” (Luk 1:3). Ia memelajari hidup dan perkataan Yesus dengan sangat teliti, dan ia mengenal dan mengandalkan para saksi mata kejadian yang sebenarnya. Sebagai teman seperjalanan Paulus, Lukas dipengaruhi oleh ajaran-ajaran Paulus. Tampaknya ia sudah bersama dengan Paulus ketika Paulus dipenjarakan di Kaisarea, dan kemudian di Roma.

                Lukas mengikuti bentuk Injil Markus dan Matius, dengan menerapkan rancangan umum empat tahap : Seruan Yohanes Pembaptis, Karya Yesus di Galilea, karya Yesus di Yerusalem, dan Sengsara-wafat-dan-KebangkitanNya. Hasil penyelidikan Lukas memungkinkannya memasukkan bahan unik yang tidak terdapat dalam Injil-injil yang lain, termasuk Kabar Suka Cita (Luk 1:26-38), episode di Bait Allah ketika Yesus masih kecil (Luk 2:41-51) dan Perumpamaan Anak yang Hilang (Luk 15:11-32), dan Kenaikan Yesus (Luk 24:46-55). Lukas juga mencantumkan kidung-kidung yang sangat indah: Kidung Maria (Magnificat, Luk 1:46-55), Kidung Zakharia (Benedictus, 1:68-79), Kidung Kemuliaan (2:14) dan Kidung Simeon (Nunc Dimittis, 2:29-35).

 


IV. MAKSUD DAN TEMA

Tema sentral dari Injil Lukas adalah universalitas Kabar Gembira. Injil mewartakan tawaran Allah yang berlimpah akan keselamatan, yang merupakan pemenuhan janji-janji Allah kepada Israel, dalam Yesus Kristus. Oleh Lukas Yesus ditampilkan pertama-tama sebagai Mesias penebus Israel, tokoh yang telah dinubuatkan para nabi (Luk 1:32-33; 68-79). Kemudian Lukas meluaskan misi keselamatan Yesus kepada bangsa-bangsa lain (Luk 2:29-32; 3:4-6), memuncak dalam amanat kepada para rasul “dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem” (Luk 24:47).

     Lukas dengan demikian menekankan kerahiman Allah, dengan menuliskan berbagai tindakan yang penuh belas kasih dari Kristus, termasuk mengampuni wanita yang berdosa (Luk 7:36-50), Zakheus (Luk 19:1-10), para prajurit yang melaksanakan hukuman atas diriNya (Luk 23:34), dan pencuri yang baik (Luk 23:39-43). Yesus juga menunjukkan belas kasih dan perhatianNya kepada kaum miskin dan mereka yang tertindas (Luk 1:52-53; 4:18; 6:20-26; 14:7-11) dan terutama menunjukkan penghargaan dan kepedulian kepada para wanita.

     Mungkin melalui hubungan pribadi, Lukas dapat memberikan gambaran yang sangat kuat dan unik tentang ibu Yesus (Luk 1:26-56; 2:19.51). Diberikan peran yang utama pada para wanita lainnya: Elisabet (Luk 1:39-45), Hana (Luk 2:36-38), janda dari Nain (Luk 7:11-17), wanita yang berdosa (Luk 7:36-50), Maria Magdalena (Luk 8:2), Yohana (Luk 8:3), Susana (Luk 8:3), Maria dan Marta (10:38-42) dan wanita yang mengalami pendarahan (13:10-17). Para wanita juga ditampilkan dalam perumpamaan-perumpamaan, misalnya dalam perumpamaan dirham yang hilang (Luk 15:8-10) dan Hakim yang curang (Luk 18:1-8).

     Bab-bab utama dari Lukas, 9:51—19:28, mengikuti perjalanan Yesus dari Galilea ke Yerusalem, dan kemudian juga Jalan Salib dan KebangkitanNya. Bagi Lukas, Yerusalem lebih dari sekedar suatu tujuan. Yerusalem adalah kota kudus, di mana terdapat Bait Allah, tempat terpenting bagi janji-janji Allah. Injil Lukas terus-menerus merujuk ke arah Yerusalem, terutama sebagai tempat memuncaknya adegn-adegan Injil. Kisah masa kanak-kanak bergulir ke arah Persembahan Yesus di Bait Allah (Luk 2:22) dan kemudian Maria dan Yusuf menemukan Yesus di Bait Allah (Luk 2:41-51). Demikian pula, kisah pencobaan membalikkan urutan dua pencobaan terakhir yang disajikan Injil Matius sehingga puncaknya terjadi di Yerusalem (Luk 4:9). Keseluruhan karya Yesus dengan demikian terarah maju menuju Yerusalem. Semua orang yang menyatakan diri Kristen haruslah memanggul salibNya dan mengikuti Yesus dalam perjalanan mereka menuju Yerusalem.

     Akhirnya, Lukas juga mencurahkan banyak perhatian kepada hidup batin, yaitu doa. Yesus terus menerus diperlihatkan berdoa, mencari kehendak Bapa dalam pelbagai momentum yang sangat penting dalam karyaNya (Luk 5:16; 6:12; 23:34.46).


Bambang Kussriyanto

Sumber: Scott Hahn.