Daftar Blog Saya

Tampilkan postingan dengan label Adam Bapa Manusia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adam Bapa Manusia. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Februari 2023

ADAM - MANUSIA

 



Adam

Manusia pertama. Namanya dalam bahasa Ibrani adalah nama pribadi sekaligus nama umum, yang berarti “manusia”. Maka ia sendiri merupakan purbarupa dari manusia dan bapak umat manusia. Di dalam Kitab Kejadian ia disebut “manusia” sampai Kej 3:17, ketika nama "Adam" digunakan untuk kali yang pertama sebagai nama diri. Makna nama itu tidak pasti, tetapi etimologi menunjukkan hubungan dengan akar ‘dm, “merah”. Mungkin merujuk pada warna kulit manusia. Dalam bahasa Ibrani, Kej 2:7 dan 3:19 mengandung permainan kata antara ‘adam dan ‘adama (tanah, bumi), yang menunjukkan hubungan antara manusia pertama dan tanah, yang adalah bahan asalnya dengan mana ia diciptakan (Sir 33:10). Isteri Adam, yaitu Hawa, diciptakan dari tulang rusuknya (Kej 3:21-22). Hawa melahirkan anak-anak Adam: Kain dan Habel, Set dan lain-lain yang tidak disebutkan namanya dalam Kitab Suci (Kej 5:4). Menurut Kej 5:5 Adam hidup selama 930 tahun.

 

I.      Adam Dalam Perjanjian Lama

A.     Panggilan Adam

B.     Cobaan Adam

II.    Adam Dalam Perjanjian Baru

 

I. Adam Dalam Perjanjian Lama

 A. Panggilan Adam

Dalam kisahpenciptaan yang pertama, Adam dan Hawa diciptakan oleh Allah menurut citra (gambar) dan rupa ilahi (Kej 1:26). Di dalam literatur Timur Dekat, motif ”citra (gambar)” biasa dikaitkan dengan raja-raja yang menuntut agar negara-negara taklukan atau provinsi-provinsi dengan hormat memasang citra (gambar) raja itu sebagai lambang kekuasaannya. Diciptakan dalam citra (gambar) Allah, Adam dan Hawa diberi kekuasaan atas seluruh bumi dan langit. Mereka ditetapkan sebagai wakil penguasa yang mengurus seluruh ciptaan di bawah wewenang Allah, Sang Pencipta.

      “Gambar (citra) dan rupa” itu juga mengandung konotasi status keputraan. Daiam ayat-ayat berikutnya, Kej 5:2-3, Allah menciptakan manusia “dalam rupa Allah”, dan Adam kemudian ”memperanakkan seorang laki-laki menurut gambar dan rupanya”. Demikianlah maka Set adalah seorang anak Adam, dan secara analogis Adam adalah seorang anak Allah.

      Gambar atau citra ilahi ini mau menyatakan bahwa manusia menyerupai Allah dalam berbagai hal yang menempatkan dia di atas binatang. Ia mempunyai akal budi, hati nurani dan kemampuan untuk berkomunikasi dengan Allah (KGK 343, 355-358).

      Panggilan tugas Adam adalah mulia, sekalipun ia diciptakan dari bahan yang sederhana, tanah. Allah “membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup” (Kej 2:7). Demikianlah Adam menerima roh yang menghidupkan tubuhnya, membuatnya suatu paduan antara rohani dan jasmani (KGK 362-366). Pengaruh roh, seperti yang diajarkan Gereja, membuat Adam penuh dengan hidup kodrati maupun rahmat kekudusan dan keadilan hidup adi-kodrati, sedemikian sehingga Adam berada di dalam keselarasan dengan diri sendiri, dan keselarasan dengan ciptaan yang berada di sekitarnya, dan dalam persahabatan dengan Allah Sang Pencipta (KGK, 374-376). Ia dimaksudkan untuk berada di dalam suatu hubungan perjanjian yang menyatukan seluruh keluarga manusia dengan Allah dalam keadaan rahmat.



      Adam dengan demikian lebih dari sekedar mahluk ciptaan.  Sejak awal dia berdiri di hadapan Allah sebagai anak angkat dari Sang Bapa Ilahi. Panggilannya adalah melaksanakan kekuasaan atas  alam ciptaan. Tanda dari perjanjian Allah dengan ciptaan adalah Sabat, hari ketujuh dalam penciptaan (bdk Kej 2:2-3; Kel 31:12-17). Memang kata Ibrani untuk “perjanjian” berasal dari kata Ibrani untuk “tujuh”.

      Perjanjian pertama yang diadakan di antara Allah dan manusia dimaksudkan untuk menyatukan keluarga manusia dengan Allah dalam keadaan rahmat (KGK 288). Beberapa detil dalam Kitab Kejadian menunjukkan bahwa Taman Eden merupakan tempat suci pratama dan Adam adalah imam pertama. Gambaran Eden dalam banyak hal menyerupai pernyataan alkitabiah tentang Tabut Perjanjian dan Bait Allah dari zaman kemudian. Keduanya dimasuki dari timur (Kej 3:24; Kel 27:13; Yeh 47:1), tempat para malaikat (Kej 3:24; 1 Raj 6:23-28); dihiasi pohon-pohon (Kej 2:9; Yos 24:26; 1Raj 6:29-32), sumber air suci (Kej 2:10; Yeh 47:1-12; Yl 3:18), dan tempat di mana Allah berjalan di atas bumi (Kej 3:8; Im 26:12; 2Sam 7:6). Allah menempatkan Adam  di Taman Eden  “untuk mengusahakan dan memelihara” taman itu (Kej 2:15). Pasangan kata yang sama itu (dalam bahasa Ibrani, ‘abad dan samar) tampak di mana-mana di dalam Taurat untuk menggambarkan tugas ritual para imam dan kaum Lewi dari bangsa Israel (Bil 8:26) dan dalam RSV diterjemahkan dengan kata “minister” (mengolah) dan “keep” (memelihara). Bahwa Adam harus “memelihara” (suatu terjemahan yang mungkin lebih baik dalam “menjaga”) taman itu menyatakan bahwa ia harus siap membela, mempertahankannya dari musuh yang kuat dan melindunginya dari penistaan. Tersirat di dalam rincian tugas kultis ini bahwa manusia diciptakan untuk beribadat.

Lihat juga : Taman Eden - Firdaus

      Adam juga diciptakan untuk kebersamaan dengan isterinya, Hawa, sebagai suami dan pelindung.

      Setelah menempatkan Adam di Taman Eden, Allah menetapkan batas yang harus dipatuhi. "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati" (Kej 2:16-17)

 B. Ujian Adam

Musuh yang kuat segera datang dan ketaatan Adam mendapat ujian, atau pencobaan atau tantangan. Adam gagal melaksanakan tugas panggilannya (kej 3:1-7). Berhadapan dengan ular – yang adalah samaran iblis (Why 12:9) – Adam menyalahgunakan kebebasan yang diberikan kepadanya. Bukannya memertahankan Taman itu (dan isterinya) dari musuh, ia melanggar perjanjian dengan memberontak. Mula-mula Hawalah yang digoda, tetapi Adam ada di sana juga. Teks Ibrani dari Kej 3:6 menyatakan bahwa perempuan itu memberikan buah kepada suaminya, “yang ada bersama dengan dia.” Lebih-lebih, di dalam teks Ibrani dari Kej 3:4-5, ular bicara menggunakan kata ganti orang kedua jamak baik untuk Hawa dan Adam ketika berkata, “Sekali-kali kamu tidak akan mati.” Adam ada di sana, tetapi ia tidak berbuat apa-apa. Ia diam saja ketika ular itu mendatangi mereka. Ia bukan hanya tidak membantu Hawa menolak godaan, tetapi ia sendiri terjatuh di dalam godaan itu. Ia gagal bekerja sama dengan rahmat dan tak mau memberikan dirinya sebagai korban demi pasangan perjanjiannya yang berada dalam bahaya karena dusta si ular. Di dalam dosanya Adam lebih memilih dirinya sendiri ketimbang Allah dan ia ingin menjadi seperti Allah (KGK 397-398).

      Sebagai bapa keluarga manusia, Adam berpaling dari Allah atas nama semua umat manusia. Pemberontakannya bukan saja melukai dirinya secara pribadi, tetapi menjerumuskan seluruh umat manusia ke dalam penderitaan dan terpisah dari Allah.

      Dosa mengubah berkat perjanjian menjadi kutuk perjanjian (Kej 3:16-19). Tetapi dengan adanya kutuk-kutuk itu timbullah suatu janji – yaitu apa yang oleh para Bapa Gereja disebut “Proto-evangelisme” atau “Injil pertama”. Ketika mengutuk ular, Allah menjanjikan bahwa “benih” dari sang wanita akan mengalahkan ular di masa depan, walaupun bukannya tanpa pengorbanan: “ia akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya!” (Kej 3:15).

      Diusir dari Taman Eden (Kej 3:22-24), Adam dan Hawa dalam hidupnya menyaksikan kejahatan memenuhi dunia, mulai dari pembunuhan anak mereka Habel oleh saudaranya, Kain (KGK 400, 1609). Menurut Kitab Kejadian, Adam hidup sampai usianya 930 tahun.

      Perjanjian Lama hanya bicara sedikit lagi tentang Adam. Ada suatu rujukan yang sifatnya sambil lalu dalam suatu silsilah pada 1Taw 1:1. Dalam Tob 8:6, Tobias menempatkan awal perkawinan dengan Adam dan Hawa. Sirakh menyebut Adam sebagai leluhur yang sama dari seluruh umat manusia (Sir 33:10; 40:1) dan menyatakan bahwa Adam “melebihi segala yang hidup di dalam seluruh ciptaan.” Di dalam tulisan-tulisan yang timbul di antara kedua perjanjian, PL dan PB, Adam bolak-balik kembali sebagai fokus pemikiran teologis.

 

II. Adam Dalam Perjanjian Baru

Tetapi di dalam Perjanjian Baru-lah Adam menonjol secara teologis. Luk 3:38 merunut leluhur Yesus kembali sampai kepada Adam, dan dengan demikian menunjukkan misi penebusan yang radikal dan universal, suatu pemulihan dan pemenuhan perjanjian yang asli di antara Allah dan ciptaan. Yohanes mengawali Injil dengan menyampaikan kata pembukaan yang sama di antara asal-usul Yesus dan Adam,  ”Pada mulanya...” (Yoh 1:1; Kej 1:1). Dalam Mat 19:4.8, Yesus berbicara tentang Adam dan Hawa sebagai teladan monogami sepanjang hayat dengan wibawa yang lebih besar daripada hukum bersyarat yang diturunkan Musa yang membolehkan perceraian.

      Bagi umat Kristen tragedi dosa Adam dijungkirbalikkan oleh ketaatan Yesus yang menghasilkan penebusan. Santo Paulus menyamakan Adam dengan suatu ”tipologi” Kristus (Rm 5:14). Mengikuti Paulus, para Bapa Gereja memerhatikan banyak hal-hal yang paralel di antara Adam dan Yesus. Keduanya adalah anak-anak Allah yang dipanggil untuk menegakkan keluarga Allah di bumi. Keduanya memasuki dunia dalam keadaan rahmat dan murni tanpa dosa. Ketidaktaatan Adam membawa dunia ke dalam bencana; ketaatan Kristus memulihkan kerusakannya. Tindakan kedua orang itu bergema di segenap umat manusia dan segenap semesta. Seluruh ciptaan atau dirusak atau dipulihkan melalui kedua orang itu. Warisan Adam adalah maut; warisan Kristus adalah hidup.

      Jika Adam gagal, Kristus berhasil. Dengan penderitaan dan wafatNya di kayu Salib, Kristus membatalkan pemberontakan Adam dan memperbaiki kerusakan akibat dosa (Rm 5:12-21; 1 Kor 15:20-22, 45-49). Kristus adalah ”Adam yang terakhir” yang taat sepenuhnya sampai mati.

   Paulus menguraikan tipologi Adam panjang lebar dalam Rm 5:12-21. Ia membandingkan dan memperlawankan Kristus dan Adam. Dosa dan kematian datang ke dunia melalui pemberontakan satu orang, Adam; semuanya itu dikalahkan oleh ketaatan yang sempurna dari satu orang pula, Yesus Kristus. Dengan rahmat yang berlimpah-limpah Yesus mengalahkan dosa-dosa kita dan memberikan hidup, sementara satu-satunya dosa Adam menghasilkan maut bagi semua orang. “Karena sama seperti semua orang mati di dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus” (1 Kor 15:22).

      Kedatangan Kristus memberi kesempatan kepada manusia untuk terhindar dari kutuk. “Manusia pertama berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani, manusia kedua berasal dari sorga. Makhluk-makhluk alamiah sama dengan dia yang berasal dari debu tanah dan makhluk-makhluk sorgawi sama dengan Dia yang berasal dari sorga. Sama seperti kita telah memakai rupa dari yang alamiah, demikian pula kita akan memakai rupa dari yang sorgawi” (1 Kor 15:45-49; bdk Ibr 5:7-9).