Daftar Blog Saya

Tampilkan postingan dengan label Manusia Jalan Pengetahuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manusia Jalan Pengetahuan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 November 2022

POKOK-POKOK KATEKESE IMAN KITA 3 MANUSIA JALAN PENGETAHUAN

 Bambang Kussriyanto




Mengenangkan dinamika sikap manusia dalam hubungan dengan Allah, di dalam ensiklik Fides et Ratio (Iman dan Akal Budi, 1998)  Paus Yohanes Paulus II menulis: “Baik di Timur maupun Barat kita dapat menemukan jejak perjalanan manusia selama berabad-abad untuk menemukan dan merangkul kebenaran yang semakin dalam. Perjalanan ini memaparkan dalam cakrawala kesadaran diri, bahwa semakin manusia mengenal realitas dan dunia, semakin mereka mengenal diri sendiri dalam keunikannya, persoalan makna segala sesuatu dan keberadaan dirinya semakin dirasakan mendesak pula. Tinjauan sekilas atas sejarah kuno dengan jelas menunjukkan betapa di berbagai bagian dunia yang berbeda dengan budaya mereka, muncul pertanyaan-pertanyaan dasar yang sama: Siapa aku? Dari mana asalku dan ke mana aku pergi? Mengapa ada kejahatan? Ada apa sesudah hidup ini berakhir? Semua pertanyaan ini kita dapatkan pada tulisan-tulisan suci, dalam puisi dan drama tragedi, juga dalam tulisan-tulisan filsafat. Pertanyaan-pertanyaan itu timbul dari sumber yang sama yang mencari makna dan bergolak di hati manusia. Sesungguhnya jawaban atas pertanyaan itu menentukan ke mana arah tujuan hidup orang....” (FeR, 1-2)

            Tetap tersedia jalan-jalan untuk mengenal Allah. “Karena manusia diciptakan menurut citra Allah dan dipanggil untuk mengenal dan mencintai Allah, ia menemukan ‘jalan-jalan’ tertentu dalam pencariannya agar mencapai pengenalan akan Allah” (KGK 31).

            Yohanes Paulus II selanjutnya menyatakan: “Terdorong oleh hasrat menemukan kebenaran terdalam mengenai keberadaannya, manusia berusaha menemukan unsur-unsur pengetahuan universal yang memampukan mereka memahami diri sendiri dengan lebih baik dan memajukan perwujudan dirinya. Unsur-unsur dasar ini berasal dari rasa pesona yang timbul dalam diri mereka ketika merenungkan alam semesta: manusia mendapatkan diri sebagai bagian dari dunia, dalam suatu tata hubungan dengan orang-orang lain sesama mereka, berbagi situasi yang sama. Dari situlah kemudian dimulai perjalanan yang mengantar mereka kepada penemuan-penemuan ambang-batas baru pengetahuan.

            ....kemampuan berpikir yang khas pada akal-budi manusia menghasilkan cara berpikir yang hebat, dan pada gilirannya, melalui kesimpulan-kesimpulan yang logis dan kesatuan organik dari isinya, dihasilkanlah pengetahuan yang sistematik. Di dalam konteks budaya dan zaman yang berbeda, proses ini membuahkan berbagai sistem pemikiran yang asli” (FeR 4).

            Dalam pandangan Paus Yohanes Paulus II, berbagai sistem pemikiran memajukan berbagai bidang pengetahuan dan memacu perkembangan kebudayaan. Antropologi, logika, sains, sejarah, ilmu bahasa dan sebagainya. “Namun seharusnya hasil-hasil positif yang dicapai tidak mengaburkan fakta bahwa akal-budi, dalam tujuan sepihaknya untuk mencari jati diri manusia, rupanya telah melupakan bahwa pria dan wanita selalu dipanggil untuk mengarahkan langkah mereka pada kebenaran yang melampaui mereka. Terlepas dari kebenaran transenden itu, manusia terkungkung dalam kriteria pragmatik yang didasarkan pada data eksperimental, dalam keyakinan yang salah bahwa teknologi bisa melakukan segalanya. Karena itulah maka akal budi bukan lagi menyuarakan kerinduan manusia kepada kebenaran yang ilahi, namun terpuruk oleh beban berat pengetahuan-pengetahuan pragmatik itu dan lambat laun tidak mampu mengangkat pandangannya lebih tinggi, dan tidak berani menatap kebenaran mengenai keberadaannya” (FeR 5).

            Demi bentuk pengetahuan yang lebih dalam, Paus Yohanes Paulus II mengingatkan perlunya kerendahan hati  yang diperlihatkan praktek Umat Allah. “Jika akal budi mau jujur, maka tentulah ia menghormati dasar-dasar tertentu. Yang pertama adalah bahwa akal budi harus menyadari bahwa pengetahuan manusia adalah suatu ziarah perjalanan yang tak pernah berhenti; yang kedua bahwa jalan pengetahuan itu bukanlah untuk menyombongkan  diri bahwa semuanya adalah hasil perjuangan pribadi; yang ketiga adalah bahwa pengetahuan itu berasal dari sikap “takut akan Allah” yang bersumber dari pengakuan akal budi pada kuasa dan kasih penyelanggaraan ilahi yang mengatasi segala sesuatu” (FeR 18).

            Jika dasar-dasar itu ditinggalkan, manusia terjerumus dalam apa yang di dalam Kitab Suci disebut “kebodohan” dan menjadi ancaman bagi hidup manusia. Orang bodoh mengira sudah mengetahui banyak hal, tetapi sesungguhnya ia tidak dapat mengarahkan pandangannya pada hal-hal yang sungguh penting. Maka ia tidak bisa mengatur pikirannya sendiri dan tidak bisa menempatkan diri dengan sikap yang tepat pada dirinya sendiri dn pada dunia sekelilingnya (Ams 1:7). Maka jika ia berkata “Tidak ada Allah” (bdk Mzm 14:1) dengan sangat jelas ia memerlihatkan betapa kurang pengetahuannya, dan betapa jauh ia dari kebenaran yang penuh dari segala sesuatu, sehubungan dengan asal dan tujuannya.

            Pada hal seharusnya, di dalam berpikir mengenai segala sesuatu itu, manusia dapat sampai kepada Allah. “Sebab orang dapat mengenal Sang Pencipta dengan membanding-bandingkan kebesaran dan keindahan ciptaan-ciptaan-Nya” (Keb 13:5). Inilah Wahyu ilahi tahap pertama, di mana “kitab alam kodrati” jika dibaca dengan tepat oleh akal budi manusia dapat membawa mereka kepada pengetahuan akan Allah. Jika manusia dengan kecerdasannya gagal mengakui Allah sebagai Pencipta segala sesuatu, hal itu bukanlah karena mereka kekurangan sarana, tetapi karena kehendak bebas dan dosa-dosa menghalangi mereka” (FeR 19).

            Maka bagaimana pun juga jalan pertama menuju pengenalan akan Allah adalah dunia. Allah tidak dicari sama sekali terpisah dari dunia, melainkan pada dan di dunia. “Dari gerak dan perkembangan, dari kontingensi, dari peraturan dan keindahan dunia, manusia dapat mengenal Allah sebagai sumber dan tujuan alam semesta” (KGK 32). Santo Paulus menegaskan mengenai mereka yang tidak mengenal Allah: "Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. Sebab apa yang tidak tampak daripada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat tampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih" (Rm 1:19-20). Dan Santo Agustinus berkata: "Tanyakanlah keindahan bumi, tanyakanlah keindahan samudera, tanyakanlah keindahan udara yang menyebar luas, tanyakanlah keindahan langit .... tanyakanlah semua benda. Semuanya akan menjawab kepadamu: Lihatlah, betapa indahnya kami. Keindahan mereka adalah satu pengakuan [confessio]. Siapakah yang menciptakan benda-benda yang berubah, kalau bukan Dia yang Indah  yang tidak dapat berubah" (Serm. 241,2).

            Ditinjau secara demikian, daya kemampuan dan nilai akal budi janganlah dibesarkan lebih dari yang sewajarnya. Hasil penalaran memang bisa benar, tetapi hasil-hasil ini hanya akan mendapatkan maknanya yang sejati jika ditempatkan pada horison yang lebih luas dari iman: “Langkah manusia ditetapkan oleh Allah, tetapi bagaimanakah manusia mengerti jalan hidupnya?” (Ams 20:24)

            Manusia mencapai kebenaran dengan akal budi karena, diterangi oleh iman, mereka menemukan makna yang lebih dalam dari segala sesuatu dan yang terutama dari keberadaan mereka sendiri [bdk. FeR 20].



            Manusia juga dapat mencapai pengetahuan akan Allah melalui pergaulan dengan sesamanya. Maka manusia (dan masyarakat manusia) menjadi jalan pengetahuan akan Allah. “Dengan keterbukaannya kepada kebenaran dan keindahan, dengan pengertiannya akan kebaikan moral, dengan kebebasannya dan dengan suara hati nuraninya, dengan kerinduannya akan ketidakterbatasan dan akan kebahagiaan, manusia bertanya-tanya tentang adanya Allah. Dalam semuanya itu ia menemukan tanda-tanda adanya jiwa rohani padanya. ‘Karena benih keabadian yang ia bawa dalam dirinya tidak dapat dijelaskan hanya dengan asal dalam materi saja’ (GS 18,1), maka jiwanya hanya dapat mempunyai Tuhan sebagai sumber (KGK 33).

 

Manusia Sebagai Jalan Pengetahuan

Manusia dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga dan kemudian melalui kegiatannya memasuki masyarakat. Sejak lahir mereka mengikuti tradisi bahasa dan budaya yang mengenalkan berbagai kebenaran yang dipercaya nyaris secara naluri. Ketika semakin dewasa, kebenaran-kebenaran tertentu diragukan, ditimbang secara kritis, dipikirkan dan dirumuskan kembali. Namun ada lebih banyak kebenaran yang diterima begitu saja dan dipercaya sebagai benar daripada yang mengalami verifikasi. Ini berarti bahwa manusia yang mencari kebenaran, hidup berdasarkan kepercayaan (FeR 31).

            “Kita mempercayakan diri pada pengetahuan yang diterima orang lain. Lalu ada tegangan. Di satu pihak, pengetahuan yang didapat karena percaya bisa dirasakan  sebagai pengetahuan yang tidak sempurna dan perlu disempurnakan dengan mengumpulkan bukti-bukti, di pihak lain, kepercayaan sering lebih kaya daripada sekedar bukti, sebab di dalam kepercayaan itu tersangkut hubungan antar manusia yang menjadi ajang bekerjanya kemampuan orang untuk mengetahui dan juga kemampuan yang lebih dalam untuk percaya kepada orang lain dalam suatu hubungan yang akrab dan bertahan lama. Perlu ditekankan bahwa kebenaran yang dicari dalam hubungan antar pribadi ini bukan pertema-tama kebenaran empiris dan filosofis, melainkan kebenaran mengenai pribadi, yang timbul dari penyingkapan diri. Dan dalam dinamika pemberian diri yang penuh kepercayaan inilah seseorang menemukan kepastian dan keamanan” (FeR 32).

            Secara berangsur-angsur kita menyusun konsep-konsep masalah. Pada hakekatnya manusia mencari kebenaran. Pencarian ini bukan hanya untuk mencapai kebenaran yang bersifat sebagian, empiris dan ilmiah; juga tidak sekedar untuk mendasari tindakan pribadi di dalam pengambilan keputusan. Mereka mencari kebenaran terdalam yang dapat menjelaskan makna hidup. Suatu pencarian yang hanya akan mencapai tujuannya jika telah mencapai kebenaran mutlak. “Syukurlah karena kemampuan berpikir yang ada padanya, manusia dapat menjumpai dan mengakui kebenaran terakhir itu. Kebenaran seperti itu – yang sangat menentukan dan penting bagi hidup – dicapai bukan hanya melalui akal budi, tetapi juga dengan memercayai apa yang telah dicapai pihak lain yang dapat menjamin autentisitas dan kepastian dari kebenaran itu. Maka tak pelak, kemampuan untuk memercayakan diri satu sama lain dan keputusan untuk bertindak demikian merupakan tindakan manusia yang signifikan dan ekspresif” (FeR 33).

            Tak boleh dilupakan bahwa beroperasinya akal budi perlu ditopang oleh dialog yang diwarnai kepercayaan dan persahabatan yang tulus. Diperlukan suatu institusi, suatu komunitas dengan iklim tertentu di mana dialog dapat dilancarkan tanpa takut. Suasana prasangka dan curiga akan sangat merugikan pencarian kebenaran dan dapat mematikan dinamika pemikiran.



            Katekismus selanjutnya menyatakan [KGK 34] bahwa baik: Dunia dan manusia memberi kesaksian bahwa mereka dalam dirinya sendiri tidak memiliki sebab mereka yang pertama serta tujuan mereka yang terakhir... Melalui "jalan-jalan" yang berbeda manusia dapat sampai kepada pengertian bahwa ada satu realitas, yang adalah sebab pertama dan tujuan akhir dari segala-galanya, dan realitas ini ‘dinamakan Allah oleh semua orang’ (Tomas Aqu., STh. 1,2,3).

            Namun telah dikatakan di depan, konsep-konsep pengertian bisa keliru disusun. Hal itu disebabkan karena keterbatasan bahasa manusia dalam menggambarkan Allah yang tidak terbatas. Bahkan konsep tentang Allah pun bisa keliru. Maka perlu sekali untuk tanpa henti memurnikan bahasa kita tentang Dia dari segala gambaran keterbatasan dan ketidaksempurnaan, dengan kesadaran bahwa kita tak akan pernah dapat memaparkan sepenuhnya misteri Allah yang tiada terbatas. Seorang penulis menyampaikan kritik: “Allah dialami dan dirujuk sebagai suatu agama, suatu gereja, suatu filsafat moral, suatu pedoman bagi keutamaan pribadi, suatu tuntutan akan keadilan, atau sebagai suatu nostalgia akan situasi yang benar. Bagi kebanyakan dari kita, kepercayaan kepada Allah adalah seperti berikut ini: Tuhan adalah agama, dan agama merupakan suatu cara hidup – pergi ke gereja, mendapat bimbingan dari Kitab Suci; melakukan seks di dalam rangka perkawinan monogami; tidak berdusta, berbohong atau mengumpat; prinsip demokrasi; estetika (cita rasa seni) yang benar; ramah dan bersikap baik satu sama lain.

            Maka bagi kebanyakan dari kita, Allah lebih merupakan suatu prinsip moral dan intelektual dari pada sebagai seorang pribadi, dan komitmen kita kepada prinsip ini berjalan mengikuti tangga nada mulai dari semangat yang kuat, di mana orang bersedia mati untuk suatu tujuan, lalu melemah loyo sampai pada suatu perasaan nostalgia yang samar-samar, di mana Allah dan agama mendapatkan tipe status kedudukan dan nilai kepentingan yang kurang lebih simbolis saja, sama seperti yang diberikan kepada Ratu Inggris, yaitu sekedar sebagai jangkar simbolis bagai cara hidup tertentu namun nyaris tidak penting dalam jalannya kehidupan sehari-hari. Ini tidak sungguh-sungguh buruk, tetapi  menunjukkan bukti bahwa tak seorang pun sungguh-sungguh peduli pada Tuhan. Kita tertarik pada soal-soal keutamaan, keadilan, cara hidup yang tepat, atau mungkin di dalam membangun komunitas yang beribadat, yang bersedia saling membantu, dan memerjuangkan keadilan, namun pada ujung-ujungnya ada begitu banyak bukti yang menunjukkan bahwa filfasat moral, naluri manusia dan kepentingan pribadi tampil lebih penting di dalam motivasi semua kegiatan ini daripada kasih dan rasa syukur yang memancar dari hubungan pribadi dengan Tuhan yang hidup” (Ronald Rolheiser, The Shattered Lantern)

            Sesungguhnya: “Daya kemampuan manusia me-mungkinkan-nya untuk mengenal Allah sebagai pribadi. Tetapi supaya manusia dapat masuk ke dalam hubungan yang mesra dengan Allah, maka Allah berkenan menyatakan diri kepada manusia dan memberikan rahmat kepadanya supaya dengan kepercayaan dapat menerima wahyu ini” (KGK 35).

[BERSAMBUNG]