Daftar Blog Saya

Tampilkan postingan dengan label Musa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Musa. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Desember 2022

MUSA

 


Musa adalah pendiri dan pemimpin pertama bangsa Israel. Tuhan memilih Musa untuk tugas ini, yang meliputi misi memimpin Israel keluar dari Mesir, melewati padang gurun Sinai, menuju ke Tanah Terjanji Kanaan (Kel 3:1-22).

      Nama “Musa” dikaitkan dengan bahasa Ibrani masa, “menarik keluar”. Kaitan ini dibuat dalam Kel 2:10, di mana puteri Firaun menamainya Musa karena ia “menariknya [keluar] dari air”. Yang lain mendapatkan permainan kata dengan kata kerja bahasa Mesir msi, yang berarti “melahirkan”.

 

i. Hidupnya dan Kepemimpinannya

ii. Atribut dan Gelar Musa

A. Penulis

B. Pengantara

C. Imam

D. Pemberi Hukum

E. Nabi

iii. Musa Dalam Perjanjian Baru

 

i. Hidupnya dan Kepemimpinannya

Satu-satunya sumber informasi mengenai hidup Musa adalah Kitab Suci. Pada abad kesembilan belas, beberapa ahli meragukan keberadaan tokoh sejarah Musa, namun para ahli modern sekarang pada umumnya menerima Musa sebagai tokoh sejarah yang hidup pada paroh kedua dari milenium kedua SM.

      Menurut Kel 2:1 dan silsilah Kel 6:16-27, Musa berasal dari suku Lewi dari puak Kohat dan putera Amram dengan Yokhebed. Kakaknya yang laki-laki adalah Harun dan yang perempuan Miryam (Bil 26:59). Pada waktu kelahirannya, Israel adalah bangsa budak di Mesir dan karena jumlahnya bertambah begitu cepat maka bayi-bayi laki-laki Ibrani yang baru lahir harus segera dibunuh di Sungai Nil (Kel 1:22). Namun Musa lolos dari nasib demikian karena ibunya menyembunyikan dia dan akhirnya menaruhnya di sebuah keranjang kedap air hingga mengambang di sungai Nil (Kel 2:1-4). Lalu bayi itu diketemukan oleh puteri Firaun dan diangkat anak dalam keluarga kerajaan Mesir (Kel 2:5-10). Maka beralasanlah jika kemudian Musa mendapatkan semua hak dan pendidikan sebagai bangsawan Mesir (Kis 7:22).

      Setelah beranjak dewasa, Musa menyaksikan penindasan yang mengerikan atas orang-orang Ibrani dan sedemikian terusik hatinya sehingga ia membunuh seorang pengawas Mesir yang sedang memukuli pekerja Ibrani (Kel 2:11-12). Takut akan konsekuensi perbuatannya, Musa melarikan diri ke Midian (Kel 2:15). Di sana ia berjumpa dengan Yitro (Rehuel), seorang imam Midian yang mempunyai tujuh orang puteri, yang salah seorang di antaranya, Zipora, dikawinkan Yitro dengan Musa; putera mereka diberinama Gersom (Kel 2:16-22).

      Setelah beberapa tahun Musa tinggal di Midian, Tuhan memanggil Musa dari suatu semak bernyala di Gunung Horeb: “"Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub..... sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir” (Kel 4:6.10). Pada mulanya Musa tidak mau menerima amanat itu tetapi akhirnya ia pulang ke Mesir menuntut pembebasan Israel (Kel 5:1). Penolakan Firaun untuk membebaskan bangsa Yahudi dihancurkan dengan berbagai tulah yang ditimpakan Tuhan, menunjukkan kuasaNya yang lebih besar. Tulah-tulah itu memuncak dengan kematian setian anak sulung Mesir (Kel 7—12). Anak-anak Israel terlewatkan dari tulah yang mematikan itu karena Tuhan sudah menyuruh setiap keluarga untuk mengoleskan darah anak domba yang tidak bercacat pada jenang pintu rumah mereka, sebagai “korban Paskah bagi Tuhan yang melewati rumah-rumah orang Israel” (Kel 12:27).

      Setelah suku-suku Israel dibebaskan dari belenggu perbudakan, Musa memimpin mereka menuju Gunung Sinai, di mana Tuhan membuat suatu perjanjian dengan Israel sebagai suatu bangsa dan menetapkan hukum bagi kehidupan mereka (Kel 19—24). Musa dipilih menjadi pengantara perjanjian itu, sebagai penengah yang menyampaikan petunjuk-petunjuk Tuhan kepada bangsa Israel (Kel 20:18-19; Ul 5:5.22-23).

      Namun perjanjian Sinai yang baru saja ditetapkan segera dilanggar oleh bangsa Israel ketika mereka beribadat kepada patung anak lembu dari emas (Kel 32:1-29). Maka perjanjian itu harus diperbarui lagi dengan perantaraan Musa (Kel 34:10-28), yang berusaha menyelamatkan nyawa bangsa yang dipimpinnya (Kel 32:30-32). Israel harus menghabiskan waktu bertahun-tahun di Sinai sebelum berangkat menuju Tanah Terjanji (Bil 10:11-13). Selama periode pengembaraan padang gurun, Musa melanjutkan peranannya sebagai pemimpin dan pemberi hukum, pengantara dan pembela bangsa Israel (Bil 11—36). Pada suatu kesempatan Musa sendiri melanggar iman kepada Tuhan dan atas pelanggarannya itu ia tidak diperkenankan memasuki Kanaan (Bil 20:2-13; 27:12-14).

      Lalu, pada akhir hayatnya, Musa memberikan pidato perpisahan yang kuat di dataran Moab. Khotbahnya itu menjadi sebagian besar bahan dari kitab Ulangan. Setelah itu Musa meninggal dalam usia 120 tahun, setelah menyerahkan kepemimpinan kepada penggantinya, Yosua (Ul 34:1-9). Kitab Ulangan diakhiri dengan kata pujian yang luar biasa: “Seperti Musa yang dikenal Tuhan dengan berhadapan muka, tidak ada lagi nabi yang bangkit di antara orang Israel, ..... dalam hal segala perbuatan kekuasaan dan segala kedahsyatan yang besar yang dilakukan Musa di depan seluruh orang Israel” (Ul 34:10-12).

 

ii. Atribut dan Gelar Musa

Sulit sekali untuk tidak berlebihan dalam menempatkan Musa dalam sejarah Israel dan di dalam perkembangan sejarah keselamatan. Agama Yahudi, Kristen dan Islam semuanya menghormati Musa sebagai orang yang sangat suci, dan tradisi Kristen pada khususnya menganggap Musa sebagai model awal (tipologi) Yesus Kristus, khususnya di dalam perannya sebagai pembebas, pemberi hukum, dan pengantara di antara Tuhan dan manusia.

 A. Penulis

Beberapa ayat menggambarkan Musa sebagai orang terpelajar yang mencatat pertempuran-pertempuran utama (Kel 17:14), menuliskan perintah-perintah Tuhan (Kel 24:4), dan memelihara catatan perjalanan dan daftar tempat perkemahan Israel di padang gurun (Bil 33:2). Ia juga dilukiskan sebagai pengarang kode hukum Kitab Ulangan (Deuteronomis, Ul 31:9) dan Nyanyian Musa yang puitis (Ul 31:19).Tradisi Yahudi dan Kristen mendapatkan dari sini dan dari pernyataan-pernyataan serupa dalam Perjanjian Baru bahwa Musa adalah pengarang seluruh kitab-kitab Taurat, Pentateukh (bdk Yoh 5:46-47; Rm 10:5).

 B. Pengantara

Orang-orang Israel yang ketakutan memilih Musa sebagai pengantara mereka di Sinai (kel 20:18-19; Ul 5:5.22-23). Dari sejak saat itu dan selanjutnya, Musa berbicara kepada bangsa Israel menyampaikan sabda Allah, dan berbicara kepada Tuhan atas nama bangsa Israel. Ia membela mereka ketika karena dosa-dosa mereka akan dihukum (Kel 32:32-34; Bil 14:13-20; Mzm 106:23). Dari semua nabi, Musa bersahabat sangat dekat dengan Tuhan (33:7-11; Bil 7:89; 12:3-8).

 C. Imam

Musa disebut sebagai imam dalam Mzm 99:6. Harun adalah imam besar bagi Israel, tetapi Musa adalah pemimpin upacara dalam rangka penahbisan Harun dan anak-anaknya (Kel 29:1-46; Im 8:1-36).

 D. Pemberi Hukum

Musa memberikan kepada Israel Sepuluh Perintah Allah (Kel 24:12; 31:18; Ul 5:22), dan berb agai petunjuk tambahan lainnya (Kel 25—31; Im 1—27; Bil 1—10; Ul 5—26). Karena itu ia dielu-elukan sebagai guru Israel (Sir 45:1-5).



 E. Nabi

Musa dihormati sebagai nabi yang terbesar dari semua nabi lainnya (Ul 34:10) dan menjadi model bagi nabi-nabi masa depan (Ul 18:15-18).

 

iii. Musa Dalam Perjanjian Baru

Musa paling banyak disebut ketimbang tokoh-tokoh Perjanjian Lama lainnya di dalam Perjanjian Baru. Suatu tempat utama diberikan kepada Musa dalam peristiwa Transfigurasi, Peralihan Rupa Yesus, yang menyingkapkan Yesus sebagai Musa baru yang lebih besar; Musa ditampilkan sebagai wakil dari Taurat, sedang Elia sebagai wakil nabi-nabi (Mat 17:1-8; Mrk 9:2-18; Luk 9:28-36). Bersama-sama, mereka menunjuk pada pembentukan Israel baru dan penyingkapan kedatangan Kristus yang Mulia (KGK 554-556). Injil-injil Sinoptik menyatakan juga hubungan Musa yang erat dengan Hukum (bdk Mat 8:4; 19:7-8; 22:24; Mrk 1:44; 7:10; 10:3-4; 12:9; Luk 5:14; 20:28).

      Musa juga dilihat secara tipologis, seperti dalam Injil Yohanes: “sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus” (Yoh 1:17). Di tempat lain Paulus memandang peristiwa Keluaran sebagai tipologi dari baptis (1 Kor 10:2). Lebih jauh lagi Paulus mengembangkan kontras antara Hukum Musa dan Injil Kristen dalam 2 Kor 3:7-18. Di situ ia menulis tentang  “pelayanan yang memimpin kepada penghukuman” (bdk Kel 34:29-35) dan “pelayanan yang memimpin kepada pembenaran” (2 Kor 3:9) yang dilakukan Kristus dan kontras antara harapan Kristen dengan cara Musa menyembunyikan cahaya wajahnya di balik kerudung, “supaya mata orang-orang Israel jangan melihat hilangnya cahaya yang sementara itu” (2 Kor 3:13). Dengan cara yang serupa, pidato Stefanus yang panjang dalam Kis 7:2-53, penolakan Musa oleh rakyatnya sendiri secara implisit dibandingkan dengan penolakan Kristus oleh orang-orang Yahudi (Kis 7:25-29.39-40.52).

      Surat Ibrani 3:1-6 menekankan bahwa Kristus lebih unggul dari Musa sekalipun:

Pandanglah kepada Rasul dan Imam Besar yang kita akui, yaitu Yesus, yang setia kepada Dia yang telah menetapkan-Nya, sebagaimana Musapun setia dalam segenap rumah-Nya. Sebab Ia dipandang layak mendapat kemuliaan lebih besar dari pada Musa, sama seperti ahli bangunan lebih dihormati dari pada rumah yang dibangunnya. Sebab setiap rumah dibangun oleh seorang ahli bangunan, tetapi ahli bangunan segala sesuatu ialah Allah. Dan Musa memang setia dalam segenap rumah Allah sebagai pelayan untuk memberi kesaksian tentang apa yang akan diberitakan kemudian, tetapi Kristus setia sebagai Anak yang mengepalai rumah-Nya; dan rumah-Nya ialah kita, jika kita sampai kepada akhirnya teguh berpegang pada kepercayaan dan pengharapan yang kita megahkan.

Kamis, 29 Desember 2022

PERISTIWA KELUARAN, KITAB KELUARAN

 


Peristiwa Keluaran  

(Bahasa Yunani, exod “keluar”). Keberangkatan bangsa Israel meninggalkan Mesir. Kisahnya menggambarkan penderitaan bangsa Israel di Mesir, munculnya Musa dan karyanya, sepuluh bencana, dan perjalanan terakhir keluar dari Mesir.

 I. Kisah Keluaran

A. Belenggu [Perbudakan] di Mesir

B. Melepaskan Diri dari Mesir

C. Menyeberang Laut

D. Menuju Sinai

II. Waktu Terjadinya Keluaran

III. Teologi Keluaran

IV. Keluaran Dalam Perjanjian Baru

 

I. Kisah Keluaran

A. Belenggu [Perbudakan] di Mesir

Keturunan Yakub bertambah banyak di Mesir, dan “Orang-orang Israel beranak cucu dan tak terbilang jumlahnya; mereka bertambah banyak dan dengan dahsyat berlipat ganda, sehingga negeri itu dipenuhi mereka” (Kel 1:7). Tetapi nasib mereka berubah dramatis di bawah pemerintahan firaun-firaun baru yang melupakan semua kebaikan yang telah dibuat Yusuf bagi Mesir, dan yang menindas orang-orang Israel dan menjadikan mereka budak-budak (tentang latar belakang ini terkait riwayat Yusuf) dan menjadikan mereka tenaga kerja paksa untuk membangun (atau membangun kembali) kota-kota Pitom dan Raamses.

      Beberapa cerita Kitab Suci mengenai belenggu Mesir cocok dengan apa yang kita ketahui dari sumber-sumber dari Mesir. Misalnya tentang jumlah kerja wajib (Kel 5:8.13-14) yang biasa dibebankan kepada tawanan asing. Demikianlah catatan-catatan Mesir sering mengungkapkan keluhan orang Mesir yang “frustrasi pada para pekerja” yang menuntut jam-jam istirahat atau dibebaskan dari pekerjaan, seperti yang dilakukan Firaun ketika Musa dalam Kel 5 meminta agar umatnya diperbolehkan beribadat kepada Tuhan.

 


B. Melepaskan Diri dari Mesir

Musa dipilih oleh Tuhan untuk memimpin bangsanya keluar dari belenggu perbudakan. Ia menggunakan kuasa ilahi yang diberikan kepadanya untuk menghancurkan kekerasan kepala Firaun, dengan jaminan dari Allah bahwa kaum Israel akan dibebaskan (Kel 6:1-5). Lalu kisahnya berlanjut dengan pertarungan antara Musa dengan imam-imam Mesir (Kel 7:11.22; 8:7.18) dan kemudian sepuluh tulah di Mesir (Kej 7:14-12:30; Mzm 78:42-51; 105:28-36) yang memuncak dengan peristiwa Paska.

      Orang-orang Ibrani tinggal di kawasan Pitom dan Raamses (Kel 1:11). Pitom terletak di Tell el Ratabeh, dekat wadi Tumilat dan di sebelah selatan Raamses. Sedangkan Raamses boleh jadi terletak di Qantir. Sesudah meninggalkan kedua kota ini, orang-orang Israel menuju Sukot (Kel 12:37; mungkin kota Theku di Tell el Mashkhuta, sebelah timur Pitom). Jarak dari Pitom-Raamses sekitar  tiga puluh lima kilometer, walaupun banyak orang menempuh jarak kurang dari itu bergantung pada titik keberangkatan mereka.

     C. Menyeberang Laut

Dari Sukot iring-iringan orang Israel terus bergerak ke Etam (Kel 13:20) dan kemudian ke Pi-Hahirot di dekat laut (Kel 14:2). Dari tempat itu orang Israel yang terjepit di antara laut dan pasukan Mesir yang mengejar diberi jalan pelarian menyibak laut dengan mujizat dari Tuhan (Kel 14:21-31).

      Para ahli sudah lama memperdebatkan laut yang diseberangi ini. Dalam bahasa Ibrani, tempat ini disebut yam sup, artinya “Laut Teberau”. Kitab Suci berbahasa Yunani Septuaginta mengartikannya Laut Merah, yaitu Teluk Suez, yang  ada di antara Mesir bagian atas dengan Jazirah Sinai. Ini konsisten dengan 1 Raj 9:26 yang menyatakan bahwa Salomo menempatkan armada kapal dagangnya di yam sup, yang merujuk pada Teluk Aqaba, suatu keluk Laut Merah yang kedua ke daratan. Di sebelah timur pantai Jazirah Sinai. Yang menarik, ada sejumlah varietas teberau (gelagah) air asin yang tumbuh terus di sepanjang tepian Terusan Suez hingga hari ini.

      Tempat lain yang mungkin bagi laut penyeberangan ini meliputi sejumlah danau kecil yang berderet-deret di perbatasan antara Mesir dan Sinai di zaman kuno. Sejauh yang ditunjukkan oleh penelitian, Danau Pahit, Danau Timsa dan Danau El-Balla semuanya ditumbuhi teberau air asin dan mungkin dulu lebih banyak airnya daripada sekarang.

 D. Menuju Sinai

Setelah menyeberangi laut teberau, orang Israel menyanyikan lagu pujian kepada Tuhan atas pembebasan mereka (Kel 15) dan segera menuju ke gurun Sur selama tiga hari (Kel 15:22) dan akhirnya mencapai Elim (Kel 15:27). Dari sana, mereka melanjutkan ke Gurun Sin. “Pada hari yang kelima belas bulan yang kedua, sejak mereka keluar dari tanah Mesir” (Kel 16:1) mereka mencapai Sinai. Rute yang mereka tempuh melintasi Sinai terutama ditentukan oleh geografi. Ada tiga rute yang tersedia. Rute bagian utara tidak mungkin mereka lalui sebab di sana terdapat benteng-benteng Mesir. Rute di bagian tengah Sinai juga tidak mungkin bagi mereka mengingat situasinya yang sangat kering di dataran tengah. Maka yang tersisa hanyalah praktis rute sebelah selatan, yaitu rute yang akhirnya membawa mereka ke Kades-barnea.

 II. Waktu Terjadinya Keluaran

Para ahli modern terbagi mengenai waktu terjadinya Keluaran. Sebagian mengikuti pembacaan kronologi Kitab Suci secara kaku, menempatkannya pada abad kelimabelas SM. Yang lain menggunakan penafsiran data arkeologis sebagai dasarnya, menempatkan Keluaran pada abad ketigabelas SM. Persoalan itu tidak dapat diselesaikan dengan mudah, karena Firaun yang keras kepala yang ditampilkan dalam Kitab Suci tidak disebut namanya.

      1. Keluaran di Abad Kelimabelas. Penjangkaan masa Kitab Suci didasarkan pada 1 Raj 6:1 yang menunjukkan bahwa Salomo memulai pembangunan Bait Allah Yerusalem pada tahun keempat pemerintahannya, sekitar 480 tahun sesudah keluaran dari Mesir. Dihitung mundur dari tahun 966 SM ketika fondasi Bait Allah dibangun, kita sampai pada terjadinya keluaran sekitar tahun 1446 SM. Waktu yang ditunjukkan ini dikuatkan secara tidak langsung oleh Hak 11:26, ketika Yefta menyatakan bahwa Israel telah menduduki negeri-negeri sebelah timur Sungai Yordan itu sepenuhnya tiga ratus tahun – sesuatu yang mustahil jika Keluaran terjadi dalam abad ketiga belas.

      Berdasarkan perhitungan ini, Firaun pada masa Eksodus tampaknya adalah Tutmoses III (1479-1425 SM), atau mungkin Amenhotep II (sekitar 1427-1400 SM). Soal kronologi Mesir sendiri juga masih diperdebatkan, maka sulit sekali dipastikan. Bagaimanapun, para arkeolog telah menemukan banyak fasilitas penyimpanan di sebelah timur Delta Nil, di tempat yang sama dengan kawasan kota-kota Pitom dan Raamses yang disebutkan dalam Kel 1:11 yang berasal dari abad kelimabelas, dan mungkin merupakan depot logistik militer untuk medan barat pada masa Tutmoses III. Lempeng-lempeng yang bertuliskan nama Firaun ini ditemukan di salah satu situs. Begitu pula makam Rekhmire, menteri Tutmoses III menunjukkan budak-budak Semit dan Nubianlah yang membuat bata-bata di bawah supervisi para mandor bersenjata untuk membangun kuil di Karnak (bdk Kel 5:6-21). Memang tak satupun dari temuan ini yang membuktikan berasal dari abad kelima belas untuk menunjukkan waktu Keluaran, tetapi bukti-bukti ini menunjukkan gambaran sejarah yang konsisten dengan penjangkaan waktu di dalam Kitab Suci.

      2. Keluaran pada Abad Ketigabelas.

Para ahli modern pada umumnya berpendapat peristiwa Keluaran terjadi kurang lebih dua abad lebih kemudian daripada hasil tafsiran kronologi bacaan Kitab Suci secara harfiah. Teks semacam 1 Raj 6:1 sering berbicara simbolis (misalnya 480 tahun = 12 generasi), dan catatan Kel 1:11 diartikan bahwa kota perbekalan Raamses dibangun oleh salah seorang raja bangunan Mesir yang paling terkenal, Firaun Ramesses II (sekitar 1279-1213 SM). Maka Ramesses II diidentikkan dengan Firaun yang diceritakan dalam Kisah Keluaran.

      Dari lapangan arkeologis dikatakan bahwa Keluaran pada abad ketigabelas cocok dengan situasi di Palestina di sekitar waktu itu. Misalnya, bebera arkeolog menyatakan bahwa kota Yerikho, yang tampil utama dalam periode penaklukan Kanaan oleh orang Israel (Yos 6) belum dihuni orang pada abad kelimabelas, tetapi sudah ada penduduknya pada abad ketigabelas. Sayangnya erosi besar pada situs Yerikho kuno (Tell es-Sultan) menjadikan sulit sekali merekonstruksi sejarah pendudukan di sana. Begitu pula banyak kota penggalian di Palestina menunjukkan kerusakan lapisan-lapisan tanah dari abad ketiga belas sebagai petunjuk bahwa terjadi konflik yang amat luas di Kanaan pada masa itu. Ini dikatakan cocok sekali dengan gambaran penyerbuan Israel dan penaklukan negeri itu pada abad ketiga belas.

      Pada akhirnya, peristiwa Keluaran lebih condong ditempatkan pada abad kelima belas SM. Kronologi Kitab Suci dengan tegas mengarahkan ke sini, dan bukti arkeologis sama-sama bisa menopang kedua aliran pendapat. Sesungguhnya, temuan arkeologi modern dapat ditafsirkan berbeda oleh ahli yang berbeda, maka tampaknya tidak bijaksana untuk menjadikan data seperti itu sebagai dasar primer bagi peninjauan ulang penjangkaan waktu Kitab Suci.

 

III. Teologi Keluaran

Tema pokok dari Keluaran dinyatakan oleh Tuhan kepada Musa: “Aku akan mengangkat kamu menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu, supaya kamu mengetahui, bahwa Akulah, Tuhan, Allahmu, yang membebaskan kamu dari kerja paksa orang Mesir. Dan Aku akan membawa kamu ke negeri yang dengan sumpah telah Kujanjikan memberikannya kepada Abraham, Ishak dan Yakub, dan Aku akan memberikannya kepadamu untuk menjadi milikmu; Akulah Tuhan" (Kel 6:7-8)

      Keluaran merupakan perluasan dari janji kepada Abraham bahwa Israel akan diberi tanah Kanaan (Kel 3:8; 6:8). Peristiwa itu merupakan alasan perayaan peringatan sebagai suatu kemenangan besar bagi umat Israel berkat kuasa Tuhan (bdk Mzm 78:12-14; 106:8-10; 135:8-11). Namun kenangan akan Keluaran lebih dari sekedar perayaan kejadian masa lalu; kenangan itu merupakan pernyataan terus menerus karya Allah yang penuh kuasa bagi umatNya. Melalui peringatan-peringatan hari raya yang dilaksanakan umat sebagai kenangan akan karya keselamatan Tuhan, maka karya Tuhan itu diwujudnyatakan dan dihadirkan kepada setiap generasi baru (KGK 1363).

      Dalam kisah Keluaran, landasan dasar Israel sebagai suatu bangsa dapat dilacak kembali, bukan pada penaklukan Kanaan, melainkan pada campurtangan langsung yang dilakukan Tuhan di dalam menolong umatNya. Rujukan-rujukan pada Keluaran sering dilakukan para nabi, yang melihat harapan di dalam kuasa Tuhan yang menyelamatkan sekalipun mereka berkeluh kesah mengenai ketidaksetiaan umat Yahudi (Yes 10:26; 51:10; 63:11; Yer 31:32; Yeh 20:5; Mi 6:4). Pembebasan merupakan suatu tipologi bagi keselamatan yang bakal datang (bdk Yes 41:18; 43:19; 48:21; 49:10).

 IV. Keluaran Dalam Perjanjian Baru

Keluaran merupakan pola yang menentukan sebagai dasar pengharapan Israel untuk keselamatan dan pembebasan. Dengan Keluaran terdapat preseden historis bagi kepercayaan pada kekuatan Yahweh yang menyelamatkan. Keluaran mendasari antisipasi Yesaya atas kepulangan ke Yehuda setelah Pembuangan Babilonia (Yes 40-66), namun yang paling penting bahwa Keluaran menjadi penting bagi Perjanjian Baru dan pembebasan yang dilaksanakan oleh Mesias. Dengan demikian Keluaran merupakan tipologi penebusan Kristen. Penggenapan akhir dari rencana keselamatan Tuhan ada pada Kristus, sehingga Paulus menulis: “Untuk menjadi pengikut Musa mereka semua telah dibaptis dalam awan dan dalam laut. Mereka semua makan makanan rohani yang sama dan mereka semua minum minuman rohani yang sama, sebab mereka minum dari batu karang rohani yang mengikuti mereka, dan batu karang itu ialah Kristus” (1 Kor 10:2-4)

      Pembebasan Israel dari Mesir merupakan bayangan awal bagi pembebasan kita dari perbudakan dosa (Rm 6:6-7; bdk 1 Kor 10:1-2); pesta Paska Yahudi mengantisipasi Kristus, Anak Domba Allah, yang datang membebaskan manusia dari kematian dan yang dagingNya menjadi santapan dalam Ekaristi (1 Kor 5:7-8; 1 Ptr 1:18-19); Ekaristi juga dipandang seperti manna pemberian Tuhan di padang gurun (Yoh 6:31-35; 1 Kor 10:1-4); akhirnya, Kemah Pertemuan merupakan tipologi kemanusiaan Kristus, yang memilih tinggal di antara umatNya melalui Inkarnasi (Yoh 1:14).

Baca Juga: MUSA

 

Kitab Keluaran   

Kitab kedua dari Perjanjian Lama dan kitab kedua dari Pentateuch atau kelima kitab Taurat Musa. Judul dalam bahasa Ibrani dari Kitab Keluaran adalah we’lleh semot, yang berarti “dan inilah nama-nama” (Kel 1:1), yang mengatakan ulang Kej 46:9: “”Inilah nama para anak Israel yang datang ke Mesir bersama-sama dengan Yakub; mereka datang dengan keluarga masing-masing”. Judul itu dengan demikian menunjukkan bahwa buku ini merupakan kelanjutan kisah dari Kitab Kejadian, yang berakhir dengan keberadaan keluarga Yakub menetap di Mesir. Kitab Suci berbahasa Yunani Septuaginta menggunakan judul Exodos, artinya, “berangkat” atau “titik tolak” menggambarkan isi karya tulis itu: keberangkatan Israel keluar dari Mesir. Kitab Suci Vulgata berbahasa Latin menggunakan judul itu juga: Liber Exodus, Kitab Keluaran.

      Kitab Keluaran ditandai oleh dua peristiwa yang sangat penting di dalam sejarah panjang Perjanjian Lama – keberangkatan orang Israel dari Mesir dipimpin oleh Musa, dan Perjanjian Sinai. Di dalam Keluaran, riwayat para Bapa Bangsa diteruskan dalam pembentukan Israel sebagai suatu bangsa melalui Perjanjian Sinai dan pembaruannya nanti setelah umat Allah menyembah berhala.



 

I. Pengarang dan Waktu Penulisan

II. Isi

III. Maksud dan Tema

A. Menunjukkan Kuasa Tuhan

B. Perjanjian Suatu Kerajaam Imam

C. Pembaruan Perjanjian

 

I. Pengarang dan Waktu Penulisan

Menurut tradisi, pengarang dari seluruhPentateuch atau kelima kitab Taurat Musa adalah Musa. Para ahli modern sering lebih suka menganggap kitab Keluaran sebagai kumpulan kisah dan tradisi hukum yang mula-mula disampaikan secara lisan dan kemudin dalam bentuk catatan tertulis melalui sejarah panjang Israel (lihat Pentateuch untuk bahasan mengenai hipotesis berbagai sumber), dan akhirnya menerima bentuk akhirnya jauh di masa kemudian.

      Di pihak lain pernyataan bahwa Musa pengarang kitab ini tidak hanya didukung oleh tradisi Yahudi dan Kristen, tetapi oleh kitab ini sendiri. Di dalam Perjanjian Baru, Yesus menggambarkan Kitab Keluaran sebagai “kitab Musa” (Mrk 12:26). Naskah kitab Keluaran menunjukkan sejumlah ciri yang mengingatkan kita pada kesusasteraan, kode hukum, dan perjanjian dari kawasan Timur Dekat pada abad kelima belas SM, misalnya Kode Hammurabi (bdk Kel 21-23). Uraian Kemah Pertemuan serupa dengan uraian tempat suci Mesir dan dari kalangan Ugarit dari milenium kedua SM. Ciri-ciri ini dengan kuat menunjukkan bahwa Keluaran ditulis sekurangnya mendekati zaman Musa.

 

II. Isi

I. Keluaran dari Mesir (1:1-18:27)

A. Israel Diperbudak di Mesir (1:1-22)

B. Kelahiran dan Panggilan Musa (2:1-4:31)

C. Musa dan Harun Menuntut Kebebasan Israel (5:1-7:13)

D. Sepuluh Tulah (7:14-11:10)

E. Penetapan Paskah (12:1-50)

F. Keluaran (12:51-15:27)

G. Perjalanan Menuju Sinai

II. Perjanjian (19:1-40:38)

A. Perjanjian Sinai (19:1-24:18)

B. Kemah Pertemuan dan Tabut Perjanjian (25:1-31:18)

C. Pelanggaran Perjanjian (32:1-33:23)

D. Pembaruan Perjanjian (34:1-35)

E. Persiapan dan P|embuatan Kemah Suci (35:1-40:33)

F. Yahweh Berdiam Di Kemah Suci (40:34-38)

 

III. Maksud dan Tema

Kitab Keluaran melanjutkan kisah sesudah Kitab Kejadian berakhir. Kitab Kejadian dianggap sebagai poros putaran Taurat karena peristiwa Perjanjian Sinai. Perjanjian Sinai hanya mungkin karena campur tangan langsung oleh Tuhan dalam melaksanakan pembebasan umatNya keluar dari Mesir. Untuk melaksanakan karya itu Tuhan memilih Musa. Kitab ini didominasi oleh dua tokoh: Musa yang menjadi pengantara Perjanjian, dan pemberi hukum kepada orang Israel; dan Tuhan Pencipta yang mengasihi yang menganugerahkan perjanjian.

 

A. Menunjukkan Kuasa Tuhan

Keluaran dari Mesir (Kel 1:1-18:27) memulai gambaran keadaan keturunan Yakub yang menetap di Mesir (bdk Kej 37:2--50:26) dan diperbudak. Setia kepada janji yang diberikan kepada Abraham Tuhan membangkitkan seorang tokoh yang luar biasa, Musa. Tuhan mengungkapkan diri kepada Musa dan menyatakan namaNya adalah Yahweh, Allah para Bapa Bangsa (Kel 3:13-15). Musa diutus tetapi menerima ia perutusan itu dengan enggan; namun ternyata bahwa ia cocok untuk tugas besar yang diberikan kepadanya: ia menantang Firaun dan akhirnya berhasil membebaskan Israel. Kemenangan itu didapat melalui Allah yang menunjukkan kuasanya, bukan hanya melampaui dewa-dewa palsu dari Mesir, tetapi juga berkuasa atas segala tata ciptaan, sebagaimana diwujudkan dalam berbagai tulah bencana yang menimpa Mesir. Puncak dari bagian pertama kitab ini adalah Paskah (Kel 12:1-27).



      Setelah memenangkan kebebasan bagi umat Israel, Musa memimpin bangsa itu keluar dari Mesir ke kaki Gunung Sinai melintasi gurun pasir (Kel 13:17—18:27). Perjalanan itu luar biasa, ditandai lagi oleh campur tangan Tuhan ketika membelah air Laut Merah dan menghancurkan tentara Firaun (Kel 14:1-29).

 

B. Perjanjian Suatu Kerajaan Imam

Bagian kedua dari kitab (Kel 19:1-40:38) berkaitan dengan perjanjian (bab 19 -24), penjabaran ketentuan-ketentuannya menjadi Hukum Sinai diawali dengan Sepuluh Perintah Allah dan suatu kode hukum sosial dan etika agama (Bab 20-23).

      Maksud dari kitab Keluaran dan perjanjian dinyatakan Yahweh kepada Musa: “Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi. Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus. Inilah semuanya firman yang harus kaukatakan kepada orang Israel." (Kel 19:5-6). Israel ditampilkan oleh Bapanya sebagai putera yang sulung (Kel 4:2) dari antara segala bangsa di dunia, memenuhi peran raja-imami sebagai saudara tertua bagi bangsa-bangsa lainnya. |Hukum yang menjabarkan perjanjian dimaksudkan untuk mengubah konfederasi yang longgar di antara suku-suku menjadi bangsa keluarga Tuhan. Perjanjian dimeterai dengan meriah di antara Tuhan, Musa, Harun, Nadab, Abihu dan tujuh puluh penatua Israel dengan makan bersama di atas gunung (Kel 24:10).

 


C. Pembaruan Perjanjian

Perjanjian segera dilanggar dengan penyembahan berhala anak lembu emas. Pembaruan perjanjian meliputi bagian selanjutnya dari kitab (Kel 33-40). Melalui Musa, Perjanjian Sinai diperbarui, tetapi hukum Sinai diperluas. Maka penjabaran dan promulgasi hukum merupakan bagian terakhir dari kitab Keluaran, terutama sebagain besar hukum yang menyangkut pembuatan dan pengangkutan tempat suci yang dapat dipindah-pindahkan, Kemah Pertemuan. Di sinilah Tuhan tinggal di tengah-tengah umatNya, walaupun Ia tersembunyi dari mereka (bab 25—31, 35—40). Bagian Hukum terus berlanjut hingga seluruh Kitab Imamat dan sepuluh bab pertama kitab Bilangan.

      Musa berperan sebagai pengantara perjanjian, dan sesudah insiden anak lembu emas sifat pengantaraannya berubah menjadi seperti Kristus. Suku Lewi kemudian menerima tugas keimaman yang telah dikhianati seluruh Israel, menggantikan peran anak-anak sulung dari setiap suku. Dari saat itu selanjutnya, suku Lewi mempersembahkan kurban hewan di dalam Kemah Kudus atas nama Israel.

      Di sepanjang kisah, Israel menjumpai Tuhan yang telah membuktikan bahwa semua ilah lain tidak berdaya, Tuhan yang memilih keturunan Abraham dan Yakub untuk maksud ilahi dan memanggil mereka menjadi bangsa imam-imam. Tuhan telah menguduskan Israel sebagai putera sulungNya dan telah menyatakan diriNya dan rencana ilahiNya serta kemuliaanNya (bdk Kel 3:14; 19:18; 33:18-23), kerahiman dan kasih serta kesetiaanNya (Kel 3:16-17; 6:3-8; 34:5-9).




Selasa, 27 Desember 2022

KITAB KEJADIAN

 

                                    

Kitab Kejadian adalan kitab pertama dalam Kitab Suci. Kitab Kejadian dalam bahasa Ibrani dikenal sebagai bere’sit, artinya “Pada awal mulanya”. Versi Kitab Suci bahasa Yunani Septuaginta menyebut kitab ini genesis, artinya “asal-mula” atau “kelahiran”; kitab suci Vulgata berbahasa Latin dan terjemahan bahasa Inggris mengikuti Septuaginta. Judulnya pas, karena kitab itu berkaitan dengan berbagai asal-mula, asal-mula alam, asal mula kehidupan, asal mula manusia, asal mula dosa, dan asal mula bangsa pilihan. Di sepanjang kitab, Kejadian menunjukkan kasih Tuhan yang menyelenggarakan segala sesuatu ketika Ia membimbing sejarah manusia menurut maksud dan tujuan keselamatan dariNya. Tujuan kitab Kejadian dengan demikian adalah menggambarkan asal mula bangsa Israel yang paling uwal: perjanjian antara Allah dan ciptaan, Adam, Nuh dan Abraham; dan peristiwa-peristiwa perdana dalam sejarah keselamatan yang mengarah pada perjanjian Sinai di dalam kitab selanjutnya.

 

I. Pengarang dan Waktu Penulisan

A. Musa, Pengarang Menurut Tradisi

B. Bukti Dari Luar Sejalan dengan Musa |Sebagai Pengarang

II. Isi

III. Struktur dan Tema

A. Perjanjian dalam Kitab Kejadian

B. Pentingnya Kebenaran Sejarah Awal

C. Sejarah Para Bapa bangsa

D. Tipologi yang Terpenuhi Dalam Kristus

 

I. Pengarang dan Waktu Penulisan

A. Musa, Pengarang Menurut Tradisi

Kitab Kejadian tidak mencantumkan nama pengarangnya. Namun baik tradisi Yahudi maupun Kristen sama-sama menganggap Musa sebagai pengarang kelima kitab Taurat, atau Pentateuch, termasuk kitab Kejadian. Pada abad kedelapanbelas dan kesembilanbelas, banyak ahli mulai menolak Musa sebagai pengarang kelima kitab Taurat. Mereka melihat kitab itu sebagai himpunan berbagai tradisi yang berbeda, yang bahkan bertentangan, sehingga mereka beranggapan bahwa ada banyak penulis dari masa dan tempat yang berbeda . Namun selanjutnya dan sekarang, sebagian ahli menolak teori itu, dan pandangan tradisional bahwa Musa adalah pengarang kitab ini masih besar pengaruhnya.

      Tradisi yang bertahan lama bahwa Musa pengarang kitab Kejadian tidak mengatakan bahwa dialah yang menuliskan setiap kata dalam kitab ini. Namun kisah inti dari kitab Kejadian berasal dari Musa pada abad kelimabelas SM (atau mungkin abad ketigabelas SM). Musa dianggap menghimpun, menyunting dan mengatur susunan berbagai catatan dan arsip keluarga serta menyampaikannya dalam tradisi lisan.

 

B. Bukti Dari Luar Sejalan dengan Musa Sebagai Pengarang

Perbandingan dengan kesusasteraan Timur Dekat menunjukkan bahwa teori tentang Musa sebagai pengarang kitab Kejadian adalah selaras dengan apa yang kita ketahui tentang zamannya. Bagian-bagian awal kitab Kejadian misalnya menunjukkan banyak keserupaan dengan kisah-kisah penciptaan dan banjir besar yang terdapat di Mesopotamia kuno pada awal milenium kedua SM, misalnya daftar Raja Sumeria, Kisah Banjir Sumeria, Epika Atrahasis, Enuma Elish, dan Epika Gilgamesh. Begitu pula kisah para bapa bangsa yang terdapat dalam kitab Kejadian 12-50 menunjukkan suatu dunia yang konsisten dengan apa yang kita ketahui tentang Timur Dekat pada milenium kedua SM (bdk Kej 11:31; 12:4-5.10; 13:1; 24:10; 28:6-7; 37:28)  seperti halnya situasi politik yang kompleks yang sering terjadi di Mesopotamia sebelum tahun 1700 SM (bdk Kej 14:1-4). Aspek-aspek dari teks-teks tersebut di atas memang tidak membuktikan dengan sangat pasti bahwa Musalah pengarang kitab Kejadian, namun mereka seolah memperlihatkan bahwa kitab yang asli berasal dari zaman Musa.

 

II. Isi

I. Riwayat Permulaan (1:1-11:32)

A. Kisah Penciptaan (1:1-2:3)

B. Penciptaan dan Dosa Adam dan Hawa (2:4-3:24)

C. Ketuirunan Adam (4:1-5:32)

D. Kisah Air Bah (6:1-9:19)

E. Keturunan Nuh (9:20-10:32)

F. Menara Babel (11:1-9)

G. Keturunan Sem (11:10-32)

II. Riwayat Para Bapa bangsa (12:1-50:26)

A. Kisah Abraham (12:1-23:20)

B. Kisah Ishak (24:1-26:35)

C. Kisah Yakub (27:1-36:43)

D. Kisah Yusuf (37:1-48:22)

E. Kematian dan Pemakaman Yakub (49:1-50:14)

F. Pengampunan Dari Yusuf dan Kematiannya (50:15-26)

 

III. Struktur dan Tema

A. Perjanjian dalam Kitab Kejadian

Kitab Kejadian dibagi menjadi dua bagian yang tidak seimbang. Bagian yang pertama, bab 1-11, meliputi sejarah permulaan alam semesta dan asal-usul manusia dan orang-orang pertama. Bagian yang kedua, bab 12-50 meliputi riwayat para bapa bangsa. Tema pokok dalam peralihan dari bagian pertama kepada bagian kedua adalah tata penyelenggaraan ilahi. Allah mempunyai suatu rencana bagi keselamatan umat manusia – suatu rencana yang mulai diungkapkan melalui serangkaian perjanjian yang meluas: dengan alam ciptaan (Kej 1:1-2:4); dengan Adam dan Hawa (Kej 2:15-17); dengan Nuh dan dunia (Kej 9:8-17) dan dengan Abraham dan keturunannya (15:18-21; 17:1-21; 22:16-18 dst). Perjanjian dalam Kitab Kejadian merupakan persiapan bagi perjanjian selanjutnya yang menjadikan seluruh umat manusia keluarga Allah.

      Maka Kitab Kejadian sekaligus bersifat sejarah dan eskatologis. Di dalamnya direnungkan hari-hari permulaan penciptaan, tetapi pandangannya juga terfokus selanjutnya pada pemenuhan janji ilahi melalui keturunan Abraham dan bergantinya kutuk perjanjian yang dipicu oleh dosa Adam dengan berkat perjanjian yang dibawa oleh Yesus Kristus.

 


B. Pentingnya Kebenaran Sejarah Awal

Komisi Kitab Suci Kepausan memerinci kesembilan “fakta naratif” di dalam Kitab Kejadian tanpa harus mempersoalkan “makna harfiah dan historisnya”: (1) karya penciptaan Allah atas segala sesuatu adalah permulaan waktu; (2) penciptaan manusia adalah khusus; (3) pembentukan wanita pertama dari laki-laki; (4) kesatuan umat manusia; (5) kebahagiaan asli leluhur kita adalah dalam keadaan yang adil, integral dan abadi; (6) perintah ilahi yang diberikan kepada manusia untuk membuktikan ketaatannya; (7) pelanggaran perintah ilahi terjadi atas hasutan iblis dalam rupa ular; (8) leluhur pertama kita jatuh terpuruk dari situasi asali yang tidak mengenal dosa; (9) janji akan seorang penebus di masa depan. Katekismus Gereja Katolik menambahkan: “Kisah tentang kejatuhan dalam dosa dalam Kej 3. memakai bahasa kias, tetapi melukiskan satu kejadian purba yang terjadi pada awal sejarah umat manusia” (KGK 390).

 

C. Sejarah Para Bapa bangsa

Riwayat para bapa bangsa terbentuk dari tradisi-tradisi keluarga manusia yang diturunkan dari generasi yang satu ke generasi berikutnya. Arkeologi menerangi aspek-aspek budaya, agama dan adat kemasyarakatan dari masa itu, dan membenarkan banyak rincian pokok dari kisahnya. Adalah jelas bahwa para bapa bangsa itu pernah hidup dan bukan sekedar tokoh legenda yang diketemukan demi peljaran moral.

      Silsilah-silsilah tampak seluruhnya sebagai tiang-tiang petunjuk berkembangnya kisah, masing-masing dimulai dengan kata-kata “Inilah daftar keturunan...” (Kej 5:1; 6:9; 10:1; 11:10.27; 25:12.19; 36:1.9; 37:2). Silsilah ini membantu mengikuti kemajuan tata penyelenggaraan ilahi dari generasi yang satu ke generasi berikutnya.

 


D. Tipologi yang Terpenuhi Dalam Kristus

Bagi pembaca Kristen, benang merah sejarah keselamatan yang dimulai dalam Kitab Kejadian menemukan pemenuhannya  di dalam Yesus Kristus. Adam adalah suatu tipologi dari manusia sempurna, yaitu Yesus Kristus, yang memulihkan kerusakan yang ditimbulkan oleh pemberontakan Adam (Kej 2-3; Rm 5:12-21). Air bah merupakan gambaran purba dari air baptis yang menyelamatkan (Kej 6-8; 1 Ptr 3:20-21). Melkisedek, raja dan imam dari Salem yang mempersembahkan roti dan anggur adalah tipologi Kristus raja dan imam yang mempersembahkan Ekaristi (kej 14:17-20; Mat 26:26-29; Ibr 7:1-19). Abraham adalah teladan besar bagi kaum yang percaya, yang imannya diteruskan oleh umat Kristen (Kej 15:1-6; Rm 4:1-12; Gal 3:6-9). Ishak adalah tipologi Kristus:  karena rela menjadi kurban demi ayahnya, ia menjadi gambaran purba wafat dan kebangkitan Yesus, yang tidak digantikan dengan kurban lain oleh Bapa, tetapi mati sebagai kurban kerelaan demi penebusan semua umat manusia (Why 22:1-14; Rm 8:32; Ibr 11:17-19).