Daftar Blog Saya

Tampilkan postingan dengan label menimbang-nimbang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label menimbang-nimbang. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Oktober 2022

Membaca Kisah Hidup Untuk Menemukan Jejak Kristus

 


Paus Fransiskus

Audiensi Umum 19 Oktober 2022

Dalam katekese pekan ini Paus mengajak kita fokus pada proses membuat pertimbangan yang baik. 

Dalam hidup, kita harus membuat keputusan-keputusan, selalu, dan untuk membuat keputusan kita harus menjalankan proses menimbang-nimbang. Setiap kegiatan penting mengandung "instruksi-instruksi" yang perlu diikuti, yang perlu kita ketahui demi menghasilkan buah-buah yang diinginkan. Salah satu unsur dari pertimbangan yang tak boleh dilupakan adalah kisah hidup kita sendiri. Katakanlah, mengenal kisah hidup kita sendiri merupakan unsur pokok bagi pertimbangan keputusan hidup kita.

Hidup kita adalah "kitab" yang paling berharga yang dianugerahkan kepada kita, suatu kitab yang sayangnya tidak dibaca oleh banyak orang, atau jika pun dibaca, sudah terlalu terlambat, sebelum datangnya kematian. Namun, justru tepatnya di dalam kitab itulah orang menemukan apa yang dicarinya di mana-mana. Santo Agustinus, seorang yang rajin mencari kebenaran, memahami justru dengan membaca kembali hidupnya, menemukan dalam kesunyian dan kedalamannya, namun menentukan, langkah-langkah kehadiran Tuhan. Ia mencatat dengan penuh kekaguman: "Engkau berada di dalam, sedang aku di luar dan di sana aku mencari-cari Engkau; aku, dengan buruk, bergegas mengubek secara acak di antara semua keindahan yang Engkau ciptakan. Engkau menyertai aku, sedang aku tidak menyertai Engkau" (Confessions X, 27.38). Maka ia mengajak kita memelajari hidup batin kita untuk menemukan apa yang kita cari: “Kembalilah dalam dirimu sendiri. Dalam relung hidupnya sendiri tinggallah kebenaran” (On True Religion, XXXIX, 72). Undangan ini saya teruskan kepada anda semua, juga kepada diri saya sendiri : “Kembalilah ke dalam diri anda sendiri. Bacalah hidupmu. Bacalah batinmu sendiri, jalan yang kamu ambil. Dengan jernih dan sungguh-sungguh. Kembalilah dalam dirimu sendiri”.

Berulang kali, kita juga mendapat pengalaman seperti Santo Augustinus, menemukan diri kita terpenjara oleh pikiran-pikiran yang menjauhkan kita dari diri kita sendiri, pesan-pesan stereotip yang merugikan kita: misalnya, “saya tidak berguna” – dan anda sedih karenanya; “segala sesuatu serba salah bagiku” – dan anda terpukul; “aku tak pernah mencapai sesatu yang berharga” - dan anda berduka, dan demikianlah jadinya hidup anda. Kata-kata pesimistis yang melemahkan anda! Membaca sejarah hidup kita sendiri berarti mengakui adanya unsur-unsur yang meracuni kita ini, tetapi juga meluaskan narasi diri kita, belajar memerhatikan hal-hal lain juga, menjadikannya lebih kaya, lebih menghargai kompleksitasnya, dan berhasil menemukan jalan-jalan khusus di mana Tuhan bekerja dalam hidup kita. Saya mengenal seorang yang menurut orang lain serba buruk: semuanya jelek, semuanya, dan ia sendiri selalu putus asa karenanya.  Ia seorang yang penuh kegetiran, namun sebenarnya ia juga punya banyak kualitas. Orang ini kemedian bertemu dengan orang lain yang memberi bantuan kepadanya, dan setiap kali ia mengeluh tentang sesuatu, temannya itu selalu berkata: “Sekarang, sebagai imbalannya, katakanlah sesuatu yang bagus tentang dirimu”. Orang itu berkata: “Yah, ya… aku juga bisa begini (sesuatu kualitas baik)”, dan berangsur-angsur ia dibantu lebih maju, membaca dengan baik hidupnya sendiri, keburukan maupun kebaikannya. Kita harus membaca hidup kita sendiri, dan dengan melakukan itu kita melihat apa yang tidak baik dan apa yang baik yang oleh perkenan Tuhan ada dalam diri kita.

Di sini kita lihat proses menimbang-nimbang dengan pendekatan narasi; tidak hanya terhenti dalam tanda baca, namun menyisipkan tand-tanda baca itu dalam suatu konteks: dari mana datangnya pikiran ini? Apa yang kurasakan sekarang, dari mana datangnya perasaan itu? Kemana arahnya, apa yang kupikirkan sekarang ini? Kapan aku pernah menemui keadaan seperti ini sebelumnya? Apakah yang terpikir olehku ini sesuatu yang baru, atau pernah kupikirkan pada kesempatan yang lain? Kenapa yang ini lebih menetap ketimbang yang lain? Apa yang mau dikatakan hidup tentang ini?

Mengungkap kembali peristiwa-peristiwa hidup kita sendiri juga memampukan kita menemukan nuansa dan detil yang penting, yang dapat menyatakan diri sebagai bantuan yang sangat berharga kendati tersembunyi. Misalnya, suatu bacaan, suatu pelayanan, suatu perjumpaan, yang pada awalnya dianggap sepele, sering kali memancarkan kedamaian batin;  memancarkan kegembiraan hidup dan mendorong prakarsa baik lebih lanjut. Jeda sejenak dan mengakui hal ini adalah penting dalam menimbang-nimbang. Jeda sejenak dan mengakui: ini langkah penting dalam menimbang-nimbang, suatu tugas menghimpun semua mutiara yang berharga dan tersembunyi yang ditabur Tuhan di tanah kita.

Kebaikan itu tersembunyi, selalu, sebab kebaikan itu rendah hati dan menyembunyikan diri: kebaikan yang tersembunyi dan tidak bicara itu perlu digali pelan-pelan dan terus menerus. Karena Allah bekerja dalam rahasia: Allah tersembunyi, lembut, tidak memaksa; Ia seperti udara yang kita hirup - kita tidak dapat melihatNya tetapi Ia menghidupi kita, dan kita baru menyadariNya hanya ketika kehilangan udara, kesulitan bernafas.

Membiasakan diri membaca kembali hidup ini membina pandangan, membuatnya makin tajam, memampukan melihat mujizat-mujizat kecil yang dibuat Tuhan yang baik badi kita setiap hari. Jika kita sadar akan hal ini, kita dapat milihat arah lain yang dapat menguatkan citarasa, kedamaian dan kreativitas batin kita. Lebih dari itu dapat membebaskan kita dari suara-suara yang meracuni kita. Dengan bijak dikatakan bahwa orang yang tidak mengenal masa lalunya dihukum untuk mengulangnya lagi. Jika kita tidak mengenali lorong hidup yang telah kita tempuh, masa lalu kita, kita selalu mengulangnya, dan jalan berputar-putar. Dan mereka yang hanya berputar-putar tidak pernah maju. Seperti anjing mengejar buntutnya melulu. Berulang-ulang. 

Kita dapat bertanya pada diri kita sendiri: pernahkah kita menceritakan hidup kita kembali kepada seseorang? Ini merupakan pengalaman yang indah bagi mereka yang bertunangan yang bermaksud serius, menceritakan kisah hidup... Ini merupakan satu bentuk komunikasi yang paling indah dan akrab. Memungkinkan kita menemukan kembali hal-hal yang tersembunyi, yang kecil dan sederhana, namun seperti dikatakan Injil, dari hal-hal kecil lahirlah hal-hal yang besar (bdk. Luk 16:10).

Hidup para kudus juga merupakan suatu bantuan yang berharga dalam menemukan gaya kerja Tuhan pada hidup seseorang. Membolehkan kita akrab dengan cara kerja itu. Sebagian perihidup para kudus merupakan tantangan bagi kita, menunjukkan pada kita makna dan kesempatan baru. Ini terjadi misalnya pada St  Ignatius Loyola. Ketika melukiskan penemuan hidup yang mendasar, ia menambahkan penjelasan penting: “Dari pengalaman ia menyimpulkan bahwa beberapa pikiran membuatnya bersedih, yang lain menggembirakan; dan dari sedikit ia belajar mengerti keanekaan pikirannya, bermacam-macam roh yang ada di dalamnya” (cf. Autobiography, no. 8). Pahami apa yang terjadi dalam diri kita, mengerti, sadari.

Menimbang-nimbang adalah membaca narasi tentang momen yang baik maupun momen yang gelap, penghiburan dan keputusasaan yang kita alami sepanjang jalannya hidup kita. Dalam menimbang-nimbang itu hati kita bicara tentang Tuhan, dan kita perlu memahami bahasanya. Marilah kita bertanya di akhir hari misalnya, apa yang terjadi pada hati kita? Ada yang mengira melakukan pemeriksaan hati ini adalah menimbang dosa dan kesalahan - yang banyak kita lakukan - tetapi  pemeriksaan hati juga mengajukan pertanyaan: "Apa yang terjadi dalam diriku? Apakah aku bersukacita? Apa yang membuatku bersukacita? Apakah aku sedih? Apa yang membuatku sedih? Dengan cara inilah kita belajar menimbang-nimbang apa yang terjadi dalam diri kita.