Daftar Blog Saya

Tampilkan postingan dengan label Compassion. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Compassion. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 September 2022

Pemimpin di Masa Krisis dan Peralihan

 Maksud dan Tujuan menjadi Pedoman Utama, selebihnya bergantung EQ. Memimpin dengan hati.

Bambang Kussriyanto

Kemarin saya ngobrol dengan seorang profesor tua kampiun bisnis. "Apa yang mas Prof ajarkan di masa krisis dan transisi seperti sekarang untuk para pemimpin organisasi yang jadi mahasiswa Anda?" Dia memandang saya dan ganti bertanya, "Lah, Apa yang mas ajarkan dalam kursus manajemen profesional?". Saya tertawa kecut karena pak Prof membalik pertanyaan sehingga saya yang bertanya malah jadi yang harus menjawab. "Hal-hal dasar saja!" jawab saya. "Sama dong. Saya juga mengajarkan hal-hal dasar kembali" katanya. Kami sebaya. Sama-sama generasi Baby Boom tahun 1950-an. "Semua yang kita pelajari dan alami tahun 60-an, 70-an, 80-an, tidak bisa diterapkan sekarang. Nggak jalan." Ia tahu, saya memberi kursus Perencanaan Jangka Panjang, Perencanaan Strategi, Manajemen Strategi. Ia sendiri menerapkan semua itu dalam bisnisnya. Para pemimpin muda menerima semua yang kami ajarkan tetapi pada perjumpaan selanjutnya mereka berkata, ini semua sudah sulit diterapkan pak. Terlalu banyak perubahan. Terlalu banyak disrupsi. Dan kami menyadari bahwa apa yang kami terima dan pelajari pada dekade 60-an, 70-an, dan 80-an adalah ilmu dan kiat untuk masa yang stabil. Sedang sejak 90-an dan Generasi X, 2000-an dan Generasi Milenial, 2010-an dan Generasi Z mengalami masa krisis gilir berganti yang ditandai dengan banyaknya disrupsi dan perubahan yang serba cepat dan mendasar. Alat-alat yang digunakan angkatan 60-80 sudah berbeda banget dengan angkatan 90-2000. Bangun-bangun sudah mengalami dekonstruksi. Moment of truth sudah melewati masa "Post Truth".



Di masa lalu perusahaan berkembang dari kecil, menengah, hingga menjadi korporasi yang menggurita. Dari skala lokal hingga global. Algoritma struktur organisasi, tata kerja, alat-alat manajerial dan konfigurasi manajemen bisnis berkembang mengikuti dari fungsional, divisional, matrix, cross function deployment, sampai strategic business unit. Semua dimaksudkan agar titik-titik kendali dalam proses (process control) dapat dihandel etape demi etape baik lini tunggal maupun multi lini. Sekarang semua itu menjadi komponen yang tidak efektif, usang, walau tetap bisa berjalan, namun sebagai kegiatan yang biasa-biasa saja, "as usual business" yang tak punya greget dan orang Jawa bilang "nguler kambang" geraknya. Sangat lamban seperti ulat mengambang di atas air. Sedang aliran airnya penuh gejolak dan deras.

Di tengah arus situasi penuh gejolak di mana segala sesuatu tak lagi bergerak linier, pusaran-pusaran masalah tak lagi bisa diduga, unpredictable, ibarat orang berenang, yang menjadi pegangan adalah pandangan yang tetap terarah kepada tujuan utama agar tidak hanyut dan salah mendarat. Sticked to Purpose. Kita dulu mengandalkan Intelligent Quotient (IQ) mengharapkan para pemimpin yang punya IP memadai untuk menerapkan Manajemen Rasional yang menyusun langkah-langkah realistik menuju sasaran demi sasaran bisnis. Itu semua bagus untuk medan yang stabil, perairan yang tenang. Sekarang kami sadar, untuk generasi pemimpin mendatang dengan situasi yang penuh gejolak bukan IQ tinggi yang menjamin keberhasilan untuk survival dan sustenabilitas, tetapi EQ. Emotional Intelligent. Yaitu mereka yang dapat menggabungkan kecerdasan pikiran dengan kecerdasan hati, yang memimpin bukan hanya dengan kepala, tetapi juga dengan hati. Yang dimaksud adalah yang punya "passion", maksudnya semcam "kegilaan" untuk mau kerja cerdas dan keras mewujudkan maksud dan tujuan. Juga punya "compassion" pada pihak-pihak yang dilayani, sambung rasa dengan mereka, bukan semau gue. Passion dan compassion menghimpun energi untuk usaha-usaha yang siap menyesuaikan diri dengan kondisi dan situasi, dan mengubah diri sesuai dengan kesempatan mencapai tujuan yang didapat sewaktu-waktu. Kemudian punya empati dengan teman-teman kerja demi efektivitas tim kerja. Lalu keberanian untuk ambil risiko, memberi tenaga turbo pada kegiatan yang dilakukan. Begitu kesempatan tiba, langsung sadar akan perlunya momentum, punya sense of urgency, mengerahkan semua daya untuk bergerak maju mendekati tujuan. Lebih cepat. Lebih kuat. Passion, compassion, empathy dan courage adalah kualitas "hati" yang diperlukan pemimpin masa kini.

Pembicaraan kami tidak sesingkat ringkasan yang saya tuliskan di atas, juga sesekali menjadi rangkain debat kecil, namun tidak perlu dikemukakan di sini.

Hanya dengan demikian pemimpin dapat membawa organisasi menuju visi utama, dengan memberdayakan nilai-nilai yang operatif dalam budaya kerja bersama, tetapi juga siap menjalankan berbagai rencana darurat sesuai kesempatan yang ditangkap untuk menghasilkan, tidak melulu terpaku pada garis-garis organisasi, tetapi membentuk komite-komite kecil, panitia-panitia ad hoc yang luwes, sampai situasi kembali normal. Namun pada masa depan kembali normal bukan berarti kembali kepada pola dan tatakerja lama, melainkan pola dan tata-kerja pokok yang telah diperbarui.



Bagaimana menggambarkan itu dengan lebih mantap? Kami tidak bisa membuat gambarannya, karena belum ada gambaran masa depan yang tersedia di masa transisi ini. Semua masih bergantung pada kecerdasan lapangan, yang adalah gabungan antara IQ dan EQ dengan arus utama lebih pada EQ.

Percakapan saya dan mas Prof berakhir mengambang tanpa kesimpulan. Mungkin kita bisa melanjutkan percakapan ini di antara kita juga.....