Daftar Blog Saya

Tampilkan postingan dengan label Pesan Paus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesan Paus. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 November 2022

PARA SUPERIOR JENDRAL PEREMPUAN

 

Setelah menulis tentang para Superior Jendral pria, saya merasa tidak adil jika belum menyampaikan catatan tentang para Superior Jendral perempuan (tarekat para suster). Pertama, jumlah mereka lebih banyak. Kedua, mereka juga giat bahkan di garis depan dalam karya gerejani yang bersinggungan dengan masyarakat. Ketiga harusnya mengikuti adab sopan santun: lady first.

Itu terjadi karena saya menulis mengenai peristiwa yang terjadi baru-baru ini. Namun dalam hal ini saya juga sudah melewatkan catatan bahwa pada tiga hari yang lalu  November 2022 para pengurus unio superior jendral perempuan dan unio superior jendral pria telah melakukan perjumpaan untuk perkenalan pengurus baru dan antara lain untuk membahas soal tarekat hidup bakti dan sinodalitas.

Para Superior Jendral perempuan sudah jauh lebih dulu dari para pria mengadakan Sidang Pleno. Mereka tergabung dalam Union International of Superiors General (UISG). Pada bulan 2-6 Mei 2022 mereka telah menyelenggarakan Sidang Pleno XXII yang diikuti 700 peserta dari 71 negara dengan tema: "Merangkul Kerentanan Dalam Perjalanan Sinodal" dengan fokus pada lima topik: Kerentanan, Proses Sinodal, Hidup Bakti dan Sinodalitas, Rupa-rupa, dan Panggilan untuk Transformasi. 


Mereka ingin memberi kontribusi kepada proses Sinodal Gereja dengan mempromosikan sikap mendengarkan lebih mendalam sebagai gaya sinode dan menerapkan dinamika diskresi umum di mana kerentanan diterima dan dihargai sebagai karakter khas manusiawi. 

Sr Jolanta Kafka, presiden UISG mengajak para peserta yang berkumpul di Ergife Hotel, Roma, dan mereka yang ikut secara online di tempat masing-masing membuat perlambang dengan merentang tangan lebar-lebar seolah mau memeluk, menandakan kesediaan untuk menerima dunia, terutama untuk melayani mereka yang paling rapuh, rentan, di dalam masyarakat. 



Banyak kesaksian kerentanan dibagikan dalam Sidang, terutama dengan meninggalnya banyak suster anggota tarekat yang menjadi korban pandemi. "Saya sampai tidak berani membuka komputer, takut dan sedih menyaksikan berita pemakaman suster yang ditayangkan setiap hari". - "Kami bekerja dalam pelayanan masyarakat dan pendidikan, kami banyak kehilangan anggota karena Covid". - "Banyak proyek dan program pelayanan kami harus tertunda menunggu datangnya anggota baru". Di tempat lain di mana terjadi konflik bersenjata, "kami sangat rentan diculik, diperkosa, dipaksa mengenakan cadar, dipaksa mengingkari iman kami, tapi kami tetap memeluk salib". Salib menjadi sumber kekuatan dan harapan. "Kristus dan salibNya mengajar kami bahwa kerapuhan bukan saja menjadi sumber spiritualitas hidup bakti, tetapi juga modalitas untuk misi perutusan". "Kepemimpinan yang bertolak dari kerapuhan kami yakini sebagai kepemimpinan yang diperlukan hidup bakti dewasa ini". "Siklus hidup bergulir dari masa Yesus... Kematian bukan kata akhir... Hidup bakti akan bangkit lagi!" Dari situ para superior jendral suster bertekat membagikan harapan, "Menyemikan harapan baru pada dunia". Motto Sidang Pleno XXII UISG adalah : "Perjalanan menempuh lorong Sinodal: bertolak dari kerentanan kita!"

Dengan mendengarkan kerentanan sendiri, kerentanan orang lain, para peserta diajak menempuh jalan sinodalitas dengan diskresi bersama dalam bimbingan Roh Kudus, dan melakukan transformasi, melayani Gereja dan masyarakat dunia, terutama mereka yang paling rentan.

Peserta kemudian membahas prakarsa-prakarsa UISG: prakarsa baru, prakarsa yang telah diluncurkan sejak Sidang Pleno terakhir 2019 sebelum pandemi, dan prakarsa2 lama. Antara lain: Prakarsa Catholic Care for Children International (CCCI): pemeliharaan anak-anak yatim piatu dalam keluarga. Bukan dalam lembaga yayasan yatim piatu. Praktek terbaik bersumber dari pengalaman di  Malawi Afrika Selatan, Srilanka, India dan Filipina. Prakarsa Komisi Perhatian dan Perlindungan Anak Terhadap Pelecehan Seksual, bersama Unio Superior General Pria. Prakarsa Suster Advokasi, pembelaan hukum oleh para suster untuk kaum marginal, mereka yang tidak mampu menyuarakan kepentingan dan hak2 mereka. Ini merupakan pelayanan kenabian para suster religius. Prakarsa Laudato Si Platform, upaya gerakan mengatasi krisis lingkungan dan sosial. Prakarsa baru untuk perawatan suster2 lanjut usia di seluruh dunia, prioritas pertama untuk mereka yang sakit Alzheimer, dan kemudian untuk semua suster lanjut usia pada umumnya. Bekerja sama dengan Konferensi Pimpinan Perempuan Religius. Di banyak bagian di dunia para suster tidak punya jaminan sosial, tidak punya asuransi kesehatan, dan mereka bekerja di bidang pastoral tanpa menerima bayaran.

Pada 5 Mei 2022 delegasi utusan Sidang Pleno XXII UISG mengunjungi Paus Fransiskus dan mendapat peneguhan. Menyambut mereka dengan kursi roda karena sakit lutut yang akut, Paus berkata: "Saya mengandalkan anda semua, kaum hidup bakti yang menerima kerentanannya, meski dengan sangat sulit. Kita sudah sangat terbiasa mengandalkan jumlah dan karya kita, dihargai secara sosial dan relevan...  Krisis yang kita alami membuat kita merasakan kerentanan kita dan mengundang kita mengenakan kekecilan kita. Segalanya kini mengajak kita menemukan kembali sikap Putera Allah kepada Bapa dan kepada kemanusiaan dengan rela menjadi hamba... Kita diundang menjadi seperti Petrus ketika pembasuhan kaki. Setelah menyadari kerentanan kita sendiri, kita diajak menghadapi kerentanan lain yang meminta kita semakin merendahkan diri untuk melayaninya. Yang kedua mencontoh Maria Magdalena, wanita yang mengatasi kekacauan dan kerentanan hidupnya dengan menjadikan Yesus sebagai pusat. Transformasi hidup seperti ini, yang ditekankan para penulis Injil, menjadi tanda kekuatan Tuhan sekaligus kesaksian bahwa setiap orang dipanggil untuk menempatkan kerapuhan mereka menjadi laku pewartaan iman."



"Jika Sinode merupakan suatu momen penting dalam mendengarkan dan diskresi, kontribusi utama kalian adalah dalam peran serta mendengarkan Roh Kudus dan melakukan diskresi untuk merendahkan diri  dan seperti Yesus, pergi keluar menjumpai saudara-saudara yang kekurangan dan membutuhkan... Undangan sinodalitas itu multifaset, di paroki, di keuskupan... tetapi juga di rumah-rumah komunitas anda sendiri".

"Saya mengandalkan anda semua, para suster yang terkasih, untuk menyertai segenap umat Allah dalam perjalanan sinodal ini".

Dalam perjumpaan antara pengurus baru USG pria dan UISG perempuan baru-baru ini antara lain dibicarakan hasil-hasil konsultasi sinodal yang dilakukan masing-masing, di lingkungan USG dan di lingkungan UISG untuk koordinasi dan untuk penyempurnaan sintesis hasil konsultasi sektor hidup bakti.


Union International of Superiors General (UISG) dirintis pada tahun 1951 oleh Paus Pius XII, tetapi baru secara resmi kanonik didirikan pada 1965 dengan inspirasi Konsili Vatikan II. Sekarang 1903 superior jendral di seluruh dunia tergabung dalam UISG, dengan rincian generalat dari Afrika 166, dari Asia 184, dari Eropa 1046, dari Amerika 479, dan dari Oceania 28.