Daftar Blog Saya

Tampilkan postingan dengan label Peran serta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Peran serta. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 September 2022

Konsili Vatikan II. Petunjuk Arah dan Ikafite



Pada umumnya anggota Ikafite yang sekarang masih ada dididik dan dibina menurut Konsili Vatikan II. Sedikit sekali yang mengalami masa pra-Konsili Vatikan II dan mengenali perbedaan ajarannya. Namun tidak berarti seluruh ajaran Konsili Vatikan II telah dipahami dan dilaksanakan. Konsili Vatikan II memberi cakrawala yang sangat luas walaupun masih berupa prinsip-prinsip pokok, baik dalam Liturgi, paham Gereja dan menggereja, pelayanan pastoral, moral sosial, hubungan dengan agama lain, penggunaan teknologi dan sebagainya. Cakrawala yang digelar Konsili Vatikan II adalah cara baru artikulasi iman melalui dialog dengan situasi. Pembaruan terjadi setiap kali iman yang sama dan terpelihara dalam khasanah bersama dalam kesatuan bertemu dan berdialog dengan situasi baru  sepanjang jalan di setiap kurun masa.

Hermann Portmeyer, seorang eklesiolog Jerman, menggambarkan Konsili Vatikan II sebagai "bangunan yang belum selesai". Suatu pryek eklesiologi yang terbuka, yang masih menunggu langkah pembangunan selanjutnya. Setelah periode sidang-sidang Konsili 1962-1965, prinsip-prinsip yang telah dibangun sebagai fondasi dilengkapi dengan ajaran-ajaran selanjutnya, baik dari Paus maupun dari Sinode Para Uskup, berdaur ulang, menggelinding semakin besar dari tahun ke tahun. Baik para Paus Konsili Vatikan II, Yohanes XXIII, Paulus VI, Yohanes Paulus II, Benediktus XVI, hingga sekarang Fransiskus, adalah Konsili Vatikan II dalam perjalanan dan berdialog dengan situasi melaksanakan prinsip-prinsip Konsili Vatikan II dalam pelbagai Ensiklik, Motu Proprio, Keputusan Apostolik, surat-surat lain dan pesan-pesan serta katekese mereka.[1] 

Sekedar gambaran, Konsili Vatikan II adalah pembangunan ulang Basilika St Petrus dengan fondasi yang diletakkan pada abad 16.  Fondasi baru ditambahkan mengikuti fondasi lama dengan unsur-unsur baru. Artinya, basilika baru yang lebih besar didirikan mengikuti fondasi lama namun mengandung unsur-unsur baru yang berasal dari semua benua, seluruh dunia, bukan hanya unsur-unsur dari Eropa saja. Hasil-hasil Konsili Vatikan II adalah pilar-pilar, kolom-kolom baru yang didirikan  meluaskan bangunan lama. Ruang dan dinding-dindingnya masih dalam pembangunan dari masa-masa setelah 1962-1965 hingga sekarang dan ke masa depan , masih perlu penyelesaian hingga pemasangan kubahnya.  

Semangat dialog, kerjasama, partisipatif dalam persatuan dan kesatuan, dengan solidaritas dan subsidiaritas menjadi pengikat para pembangun, baik itu para Uskup maupun seluruh umat lokal yang dipimpin setiap Uskup, dengan berjalan bersama mengarungi waktu ke depan.

Dengan gambaran ini sebagai perkumpulan para alumni IFT-FTW Sanata Dharma, Kentungan Yogyakarta hendak merayakan Konsili Vatikan II, bukan saja mengingatnya sebagai "Tonggak Sejarah" masa lalu, tetapi undangan partisipasi untuk membangun diri ke masa depan, menyumbangkan elemen-elemen dari seluruh dunia mengikuti "Pedoman Arah" yang ada dalam hasil-hasil Konsili Vatikan II.

Di satu pihak kajian fundamental atas hasil-hasil Konsili Vatikan II semakin diperdalam, sekaligus berdialog dengan konteks zaman mengayun langkah ke depan dengan diksi baru, sikap baru, melengkapkan dimensi baik interior maupun eksterior Basilika yang dirancang Konsili Vatikan.

Ikafite mengawali langkah "Menuju 60 Tahun Konsili Vatikan II" dengan "perayaan" rohani sekaligus kegiatan yang tampak, entah itu disebut "rekoleksi" (apa pun artinya: mengenang kembali, menghimpun tenaga kembali, menyatukan semuanya lagi) entah dialog kontekstual entah proyek masa depan, dengan melihat hamparan semua tantangan di depan.

Semua komponen Ikafite diajak bergabung dalam perjalanan bersama ini dengan sekadar peran dan sumbangan masing-masing, melengkapkan bangun Basilika "global" Gereja kita. 



[1] Hermann J. Pottmeyer, Towards a Papacy in Communion:  Perspectives from Vatican Councils I & II (New York:  Crossroad, 1998), 110.