Daftar Blog Saya

Tampilkan postingan dengan label Yohanes Rasul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yohanes Rasul. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 November 2022

KITAB WAHYU YOHANES

 


Kitab Wahyu adalah kitab terakhir dalam Kitab Suci khususnya Perjanjian Baru, juga dikenal sebagai Apokalip. Isi yang sangat penuh dengan gambaran simbolis dan misterius menimbulkan tafsiran yang tak terbilang banyaknya mengenai drama hari terakhir.

      Walaupun terdapat ayat-ayat apokaliptik serupa di dalam Perjanjian Baru (misalnya Mat 24), Wahyu merupakan satu-satunya kitab yang secara formal apokaliptik dalam Perjanjian Baru. Wahyu juga serupa namun sekaligus tetap unik berbeda dengan karya-karya apokaliptik Yahudi yang timbul beberapa abad sebelum dan sesudah kedatangan Kristus. Kitab ini menyatakan diri sebagai “Wahyu” dan menyebut nama pengarangnya (Why 1:1), sementara karya-karya apokaliptik lainnya menggunakan nama samaran, dan menyebutkan sebagai nama pengarangnya tokoh-tokoh sejarah Kitab Suci yang sudah lama meninggal dunia seperti Henokh, Abraham dan Ezra. Dalam isinya, kitab Wahyu termasuk di dalam kelas yang berbeda karena menggunakan kidung-kidung liturgis (bdk Why 4:8.11; 5:9-10 dst) dan jelas berfokus pada Yesus Kristus sebagai Anak Domba (bdk 5:6-8; 7:10; 14:1-4).

 

I. PENGARANG DAN WAKTU PENULISAN

II. ISI

III. MAKSUD DAN TEMA

IV. KITAB WAHYU SEBAGAI LITURGI

A. KONTEKS

B. ISI

 

I. PENGARANG DAN WAKTU PENULISAN

Pengarang kitab Wahyu menyatakan kepada pembacanya empat kali bahwa namanya adalah “Yohanes” (Why 1;1.4.9; 22:8). Ia juga menyebut dirinya “hamba” Tuhan (Why 1:1) dan menunjukkan bahwa ia diasingkan di pulau Patmos (Why 1:9) di mana ia mendapat penglihatan-penglihatan dan menuliskannya seperti yang diperintahkan (Why 1:11.19; 2:1.8.12.18. dst). Tradisi menganggap pengarang “Yohanes” itu adalah rasul Yohanes, putera Zebedeus  (Mrk 3:17). Kesaksian yang paling awal tentang i ni berasal dari Yustinus Martir sekitar tahun 140. Yustinus diikuti oleh St Ireneus (abad kedua), Oriegenes (awal abad ketiga), Santo Klemens dari Aleksandria (awal abad ketiga) dan banyak lagi lainnya.

      Keyakinan itu dilawan oleh beberapa penulis dari Timur, antara lain Santo Dionisius dari Aleksandria (pertengahan abad ketiga) yang menolak rasul Yohanes sebagai pengarang kitab Wahyu berdasarkan gaya tulisan yang sangat khas dalam kitab ini. Utamanya, bahasa Yunani yang digunakan dalam kitab Wahyu  jelas sangat berbeda dari yang ada dalam Injil dan surat-surat Yohanes, sehingga kitab Wahyu diduga berasal dari seorang pengarang lain.

      Banyak ahli modern mengikuti pandangan para penulis Timur itu dan menolak Yohanes Rasul sebagai pengarang kitab Wahyu. Sebaliknya, mereka mengajukan berbagai kemungkinan lain, termasuk penulis Injil Yohanes Markus, Yohanes Pembaptis, Yohanes Penatua, dan seorang nabi dari Palestina bernama Yohanes yang tidak begitu dikenal, dan seorang penulis tanpa nama yang menggunakan  nama Yohanes sebagai samarannya.

      Namun pernyataan yang melawan kepengarangan rasul Yohanes Rasul atas kitab Wahyu tidak begitu kuat, dan ada sejumlah hal yang mendukung tradisi utama. Pertama perbedaan gaya di antara kitab Wahyu dan tulisan-tulisan lain bisa disebabkan oleh ragam sastra yang digunakan: yang satu ragam sastra Injil, yang lain ragam sastra surat, dan akhirnya ragam sastra apokaliptik. Kedua, ada beberapa keserupaan di antara Injil Yohanes dan Wahyu, seperti menyebut Yesus sebagai “Firman” (Yoh 1:1; Why 19:13) dan Maria sebagai “Perempuan” (Yoh 19:26; Why 12:1), menggambarkan Yesus sebagai “Anak Domba” (Yoh 1:29; Why 5:6) dan penggunaan gagasan “air hidup” (Yoh 7:38; Why 7:17). Lebih luas lagi, lokasi ketujuh Gereja di Asia dalam Why 2-3 jelas terkait dengan kawasan  yang dikenal sebagai daerah kerja rasul Yohanes.

      Kitab Wahyu ditulis pada masa penganiayaan, dan dua masa kejadian itu terdapat dalam abad yang pertama: pada masa pemerintahan kaisar Nero (54-68 M) dan pada masa kaisar Domitianus (81-96 M). Atas dasar dua alternatif ini, para ahli memperkirakan kitab ini dituliskan baik pada tahun 60-an atau pada tahun 90-an; banyak ahli condong pada tahun 90-an, yang dikuatkan oleh berbagai penulis, termasuk St Viktorinus Pettau (akhir abad ketiga), Eusebius dari Kaisarea, St Hieronimus (abad keempat) dan mungkin St Ireneus (akhir abad kedua).

      Dukungan di luar kitab Wahyu untuk waktu penulisan tahun 60-an didasarkan pada versi-versi kitab Wahyu Siria kuno dan mungkin juga dari Tertulianus, yang menyatakan dalam tulisannya mengenai penganiayaan di Roma pada zaman Nero, bahwa Yohanes dibuang ke suatu pulau sesudah orang Roma tidak berhasil membunuhnya dengan memasukkannya ke dalam minyak mendidih – Yohanes keluar lagi dari minyak tanpa cacae. Bukti internal dari kitab Wahyu sendiri untuk penulisan pada zaman Nero diketemukan dalam penyebutan kaisar Roma dalam Why 17:9 sebagai kaisar kelima. Selanjutnya bilangan binatang, 666, berasal dari nilai perhitungan nama Nero Caesar. Masa penulisan kitab ini sering dipastikan pada akhir tahun 60-an M, tak lama sebelum Roma menghancurkan Yerusalem pada tahun 70 M.

 


II. ISI

i. Yang Tampak

A. Pengantar (Why 1:1-8)

B. Penglihatan Awal (1:9-20)

ii. Apa yang Ada

A. Surat-surat untuk Jemaat-jemaat di Efesus, Smirna, Pergamus dan Tiatira (Why 2:1-29).

B. Surat-surat untuk Jemaat-jemaat di sardis, Filadelfia dan Laodikea (Why 3:1-22).

iii. Apa yang akan Terjadi

A. Penglihatan tentang Allah dan Anak Domba (Why 4:1-5:14)

B. Tujuh Meterai (Why 6:1—8:5)

C. Tujuh Sangkakala (Why 8:6—11:19)

D. Tujuh Tokoh (Why 12:1—14:20)

E. Tujuh Cawan Amarah (Why 15:1—16:21)

F. Jatuhnya Kota Pelacur (Why 17:1—18:24)

G. Jamuan Kawin Anak Domba (Why 19:1-10)

H. Penglihatan tentang Hukuman : Binatang, Iblis, Orang Mati (Why 19:11-20:15)

I. Surga Baru, Bumi Baru, dan Yerusalem Baru (Why 21:1—22:5)

I. Epilog (Why 22:6-21).

 

III. MAKSUD DAN TEMA

Kitab Wahyu bisa dikatakan kitab yang paling menantang dalam keseluruhan Kitab Suci, karena cara pelukisan dan bahasa apokaliptik yang menjadikannya suatu mahakarya sastra. Kompleksitas perlambangan di dalamnya membuat penafsiran menjadi sulit sekali. Bahkan St Hieronimus yang sangat ahli menyatakan bahwa kitab Wahyu ”mengandung misteri sebanyak kata-katanya” (Epit, 53.9). Para ahli terbagi di dalam pendekatan mereka mengenai isi dan maksud kitab Wahyu, namun pada umumnya ada empat pendapat mengenai tafsir kitab Wahyu yang mendapat dukungan bertahun-tahun, yang umumnya disebut tafsir futuristik (ke arah masa depan), tafsir preteristik (ke arah masa lalu), tafsir historis (kesejarahan), dan tafsir idealis (rohani).

 ■ Pandangan futuristik mengambil pendirian bahwa kitab Wahyu merupakan nubuat yang sangat kuat mengenai akhir dunia – suatu masa yang sarat dengan pencobaan, diikuti Kedatangan Kedua dari Yesus, Hukuman Terakhir dan kejayaan atas iblis. Maka, nubuat ini masih akan dipenuhi. Mungkin pandangan ini merupakan pandangan yang paling populer atas kitab Wahyu.

 ■ Pandangan preteristik mengandaikan peristiwa-peristiwa di dalam kitab Wahyu merupakan sejarah masa lalu, sudah terjadi pada abad pertama M. Banyak ahli memandang kitab Wahyu sebagai penafsiran atas benturan Kekristenan dengan Roma pagan pada akhir abad pertama. Preteris yang lain membaca kitab Wahyu dengan tabir di belakangnya Perang Yahudi hingga jatuhnya Yerusalem. Jika menurut pandangan preteris yang pertama yang tampak di panggung adalah situasi politik Roma akhir abad pertama, menurut pandangan preteris yang kedua Gereja mendapat visi teologis mengenai berakhirnya Perjanjian Lama dan berbagai faktor yang memungkinkannya.

 ■ Pandangan historis menganggap kitab Wahyu membeberkan panorama besar dan luas sejarah Gereja, dari abad pertama sampai akhir zaman. Tetapi pernyataan bahwa kemajuan Gereja di dunia dipaparkan di situ sulit untuk diterima karena kurangnya konsensus mengenai peristiwa-peristiwa mana yang dianggap diceritakan.

 ■ Pandangan idealis menyatakan bahwa kitab Wahyu merupakan gambaran yang hidup dari hidup rohani. Tanda-tanda dan lambang-lambang digunakan untuk memberi dorongan kepada jemaat Kristen yang di dunia ini menghadapi penganiayaan dan kerja keras. Konflik antara yang baik dan yang jahat tidak terikat waktu, dan setiap umat Kristen pada zaman manapun menghadapi pencobaan yang serupa.

 


Masing-masing pandangan mengandaikan bahwa Yesus datang untuk meluruskan apa yang salah dan secara definitif memperbarui dan mengubah ciptaan, dan masing-masing pandangan menyumbangkan sesuatu bagi para pembaca kitab Wahyu. Namun tidak ada pandangan tunggal yang memberikan kepada kita penjelasan menyeluruh yang memuaskan. Arah yang mungkin dapat dimengerti adalah menerima sebagian aspek dari masing-masing pandangan. Misalnya, ahli historis yang membuka pandangan para membaca untuk melihat peranan Gereja dalam sejarah keselamatan yang terus berkelanjutan; ahli preteris yang menambahkan konteks waktu di mana kitab Wahyu disusun; ahli idealis yang memfokuskan pembaca pada ajaran rohani yang dalam dari kitab ini; dan akhirnya ahli futuristik yang dengan setia mengarahkan pandangan pada Kedatangan Kedua dari Kristus, harapan dari semua orang Kristen. Sesungguhnya, janji dan nubuat-nubuat terpenuhi dalam pola spiral yang bergerak naik: sebagaimana suatu peristiwa dalam PL merupakan tipologi dalam PB, begitu pula kejadian-kejadian sekarang bisa menjadi tipologi kejadian-kejadian di masa datang.

 

IV. KITAB WAHYU SEBAGAI LITURGI

Para ahli modern memberikan perhatian yang bertambah-tambah pada dimensi liturgi dari kitab Wahyu, baik di dalam konteks maupun dalam isi kitab.

 

A. KONTEKS

Yohanes menerima penglihatan tentang Hari Tuhan, yaitu hari ketika umat Kristen di mana-mana merayakan ibadat (Why 1:10). Ada “firman” dari Tuhan yang disampaikan kepada berbagai jemaat dan dimaksudkan agar dibacakan dalam himpunan ibadat. Dalam Why 1:3 misalnya, “yang membacakan” dan “yang mendengarkan” mengingatkan kita pada lektor dan para pendengarnya dalam liturgi Sabda.

 

B. ISI

Ibadat sekaligus merupakan bagian dari alur dan tindakan utama kitab ini. Kepada kita kitab Wahyu menyampaikan ibadat Kristen yang ditujukan baik kepada Allah (bab 4) maupun kepada Anak Domba [Allah] (Bab 5).

      Penglihatan itu penuh dengan pemandangan dan bunyi-bunyian ibadat Israel. Yohanes melihat Bait Allah di surga dengan tabut perjanjian (Why 11:19) dan sebuah mezbah pedupaan (Why 8:3), dian lampu dari emas, busana imam, batu suci, gulungan kitab, sangkakala, ranting-ranting palma, harpa, dupa wewangian dan bejana percikan, dan di pusat segalanya adalah Anak Domba korban (Why 5:6). Ada lagu pujian: “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan, Allah segala kuasa, dahulu, sekarang dan selama-lamanya!” (Why 4:8).

            Semua pemandangan, bunyi-bunyian dan bahkan aroma dupa sangat akrab dengan ibadat Israel kuno: mereka adalah padanan surgawi dari realitas duniawi. Tindakan liturgis yang sama berlanjut dalam Gereja Kristen: kitab Wahyu menunjukkan kepada kita bahwa liturgi Kristen pada Hari Tuhan merupakan suatu peran serta dalam liturgi ilahi yang kekal yang tiada hentinya di surga.


Selasa, 08 November 2022

Yohanes, Rasul, Pengarang Injil Keempat, Surat2 Yohanes dan Kitab Wahyu

 



Yohanes adalah terjemahan Yunani dari Yohanan, bahasa Ibrani, artinya, “Tuhan itu murah hati”. Rasul dan Pengarang Injil, salah seorang di antara Keduabelas Rasul, putera Zebedeus dan saudara dari Yakobus Besar (Mat 10:2; Mrk 3:17; Luk 6|:14; Kis 1:13). Yohanes disebut tiga puluh tiga kali dalam Injil-injil Sinoptik, Kisah Para Rasul dan Surat Galatia. Tradisi menyebutnya “murid yang terkasih” karena ia menyatakan diri dengan sosok tanpa nama yang disebutkan beberapa kali di dalam Injil Yohanes itu (bdk Yoh 13:23; 21:20.24).

 

I. HIDUPNYA

Yohanes dan saudaranya, Yakobus, adalah anak-anak Zebedeus. Kristus menyebut mereka Boanerges (putera guntur, Mrk 3:17), mungkin karena ambisi dan tekat kuat  mereka. Yakobus disebut dua kali sebagai anak Zebedeus, sedang Yohanes dikaitkan dengan Yakobus, mungkin karena ia lebih muda (Mat 4:21; 10:2; Mrk 1:19; 3:17; bdk Mat 17:1).

      Yohanes dan Yakobus semula adalah nelayan penangkap ikan yang bekerja dengan ayah mereka di Laut Galilea (Mat 4:21.22; Mrk 1:19.20; Luk 5:10; bdk Yoh 21:3). Keluarga itu sepertinya tinggal di dekat Kapernaum, di pantai utara Laut Galilea (Mrk 1:21). Yohanes dan Yakobus sedang memerbaiki jala ketika Yesus memanggil mereka; mereka termasuk di antara rasul-rasul pertama yang dipanggil Yesus (Mrk 1:19-20; Mat 4:21-22; bdk Luk 5:1-11).

      Dalam daftar Keduabelas Rasul, Yohanes ditempatkan kedua (Kis 1:13), ketiga (Mrk 3:17), dan keempat (Mat 10:3; Luk 6:14). Di dalam Injil keempat, ia dikatakan sebagai “murid yang dikasihi Yesus” (Yoh 13:23; 20:2; 21:20.24). Bersama Petrus dan Yakobus, Yohanes menyaksikan Yesus menghidupkan kembali puteri Yairus (Mrk 5:37; Luk 8:51), menyaksikan Perubahan Rupa Yesus (Transfigurasi, Mat 17:2-3; Mrk 9:2-4; Luk 9:28.31) dan Sakaratul Maut yang dialami Yesus di Taman Getsemani (Mat 26:37; Mrk 14:32-33). Hanya Yohanes dan Petrus yang diutus Yesus untuk mempersiapkan Perjamuan Terakhir (Luk 22:8; bdk Mrk 14:13). Dan pada waktu Perjamuan Terakhir itu, Yohanes mendapat kehormatan duduk di samping Kristus (Yoh 13:23.25).

      Mat 20:20-28 dan Mrk 10:35-45 mencantumkan saat penting ketika Yakobus dan Yohanes memohon agar diperbolehkan duduk di sebelah kanan dan kiri Yesus di dalam KerajaanNya (Mat 20:20-21 menyatakan permintaan itu berasal dari ibu mereka, tetapi di dalamnya terkandung persetujuan kedua bersaudara itu atas permintaan tersebut). Jawaban Yesus adalah menawarkan kepada mereka peluang untuk minum dari “cawan”-Nya, peluang yang diterima oleh kedua bersaudara itu. Jelas bahwa mereka belum memahami hakekat dari Kerajaan Mesias: “Cawan” Yesus bukanlah sesuatu yang berkenaan dengan kemuliaan duniawi, melainkan berkaitan dengan sengsara dan korban Yesus.

      Di dalam Kisah Sengsara Tuhan, Yohanes mungkin adalah “murid lain” yang diceritakan mengikuti Kristus sesudah ditawan, dan Petrus, masuk ke dalam rumah imam besar (Yoh 18:15). Hanya Yohanes saja di antara keduabelas rasul yang berdiri di kaki salib Yesus di Kalvari menyertai Maria dan para wanita saleh lainnya, dan menerima Maria sebagai keluarganya atas permintaan Kristus di Salib (Yoh 19:25-27).

      Sesudah Kebangkitan, Yohanes sering dikaitkan dengan Petrus. Ia dan Petrus adalah yang pertama dari para rasul yang menyaksikan makam kosong (Yoh 20:2-10). Yohanes juga yang pertama dari ketujuh murid yang mengenali Kristus di Laut Galilea (Yoh 21:7). Setelah Pentakosta ia mendapatkan tempat yang terhormat di dalam Gereja Perdana. Paulus melukiskan Yohanes, bersama dengan Yakobus (saudara Tuhan) dan Petrus, sebagai tiang-tiang utama jemaat Kristen Yerusalem (Gal 2:9-10). Ia ada bersama Petrus ketika Petrus menyembuhkan orang lumpuh di gerbang Bait Allah (Kis 3:1); baik dia maupun Petrus dipenjarakan sesudah kejadian itu (Kis 4:3), dan bersama dengan Petrus ia mengunjungi Samaria (Kis 8:14).

 

II. TRADISI

Hanya sedikit yang diketahui dengan pasti mengenai karya misionernya di Palestina, tetapi karena ia tidak hadir dalam Kis 18:22 dan 21:17 ketika kepulangan Paulus, hal itu ditafsirkan bahwa ia telah meninggalkan daerah itu antara tahun 52 dan 55. Tradisi utama Gereja menyatakan bahwa Yohanes pindah ke Asia Kecil dan menetap di Efesus, di mana ia meninggal dalam usia lanjut karena sebab-sebab alamiah (bdk Tertulianus, An. 50). Kitab apokrif Kisah Yohanes juga menyatakan bahwa Yohanes berada di Efesus. Ada tradisi kecil di sana yang menyatakan bahwa Yohanes mati sebagai martir (mis. Lihat Heracleon dalam St Klemens Aleksandria, Strom. 4.9 dan Filipus dari Side pada abad kelima serta Martirologi Siria untuk tanggal 27 Desember dan karya Afrahat, Tentang Penganiayaan).

      Suatu sumber utama mengenai Yohanes di luar Perjanjian Baru adalah Eusebius (dalam Hist. Eccl 3.18.1; 23.3-4; 39.3-4; 4.18.6-8; 5.8.4; 18.14; 20.6). Eusebius mendasarkan tulisannya pada sumber-sumber lain termasuk St Klemens Aleksandria (3.39.3-4), Santo Ireneus (3.1.1; 39.3-4; bdk Adv Haer 2.22.3.5; 3.1.2; 3.4), Santo Yustinus Martir (4.18.6-8; bdk Dial 81.4), Polikrates (5.24.3) dan Apolonius (5.18.14).

      Dengan demikian pada Eusebius tersimpan sejumlah cerita mengenai Yohanes, misalnya ketika Yohanes membangkitkan seseorang dari mati di Efesus (Hist Eccl 5.18.14; lihat juga St Ireneus, Adv Haer 3.3.4 dan St Hieronimus, Comm. Gal. 6.10). Tradisi juga percaya bahwa Yohanes dibuang ke Pulau patmos di dekat Efesus pada masa pemerintahan Domitianus (tahun 81-96; bdk Eusebius, Hist. Eccl 3.13.1) dan bahwa ia menulis kitab Wahyu di sana (Why 1:9). Pada akhirnya, menurut tradisi, ia kembali ke Efesus dan hidup sampai pada masa pemerintahan kaisar Trayanus (sekitar tahun 98 -117; St Ireneus, Adv Haer 2.22.5).

 


III. YOHANES SEBAGAI PENGARANG

Menurut tradisi, Yohanes adalah pengarang dari lima tulisan dalam kanon Perjanjian Baru (Injil Yohanes, Surat-surat 1,2,3 Yohanes, dan kitab Wahyu), yang semuanya disebut korpus Yohanin (Tulisan-tulisan Yohanes).

      Para kritikus historis modern mempertanyakan kepengarangan Yohanes atas seluruh atau sebagian dari korpus Yohanin itu. Sehubungan dengan ketiga Surat Yohanes, beberapa ahli menolak tradisi lama mengenai kepengarangan rasul itu dan beranggapan bahwa surat-surat itu berasal dari tokoh gereja kuno lain yang disebut Yohanes “penatua” (2 Yoh 1) atau seorang penulis lain yang tidak dikenal yang sangat akrab dengan Injil keempat.

      Tradisi lama yang menyatakan Yohanes sebagai pengarang kitab Wahyu berasal sekurangnya dari St Yustinus Martir pada abad kedua. Demikian pulalah pendapat St Ireneus, Origenes, St Klemens Aleksandria, dan banyak lagi lainnya. Di pihak lain, sebagian orang di Timur yakin bahwa bukan Yohanes yang menjadi pengarangnya; ini adalah pendapat Dionisius dari Aleksandria (pertengahan abad ketiga) dan Eusebius dari Kaisarea (awal abad keempat), dan dasarnya adalah perbedaan gaya sastera antara Wahyu dan Injil Yohanes. Argumen ini dipegang oleh beberapa ahli modern, walaupun tidak ada konsensus sehubungan dengan siapa pengarang yang sesungguhnya. Nama-nama yang diduga sebagai pengarang kitab Wahyu adalah termasuk Yohanes Markus, Yohanes “penatua”, atau Yohanes lain yang tidak diketahui, atau bahkan seorang penulis anonim yang menggunakan nama Yohanes.

      Pada akhirnya, bukti yang dapat menjelaskan dengan memuaskan menegaskan tradisi kepengarangan rasul itu. Tidak sulit untuk mendapatkan penjelasan mengenai perbedaaan antara kitab Wahyu dan tulisan-tulisan lain dari Yohanes dengan anggapan bahwa semuanya berasal dari satu pengarang yang sama. Misalnya, karena tulisan-tulisan itu menggunakan tiga ragam sastra yang berbeda-beda (ragam sastra apokalip untuk Wahyu, ragam narasi untuk Injil dan ragam surat untuk ketiga surat). Pada tahun 1907 PBC (Pontifical Biblical Commission atau Komisi Kitab Suci Kepausan) menyampaikan argumen yang menentang sanggahan pihak-pihak yang meragukan kepengarangan Yohanes, dengan menyatakan bahwa tidak cukup bukti untuk menggugurkan tradisi yang hampir merupakan konsensus bahwa Yohaneslah pengarang seluruh korpus Yohanin .

SURAT-SURAT YOHANES


 


Surat-surat  Yohanes  

Tiga surat menurut tradisi dianggap berasal dari Yohanes, putera Zebedeus, kendati tidak satupun dari surat-surat itu menyebutkan nama Yohanes. Surat-surat itu tergolong Surat-surat Katolik (bersama dengan Surat-surat Yakobus, 1 dan 2 Petrus, serta Yudas)

 1 Yohanes

Sebuah surat yang ditujukan kepada jemaat-jemaat (gereja-gereja) yang tidak disebut namanya; tradisi menduga di sekitar Efesus di Asia Kecil. Pesan surat itu adalah bahwa Tuhan dinyatakan kepada kita dalam Putera, dan bahwa persahabatan dengan Bapa akan diwujudkan dengan hidup di dalam terang, keadilan dan kasih Putera. Surat juga mengoreksi kekeliruan dari mereka yang menyatakan bahwa mereka tidak berdosa dan tidak terikat pada Sepuluh Perintah Allah.

 I. PENGARANG DAN WAKTU PENULISAN

Pengarang surat tidak disebutkan. Dua belas kali surat itu mengisyaratkan bahwa ditulis oleh seseorang (misalnya dari kata“kutuliskan” dalam 1 Yoh 2;1.7.8.12.dst) tetapi ia juga bicara dengan wibawa atas nama yang lain-lain (misalnya dalam frasa “kami tuliskan”, 1 Yoh 1:4).

      Tradisi paling kuno menyatakan bahwa pengarang surat ini adalah Yohanes rasul, anak Zebedeus, (Mrk 3:17). Pernyataan itu tetap mantap di zaman Kristen kuno. Ajaran dan kosa kata surat sangat mirip dengan yang ada dalam Injil keempat, yang juga dianggap berasal dari rasul Yohanes dari masa awal kekristenan (lihat Yohanes, Injil). Namun kemudian beberapa ahli lebih condong beranggapan bahwa pengarang surat ini adalah seorang Yohanes yang lain, “penatua” (2 Yoh 1), atau seseorang yang tidak dikenal yang sangat paham ajaran-ajaran Injil keempat. Namun tidak cukup bukti untuk menggoyahkan tradisi lama Kristen mengenai Yohanes rasul sebagai pengarang surat ini.

      Waktu penulisan surat juga tidak pasti, melampaui batas-batas umum dari tahun 50 hingga 100. Banyak ahli menduga Surat Pertama Yohanes ditulis tak lama sesudah Injil Yohanes. Jika Injil Yohanes ditulis sekitar tahun 90-an, maka surat ini diperkirakan disusun pada tahun 100. Jika Injil Yohanes ditulis sebelum tahun 90-an, maka surat ini juga bergeser ke masa yang lebih dini lagi. Namun juga ada kemungkinan bahwa surat ini ditulis mendahului Injil Yohanes. Pendek kata, mustahil menetapkan waktu penulisan surat ini secara pasti, namun pada akhirnya yang paling mungkin adalah bahwa surat ini ditulis antara tahun 90 dan 100.

 II. ISI

I. Prolog (1:1-4)

II. Allah adalah Terang (1:5-2:6)

III. Perintah Baru (2:7-17)

IV. Antikristus (2:18-29)

V. Anak-anak Allah (3:1-10)

VI. Kasih Satu Pada Yang Lain (3:11-24)

VII. Membeda-bedakan Roh (4:1-6)

VIII. Tuhan adalah Kasih (4:7-21)

IX. Iman dan Dunia (5:1-12)

X. Epilog (5:1-21)

 

III. MAKSUD DAN TEMA

Surat pertama Yohanes ditulis untuk menangkal situasi yang berbahaya: sekelompok pengajar palsu yang memisahkan diri (yang oleh Yohanes disebut para antikristus, penipu, penyesat) membawa umat Kristen pada kesesatan. Yohanes boleh jadi menulis kepada para anggota jemaat di Efesus, dan boleh jadi ia kenal secara pribadi dengan  penerima suratnya (1 Yoh 2:1.12-14; 3:11). Berbeda dengan surat kedua dan ketiga, Surat Pertama Yohanes lebih merupakan suatu khotbah ketimbang sebuah surat.

      Pengajar-pengajar palsu memisahkan diri dari jemaat (1 Yoh 2:19) dan menyangkal bahwa Yesus adalah “Kristus” (1 Yoh 2:22; 5:1) dan “Anak Allah” (1 Yoh 2:23; 5:5), walaupun identitas yang sebenarnya dari bidat itu sulit dipastikan. Mungkin mereka adalah pengikut Kerinti yang menyatakan bahwa Kristus yang ilahi turun pada manusia  biasa Yesus tetapi meninggalkan Dia persis sebelum Sengsara dan mati. Atau mungkin pengikut ajaran Marcion (Docetis) yang percaya bahwa Kristus hanya tampaknya saja menderita dan mati di salib. Atau mungkin mereka adalah pengikut ajaran Gnostis yang percaya bahwa pengetahuan akan Kristus yang sebenarnya dirahasiakan dari semua orang kecuali untuk beberapa kaum pilihan saja. Pengajar-pengajar palsu tampaknya kain bahwa mereka bebas dari dosa, sehingga mereka tidak merasa wajib menaati Sepuluh Perintah Allah, termasuk perintah kasih untuk saling mengasihi.

      Surat Pertama Yohanes mengecam para pengajar palsu itu dengan beberapa butir pokok. Tak ada orang yang kasih pada Allah tanpa mematuhi perintahNya (1 Yoh 2:3.4; 3:24; 5:3) atau yang melakukan dosa semau-maunya (1 Yoh 3:6-8; 5:18). Tidak ada yang dapat menyatakan dirinya bebas dari dosa (1 Yoh 1:10) dan satu-satunya jalan untuk mengatasi dosa adalah mengakui dosa dan meminta pengampunan melalui Kristus (1 Yoh 1:7-9; 2:1.12). Orang tidak mungkin menghormati Allah jika tidak menerima bahwa Yesus Kristus datang dari Allah (1 Yoh 3:23; 4:2.3.14; 15:1) dan barangsiapa tidak mau percaya kepada Putera ia menolak Bapa (1 Yoh 2:22.23).

      Surat ini juga menekankan persahabatan dengan Allah, yang adalah kasih (1 Yoh 4:16). Yesus telah menunjukkan kasih Allah dengan memberikan hidupNya, sehingga kita pun wajib menunjukkan kasih kita kepada sesama (1 Yoh 3:16-18; 4:9-12). Maka perintah terbesar bagi umat Kristen adalah untuk saling mengasihi sebagai saudara (1 Yoh 3:23; 4:21). Sebaliknya, orang yang membenci saudaranya tidak mengasihi Allah (1 Yoh 2:7-11; 3:11; 4:7.8.20; 5:2).

      Suatu kontras yang tajam dilukiskan di antara anak-anak Allah dengan para pengajar palsu yang adalah golongan kaum anti-kristus (1 Yoh 2:18) dan pengikut setan (1 Yoh 3:7-10; 5:19). Anak-anak Allah diurapi (1 Yoh 2:20) dan tidak memerlukan pengajaran; mereka didesak agar berpegang pada apa yang telah diajarkan sejak semula (1 Yoh 2:24). Jika demikian, mereka akan menang jaya (1 Yoh 5:4.5).

 

2 Yohanes

Ditujukan kepada “Ibu yang terpilih dan anak-anaknya”, surat ini mungkin dimaksudkan untuk suatu gereja di Asia Kecil. Surat memuji mereka karena terus gigih berpegang pada iman dan mendesak mereka agar meneruskannya dengan tekun.

 I. PENGARANG DAN WAKTU PENULISAN

Pengarang surat tidak membubuhkan namanya tetapi menyebut dirinya sebagai “penatua” (2 Yoh 1), sebutan yang sama pada surat 3 Yoh. Tradisi Kristen menganggap pengarang ketiga surat Yohanes adalah orang yang sama, yaitu Yohanes rasul, tetapi pandangan ini tidak bulat. Bahkan dari Gereja kuno, ada beberapa (misalnya Papias pada abad kedua) yang yakin bahwa surat-surat 2 dan 3 Yoh ditulis oleh seseorang yang bukan Yohanes rasul, melainkan seorang gembala umat yang bernama “Yohanes sang penatua” yang boleh jadi hidup sezaman dengan Yohanes rasul di Asia Kecil. Di pihak lain, tradisi bahwa Yohanes adalah pengarang ketiga surat sudah lebih kuno, dan ada keserupaan gaya sastra di antara surat kedua dan surat pertama (bdk 1 Yoh 2:27 dengan 2 Yoh 5; 1 Yoh 2:18-22 dengan 2 Yoh 7; 1 Yoh 1:4 dengan 2 Yoh 12). Dengan adanya keserupaan-keserupaan itu amanlah jika disimpulkan bahwa surat-surat 2 dan 3 Yohanes ditulis oleh orang yang sama dengan surat 1 Yoh, dan mungkin hampir bersamaan waktu penulisannya.

 

II. ISI

I. Salam (ayat 1-3)

II.Kebenaran dan Kasih (ayat 4-12)

III. Salam Penutup (ayat 13).

 

III. MAKSUD DAN TEMA

Surat Kedua Yohanes jauh lebih singkat daripada Surat Pertama dan di dalam bentuk suatu surat (sementara Surat Pertama lebih merupakan suatu khotbah). Maksud utamanya adalah menyemangati kaum beriman untuk bertekun gigih berhadapan dengan para pengajar palsu. Para pengajar palsu itu adalah “yang tidak mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia. Itu adalah si penyesat dan antikristus” (2 Yoh 7). Begitu prihatinnya si pengarang mengenai hal itu sehingga ia bermaksud untuk mengunjungi orang yang disuratinya untuk membahas persoalan itu. Sekalipun pendek, surat itu menyampaikan program rangkap tiga, yaitu: kasih persaudaraan, bakti iman, dan perlawanan pada pengajar-pengajar palsu dengan segala ajaran mereka.

 

3 Yohanes

Suatu surat yang ditujukan kepada “Gayus yang kekasih, yang kukasihi dalam kebenaran” ini berkaitan dengan penyelesaian hukum atas persoalan di dalam suatu jemaat setempat (mungkin suatu gereja di dekat Efesus).

 I. PENGARANG DAN WAKTU PENULISAN

Surat Ketiga Yohanes ini menunjukkan kesamaan yang menonjol dalam hal gaya sastra, struktur, dan panjangnya, dengan surat yang kedua. Tradisi lama Kristen menganggap Yohanes rasul sebagai pengarangnya. Beberapa ahli beranggapan bahwa sebenarnya surat yang ketiga ini justru merupakan surat yang tertua dari ketiga surat Yohanes, namun pernyataan itu tidak dapat dipastikan kebenarannya.

 

II. ISI

I. Salam (ay 1)

II. Pujian dan Nasehat kepada Gayus (ay 2-8).

III. Diotrefes dan Demetrius (ay 9-12)

IV. Salam Penutup (ay 13-15).

 

III. MAKSUD DAN TEMA

Surat yang ketiga dari Yohanes ini ditujukan kepada Gayus, yang menjadi tuan rumah, menerima para misionaris Kristen yang melakukan perjalanan (ay 5-8). Pengarang memuji dia sebagai orang yang “hidup dalam kebenaran” (ay 3), dan Gayus disemangati untuk melanjutkan karyanya yang berharga sebagai amal kasih Kristen itu. Surat juga prihatin dengan seorang yang bernama Diotrefes, yang terbukti menjadi pemimpin yang buruk bagi jemaat (ay 9-11) dan tentang Demetrius yang baik (ay 12).

      Surat ini merupakan tulisan yang paling pendek dalam Perjanjian Baru, tetapi ia memberikan kepada kita keterangan penting mengenai keadaan tertentu dari Gereja Purba. Diperlihatkan khususnya bagaimana Gereja membahas persoalan yuridsiksi dan persaingan di antara para pemimpinnya, seperti yang diperlihatkan melalui perselisihan antara Yohanes, sang gembala dan pemimpin komunitas-komunitas di Asia |Kecil, dengan pemimpin setempat Diotrefes yang melaksanakan wewenangnya dengan cara yang kasar dan tidak baik. Di tengah-tengah mereka adalah Gayus, yang oleh si pengarang diharapkan mendukung pemimpin yang sesungguhnya, bertahan dalam iman dan menerima Demetrius. Si penatua berharap akan datang sendiri untuk menyelesaikan soal itu (ay 14) dan “akan meminta perhatian atas segala perbuatan yang telah dilakukannya, sebab ia meleter melontarkan kata-kata yang kasar terhadap kami” (ay 10).