Daftar Blog Saya

Tampilkan postingan dengan label Menyelamatkan Roma. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Menyelamatkan Roma. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 November 2022

LEO AGUNG 400-461

 


Attila, pemimpin bangsa Hun, yang terkenal sebagai Penyiksa Allah, pada tahun 449 menyerang Italia. Ia mengepung, merebut, dan membakar Aquileia, dan melanjutkan perjalanan ke Roma. Pasukannya sudah bersiap menyeberangi Sungai Po untuk menyerang Roma. Tetapi kemudian ia dihadang Uskup Roma, Leo Agung. Uskup yang berwibawa itu dengan halus menyuruh Attila membawa kembali pasukannya pulang ke negerinya. Dalam pandangannya, di samping Uskup Leo ada sesosok imam membawa pedang bercahaya yang sangat menakutkan. Sosok itulah yang membuat hati Attila mencelos dan takut, sehingga ia mematuhi perkataan Leo Agung yang lembut dan mundur ke Pannonia.

Uskup Roma Leo Agung menduduki tahta Petrus sebagai Paus menggantikan Paus Sixtus III dari tahun 440-461. Beberapa tahun kemudian setelah Attila, Pemimpin Genseric juga menyerang Roma namun sekali lagi dengan wibawanya Paus Leo Agung menyelamatkan Roma dari kerusakan dengan halus tanpa perang.

Paus Leo I lebih dikenal ketika ia memimpin Konsili Kalsedon (451). Pada Konsili itu ditegakkan dogma bahwa Yesus Kristus adalah pribadi Allah yang mempunyai dua hakekat, sungguh Allah dan sungguh manusia. Penjelasannya tercantum dalam Epistula Dogmatica yang dialamatkan kepada Patriarkh Alexandria Timoteus Salofaciolus dan Patriarkh Konstantinopel Flavianus. Dengan dogma itu Leo I  mempertahankan keutuhan Gereja yang terancam oleh perbedaan pandangan satu kodrat (monofisit) tentang Yesus Kristus; yang satu memandang Yesus hanya Allah, yang lainnya meyakini Yesus hanyalah manusia yang sangat unggul mulia. Karena wibawa dan kebijaksanaannya, Leo I mendapat sebutan Agung, Leo Agung, dan Pujangga Gereja.

Paus Leo Agung wafat pada 10 November 461.

Paus Emeritus Benediktus XVI menyatakan bahwa kepausan Leo Agung adalah masa yang perlu disyukuri karena kesatuan Gereja berulangkali diselamatkan dari berbagai ancaman, baik ancaman politik maupun ancaman perpecahan teologi.