Daftar Blog Saya

Tampilkan postingan dengan label Mewahyukan Diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mewahyukan Diri. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Februari 2023

ALLAH

 



Allah 

Pencipta segala sesuatu. Allah adalah sempurna dan mahakuasa, esa, satu dalam tiga pribadi (Bapa, Putera dan Roh Kudus). Dalam terjemahan Indonesia “Allah” (dengan A besar) adalah nama pribadi Ilahi Tertinggi, sedang allah, atau ilah, adalah kata benda umum untuk “yang ilahi” lainnya, yang disebutkan dalam Kitab Suci.

      Umat Kristen mendapatkan pengertian mereka tentang Allah dari dua sumber: Kitab Suci dan akal-budi. Keduanya saling menunjang dan saling mengukuhkan. Akal budi mengatakan kepada kita bahwa harus ada Allah yang esa; Kitab Suci menunjukkan kepada kita siapa Allah karena Ia mewahyukan, menyatakan diriNya sendiri kepada manusia.

      Di dalam Kitab Suci, Allah dilukiskan dengan berbagai cara yang berbeda. Orang yang tidak beriman menemukan Dia di dalam alam ciptaan; Umat Pilihan menjumpai Dia dalam alam ciptaan dan sejarah; dan kemudian seluruh dunia menemukan Dia di dalam alam ciptaan, di dalam sejarah, dan di dalam pribadi Yesus Kristus.

      Perjumpaan kita dengan Tuhan selalu merupakan perjumpaan dua pribadi. Allah adalah Pribadi yang bekerja, dan manusia menjadi saksi dari karyaNya. Maka apa yang kita ketahui tentang Allah belum lengkap, dan sepenuhnya bergantung kepada kehendak dan tindakan Allah yang mewahyukan diriNya sendiri. Pengetahuan kita akan dijadikan lengkap jika kita melihat Dia muka dengan muka pada pernyataan diri yang tuntas dalam pemandangan kudus nanti.

 

I.                Mengenal Allah Melalui Akal Budi

A.     Allah Tampak dalam Ciptaan

B.     Bukti Keberadaan Allahdari  Santo Tomas

C.    Keterbatasan Akal budi

II.              Perjanjian Lama dan Baru

A.     Rencana Perwahyuan

B.     Wahyu Allah dalam Perjanjian Lama

C.    Penyempurnaan Perwahyuan Allah dalam Perjanjian Baru

III.            Kodrat dan Sifat Ilahi

A.     Mengenal Allah dari WahyuNya

B.     Kesempurnaan Allah

C.    Kekekalan Allah

D.    Kemahakuasaan Allah

E.     Kekudusan Allah

F.     Kasih Allah

IV.            Kebapaan Allah

A.     Israel Sebagai Anak Allah

B.     Keikutsertaan Umat Kristen dalam Keputraan Kristus

V.               Nama-nama Allah

 

I. Mengenal Allah Melalui Akal Budi

A. Allah Tampak dalam Ciptaan

Santo Paulus menulis: “Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih” (Rm 1:20; bdk Kis 14:15; 17:27-28; Keb 13:1-9).

      Allah sudah menunjukkan kepada semua orang – yang beriman maupun tidak beriman sama saja – kemuliaan dan dayanya yang kreatif di dalam gerakan-gerakan benda langit, kepastian musim, dan keindahan dan kelimpahan dunia ini. Dari zaman permulaan adanya manusia, manusia melihat kebenaran ini dan berusaha menyatukan diri dengan Sang Pencipta melalui ibadat penyembahan.

 

B. Bukti Keberadaan Allah dari  Santo Tomas

Ahli-ahli filsafat menjumpai Allah melalui akal budi sebagai Yang Mahakuasa yang tetap mengatasi segalanya dan ada di luar dunia. Santo Tomas mengajarkan bahwa akal-budi saja dapat membuktikan keberadaan Allah dalam lima cara.

1. Argumen gerakan. Karena segala sesuatu yang bergerak pasti digerakkan oleh sesuatu yang lain, maka pasti ada Penggerak pertama  (Prime mover).

2. Argumen penyebab efisien. Sesesuatu ada karena suatu sebab. Dan karena itu pasti ada Sebab yang Pertama.

3. Argumen kemungkinan dan keniscayaan. Semua yang ada di dunia ini berasal dari sesuatu yang lain, mengalami kerusakan, dan akhirnya tak ada lagi. Tetapi jika semuanya kemudian tidak ada, akan mustahil bahwa ada sesuatu,  maka harus ada keberadaan yang tidak berubah, yang sudah berada dalam dan dari dirinya sendiri.

4. Argumen gradasi. Segala sesuatu ada yang lebih benar atau kurang benar, lebih bagus atau kurang bagus, dan sebagainya. Namun pasti ada sesuatu yang paling baik dan paling benar.

5. Argumen rancangan: semua yang kekurangan pengertian pada dirinya sendiri bertindak mengikuti hukum tertentu, maka pasti ada sesuatu yang merancang dan mengatur jalannya semesta.



 

C. Keterbatasan Akal budi

Tetapi wahyu semacam itu tidak lengkap. Paulus mengeluh tentang para ahli filsafat: “Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh. Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat maupun binatang-binatang yang menjalar” (Rm 1:22- 23).

      Ada penghambat di dalam usaha mengenal Allah dengan cahaya akal budi saja. Paus Pius XII menulis:

"Karena kebenaran yang menyangkut Allah serta hubungan antara Allah dan manusia sungguh melampaui tata dunia yang kelihatan; kalau diterapkan pada cara hidup manusia untuk membentuknya, maka kebenaran-kebenaran itu akan menuntut pengurbanan diri dan penyangkalan diri. Akan tetapi, akal budi manusia mengalami kesulitan dalam usahanya untuk mencari kebenaran-kebenaran yang demikian itu, bukan hanya karena dorongan pancaindera dan khayalan, melainkan juga karena nafsu yang salah, yang merupakan akibat dari dosa asal. Maka, terjadilah bahwa manusia dalam hal-hal yang demikian itu, mudah meyakinkan diri sendiri bahwa apa yang mereka tidak inginkan sebagai benar adalah palsu atau paling kurang tidak pasti" (Pius XII, Ens."Humani Generis": DS 3875).

      Karena itu manusia memerlukan pencerahan dari wahyu ilahi. Allah dengan bebas memilih untuk mewahyukan DiriNya sendiri dengan “menyingkapkan rahasia Nya yang paling dalam, keputusan-Nya yang berbelas kasih, yang Ia rencanakan sejak keabadian di dalam Kristus untuk semua manusia. Ia menyingkapkan rencana keselamatan Nya secara penuh, ketika Ia mengutus Putera Nya yang terkasih, Tuhan kita Yesus Kristus dan Roh Kudus” (KGK 50).

      Ini tidak dimaksudkan untuk mengatakan bahwa akal budi tidak berguna. Sebaliknya, akal budi membantu mengarahkan kita pada iman. Katekismus Gereja Katolik mengajarkan dua cara untuk mengetahui keberadaan Allah: “Kemampuan manusia menyanggupkannya untuk mengenal adanya Allah yang berkepribadian. Tetapi supaya manusia dapat masuk ke dalam hubungan yang akrab dengan Allah, maka Allah hendak menyatakan Diri kepada manusia dan hendak memberikan rahmat kepadanya supaya dengan kepercayaan dapat menerima wahyu ini. Namun bukti-bukti mengenai adanya Allah dapat menghantar menuju kepercayaan dan dapat membantu supaya mendapat pengertian bahwa kepercayaan  tidak bertentangan dengan akal budi manusia” (KGK 35; Konsili Vatikan I, Dei Filius 2; DS 3004).

 

II. Perjanjian Lama dan Baru

 

A. Rencana Perwahyuan

Karena akal budi saja tidak memadai, terutama karena kodrat kita yang berdosa, maka Allah berkenan untuk mewahyukan DiriNya sendiri dan mewartakan keselamatan kekal. Allah mewahyukan diri secara langsung kepada kita di dalam Kitab Suci dan dalam pribadi Yesus Kristus, Sabda yang Menjadi Manusia.

      Dokumen Konsili Vatikan II,  Dei Verbum, menyatakan:

Dalam kebaikan dan kebijaksanaan-Nya Allah berkenan mewahyukan Diri-Nya dan memaklumkan rahasia kehendak-Nya (lih. Ef 1:9); berkat rahasia itu manusia dapat menghadap Bapa melalui Kristus Sabda yang menjadi daging, dalam Roh Kudus, dan ikut serta dalam kodrat ilahi (lih. Ef 2:18; 2Ptr 1:4). Maka dengan wahyu itu Allah yang tidak kelihatan (lih. Kol 1:15; 1Tim 1:17) dari kelimpahan cinta kasih-Nya menyapa manusia sebagai sahabat-sahabat-Nya (lih. Kel 33:11; Yoh 15:14-15), dan bergaul dengan mereka (lih. Bar 3:38), untuk mengundang mereka ke dalam persekutuan dengan Diri-Nya dan menyambut mereka di dalamnya. Tata perwahyuan itu terlaksana melalui perbuatan dan perkataan yang amat erat terjalin, sehingga karya, yang dilaksanakan oleh Allah dalam sejarah keselamatan, memperlihatkan dan meneguhkan ajaran serta kenyataan-kenyataan yang diungkapkan dengan kata-kata, sedangkan kata-kata menyiarkan karya-karya dan menerangkan rahasia yang tercantum di dalamnya. Tetapi melalui wahyu itu kebenaran yang sedalam-dalamnya tentang Allah dan keselamatan manusia nampak bagi kita dalam Kristus, yang sekaligus menadi pengantara dan kepenuhan seluruh wahyu” (DV 2)

 


B. Wahyu Allah dalam Perjanjian Lama

Allah membuat DiriNya dikenal oleh manusia pertama, orangtua keluarga manusia. Tetapi wahyu Allah tidak terhenti oleh dosa Adam dan Hawa. Bahkan Allah menjanjikan kepada mereka penyelamatan di masa depan, dan Ia tidak pernah meninggalkan mahluk yang dikasihiNya itu (1 Kej 3:15; Rm 2:6-7).

      Wahyu Allah berlanjut melalui perjanjian dengan Nuh dan kemudian dengan Abraham. Abraham dan keturunannya menyembah Allah yang esa dan benar – suatu ibadat yang dasarnya adalah kasih dan kesetiaan Allah yang tiada habisnya kepada umatNya. Allah mengutus Musa memimpin umatNya keluar dari Mesir dan mengadakan perjanjian di Gunung Sinai. Perjanjian yang memanggil Israel untuk menjadi bangsa imamat yang kudus, saudara sulung dari bangsa-bangsa, dan “supaya mengakui Diri-Nya sebagai satu-satunya Allah yang hidup dan benar, sebagai bapa penyelenggara dan sebagai hakim yang adil, dan untuk menantikan Juru Selamat yang dijanjikan” (KGK 62; bdk DV 3)

 

C. Penyempurnaan Perwahyuan Allah dalam Perjanjian Baru

Sesudah berbicara melalui nabi-nabi, dan dengan demikian terus membina kerinduan dan harapan akan keselamatan, Allah mewahyukan Diri secara definitif dan tuntas dalam Yesus Kristus (bdk Ibr 1:1-2; Yoh 1:1-18). Yesus, Sabda yang menjadi manusia, menyelesaikan wahyu dengan memenuhinya, “dan meneguhkan dengan kesaksian ilahi, bahwa Allah menyertai kita, untuk membebaskan kita dari kegelapan dosa serta maut, dan untuk membangkitkan kita bagi hidup kekal. Adapun tata keselamatan kristiani, sebagai perjanjian baru dan tetap, tidak pernah akan lampau; dan sama sekali tidak boleh dinantikan lagi wahyu umum yang baru, sebelum Tuhan kita Yesus Kristus menampakkan Diri dalam kemuliaan-Nya (lih. 1Tim 6:14 dan Tit 2:13). (DV4). 

 

III. Hakekat dan Sifat Ilahi

 

A. Mengenal Allah dari WahyuNya

Karena Allah menunjukkan DiriNya sendiri dalam alam ciptaan dan Kitab Suci, kita dapat memahami sesuatu mengenai hakekat dan sifatNya.

      Allah pada hakekatnya yang paling murni adalah Roh (Kej 1:2-3), sebagaimana dinyatakan Kristus kepada wanita Samaria di sumur: “Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran''  (Yoh 4:24). Dengan demikian Allah hadir dengan tanpa tubuh atau fisik (bdk Rm 1:20; Yoh 1:8). Jika Kitab Suci membicarakan Allah dalam tata-peristilahan manusia (misalnya punya emosi seperti marah, atau punya mata dan telinga), hal itu dilakukan dalam bahasa antropomorfis (bentuk tubuh manusia) yang mengungkapkan begitu dekatnya Allah dan karya tindakanNya di dalam sejarah manusia sekaligus mengakui transendensi ilahi yang sepenuhnya ada padaNya, bahwa Ia sungguh melampaui segala sesuatu.

 

B. Kesempurnaan Allah

Hakekat Allah adalah mutlak sempurna dan jauh di atas kemampuan kita untuk memahamiNya. Pengetahuan kita akan Allah adalah terbatas, bahasa kita tentang Dia-pun tentulah juga tidak sempurna.

      Tetapi karena kita diciptakan dalam gambar/citra Allah dan keserupaan dengan Dia, kita bisa berusaha memahami Dia dengan merenungkan diri kita sendiri, pengalaman kita, dan daya-daya rohani kita. Kesempurnaan dalam kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang kita ketahui mencerminkan kesempurnaan Allah yang tiada batas dan paling tinggi (KGK 39-43). Kesempurnaan Allah dapat dilihat dengan berbagai ragam cara, misalnya dalam transendensiNya (Ia mengatasi segala sesuatu), dalam imanensiNya (Ia berada dalam segala sesuatu),  dalam konstanta-Nya (Ia tidak berubah), dalam kekekalanNya, dalam ke-Mahatahu-anNya, kekudusan dan kasihNya. Konsili Vatikan I (1869-1870) menyatakan bahwa Allah “adalah Allah yang esa, benar dan hidup, Pencipta langit dan bumi, mahakuasa, kekal, tiada batas, mengatasi pemahaman, mahatahu dan kehendakNya tiada terperi, sempurna segalanya....Roh yang tiada duanya, sangat sederhana dan tak berubah... pada hakekatnya sungguh berbeda dari dunia, sepenuhnya mulia dalam DiriNya sendiri dan dari DiriNya sendiri dan niscaya jauh lebih tinggi dari segala sesuatu lainnya yang sesungguhnya, atau yang dipikirkan, terpisah dari Dia.”

      Keberadaan Allah yang tiada batasnya itu meliputi daya mahatahuNya (Ia tahu akan segala sesuatu), kehadiranNya di mana saja (tidak terbatas oleh tempat tertentu), dan daya kuasanya (Ia mempunyai kuasa yang bersifat mutlak). Selanjutnya, Ia mengatasi segala sesuatu, yang berarti bahwa Ia mengatasi alam kodrat, membimbing dan mengarahkannya (bdk Yes 40:12-17), sekaligus ada pada segala sesuatu, hadir di mana-mana dalam alam ciptaanNya. Ia tidak berdiri terpisah dari dunia, sebab Ia terus menopang keberadaan ciptaanNya dan selalu hadir bagi ciptaanNya hingga kekal.

 

C. Kekekalan Allah

Kehadiran Allah yang kekal sudah dinyatakan dalam sabdaNya kepada Musa, “: "AKU ADALAH AKU…. katakan kepada orang Israel itu: ‘AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu’." (Kel 3:14). Allah ada pada permulaan dunia, pada masa Abraham, ketika Israel dikeluarkan dari Mesir, dan ketika sejarah keselamatan melalui zaman-zaman. Mazmur menyatakan: “Sebelum gunung-gunung dilahirkan, dan bumi dan dunia diperanakkan, bahkan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah Allah” (Mzm 90:2) Maka kata Yesus kepada mereka: ''Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.'' (Yoh 8: 58). Dan Paulus berkata kepada para ahli filsafat di Atena: “Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia,  dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang” (Kis 17:24-25).

 

D. Kemahakuasaan Allah

Kehadiran Allah yang kekal juga menunjukkan daya kuasaNya yang meliputi segalanya. Dalam Kitab Suci Ia disebut sebagai “Tuhan sekalian alam”, Tuhan alam semesta, dan penguasa sejarah (bdk Kej 49:24; Yes 1:24; Mzm 24:8-10, 135:6; Yer 27:5; 32:17; Luk 1:37). Kitab Kebijaksanaan menyatakan : “Bertindak sesuai dengan besarnya kekuasaanMu senantiasa ada dalam kemampuanMu, dan siapa gerangan dapat bertahan terhadap kekuatan lenganMu?” (Keb 11:21; bdk Est 4:17; Ams 21:1; Tob 13:2).

 

E. Kekudusan Allah

Dalam besarnya kekuasaanNya, Allah juga sungguh maha kudus, pengampun dan penyayang. Segala yang kudus berasal dari Allah, sebab hanya Dia-lah yang kudus (Yes 6:3). Di mana saja Ia berada dan apa saja yang disentuhNya menjadi kudus (bdk Kej 28:16; Kel 3:4; Im 16:12), sebagaimana semua tempat yang dipilihNya untuk berdiam; maka Kemah Suci yang dipilihNya untuk berdiam termasuk apa yang disebut “tempat maha kudus” (Kel 26:33-34), dan |Rumah Allah adalah kudus ( 1 Taw 29:3; Yes 64:10). Altar dan pelayan ibadat kepada Allah disebut kudus (Kel 40; Im 8-9) begitu juga semua aspek dari ibadat dan liturgi (bdk Im 22:10-16; 1 Sam 21:5-7; Neh 10:32). Kekudusan Allah dinyatakan melalui seluruh Kitab Suci, mulai dari awal cerita Penciptaan dalam Kitab Kejadian sampai kalimat terakhir Kitab Wahyu). Allah menyatakan dalam Kitab Yehezkiel : “Aku akan menguduskan namaKu yang besar yang sudah dinajiskan di tengah bangsa-bangsa, dan yang kamu najiskan di tengah-tengah mereka. Dan bangsa-bangsa akan mengetahui bahwa Akulah Tuhan, demikianlah firman Tuhan Allah, manakala Aku menunjukkan kukudusan-Ku kepadamu di hadapan bangsa-bangsa” (Yeh 36:23; bdk Yeh 20|:41; 39:27; Y|es 40:25-26; 41:13-16).

      Ke hadapan kekudusan Allah yang tiada batasnya itu, segala mahluk-Nya dibawa bersemuka dengan segala dosa mereka (bdk Kel 34:30-35; Mrk 9:1-7), ketika ampunan Allah yang tiada batasnya dan kasihNya yang tiada terhingga serentak memancar di hadiratNya. Berkat belas kasihanNya, Allah memberikan janji harapan kepada para pendosa: Ketika bicara tentang belas kasih Allah itu, pengarang Kitab Kebijaksanaan berkata, ”Karena Engkau berkuasa atas segala sesuatu, maka semua orang Kaukasihani” (Keb 11:21). 

 

F. Kasih Allah

Kasih Allah dinyatakan sehabis-habisnya oleh Yesus Kristus. Kasihmerupakan dasar dari penciptaan, dan kasih Allah tak pernah hilang, sekalipun berhadapan dengan ketidaksetiaan Israel (bdk Ul 4:37; Yes 43:4; 48:14; Mzm 33:5; 37:28; 146:8). Karena kasihNya itu, Allah rela memberikan Anak-Nya sendiri untuk membawa keselamatan bagi seluruh umat manusia (Rm 5:8-9; Yoh 3:16; 1 Yoh 4:10-11). Kristus menyatakan bahwa Allah adalah kasih (1 Yoh 4:8) dan melalui  Kristus umat beriman diundang untuk ikut serta di dalam kekudusan dan menikmati kemesraan yang mendalam dengan Allah. Berkat kasihNya, Allah membawa umat Kristen ke dalam hidup Tritunggal Mahakudus dan melaksanakan adopsi, mengangkat anak umat beriman, sebagai seorang bapa yang menjadikan seseorang sebagai putranya (Rm 8:14-17) (KGK 26-141; 198-324; 2807-2827).

 

IV. Kebapaan Allah

 


A. Israel Sebagai Anak Allah

Allah memanggil Israel menjadi puteraNya, anak sulungNya (Kel 4:22), dan di dalam perjanjian Sinai Tuhan mengharapkan Israel menjadi “suatu kerajaan imam dan bangsa yang kudus” (Kel 19:6), yang diutus Bapa kepada bangsa-bangsa dunia, memenuhi peran sebagai imam kerajaan dan kakak sulung (bdk Mat 28:20; Luk 4:25-27; 24:47; Yoh 10:16; 17:11; 20:21). Allah tetap setia pada janjiNya menjadi Bapa (bdk Hos 11:1; Mal 1:6), dan Israel menjadi anak-anakNya, sebagai anggota-anggota dari suatu bangsa yang diberi status anak (Ul 14:1). Bangsa Israel diharapkan menjadi anak-anak yang setia, tetapi status merek tidak berubah sekalipun mereka meunjukkan ketidak-setiaan (Yes 30:9).Keanggotaan dalam umat Israel uyang lebih luas juga dipandang sebagai pemberian status anak perorangan dan suatu hubungan yang mesra dengan Allah (bdk Keb 2:13-16).

 

B. Keikutsertaan Umat Kristen dalam Keputraan Kristus

Perjanjian Baru membawa penyempurnaan pengakuan bahwa Allah adalah Bapa, dengan menampilkan Dia sebagai Bapa bukan saja bagi Israel, tetapi juga bagi semua pria dan wanita. Kristus berbicara tentang Allah sebagai “BapaKu”, dan kepada paa murid dikatakanNya bahwa Allah adalah “Bapamu”. Ia mengajar mereka berdoa “Bapa Kami” (Mat 6:9). Yesus memanggil BapaNya sebagai Abba (Mrk 14:36), suatu sebutan yang mengungkapkan kemesraan yang mendalam di antara mereka. Dengan mengajak murid-murid menyebut Allah “Bapa”, Yesus berbagi dengan umat Kristen kemesraan hubungan itu.

      Ketika melukiskan Bapa, Yesus mengajarkan wewenang dan kuasa Allah yang melebihi segala sesuatu sekaligus kebaikan dan kasih Allah yang memerhatikan semua anak-anakNya. Allah melampaui semua kata dan istilah, analogi dan gambaran manusia; dan Dia juga melampaui kebapaan dan keibuan manusiawi, juga sekalipun Dia adalah teladan dan asal mereka: sebab tak ada seorangpun sebagai bapa dapat dibandingkan dengan  Allah Bapa yang di surga (bdk Mzm 27:10; Ef 3:14; Yes 49:15; Mat 6:32; 7:7-11; 10:29; Luk 15:1-32; 7:50). Katekismus mengajarkan: “Yesus mengajarkan bahwa Allah adalah ‘Bapa’ dalam arti yang tiada terkira; Ia adalah Bapa tidak hanya dalam arti sebagai Pencipta; Dia adalah Bapa yang kekal dalam hubungan dengan Putera TunggalNya, yang selamanya adalah Putera hanya di dalam hubunganNya dengan BapaNya. ‘tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakanNya’ (Mat 11:27).” (KGK 240).

      Paulus menyebutkan kebapaan Allah jika ia mengajar tentang keputraan umat Kristiani. Ia menulis dalam Surat Kepada Jemaat Galatia: “Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus. Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus” (Gal 3:26-27). Umat Kristen menjadi anak-anak Allah berkat baptis mereka, sakramen yang memberikan hidup baru dan pengangkatan sebagai anak-anak Allah. Kesatuan yang erat-mesra antara Kristus dan Allah dengan demikian membuat Allah menjadi Bapa umat Kristen dalam arti kata yang sebenarnya dan bukan hanya dalam arti kiasan menurut Hukum Lama (Taurat). Pengangkatan anak ini memberikan keleluasaan dan hak khusus kepada umat Kristen untuk menyebut Allah sebagai “Bapa”, sama seperti Kristus Tuhan kita menyebut Dia Bapa: “tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: ‘ya Abba, ya Bapa!’ Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah....dan  jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris.... yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia (Rm 815-17; Gal 4:6) (KGK 238-242).

 

V. Nama-nama Allah

Ada tiga nama pokok – El, Elohim, dan Yahweh – yang digunakan bagi Allah dalam Perjanjian Lama [terutama yang berbahasa Ibrani. Dalam terjemahan Indonesia, Alkitab dari LAI, nama-nama ini tidak disebutkan lagi. Tetapi dalam Kitab Suci Komunitas Kristiani nama Yahweh muncul lagi. Pnjmh]. Tetapi juga ada beberapa nama khusus lainnya.

 

El (“ilahi” atau “ilah”) yang digunakan bagi ilah dalam arti kata yang sangat luas. Nama ini juga digunakan untuk dewa tertinggi dalam sistem banyak dewa penduduk asli Kanaan: puteranya adalah Baal. Di dalam Kitab Suci, sebutan ini muncul sebagai kata keterangan (adjectiva) atau gelar predikatif [seperti “Sang/Hyang” yang kemudian menjadi “Yang”  dalam bahasa Indonesia -- Pnjmh], di dalam sebutan-sebutan seperti El Shaddai (Allah “Yang” Mahakuasa), El Elyon (Allah “Yang” Mahatinggi), El Bethel (Allah “yang [telah menampakkan diri kepadamu[1]] di” Betel; Kej 31:13). Dalam bentuk jamak, nama ini menjadi Elohim. El Elyon, “Allah Yang Mahatinggi” adalah sebutan yang digunakan dalam ibadat Melkisedek (Kej 14:19-20). Salah satu versi yang lain dari El adalah Eloah, bentuk tunggal dari Elohim, yang ditemukan terutama dalam tulisan-tulisan puisi alkitabiah (bdk Ul 32:15)

 

Elohim. Bentuk jamak dari El, tetapi juga merupakan nama dari ilahi tertinggi dan diperlakukan sebagai tunggal. Ketika digunakan dalam bentuk jamak, Elohim biasanya didahului oleh kata sandang yang tertentu untuk mengungkapkan “ilah-ilah” (misalnya, Kel 18:11, diterjemahkan “segala allah” [Alk][2]  dan “semua allah” [KKK][3]). Ketika menyatakan ilahi yang tertinggi, di dlm PL sebutan Elohim merujuk pada satu-satunya Allah Israel sebagai yang mahatinggi, Allah segala/semua ilah. Cakupan keilahian yang dinyatakan oleh nama Elohim itu adalah untuk perbandingan dengan kodrat manusia yang terbatas (bdk Bil 23:19) dan diucapkan dalam hubungan di antara ilahi tertinggi, yang mahakuasa namun merupakan pribadi, dengan tata-ciptaan (bdk Kej 1:1).

 

Yahweh. Nama pribadi Allah dalam PL. Karena kekudusan dan rasa hormat yang tersirat pada nama Allah itu, sebutan Adonai diucapkan menggantikan Yahweh dalam bahasa tutur/lisan, sedang dalam teks tertulis, tanda-tanda huruf hidup (lihat Bahasa Ibrani) dari Adonai digabungkan dengan huruf mati YHWH, supaya pembaca tahu bahwa ia harus mengucapkan Adonai, bukannya Yahweh. Nama Yehova berasal dari pengucapan huruf-huruf seperti yang tertulis. Nama ilahi YHWH muncul lebih dari enam ribu kali dlm PL, dan pada umumnya diucapkan sebagai Yahweh.

 

Di dalam Kitab Kejadian pasal 1 dan 2, kita melihat contoh yang baik di mana nama-nama Elohim (Allah) dan Yahweh (Tuhan) digunakan secara berbeda dlm PL. Dalam Kej 1, Elohim menciptakan alam semesta; dlm Kej 2 Yahweh menciptakan Adam dari tanah dan menempatkannya di Taman Eden. Kedua nama itu menunjukkan bentuk kegiatan ilahi yang berbeda. Elohim melukiskan daya kuasa yang tidak ada batasnya dari Sang Pencipta, sementara Yahweh menggambarkan kasih perjanjian Allah. Sesuatu yang serupa tampak dalam pergantian antara sebutan “Allah” yang bersifat luas dan generik, dengan penggunaan “Abba, ya Bapa” yang lebih mesra, yang diucapkan Yesus. Kunci untuk penafsiran perbedaannya adalah Sabat, lambang perjanjian Allah dengan ciptaan. Dalam pergeseran dari Elohim ke Yahweh, Kitab Kejadian mengajarkan bahwa di dalam penciptaan dunia dan di dalam penciptaan Adam – penetapan perjanjian Allah dengan ciptaan – Allah menjadi lebih dari sekedar Sang Pencipta. Dia adalah juga Bapa yang penuh kasih; dan manusia menjadi keluargaNya menurut perjanjian.

 

Adonai. Bahasa Ibrani ‘adonay, “Tuhan” berasal dari kata ‘adon (“tuan”) dan digunakan sebagai nama ilahi. Sama dengan istilah ba’al (yang juga berarti “tuan”). Adonai digunakan secara luas dalam kitab nabi-nabi, terutama dalam Kitab Yehezkiel, di mana sang nabi menggunakannya untuk membedakan Allah Israel dari ilah-ilah (dewa-dewa) Babilonia (lih juga Yahweh).

 

Yahweh Sabaoth (“Tuhan Semesta Alam”; Bahasa Yunani: kyrios pantokrator, “Tuhan Mahakuasa”) adalah sebutan yang digunakan sekitar tiga ratus kali dlm PL dan dua kali saja dalam PB (Rm 9:29; Yak 5:4) untuk menekankan kebesaran dan kekuasaan Yahweh.


[1] KKK, [Kitab-suci Komunitas Kristiani]  hal  100.

[2] [Alk] Alkitab, Keluaran 18: 11, LAI, hal 78.

[3] [KKK], Kitab-suci Komunitas Kristiani, Keluaran 18:11, hal  155.