Daftar Blog Saya

Tampilkan postingan dengan label Tumpeng Pungkur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tumpeng Pungkur. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Januari 2023

SELAMATAN SEPULANG DARI PEMAKAMAN

 


Sepuluh tahun terakhir, jika ada tetangga meninggal dunia dan saya ikut melayat hingga pemakaman di kuburan, sekitar setengah jam sepulang dari kuburan saya diundang selamatan. Mungkin karena saya dituakan di kampung. Bentuk selamatan bukan nasi kotak, tetapi tumpeng yang dibagi-bagi sejumlah yang hadir, sekitar sepuluh hingga duabelas orang. Orang menyebut tumpeng itu Tumpeng Pungkur.

Itu menjelaskan bentuknya. Jika tumpeng biasa berbentuk seperti gunung, Tumpeng Pungkur adalah gunungan nasi yang dibelah dua, kemudian kedua belahan nasi itu disusun berpunggungan. Mungkur. Salah satu artinya berangkat pulang. Bisa juga berarti membelakangi. Bentuk itu menandakan kepulangan seseorang. Lauknya pada umumnya urap, tempe/tahu bacem, dan ingkung ayam yang sudah dipotong-potong. Ada variasi tambahan lauk lain (bergantung tingkat ekonomi yang punya hajat), tetapi pada umumnya tiga itu.

Modin yang memimpin doa pertama-tama menerangkan maksud selamatan itu dalam bahasa Jawa. Yang pertama mengajak yang hadir bersyukur bersama keluarga yang ditinggalkan, bahwa seluruh acara pemakaman berlangsung lancar dan baik. Kedua kirim salam kepada Nabi Muhammad yang memberi tuntunan hidup kepada mereka, dengan harapan bahwa mereka pun memeroleh syafaat dari Muhammad mendapat ridla kasih sayang Allah. Ketiga, mendoakan yang baru saja berpulang agar diampuni dosanya, lebar kburnya, terang jalannya dan diberi tempat disisi Allah. Keempat agar keluarga yang ditinggalkan, anak-menantu-cucu diberi kesehatan, keselamatan, dan rezeki, agar dapat berdoa untuk yang wafat, dan menjadi muslimin dan muslimat yang saleh dan saleha. Kelima berdoa bersama untuk yang hadir agar selalu sehat dan menerima berkat berlimpah dari Allah. Doa dalam bahasa Arab dimulai dengan Surah 1 Quran, Alfateha. Setiap intensi didoakan dalam bahasa Arab dan diakhiri dengan Alfateha. Setiap kali mereka mendaras Alfateha saya mendaras Bapa Kami sebagai partisipasi menyampaikan "doa sempurna" untuk maksud-maksud yang dikemukakan.

Yang repot adalah setelah doa, sering saya diminta memotong dan membagi tumpeng. Tumpeng Pungkur harus dibagi hingga habis di antara para hadirin. Karena solidaritas kasih, saya mengutamakan orang lain dan untuk porsi diri sendiri lebih sedikit... Orang melihat itu dan beberapa mengurangi bagiannya dan ditambahkan pada bagian saya. Alhasil bagian saya malah lebih banyak. Rezeki anak soleh tampaknya.... Syukur pada Allah.