Daftar Blog Saya

Tampilkan postingan dengan label Nabi Kecil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nabi Kecil. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 November 2022

KITAB MALEAKHI

 

Maleaki, adalah nabi yang terakhir dari kedua belas nabi kecil Perjanjian Lama. Ia membahas krisis iman yang terdapat di antara para imam Bait Allah pada masa sesudah Pembuangan. Perkataan Maleakhi adalah seruan tobat dan pembaharuan keikatan kepada “perjanjian Tuhan dengan Lewi”. Maleakhi mempunyai pandangan jauh ke depan mengenai suatu “ibadat kurban yang murni” yang naik ke surga di antara bangsa-bangsa (Mal 1:11) dan datangnya seorang “utusan” (Mal 3:1), kurang lebih sama dengan nabi Elia yang akan mewartakan betapa mengerikannya “hari Tuhan” (Mal 4:5).

 


I. PENGARANG DAN WAKTU PENULISAN

Pengarang kitab hanya disebut Maleakhi begitu saja (Mal 1:1) yang dalam bahasa Ibrani berarti “utusanku” (bdk Mal 3:1). Tidak ada lagi yang diketahui mengenai tokoh ini, kecuali bahwa ia memenuhi peran klasik sebagai seorang nabi yang memperhadapkan umat Israel dengan kehendak Allah dan menyerukan supaya kembali kepada kewajiban perjajian.

      Para ahli biasanya menduga karya ini berasal dari abad kelima SM dan sebagian mengira sang nabi hidup sezaman dengan nabi-nabi Ezra dan Nehemia. Dukungan pada pendapat ini diperoleh dari temuan bahwa Maleakhi menaruh perhatian pada banyak dari antara tema-tema yang sama dengan yang digagas oleh para nabi pembaharu itu.

 

II. ISI

i. Dasar tulisan (Mal 1:1)

ii. Kasih Tuhan pada Israel (Mal 1:2-5)

iii. Kejahatan imam-imam (Mal 1:6-14)

iv. Peringatan pada imam-imam (Mal 2:1-17)

v. Utusan yang sedang datang (Mal 3:1-5)

vi. Persembahan Persepuluhan (Mal 3:6-12)

vii. Penyelamatan Sisa-sisa Bangsa (Mal 3:13-18)

viii. Hari Tuhan (Mal 3:19-24; atau 4:1-6 dalam Alk dan KKK)

 

III. MAKSUD DAN TEMA

Tujuan utama Maleakhi adalah mengoreksi penyalahgunaan di antara para imam dan umat, ketika kekecewaan yang kental dan kekaburan arah hidup meliputi masyarakat Yahudi. Frustrasi diungkapkan dalam melemahnya minat umum untuk menjalankan pokok-pokok ibadat Bait Allah, dan diperlukan kepemimpinan rohani. Jika nabi-nabi Hagai dan Zakharia membaktikan diri untuk mengobarkan kembali semangat di antara orang-orang yang pulang dari Pembuangan, Maleakhi membaktikan pekerjaannya untuk mengoreksi berbagai penyalahgunaan yang timbul sesudah Bait Allah dipugar dan menuju pemulihan ibadat korban.

      Kitab ini merupakan gabungan beberapa wacana. Sang nabi terutama sangat kritis kepada situasi para imam dan ibadat korban (bdk Mal 1:6-13; 2:1-4.8-9; 3:3-4.6-11). Maleakhi mengeluhkan imam-imam yang mempersembahkan hewan yang tidak layak sebagai korban (Mal 1:6; 2:9) dan dengan demikian mereka membuat pelaksanaan tugas mereka sebagai pelanggaran Hukum (bdk Im 22:17-25; Ul 17:1). Berhadapan dengan situasi ini sang Nabi menyatakan : “dari terbitnya sampai kepada terbenamnya matahari nama-Ku besar di antara bangsa-bangsa, dan di setiap tempat dibakar dan dipersembahkan korban bagi nama-Ku dan juga korban sajian yang tahir; sebab nama-Ku besar di antara bangsa-bangsa, firman Tuhan semesta alam” (Mal 1:11). Umat Kristen memandang visiun ini sebagai suatu nubuat mengenai korban Ekaristi pada zaman Mesias, suatu tafsir yang diteguhkan dalam Konsili Trente.

      Maleakhi juga sangat prihatin dengan berbagai tantangan pada kesetiaan Israel: penyembahan berhala (Mal 2:10-12), ketidak-adilan sosial (Mal 3:5) dan kawin campur serta perceraian (Mal 2:10-16). Pernyataannya yang melawan praktik kawin campur dan perceraian mengingatkan kita pada Ezra dan Nehemia.

      Dalam pesan-pesannya yang terakhir, Maleakhi kembali kepada soal pengadilan eskatologis. Ia membicarakan Hari Tuhan (Mal 3:1-5) ketika : “Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku! Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya! Malaikat Perjanjian yang kamu kehendaki itu, sesungguhnya, Ia datang, firman Tuhan semesta alam” (Mal 3:1). Utusan ini menurut tradisi Yahudi adalah Elia (bdk Mal 4:5). Yesus berbicara tentang utusan itu, yang sudah datang dalam diri Yohanes Pembaptis (Mat 11:10-11) yang datang dalam roh dan kuasa Elia (Luk 1:17). Pada hari Tuhan, kata Maleakhi, “semua orang gegabah dan setiap orang yang berbuat fasik menjadi seperti jerami dan akan terbakar oleh hari yang datang itu, firman Tuhan semesta alam, sampai tidak ditinggalkannya akar dan cabang mereka” (Mal 4:1). Pada hari itu orang benar akan bergembira atas kekalahan kaum fasik.