Daftar Blog Saya

Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Paus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Paus. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Januari 2023

SAYA SEHAT, SAYA AKAN TERUS BEKERJA, KATA PAUS FRANSISKUS

 

Paus Fransiskus sedang menyiapkan diri untuk melakukan kunjungan apostolik di akhir bulan ini ke Congo dan Sudan Selatan di Afrika. Kedua negara itu sedang dikacau oleh banyak kelompok perlawanan bersenjata. Tetapi di kedua negara jumlah umat katolik sangat besar, dapat dikatakan mayoritas, maka mereka memerlukan penghiburan Gembala di tengah kesulitan dan kecemasan nasional masing-masing. Di Republik Demokrasi Congo yang luasnya 2,34 juta km2 (bandingkan luas Indonesia 1, 90 juta km2) penduduknya 105 juta, Yang katolik 52, 16 juta dengan 62 Uskup, 1637 paroki dan 8674 kuasi paroki, 6126 imam (4216 imam praja/diosesan). Di Sudan Selatan yang luasnya 654,56 ribu km2 jumlah penduduknya 13,79 juta. Yang katolik 7,2 juta dengan 10 Uskup, 300 imam (185 imam praja/diosesan), 124 paroki dan 781 kuasi paroki. 

Lihat juga: Harapan Perdamaian di Congo

Mengingat Paus cedera lutut dan belakangan sering menggunakan kursi roda dan dioperasi untuk pemotongan usus yang sempat menimbulkan komplikasi, dalam suatu wawancara dengan Associated Press (AP) baru-baru ini (24 Januari 2023) tentang kesehatan, beliau berkata: "Seorang pemimpin bekerja dengan hati dan kepalanya. Bukan dengan kakinya. Tentang perut, saya sehat. Sangat sehat." Disinggung tentang kemungkinan pensiun, Paus Fransiskus menjawab: "Saya sehat, saya akan terus bekerja!" Ketika dibandingkan dengan Paus Benediktus XVI yang mengundurkan diri pada usia 86 tahun pada 2013, Paus Fransiskus menyatakan Paus Benediktus XVI bertindak sangat bijaksana dapat mengukur kekuatan fisiknya berhadapan dengan tantangan tugas yang dihadapi dengan dengan rendah hati mengakui Gereja memerlukan pemimpin yang dapat menghadapi tantangan itu. Pilihan mengundurkan diri membuka jalan untuk keutamaan kerendahan hati yang dapat digunakan oleh Paus lain dalam situasi yang sama. Apakah Paus Fransiskus akan pensiun? Tidak. "Saya sehat, saya akan terus bekerja!" 


Ada desakan agar Paus menurunkan fatwa bahwa dalam Gereja tidak boleh ada dua Paus atau lebih, secara diplomatis Paus Fransiskus mengelak "ada hal-hal yang memerlukan fatwa Paus. Tapi soal itu tidak sekarang!" Sebagian kalangan sudah menyiapkan kriteria penyaringan papabili bakal calon Paus pengganti jika Paus Fransiskus mengundurkan diri. Paus Fransiskus hanya tertawa.

Paus Fransiskus menyadari ada pihak-phak yang tidak suka dengan kebijaksanaannya dalam masa kepausannya. Sudah sejak ia terpilih menjadi Paus tahun 2013. Yang pertama, karena ia berasal dari Amerika Selatan yang diidentikkan dengan Teologi Pembebasan. Yang kedua, setelah kelemahan-kelemahan pribadinya yang tidak mereka sukai disadari. Dibanding Paus Yohanes Paulus II dan Paus Benediktus XVI, Paus Fransiskus kurang mendalam di bidang teologi. Yang ketiga, karena Paus Fransiskus yang dikembangkan dalam alam Konsili Vatikan II, beliau menyatakan "Saya Konsili Vatikan II". Pendirian itu mengusik kelompok Konservatif dan pihak-pihak yang belum bisa menerima hasil-hasil dan penerapan Konsili Vatikan II (1962-1965). 


Tetapi Paus sebagai Uskup Roma dan Primat pemersatu (Paus Fransiskus lebih sering menyatakan diri sebagai "Uskup Roma" bukan sebagai "Pontifex"/Pemimpin Tertinggi Gereja) tidak bisa lain dari menerima dan melanjutkan hasil-hasil rumusan para Bapa Konsili yang adalah para Uskup waligereja sedunia, penerus para Rasul, berhadapan dengan situasi real masa sekarang. "Vatikan perlu pengalaman lebih banyak untuk menerima itu sebagai kebiasaan (regulare) atau untuk mengaturnya (regulate) (berkenaan adanya dua Paus dan Paus mengundurkan diri)." Ada sebagian tidak bisa diterima, ada yang bisa diterima, ada yang berkembang dan diperbarui, ada yang memerlukan pertobatan, semuanya harus dibahas dalam forum kolegialitas para Uskup yang mencerminkan sinodalitas, perjalanan bersama seluruh Gereja. Untuk itu, lebih luas dari kalangan para Uskup sendiri, konsultasi iman oleh Paus Fransiskus dibuka lebih lebar meliputi seluruh Gereja, konsultasi eklesiastikal yang mendengarkan seluruh wakil umat. Itulah yang dilaksanakan secara bertahap dalam Sinode Para Uskup Sedunia 2023-2024 nanti.  


"Kardinal George Pell sebelum wafat menganggap masa kepausan ini suatu 'bencana', dan meninggalkan daftar hal yang perlu diperhatikan Konklaf dalam memilih Paus Baru" sentil pewawancara. Paus Fransiskus menyatakan, Kardinal George Pell sangat berjasa membantu Paus menertibkan kemelut keuangan Vatikan yang Paus Fransiskus warisi dari masa-masa sebelumnya. "Ada banyak Uskup dan Kardinal korupsi dan Kardinal Pell membantu membuat sistem pencegahan. Saya sangat berterima kasih." Soal pendapat, beliau punya hak dasar untuk berbicara dan menyampaikan pendapat, bagian dari hak asasi manusia yang sangat dihormati Gereja. Untuk pendapat almarhum Kardinal Pell, Paus Fransiskus juga berterima kasih.

Lihat juga: KARDINAL PELL WAFAT DAN KEMELUT SEPENINGGALNYA


Sikap Paus Fransiskus terhadap kritik-kritik dari pihak lain, baik Konservatif yang menganggap kebijaksanaannya kebablasan, maupun pihak progresif yang menganggap kebijaksanaannya terlalu lamban, tetap konsisten dan konsekuen. "Silakan bicara. Itu adalah hak dasar. Tetapi bicaralah di hadapan saya. Hanya dengan begitu kita akan sama-sama berkembang lebih matang, bukan?" Ada banyak komentar para Uskup dan Kardinal konservatif dan tradisional sekitar wafat Paus Benediktus XVI yang digoreng media, yang tidak puas dengan kebijakan Paus Fransiskus sehubungan dengan keadilan sosial, khususnya menyangkut migran, kemiskinan dan lingkungan hidup. "Seolah ada kediktatoran jarak saja, bahwa kaisar ada di sana dan tak ada seorang pun yang bisa datang berbicara langsung. Silakan bicara. Kritik membuat kita lebih dewasa dan maju..."

Jalan Sinodal Jerman

Menanggapi pertanyaan tentang "Jalan Sinodal" Jerman yang membawa ancaman skisma baru, Paus Fransiskus menyatakan harapan bahwa gambaran itu tidak terjadi. Proses "Jalan Sinodal" Jerman yang dimulai tahun 2019 menanggapi krisis pelecehan seksual yang mengguncang Gereja Katolik Jerman, memecah umat, bahkan membuat hubungan umat Katolik dan umat Protestan lebih renggang. Proses itu melibatkan para Uskup dan wakil-wakil umat elitis yang digabung dalam "Komite Sentral Umat Katolik Jerman". Proses Jalan Sinodal yang elitis itu sangat diwarnai ideologi, "ide-ide gerakan yang menggusur Roh Kudus". Menghasilkan saran reforma revolusioner yang akan mengubah Gereja, antara lain mengenai imam menikah, diakon perempuan, dan berkat pernikahan sesama jenis. Untuk menopang saran itu, bulan lalu "Jalan Sinodal" Jerman meminta persetujuan seluruh waligereja dan umat Katolik Jerman untuk perombakan ajaran Gereja tentang seksualitas, namun gagal, tidak mencapai jumlah suara yang diperlukan. "Selalu penting untuk mengingat dan memelihara kesatuan!", kata Paus. Penting juga untuk menempuh proses-proses Gerejawi dengan kehadiran Roh Kudus, Roh Gereja, dan mewaspadai roh-roh ideologi. 

Baik kesatuan maupun proses-proses Gerejawi dalam sinodalitas itu diharapkan Paus terwujud dalam Sinode Para Uskup Sedunia yang akan dilaksanakan pada bulan Oktober 2023 nanti.

Lihat juga: Para Uskup Jerman Kunjungan Ad Limina