Daftar Blog Saya

Tampilkan postingan dengan label La condition humain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label La condition humain. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 September 2022

Ratu Elisabeth II: Kerajaan sebagai symbol

 


Oleh: Alex S. Wijoyo

Belum juga yakin mengapa perlu menulis tentang Ratu Elisabeth II (w. 8 September, 2022). 

Sampai pemakamannya di Windsor Castle, 19 September 2022 nanti, setiap hari TV di USA memuat berita sekitar pemerintahannya selama 70 tahun, ulasan mengenai siapa Ratu ini dan sepak-terjangnya sampai wafat. Maklum, altgoritma TV dan media komuninikasi selalu mengejar apa yang “ter-“ (-lama, -cepat, -tinggi, -rendah, -baik, -buruk, -cantik, -buruk, -kaya, -miskin). Tidak tahu bagaimana di Indonesia, tapi di USA TV networks hari-hari ini menayangkan antrian pelayat berkilo-kilo panjangnya dan berjam-jam lamanya untuk mengucapkan selamat jalan kepada sang Ratu.

Mengapa ragu? Pertama, sebagai orang Indonesia saya tidak punya kaitan apa pun –sosial, politik, maupun legal--dengan yang bersangkutan. Pengalaman di negara sang Ratu pun amat minim. Lain halnya dengan rekan-rekan yang tinggal di 59 negara-negara Commonwealth, termasuk Canada, Australia, atau New Zealand. Ratu Elisabeth II masih berkedudukan sebagai kepala negara, sampai negara-negara tersebut melepaskan diri. Beberapa sudah. Kebetulan sedang tinggal di USA, negara yang justru melawan penjajahan Inggris dan menyatakan tahun 1776.

Kedua, rasa-rasanya di abad 21 ini bentuk pemerintahan “Kerajaan” (Monarki), apapun formatnya, penuh ataupun konstitisional, sudah ketinggalan jaman dan berangsur-angsur hangus. Mengapa Perancis bisa, dan Inggris tidak. Tidak masuk akal seorang dilahirkan dan otomatis mendapatkan bonus kelimpahan sarana hidup tanpa “merit”, selain karena keturunan raja.

Dibilang “iri”, okelah. Namun toh …

Di benak ini muncul beberapa hal yang agak menarik dengan peristiwa ini. Pertama, selama 70 tahun pemerintahannya bisa disimak bagaimana dunia ini berubah, bagaimana British Empire yang adikuasa di masa lalu itu lambat lain merosot dan akhirnya habis. “kekuasaan” itu betapapun “adi-“nya akan merosot dan berganti atau lebih tepat “digantikan” yang lain. Dulu Perancis, kemudian Inggris, jauh sebelumnya Imperium Romanum, sebelumnya lagi Yunani. Sebelumnya lagi Zoroaster (Zarathustra). Beberapa decade yang lalu perang dingin antara dua adikuasa USSR- USA; sekarang USA adikuasa , sebentar lagi, kalau malah sudah, Cina. Yang tidak akan pernah berubah adalah perubahan sendiri (“The only unchangeable is change itself”).

Bahkan benua Afrika ini merapat ke benua Eropa 1.5 cm per tahun (TV: The voyage of the continents). 

Kedua, ketika mengikuti upacara-upacara sejak wafat Ratu Elisabeth II, khususnya upacara “keagamaan” menarik bagaimana peristiwa itu secara tidak disadari menyentuh apa yang disebut “la condition humaine” (human condition)--bagaimana setiap orang yang mengalami proses “lahir, masa kanak-kanak, dewasa, menghidup keluarga, menderita sakit, dan akhirnya mati.” Sebuah lingkaran kehidupan (life cycle). 

Tapi lebih daripada itu, di upacara-upacara keagamaan diingatkan oleh pemimpin upacara bahwa ‘hidup ini tidak dilenyapkan, hanya diubah.” Diungkapkan iman adanya hidup setelah mati. Raja Charles III, pewaris tahta Elisabeth II, mengucapkan selamat jalan pada Ibunya dalam “menempuh perjalan terakhir, untuk bertemu dengan Papa di surga”. Secara tidak langsung disadarai adanya satu hal yang pasti (certain), yakni kematian (death) sendiri. Mungkin boleh saya katakan “Even Queen Elisabeth II died.” 

Atau lebih shocking lagi “Even Jesus died.” Death is certain. What is uncertain is what comes thereafter. There is a huge uncertainty behind certainty itself.

Ketiga--yang paling merangsang refleksi--adalah bagaimana terma “Raja, Kerajaan” yang banyak digunakan sebagai symbol untuk mendiskripkan hubungan manusia dengan yang Ilahi (Allah/Tuhan/God). Menurut Konkordans Kitab Perjanjian Baru (PB), “Kerajaan Sorga” minimum 75 kali. Di doa “Bapa Kami” ada frasa “Datanglah Kerajaan-Mu.” (NB: di al-Qur’an 5 kali digunakan “mâlik” atau “malik” untuk sebutan Allah—1:4, 20:114, 54:54-55, 59:23, dan 114:2. Terutama berkaitan makna “pe-MiLiK” -- owner, souverign). Para ekseget PL dan PBs sudah berusaha keras, saya tidak menggunakan istilah “penthalitan” (“Entek amek, kurang golek”) mengartikan pengertian “Kerajaan-Mu” dan “Kerajaan Sorga” ini. Saking mudahnya dan gampangnya term aitu digunakan, lambat laun, kata “kerajaan” dan “kerajaan sorga” itu menjadi kehilangan bobot, kehilangan isi atau makna, dan bisa-bisa merosot menjadi sekedar “kata benda” (noun) dan tidak jauh berbeda bunyinya dengan kata “keranjang” atau “keranjang sorgum.” (Ah, sudah kapir!)