Daftar Blog Saya

Kamis, 22 September 2022

TENTANG SPIRITUALITAS

 Ronald Rolheiser OMI

Apakah Spiritualitas Itu?

 

Kita dilontarkan ke dalam kehidupan dengan suatu keedanan yang berasal dari para dewa dan yang membuat kita percaya bahwa kita bisa memiliki suatu cinta yang agung, yang mengabadikan benih kita, dan mengkontemplasikan yang ilahi.[i]

 

Tidaklah sesuatu yang mudah untuk menjelajah bumi dan mendapatkan kedamaian. Di dalam diri kita tampaknya ada sesuatu yang berjalan seirama dengan semua hal, dan kita terus menerus merasa gelisah, tidak puas, frustrasi dan menderita. Kita begitu menggebu oleh hasrat yang sulit diajak sedikit beristirahat. Hasrat selalu lebih kuat daripada kepuasan.

            Pendek kata, di dalam diri kita ada keresahan yang mendasar, suatu nyala yang tidak dapat ditaklukkan dan membuat kita di dalam hidup ini serasa tidak mampu mencapai damai yang sepenuhnya. Hasrat itu terdapat di dalam pusat kehidupan kita, di dalam sungsum tulang kita dan di dalam relung jiwa kita. Kita ini bukan manusia yang tenang tenteram yang kadang-kadang resah, kita bukan orang-orang yang jernih yang sekali waktu jadi terobsesi oleh hasrat. Justru sesungguhnya kebalikan dari itu. Kita adalah orang-orang yang selalu terdorong-dorong. Selalu terobsesi, senantiasa resah-gelisah, hidup dengan rasa putus asa yang tak terucapkan, dan hanya kadang-kadang saja mengalami damai. Hasrat kita seumpama sedotan yang terus mengaduk minuman kita.

            Pada intinya semua karya sastra yang besar, puisi, lukisan, filsafat, psikologi dan agama terdapat penamaan dan analisis atas hasrat ini. Demikianlah buku harian Anne Frank menyatakan pada kita, juga catatan harian Teresa dari Lisieux  dan Etty Hillesum.* Hasrat mendorong kita, membuat jiwa kita menggeliat. Kita menyukai cerita-cerita tentang hasrat – kisah cinta, seks, nafsu-nafsu, nostalgia yang pekat, ambisi tiada batas, dan kerugian besar. Banyak pemikir besar sekular dari zaman kita membuat nyala ini, daya yang mendorong kita, menjadi pusat pemikiran mereka.

            Sigmund Freud misalnya, membicarakan nyala tanpa fokus yang membakar pusat hidup kita dan mendorong kita keluar untuk menguber kenikmatan tanpa henti dan tak terpuaskan. Bagi Freud setiap orang tidak ketulungan lagi dibebani hasrat yang berlebihan akan kehidupan. Karl Jung bicara tentang energi purba yang tak tergantikan dan sangat dalam yang membentuk susunan jiwa kita dan tak terbantahkan dalam menuntut perhatian kita. Energi itu, menurut Jung, sifatnya tidak bersahabat. Setiap kali ketika kita terlalu gelisah untuk dapat beristirahat di malam hari, kita lalu tahu sesuatu dari apa yang dikatakannya. Doris Lessing bicara tentang tegangan listrik tertentu dalam diri kita, energi ribuan volt untuk cinta, seks, kebencian, seni dan politik. James Hillman berbicara tentang api biru di dalam diri kita dan tentang keadaan dihantui dan terobsesi sehingga bukan kodrat bukan pula didikan yang sungguh-sungguh merupakan faktor yang menentukan perilaku kita melainkan roh-roh dan semangat yang menuntut tiada henti entah dari mana.** Baik kelompok para wanita maupun pria itu terus bicara tentang energi tertentu yang liar yang perlu kita kendalikan dan kita pahami lebih penuh. Demikianlah kelompok para wanita bicara tentang pentingnya berurusan dengan serigala-serigala, dan para pria bicara tentang petualangan liar para lelaki dan tentang api nafsu di perut mereka. Para guru gerakan New-Age memetakan gerakan planet-planet dan meminta kita menempatkan diri di bawah planet yang tepat, sebab kalau tidak, kita niscaya tak bisa merasa damai.

            Apapun ungkapan yang digunakan, setiap orang pada akhirnya bicara tentang hal yang sama – suatu api yang tak dapat dijinakkan, suatu kegelisahan, suatu kerinduan, suatu keresahan, suatu keinginan, suatu perasaan sepi sendiri, suatu kunyahan nostalgia, suatu kegilaan yang tidak dapat dijinakkan, suatu dorongan yang menyakitkan yang meliputi segalanya dan terletak di dalam pusat pengalaman insani dan merupakan sumber daya besar yang mendorong  segala sesuatu lainnya. Suatu keresahan universal. Hasrat yang tidak membuat perkecualian satu pun.

            Namun hal itu punya suasana dan wajah yang berbeda-beda. Kadang-kadang menerkam kita seperti suatu derita – sakit, kecewa, frustrasi. Kadang-kadang cengkeramannya sama sekali tidak menyakitkan, namun merupakan energi yang dalam, sesuatu yang indah, daya tarik yang luar biasa, lebih penting dari apa pun yang ada dalam diri kita, mengarah pada cinta, keindahan, kreativitas dan masa depan di seberang batasan masa kini kita. Hasrat dapat menunjukkan diri sebagai duka-lara atau harapan manis.

            Spiritualitas pada akhirnya berkenaan dengan apa yang akan kita lakukan dengan hasrat itu. Apa yang akan kita lakukan dengan segala kerinduan kita, baik untuk menyikapi duka-laranya maupun harapan yang dibawanya kepada kita, itulah spiritualitas kita. Maka ketika Plato berkata bahwa kita dilontarkan karena jiwa kita berasal dari seberang sana dan bahwa tempat seberang itu melalui kerinduan dan harapan kita menarik kita kembali kepadanya, dia sebenarnya memaparkan suatu garis besar untuk suatu spiritualitas. Seperti itu pulalah Santo Agustinus ketika ia berkata: “Ya Allah, Engkau menciptakan kami bagiMu sendiri, maka hati kami tak akan tenang sebelum beristirahat dalam Engkau.”[ii] Spiritualitas berkenaan dengan apa yang kita lakukan dengan situasi “tidak tenang”, kegelisahan itu. Namun semua ini masih memerlukan penjelasan lebih lanjut.

 

Apakah Spiritualitas Itu?

Ada beberapa kata yang keliru dipahami dalam bahasa Inggris, dan salah satunya adalah kata spiritualitas. Pertama-tama, di dalam bahasa Inggris kata ini relatif merupakan kata baru, dalam arti yang sesuai dengan maksudnya sekarang ini. Berbeda dengan bahasa Perancis di mana kata itu sudah lebih lama digunakan dan lebih kaya riwayatnya. Tetapi jika seseorang pergi ke suatu perpustakaan Inggris dan memeriksa judul buku-buku, dia akan mendapatkan di luar beberapa kekecualian, bahwa kata spiritualitas baru tampak pada judul buku-buku itu hanya dalam waktu tiga puluh tahun terakhir. Juga baru dalam tahun-tahun belakangan itu saja konsep spiritualitas menjadi populer, baik di dalam lingkungan gereja maupun dalam masyarakat pada umumnya. Toko-toko buku dewasa ini, entah di kalangan gereja atau pun umum sama saja, tampaknya cukup akrab dengan buku-buku spiritualitas.

            Satu generasi yang lalu situasinya tidak seperti itu. Dunia sekular nyaris tidak tampak meminati bidang itu. Begitu juga kebanyakan gereja. Apa yang kita sebut sebagai spiritualitas sekarang ini, pada waktu itu sudah ada, tetapi wajahnya berbeda. Di dalam lingkungan gereja-gereja Kristiani, spiritualitas ada terutama dalam kalangan kelompok doa karismatik tertentu dan teologi gereja Pentakosta, aksi sosial dari beberapa gereja Protestan, dan kehidupan devosi dalam Gereja Katolik Roma. Di toko-toko buku umum akan anda dapatkan sedikit sekali buku di bidang spiritualitas, selain dari suatu bagian mengenai Kitab Suci dan bidang berpikir positif. Dalam toko-toko buku gereja, karena dianggap suatu bidang dari teologi akademis yang sangat terbatas dan khas, maka didapatkan  juga sedikit buku saja, kecuali toko-buku Katolik Roma di mana anda temukan kepustakaan tentang devosi dan beberapa buku yang diberi label “teologi asketik”.[iii]

            Kini di mana-mana terdapat buku tentang spiritualitas. Namun, kendati terjadi ledakan yang tampak dalam kepustakaan di bidang ini, dalam dunia Barat sekarang ini, terutama dalam dunia sekular, ada beberapa kesalah-pahaman utama mengenai konsepnya. Yang paling utama di antaranya adalah wawasan bahwa spiritualitas merupakan sesuatu yang eksotis, esoterik (dari dunia lain) dan bukan sesuatu yang timbul dari keadaan hidup biasa sehari-hari.  Maka bagi banyak orang, istilah spiritualitas berkaitan dengan gambaran-gambaran tentang sesuatu yang paranormal, mistik, bersifat kegerejaan, suci, saleh, dari dunia-lain, New-Age, sesuatu yang ganjil dan sesuatu yang sifatnya alternatif. Jarang sekali spiritualitas merujuk pada sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan kita dan suatu lapisan yang tak boleh tidak berada di dalam jantung kehidupan kita sendiri.

            Ini merupakan salah pengertian yang tragis. Spiritualitas bukanlah sesuatu yang asing, juga bukan sesuatu alternatif bagi mereka yang punya minat khusus. Spiritualitas bukan pilihan, namun suatu keharusan. Setiap orang tentu mempunyai suatu spiritualitas dan setiap orang sungguh punya spiritualitas yang memberi kehidupan, atau yang merusaknya. Tak seorangpun punya pilihan istimewa di sini, karena semua dari kita tepatnya dilontarkan ke dalam kehidupan dengan kegilaan tertentu yang berasal dari ilah-ilah dan kita harus melakukan sesuatu dengan itu. Kita tidak mendusin terbangun di suatu dunia yang tenang dan jernih, dengan hak istimewa untuk memilih apakah akan bertindak atau tidak. Kita mendusin bangun dan menangis, terbakar oleh hasrat, dengan kegilaan. Dan apa yang harus kita lakukan dengan kegilaan itulah yang kita namakan spiritualitas.

            Dari sini spiritualitas tidak berkaitan dengan pemilihan secara jernih dan rasional untuk kegiatan tertentu seperti pergi ke gereja, berdoa atau merenung, membaca buku rohani, atau merencanakan sesuatu berdasarkan kebutuhan rohani yang eksplisit. Namun spiritualitas lebih mendasar daripada semua itu. Jauh sebelum kita melakukan sesuatu yang benar-benar religius, kita harus melakukan sesuatu berkenaan dengan nyala yang berkobar-kobar di dalam diri kita. Apa yang kita lakukan dengan kobaran nyala itu, bagaimana kita menyalurkannya, itulah yang dimaksud dengan spiritualitas. Maka kita sudah punya suatu spiritualitas, suka atau tidak suka, bersifat religius atau pun tidak. Spiritualitas lebih berkenaan dengan soal apakah kita bisa tidur di malam hari atau tidak, ketimbang soal apakah kita akan ke gereja atau tidak. Spiritualitas adalah mengenai situasi diri yang utuh atau yang berantakan, tentang berada dalam komunitas atau menyepi sendiri, tentang berada dalam keadaan selaras dengan dunia atau terasing darinya. Tidak peduli apakah kita membiarkan diri atau tidak dibentuk secara sadar oleh sesuatu gagasan religius yang eksplisit, kita dapat bertindak dengan cara-cara yang tergolong sehat atau tidak sehat, mengasihi atau dalam kepahitan, dalam komunitas atau terasing darinya. Apa yang membentuk tindakan kita, itulah spiritualitas kita.

            Dan apa yang membentuk tindakan kita itu pada dasarnya juga membentuk hasrat kita. Hasrat itu membuat kita melakukan tindakan, dan ketika kita bertindak, kita mengarah pada suatu keselarasan yang lebih besar atau keretakan di dalam kepribadian, pikiran dan tubuh kita – dan menuju kepada semakin kokoh atau semakin longgarnya hubungan kita dengan Tuhan, sesama, dan dengan alam dunia. Kebiasaan dan disiplin[iv] yang kita gunakan untuk membentuk hasrat kita membangun suatu dasar untuk suatu spiritualitas, tanpa peduli apakah ini mempunyai dimensi yang jelas bersifat keagamaan atau sama sekali tidak.

            Spiritualitas berkenaan dengan apa yang kita lakukan pada hasrat. Sumbernya berasal dari eros yang ada di dalam kita, dan berkenaan dengan bagaimana kita membentuk dan mendisiplin-kan eros itu. Yohanes dari Salib*, mistikus besar dari  Spanyol, mengawali karyanya yang terkenal mengenai ziarah batin dengan kata-kata berikut: “Suatu malam gelap, diterangi kerinduan yang mendesak akan cinta’[v] Baginya adalah suatu kerinduan yang mendesak, eros, yang menjadi titik tolak hidup spiritualnya, dan dalam pandangannya, spiritualitas pada dasarnya dirumuskan sebagai cara kita mengendalikan eros itu.

            Maka untuk menyajikan suatu contoh yang jelas mengenai bagaimana spiritualitas berkenaan dengan cara seseorang menangani eros yang ada padanya, marilah kita bandingkan kehidupan tiga wanita terkenal : Ibu Teresa, Janis Joplin, dan Putri Diana.

            Kita mulai dengan Ibu Teresa*. Kiranya sedikit dari kita yang menganggap Ibu Teresa sebagai seorang wanita yang erotis. Kita lebih mengingatnya sebagai seorang wanita spiritual. Namun sesungguhnya Ibu Teresa seorang wanita yang erotis, walaupun bukan dalam pengertian yang sempit menurut Freud.** Ibu Teresa itu erotik karena dia merupakan suatu dinamo pembangkit energi. Walaupun mungkin ia tampak rapuh dan lembut, tapi tanyakanlah pada orang yang pernah berdiri di dekatnya, apakah kesan dari penampilan seperti itu benar. Dia seorang manusia buldoser, seorang wanita yang sangat terdorong secara erotis. Namun dia sungguh seorang yang sangat disiplin, yang membaktikan dirinya kepada Tuhan dan kepada kaum miskin. Siapapun menganggap dia sebagai orang suci. Mengapa?

            Orang suci adalah seseorang yang dapat dengan sangat tepat menyalurkan eros dalam suatu cara yang kreatif dan memberikan hidup. Soren Kierkegard* pernah menyatakan bahwa orang suci adalah seseorang yang dapat menginginkan satu-satunya hal. Tidak seorang pun menyangkal bahwa Ibu Teresa justru melakukan hal itu, menginginkan satu-satunya hal : Tuhan dan kaum miskin. Ia punya suatu energi yang sangat kuat, namun yang sangat disiplin. Erosnya yang hebat itu tercurah keluar untuk Tuhan dan kaum miskin. Pengabdiannya yang total atas segala sesuatu untuk Tuhan dan kaum miskin merupakan tanda dirinya, spiritualitasnya. Itulah yang menjadikan dirinya.

            Menengok Janis Joplin, bintang rock yang mati karena mengkonsumsi obat bius berlebihan ketika berumur dua puluh tujuh tahun itu, hanya sedikit orang yang akan memandangnya sebagai orang yang sangat spiritual. Namun sebenarnya Janis Joplin juga seorang yang spiritual. Orang mengira dia adalah kebalikan dari Ibu Teresa, erotis, tapi tidak spiritual. Namun Janis Joplin tidak begitu berbeda dari Ibu Teresa, bukan karena make-up-nya yang awut-awutan dan karakternya. Dia juga seorang yang luar biasa, seseorang dengan eros yang sangat kuat, seorang pecinta yang hebat, orang penuh dengan energi yang langka. Namun berbeda dari Ibu Teresa, Janis Joplin tidak bisa hanya menginginkan satu-satunya hal. Dia mengingini banyak hal. Energinya yang luar biasa meluap ke segala arah dan akhirnya menciptakan suatu ekses dan suatu kelelahan yang menyebabkan anak muda itu mati. Namun semua kegiatan itu – suatu totalitas untuk kreativitas, pertunjukan, narkoba, alkohol, seks, dipadu dengan pengingkaran untuk rehat yang normal – adalah spiritualitas Janis Joplin. Ini adalah identitasnya. Itulah caranya dia menyalurkan erosnya. Dalam kasusnya, yang sering merupakan tragedi di antara para artis yang berbakat, hasil akhir dalam hidupnya, bukanlah suatu integrasi yang sehat melainkan suatu kesia-siaan. Pada titik tertentu ia kehilangan hal-hal yang biasanya mengikat jadi utuh seorang pribadi dan berantakan berkeping-keping karena terlalu banyak tekanan.

            Melihat kehidupan Janis Joplin dan hidup kita sendiri, ada suatu renungan yang menarik atas rumusan Kierkegaard tentang orang suci – “yang menginginkan satu-satunya hal”. Kebanyakan dari kita sungguh berbeda dari pribadi seperti Ibu Teresa adalah bukan karena (berbeda dari Ibu Teresa) kita tidak menginginkan Tuhan dan kaum miskin. Kita sungguh menginginkan mereka juga. Masalahnya adalah kita juga menginginkan segala sesuatu lainnya. Maka, kita ingin menjadi orang suci, tetapi kita juga ingin merasakan semua hal yang dialami para pendosa; kita ingin murni tanpa cela, tetapi kita juga ingin mencicipi segala pengalaman hidup dan berbagai cita-rasa; kita ingin melayani kaum miskin dengan hidup sederhana, tetapi kita juga menghendaki kenyamanan orang kaya; kita ingin mendapatkan kedalaman yang diberikan oleh kesunyian, tetapi kita juga tidak ingin melewatkan segala sesuatu; kita ingin berdoa, tetapi kita juga ingin melihat televisi, membaca, bicara dengan teman, dan pergi jalan-jalan. Sementara hidup yang sederhana sering perlu diusahakan, kita sering sampai letih-lelah dan mengidap penyakit kebablasan.

            Filsafat abad pertengahan mempunyai suatu semboyan yang menyatakan : Setiap pilihan adalah suatu penyerahan. Memang. Setiap pilihan bisa merupakan ribuan penyerahan. Kita memilih satu hal, dan untuk itu kita melepaskan banyak hal yang lain. Memilih menikahi seseorang berarti melepaskan banyak orang yang lain, dan memiliki seorang anak berarti harus mengorbankan banyak hal lain pula; memilih berdoa berarti melepaskan keinginan untuk melihat televisi atau mengunjungi teman-teman. Inilah yang membuat tindakan memilih merupakan hal yang berat. Maka tidak heran bahwa kita perlu bersusah payah untuk menetapkan suatu komitmen. Hal itu bukan karena kita tidak ingin melakukan hal-hal tertentu, tetapi hanya karena kita tahu bahwa jika kita memilih hal-hal itu, kita harus melepaskan begitu banyak hal yang lainnya. Maka tidak mudah untuk menjadi orang suci, untuk menginginkan hanya satu-satunya hal, untuk memiliki disiplin Ibu Teresa. Ada bahaya bahwa kita lebih suka berakhir kurang lebih seperti Janis Joplin : baik hati, sangat energik, terdorong untuk mereguk sebanyak-banyaknya dari kehidupan, tetapi berada dalam bahaya tercerai berai dan mati karena kurang istirahat.

            Janis Joplin mungkin merupakan suatu contoh yang ekstrim. Kebanyakan dari kita tidak mati karena kurang istirahat pada usia dua puluh tujuh tahun. Kebanyakan dari kita saya kira sedikit mirip dengan Putri Diana*, yang separoh Ibu Teresa dan separoh Janis Joplin.

            Putri Diana layak kita renungkan di sini, bukan hanya karena kematiannya menghentikan dunia dengan cara tertentu yang hingga saat ini belum ada tandingannya, tetapi karena menarik untuk memerhatikan bahwa dalam memandang dirinya, berbeda baik dari Ibu Teresa maupun dari Janis Joplin, secara spontan kita melihat adanya paduan kedua elemen itu : yang erotik dan yang spiritual. Putri Diana mewujudkan seorang pribadi yang baik erotik maupun spiritual. Ini langka, berdasarkan pengertian umum mengenai spiritualitas. Biasanya kita memandang seseorang sebagai yang ini atau yang itu, tapi bukan kedua-duanya – erotik dan spiritual. Lebih-lebih, dia layak digambarkan seperti itu karena ia memang dengan cukup jelas mencerminkan kedua dimensi itu.

            Sisi erotik pada dirinya tampak jelas, walaupun tidak selalu dengan cara banyak orang memahami istilah itu. Pada permukaannya, penilaian itu mudah dilakukan: Dia adalah wanita yang paling banyak difoto wartawan di dunia ini, sangat dikagumi karena kecantikan fisiknya, menghabiskan jutaan dolar untuk membeli pakaian, dan jelas bukan seorang suster yang selibat. Ia punya afair, berlibur dengan para playboy di atas yacht di Laut Tengah, makan di restoran terbaik di Paris, dan punya gaya hidup yang sulit diselaraskan dengan mode para santa klasik. Tetapi semua itu hanya tampak luar, yang tidak selalu menjadi petunjuk bahwa dia punya eros yang hebat. Banyak orang melakukan banyak hal dan tetap biasa-biasa saja. Yang lebih penting adalah energinya. Di sini Putri Diana adalah Ibu Teresa dan Janis Joplin, seseorang yang jelas punya nyala yang besar – yang oleh Plato si orang Yunani disebut kegilaan, keedanan – dalam dirinya. Sebagian hal itu dapat dicerap oleh indera, tetapi sebagian yang lain secara tidak langsung disimpulkan dari setiap gerakannya, dalam setiap keputusannya, dan dalam setiap guratan yang terbersit di wajahnya. Semua itu bukan untuk sesuatu yang sia-sia, bukan sekedar karena kecantikan fisiknya atau karena tujuannya orang begitu kuat tertarik kepadanya. Energinya, jauh melebihi kecantikan dan maksud-maksudnya, itulah yang membuat Putri Diana luar biasa.

            Bagian yang spiritual pada dirinya juga jelas, jauh sebelum ia berteman dengan Ibu Teresa dan berusaha dengan serius membantu kaum miskin. Dimensi inilah yang dibicarakan oleh saudaranya dalam pidato pemakamannya – maksud-maksudnya, ya, namun yang lebih penting sesuatu yang ada di dalam diri Diana, suatu ambiguitas moral yang dalam, yang tidak mengizinkan dirinya nyaman-nyaman saja hidup di kalangan jet-set. Dia biasa gelisah, punya suatu hasrat yang besar untuk dipuaskan; dia adalah pribadi yang disiplin, seseorang yang sekalipun tidak sempurna menginginkan apa yang dibicarakan Kierkegaard, yaitu Tuhan dan orang miskin, sekalipun ia juga menginginkan banyak hal juga.

            Spiritualitas berkenaan dengan bagaimana kita menyalur-kan eros kita. Dalam usaha Puteri Diana di sini, kita melihat sesuatu yang kebanyakan dari kita mengenalinya sebagai kompleksitas yang luar biasa, pergumulan yang penuh derita untuk menjatuhkan pilihan dan memberikan komitmen, dan suatu kombinasi yang oh-sangat-manusiawi dalam hal dosa dan keutamaan. Spiritualitas adalah apa yang kita lakukan dengan spirit (jiwa dan semangat) yang ada dalam diri kita. Maka bagi Puteri Diana, spiritualitasnya adalah baik komitmennya pada kaum miskin maupun liburan di Laut Tengah... dan segala kesulitan dan permasalahan di antara keduanya. Spiritualitas Diana itu, sebagaimana kita lihat, adalah suatu persimpangan jalan. Dia tidak sepenuhnya menempuhnya jalannya Ibu Teresa, tetapi juga tidak sepenuhnya menempuh jalannya Janis Joplin. Dia memilih beberapa hal yang membuatnya lebih terintegrasi dalam badan-dan-jiwanya, dan juga memilih hal-hal lain yang mencerai beraikan badan-dan-jiwanya. Semacam itulah spiritualitas. Berkenaan dengan integrasi dan disintegrasi, tentang membuat macam-macam pilihan seperti yang selalu dilakukan Putri Diana dan hidup dengan menanggung konsekuensinya, seperti itu jugalah kita.

            Dengan singkat kita dapat merumuskan spiritualitas begini: Spiritualitas adalah apa yang kita lakukan dengan api yang berkobar dalam diri kita, tentang cara kita menyalurkan eros kita. Dan bagaimana kita menyalurkannya, disiplin dan kebiasaan yang kita pilih untuk hidup, yang akan mengantar kita entah pada integrasi atau entah pada disintegrasi dalam badan, akal-budi dan jiwa kita, dan menuju suatu integrasi atau disintegrasi yang lebih besar lagi pada cara kita berhubungan dengan Tuhan, sesama dan alam semesta. Kita melihat spiritualitas ini dihayati dengan cara tertentu oleh Ibu Teresa, yang lain dalam diri Janis Joplin, dan dalam cara yang lain pada Puteri Diana.

            Kita dapat melihat dari semua ini bahwa spiritualitas berkaitan dengan apa yang kita lakukan dengan jiwa atau semangat kita. Dan kita juga dapat melihat dari semua ini bahwa semangat yang sehat atau jiwa yang sehat harus melakukan dua tugas: Di satu pihak memberikan kepada kita energi, api yang menyala supaya kita tidak memfosil dan kehilangan vitalitas kita, terjerumus ke dalam depresi yang melumpuhkan, dan kehilangan semua citarasa keindahan dan kegembiraan hidup. Maka lawan dari manusia spiritual adalah orang yang menolak Tuhan dan hidup tanpa mengenal Tuhan. Ini adalah orang yang tidak menggereja. Lawan dari menjadi spiritual adalah (dalam suatu cara bicara) loyo tak bertenaga, yaitu kehilangan semua daya hidup – berbaring di sofa atau tempat tidur, hanya melulu melihat sepak bola atau komedi situasi di televisi, dan menenggak bir terus menerus! Namun memberi energi hanyalah separoh dari tugas jiwa yang sehat. Tugas yang lain yang sangat vital adalah mengikat diri kita tetap utuh integral sehingga kita tidak berantakan berkeping-keping dan mati. Dalam segi ini, lawan dari orang yang spiritual adalah seseorang yang kehilangan jati dirinya, yaitu orang yang pada titik tertentu tidak tahu lagi siapa dirinya. Jiwa  dan semangat yang sehat menjaga kita agar tetap energik dan utuh terpadu.

            Namun, untuk memahami hal ini secara lebih mendalam, kita perlu melihat lebih dalam lagi pada jiwa kita, bagaimana pentingnya nyala semangat itu, dan serentak dengan itu bagaimana ikatan yang memadukan diri kita.

 

KEDUA FUNGSI JIWA

Jiwa itu apa?[vi] Niscaya menarik untuk melihat kesan yang timbul dalam benak seseorang secara spontan ketika mendengar kata “jiwa”. Saya kira, bagi banyak di antara kita, kata “jiwa” sejauh menyangkut apa saja menghasilkan suatu gambaran sesuatu seperti kertas tisu yang sangat samar, agak putih, agak tak nampak, yang melayang jauh di dalam diri kita, dan yang bercak-bercak ketika kita berdosa, dan yang akan melepaskan diri dari tubuh kita pada waktu kita mati, pergi menghadap Tuhan untuk diadili. Betapapun tidak tepatnya gambaran itu, namun ada juga gunanya. Bagaimana pun kita berusaha membayangkan sesuatu yang tak terbayangkan dan kita perlu membentuk semacam foto darinya.

            Yang keliru dari konsepsi itu adalah bahwa dalam konsepsi itu jiwa begitu terpisahkan dari inti kepribadian kita, dari kesadaran akan jati diri kita sendiri. Jiwa bukanlah sesuatu yang kita miliki, namun lebih merupakan sosok keberadaan diri kita. Dialah detak sejati dalam kita, yang membuat kita hidup. Maka kita bicara tentang seseorang yang sedang meninggal dengan tepat ketika jiwa itu meninggalkan tubuh. Jiwa merupakan prinsip kehidupan di dalam diri seorang manusia, dan tentu saja menjadi detak kehidupan dalam segala sesuatu yang hidup. Maka jiwa punya dua fungsi.

            Pertama-tama, jiwa adalah prinsip energi. Hidup ini energi. Hanya ada satu tubuh yang tidak punya energi atau ketegangan di dalamnya, yaitu mayat. Jiwalah yang memberi hidup. Di dalamnya ada nyala api, eros, energi yang mendorong kita. Maka kita hidup sejauh ada jiwa dalam tubuh kita, dan kita mati saat jiwa meninggalkan tubuh.

            Kadang-kadang menarik ketika kita menggunakan kata “jiwa itu” dan kita mengira menggunakan kata itu sebagai kiasan, namun sebenarnya kita menggunakannya dengan suatu cara yang anehnya akurat. Maka misalnya, kita bicara tentang “jiwa musik”. Apa yang memberikan jiwa pada suatu musik? Ini dapat kita mengerti dengan memelajari lawannya, kebalikannya. Bayangkanlah musik yang sering Anda dengarkan di bandara, di supermarket dan dalam lift. Musik itu hanya sekedar pengisi kesunyian, tanpa jiwa. Tidak berarti bagi Anda. Tidak mengaduk kromosom anda. Tapi ada musik lain yang melakukan itu dan itulah sebabnya mengapa kita dengan tepat menyebutnya jiwa musik. Penuh energi, eros, dan membawa segala hal yang ada padanya : hasrat, kegelisahan, nostalgia, nafsu, keinginan, dan harapan. Eros adalah jiwa, dan jiwa memberikan energi.

            Namun ada hal lain yang dilakukan jiwa, lebih dari hanya memberikan energi. Jiwa itu juga mengikat seluruh diri kita menjadi suatu kesatuan, prinsip integrasi dan individuasi* di dalam diri kita. Pada tingkatan fisik hal ini bisa dengan mudah kita perhatikan. Tubuh kita ini secara biologi merupakan gabungan dari bermacam-macam zat kimia. Namun selagi kita hidup, ada jiwa dalam kita, semua zat kimian ini bekerja sama membentuk suatu organisme, suatu tubuh, yang di dalamnya semua zat kimia yang berbeda-beda dan semua proses yang dihasilkannya bersama-sama membuat suatu kesatuan, sesuatu yang lebih besar daripada sekedar penjumlahan semua bagiannya. Kita menyebut ini suatu tubuh, dan keberadaan setiap tubuh bergantung bergantung kepada jiwa. Maka, ketika kita melihat seseorang mati, kita memerhatikan dengan tepat bahwa sejak saat kematian itu dan selanjutnya tubuh itu tidak ada lagi. Kita tidak menyebutnya suatu tubuh lagi, melainkan suatu mayat atau jenasah. Pada saat kematian itu, semua zat kimia berjalan menurut jalannya sendiri. Zat-zat kimia yang tadinya bekerja sama demi suatu kesatuan dan menjadi suatu kesatuan tentunya, sekarang terurai terpisah-pisah. Untuk sesaat sesudah kematian mereka masih memerlihatkan suatu tubuh, tetapi hanya karena mereka masih saling tumpang tindih. Namun itu akan segera berubah. Begitu jiwa meninggalkan tubuh, maka yang ada bukan lagi suatu tubuh. Berbagai zat-zat kimia terurai menempuh jalannya sendiri dan tidak mendukung hidup.

            Apa yang lihat pada sisi bio-kimia itu, juga bisa kita saksikan di tingkat psikologi. Di hati dan pikiran, jiwa itu merekatkan segalanya dalam kebersamaan. Dari sini, jika kita menggunakan istilah “kehilangan jiwa”, kita bukannya bicara tentang keadaan terkutuk secara kekal. Kehilangan jiwa dalam jargon masa kini berarti cerai berai, kacau, tidak keruan, tidak rekat jadi satu. Kehilangan jiwa sama dengan berantakan. Maka jika kita merasa batin kita bingung tak ketulungan, ketika kita tidak tahu lagi siapa diri kita ini, dan ketika saya buru-buru ke segala arah pada saat yang bersamaan tanpa tahu mau ke mana, maka saya kehilangan jiwa. Sama dengan pertanyaan tentang keabadian, inilah yang dikatakan Yesus ketika Ia bertanya, “apa gunanya seseorang memeroleh seluruh dunia, jika ia kehilangan jiwanya?”

            Maka jiwa yang sehat niscaya melakukan dua hal bagi kita. Pertama, jiwa itu menempatkan nyala api dalam urat syaraf kita, yang membuat kita tetap energik, gembira, punya daya hidup, dan penuh dengan harapan karena kita merasakan bahwa hidup ini akhirnya indah dan layak. Kalau semuanya ini berhenti atau berantakan dalam diri kita, maka ada yang salah pada jiwa kita. Ketika kita jadi sinis, putus asa, pahit, atau energi kita jadi lumpuh karena depresi, tentu sebagian dari jiwa kita terluka. Yang kedua, jiwa yang sehat menjaga agar kita rekat terpadu dalam suatu kesatuan. Jiwa itu terus menerus memberi kepada kita pengertian siapa diri kita ini, dari mana kita berasal, ke mana kita akan pergi, dan segala pengertian lain yang ada di dalamnya. Jika kita berdiri memandang diri kita sendiri di depan kaca dan bingung, dan bertanya pada diri sendiri apa gunanya, artinya hidup kita ini (jika ada), maka inilah bagian lain dari jiwa, prinsip integrasi, penyatuan diri, yang sedang melemah.

            Dapat dikatakan bahwa jiwa punya suatu prinsip kekacauan dan suatu prinsip keteraturan di dalamnya, dan kesehatannya bergantung pada proporsi (atau bagian) yang setepatnya diberikan kepada masing-masing prinsip itu. Jika terlalu banyak keteraturan maka anda mati tercekik atau terbelit; jika terlalu banyak kekacauan maka anda mati berantakan. Maka setiap spiritualitas ang sehat niscaya beribadat pada Tuhan pada dua tempat suci, pada tempat suci kekacauan, dan pada tempat suci keteraturan. Yang satu membuat kita tetap bertenaga, yang lain memelihara kesatuan diri kita. Kedua fungsi jiwa ini selalu di dalam suatu ketegangan yang kreatif. Itulah sebabnya kita kadang-kadang mengalami kontadiksi yang luar biasa dalam diri kita. Antara energi dan integrasi, antara hasrat yang berkobar-kobar dan kemurnian, api dan air, yang selalu bertempur satu sama lain, masing-masing punya hak yang sah untuk mewujudkan kesehatan kita. Tidak mengherankan jika hidup ini bukanlah tugas yang sederhana.

            Hal ini mempunyai pertalian implikasi praktis yang sangat luas pada hidup kita. Apa yang sehat dan apa yang tidak sehat bagi jiwa kita? Maka misalnya, apakah sehat melihat film atau tayangan televisi yang memerlihatkan kekerasan dan seks? Apakah yang ini atau yang itu merupakan pengalaman yang sangat sehat atau tidak sehat bagi saya sekarang? Berdasarkan latar belakang jiwa seperti ini, kita tahu bahwa pertanyaan tentang apa yang membuat jiwa kita sehat atau tidak sehat adalah sangat kompleks karena pada setiap hari tertentu mungkin kita memerlukan lebih banyak integrasi daripada memerlukan energi, atau sebaliknya. Suatu contoh yang sederhana: Jika saya merasa sedang berantakan, tidak tahu lagi siapa saya dan apa artinya hidup saya ini, saya mungkin beristirahat untuk membaca Jane Austen* ketimbang Robert Waller**, melihat film Sense and Sensibility ketimbang The Bridge of Madison County, dan meluangkan waktu untuk sendirian ketimbang untuk bersama teman-teman. Namun sebaliknya, jika saya merasa lumpuh batin saya dan tidak menemukan semangat hidup, saya mungkin memerlukan hal yang kebalikan dari keterangan di atas itu. Hal-hal tertentu membantu kita mendapatkan api energik, sedang hal-hal tertentu lainnya membantu saya menanggung ketegangan hidup dengan sabar. Keduanya punya tempatnya sendiri-sendiri dalam kehidupan spiritual.

            Itulah sebabnya unsur-unsur api dan air selalu mendapat tempat sentral dalam simbolisme keagamaan. Api melambangkan energi, eros, hasrat yang menggebu-gebu. Air melambangkan suatu penurunan kegiatan, pendinginan, dalam suatu wadah, rahim keamanan dan keselamatan. Secara mitis, spiritualitas sering dilihat sebagai pertautan dan pergantian di antara kedua unsur ini, api dan air. Tidak mengherankan. Di dalam mitologi, jiwa selalu di dalam tempaan, dipanaskan dan dibentuk dengan api, lalu didinginkan dengan air.

            Selaras dengan pemerian di atas, sangat menakjubkan untuk memelajari betapa di dalam berbagai kebudayaan ada berbagai cerita legenda mengenai asal-usul jiwa dan segala sesuatu yang terkait dengan masuknya jiwa ke dalam tubuh kita. Berikut ini disampaikan beberapa contoh.

            Di dalam budaya Jepang ada suatu gagasan bahwa bayi datang dari suatu tempat yang sangat jauh sebelum masuk dalam komunitas manusia. Jiwanya begitu asing bagi dunia ini dan karena itu amat sangat penting bahwa pada mulanya anak harus selalu dekat dengan ibu atau dengan mereka yang memberi perhatian awal, yang mestinya tidak meninggalkan bayi itu sendirian. Mahluk asing ini harus dibuat merasa diterima dengan baik. Ada sesuatu di dalam bayi itu, suatu api, yang berasal dari suatu tempat-entah-di-mana. Di antara bangsa Norwegia juga ada legenda yang sangat indah bahwa sebelum suatu jiwa dimasukkan ke dalam tubuh, jiwa itu dicium oleh Tuhan dan selama masa hidupnya di dunia, jiwa itu memelihara suatu kenangan yang gelap namun sangat kuat tentang ciuman itu dan menghubungkan segala sesuatu dengan ciuman itu. Kemudian ada legenda Yahudi yang menyatakan bahwa sebelum Tuhan menempatkan suatu jiwa ke dalam tubuh, jiwa itu diminta melupakan kehidupan sebelumnya. Maka tepat ketika jiwa itu masuk ke dalam tubuh, salah seorang malaikat Tuhan membekap mulut bayi sebagai suatu isyarat agar selama hidupnya di dunia, ia tidak boleh bicara tentang asal-usulnya yang ilahi. Lekukan kecil di bawah hidung seseorang adalah bekas jari telunjuk malaikat yang menyegel bibir anda – itulah sebabnya mengapa jika anda berusaha mengingat-ingat sesuatu, ketika anda berpikir, secara spontan jari telunjuk anda naik dan bertengger pada lekukan di bawah hidung itu.[vii]

            Legenda-legenda yang indah ini sungguh menghormati jiwa. Mereka juga hangat akrab, seperti menunjukkan kepada kita, bahwa api di dalam jiwa yang berasal dari seberang sana, dan apa yang dilakukan oleh jiwa itu di dalam hidup ini banyak didorong oleh api itu.

            Satu hal yang terakhir namun penting juga perlu dikatakan tentang jiwa sebelum kita maju dan ini berkaitan dengan keberadaannya dalam semua alam. Orang-orang kuno dan zaman pertengahan percaya bahwa bukan hanya manusia saja yang punya jiwa dan punya spiritualitas. Dalam pandangan mereka, setiap benda hidup, lanet, serangga, atau binatang, juga punya jiwa. Mereka benar. Lebih-lebih lagi dewasa ini, berdasarkan pengertian kita akan fisika, kita tahu bahwa bahkan partikel yang paling kecil pun dari alam semesta ini, dengan muatan positif dan negatif mereka, mempunyai sesuatu semacam kehendak dan karena itu mereka juga punya sejenis jiwa sendiri. Hal ini penting untuk kita sadari, bukan demi alasan romantik atau mitologis, tetapi karena kita semua adalah satu dengan seluruh alam semesta. Untuk dapat memahami diri kita sendiri dan apa artinya spiritualitas bagi kita, maka kita perlu menempatkan diri kita dalam suatu konteks yang seluas mungkin, yaitu seluruh kosmos.

            Pierre Theilhard de Chardin pernah menganggap pribadi manusia sebagai suatu evolusi yang menjadi sadar akan diri sendiri. Hal itu memberi tahu kita bahwa, sebagai umat manusia, kita tidak terpisahkan diri dari alam, karena semata-mata merupakan bagian dari alam yang dapat berpikir, merasa dan bertindak secara sadar. Alam merupakan suatu kesatuan, suatu garis kontinuum yang tertentu; sebagian darinya sadar akan dirinya sendiri, sebagian yang lain hanya sadar saja, dan sebagian yang lain hanya punya kesadaran yang sangat gelap dan analog. Namun segala itu, termasuk umat manusia, didorong oleh jiwa, semangat, hasrat, eros, keinginan. Alam juga dilontarkan oleh suatu kegilaan yang datang dari ilah-ilah. Perbedaannya adalah, sebelum sampai pada tataran kesadaran diri dan kebebasan manusia, daya yang mendorong alam itu merupakan tekanan yang gelapdan gelisah, tampaknya tidak punya pengertian, tidak sadar, dan seringkali brutal. Tidak ada yang pernah diam sama sekali, bahkan pada tataran alam yang paling dasar sekali pun.

            Oksigen menyatu dengan hidrogen dan gabungan ini selanjutnya terdorong keluar untuk menyatu juga dengan hal-hal lain dan sebagainya dan sebagainya. Semua benda dalam alam, persis seperti manusia, pada dasarnya tidak tenang dan terdorong untuk keluar. Saya sampaikan suatu ilustrasi.

            Seorang teman memberi tahu saya, setelah membeli sebuah rumah ia bermaksud menghilangkan serumpun bambu tua di jalan masuk rumah itu. Ia memotong tanaman itu, dengan mengapak akarnya, dan setelah itu, ia menghancurkannya sebisa mungkin dan menuangkan racun tanaman atas sisa-sisanya. Akhirnya ia menimbun lubang di tempat tumbuhnya bambu itu dengan pasir dan kerikil yang ditumbuknya dengan kuat dan kemudian diberi semen.

            Dua tahun kemudian, semen itu terangkat naik dan tanaman bambu itu meretakkan jalan semen itu. Prinsip hidupnya, tekanan yang buta untuk tumbuh, tidak putus oleh kapak, racun dan semen.

            Kita melihat semangat yang sama yang sulit dipercaya dan tampaknya tidak mau mengerti di dalam semua benda. Di dalam segala sesuatu, dari atom hingga manusia, ada semacam kekuatan buta yang menyatu dengan benda-benda lain dan tumbuh. Tidak ada yang dapat menghentikannya. Jika anda menaruh suatu lembaran baja dua inci di atas semangka yang sedang tumbuh, tanaman itu akan meretas baja dan tetap tumbuh. Segala sesuatu didorong keluar. Batu-batu, tanaman, serangga dan binatang juga sama erotiknya, dan terdorong sama resahnya seperti manusia. Pada derajat yang tertentu ada persamaan yang menakjubkan antara tanaman bambu yang mendesak naik secara membuta menembus jalanan semen, seorang bayi yang sedang disusui, seorang remaja yang gelisah terdorong oleh hormon-hormon, kegelisahan kaum lajang di suatu bar, dan Ibu Teresa yang berlutut dengan sadar berdoa di hadapan Tuhan. Pada masing-masing ada hasrat yang sedang bekerja, kadang-kadang secara membuta, kadang-kadang secara sadar. Santo Paulus mengatakan bahwa pada masing-masing kesempatan itu, Roh Kudus berusaha berdoa melalui sesuatu atau seseorang. Hukum gravitasi dan tarikan obsesi emosional tidak terlalu berbeda.

            Teilhard de Chardin yang adalah ilmuwan sekaligus teolog itu suatu ketika berkata bahwa Allah bersabda kepada setiap unsur dengan bahasa yang mereka pahami. Maka, Allah bicara pada hidrogen melalui   ketertarikannya pada oksigen. Allah menarik segala sesuatu lainnya, termasuk kita masing-masing dengan cara yang sama. Di situ ada satu tujuan, satu daya, satu semangat yang bekerja dalam seluruh semesta. Zat kimia yang ada pada tangan kita dan yang ada pada otak kita digodok di tungku yang sama tempat pengolahan bintang-bintang. Semangat yang sama mendorong oksigen untuk bergabung dengan hidrogen, membuat bayi menangis ketika lapar, mendorong remaja keluar dengan keresahan hormonal, dan mendorong Ibu Teresa pergi ke kapel untuk berdoa. Ada ketidakpuasan, suatu kata lain untuk jiwa dan semangat, dalam semua benda dan apa yang dilakukan oleh benda-benda itu, atau manusia, terhadap ketidakpuasan itu, adalah spiritualitas mereka.

            Kita adalah bagian dari suatu semesta, bagian yang menjadi sadar akan diri sendiri, sementara segala sesuatu lainnya menginginkan sesuatu di luar dirinya sendiri. Kita mempunyai dalam diri kita semangat, jiwa, dan apa yang kita lakukan pada jiwa itu adalah spiritualitas.[viii] Pada tataran yang paling dasar, jauh sebelum semuanya yang jelas bersifat keagamaan perlu disebutkan, adalah benar untuk mengatakan bahwa jika kita melakukan berbagai hal yang membuat kita tetap energik dan terpadu, terbakar bernyala sekaligus terekat menyatu, kita mempunyai spiritualitas yang sehat. Sebaliknya, jika dorongan besar kita membuat kita melakukan tindakan yang membebani batin kita dan menyebabkan kita merasa berantakan dan mati, maka kita mempunyai suatu spiritualitas yang tidak sehat. Sebagaimana kita katakan di depan, spiritualitas berkenaan dengan apa yang kita lakukan dengan hasrat yang tak terpuaskan, kegilaan yang datang dari ilah-ilah, yang ada di dalam diri kita.

            Setiap orang tentu punya suatu spiritualitas. Kendati sebagai suatu fakta ini jelas, namun hal ini tidak begitu jelas dipahami atau diterima dewasa ini di dalam budaya Barat. Untuk berbagai macam alasan, kita bersusah payah menggumuli dimensi yang spiritual ini, entah dengan latar belakang kita sebagai orang Kristiani atau tidak. Kita semua cendreung berjuang dengan dimensi gerejawi dari spiritualitas ini. Demikianlah maka perjuangan kita baik secara teoretis maupun secara eksistensial berusaha memahami ini semua.

Diterjemahkan oleh Bambang Kussriyanto (2011)

Catatan dan Rujukan

* Anne Frank menuliskan catatan harian pengalamannya lolos dari kekejaman Perang Dunia II; Teresa Martin dari Lisieux , seorang biarawati Karmelit, santa, juga dikenal sebagai Teresa Kanak-kanak Yesus (1873-1897); Etty Hilesum , seorang wanita pemikir Yahudi Belanda (lahir 1914), meninggal di dalam kamp tawanan  Jerman di Auschwitz pada tahun 1943. Meninggalkan tulisan berupa catatan harian An interrupted Life : The Diaries of Etty Hillesum 1941-1943, terjemahan A.J. Pomerans, London 1996.

 

** Sigmund Freud, bapak  psiko-analisis dari Austria (1850-1939) yang mengulas tentang libido. Karl Jung, psikiater Swiss, yang juga pendiri aliran psiko-analisis (1875-1961). James Hillman   terutama bukunya, The Soul’s Code: In Search of Character and Calling, New York, Random House, 1990.

;

* Yoanes dari Salib (1542-1591), pujangga gereja dari masa reformasi, menulis banyak buku tentang hidup rohani dan mistik.

* Ibu Teresa, Misionaris Suster-suster Cinta Kasih dari Kalkuta.

** Sigmund Freud menyusun teori tentang “instansi-instansi identitas” (superego, ego dan id) sekitar tahun 1915, yang didasari oleh teorinya tentang naluri seksual. Secara popular psiko-analisis ortodoks dari Freud mengaitkan perkembangan kepribadian dengan dinamika seksualitas, utamanya dengan pengendalian nafsu libido. Maka erotik dalam pengertian ini berkaitan dengan libido seksual itu.

* Filsuf eksistensialis dari dari Denmark (1815-1855).

* Mantan isteri Pangeran Charles dari Inggris

* Yang membuat kita unik, terbedakan dari yang lain.

* Jane Austen, novelis wanita dari Inggris (1775-1817) yang menghasilkan roman-roman yang lembut.

** Robert Waller menghasilkan karya thriller dan suspense yang energik.



Catatan dan Rujukan

 

[i] Suatu uraian frasa perkataan dari Plato.

 

[ii] St Agustine, The Confessions of St Agustine, terjemahan Frank Sheed, New York, Sheed & Ward, 1943, hal 1.

 

[iii] Buku-buku klasik yang tergolong rubrik ini adalah termasuk buku Thomas a Kempis,  Imitatio Christi, (pernah diterbitkan dalam bahasa Indonesia dengan judul Mengikuti Jejak Kristus, dan dalam bahasa Jawa Nderek Pada Dalem Sang Kristus di tahun enam puluhan); Francis de Sales, An Introduction to the Devout Life; dan buku pegangan seminari oleh A. Tanquerey, The Spiritual Life.

 

[iv] Kata bahasa Inggris discipleship (pemuridan) berasal dan memperoleh maknanya dari kata discipline (sikap taat ajaran/belajar). Menjadi murid berarti berada di bawah ajaran dan/atau dalam ketaatan pada cara belajar tertentu. Ini bisa secara eksplisit merupakan disiplin keagamaan, maka jika kita bicara tentang murid-murid Yesus berada dalam ajaran Yesus atau dalam ketaatan  belajar pada Yesus, tetapi juga bisa diterapkan pada ajaran lain, misalnya suatu ideologi, suatu filosofi, suatu ambisi, suatu kepahitan dan sebagainya.

 

[v] Puisi Santo Yoanes dari Salib: “Malam Gelap dari Jiwa”, stansa satu. Lengkapnya stansa itu sebagai berikut:

Suatu malam gelap

Diterangi kerinduan yang mendesak akan cinta

Ah, rahmat sejati

Diam-diam aku keluar

Rumahku diliputi sepi.

Lihat The Collected Works of John of the Cross, terjemahan K. Kavanaugh, Washington DC, ICS Publications, 1991, hal 113.

 

[vi] Di sini saya menggunakan kata “jiwa” dalam arti yang klasik, sekurang-kurangnya seperti yang digunakan dalamkebanyakan filsafat kuno, zaman pertengahan dan modern di Barat. Seperti yang anda ketahui, di tempat-tempat yang tidak dipengaruhi oleh falsafat Yunani, dan ini meliputi sebagian besar Kitab Suci, kata itu digunakan berlain-lainan. Dewasa ini, misalnya, ada suatu aliran pemikiran (misalnya James Hillman, Thomas Moore, Richard Rohr) yang membedakan jiwa dari semangat. Pembedaan ini, betapapun valid dan berharga, tidak digunakan di sini. Jiwa sejauh yang digunakan dalam bab dan sepanjang buku ini juga meliputi semangat.

 

[vii] Untuk beberapa legenda itu, termasuk suatu uraian tentang contoh yang terkenal dari Plato, lihat buku James Hillman, The Soul’s Code – In Search of Character and Calling, New York: Random House, 1996, hal 41-62.

 

[viii] Ada beberapa definisi teknis tentang spiritualitas sebagai berikut;

i). Sandra Schneiders dalam suatu artikel dalam Theological Studies, Volume 50, halaman 676-697 menyampaikan dua definisi yang saling melengkapi:

        Dalam merumuskan Spiritualitas sebegai pengertian umum (tidak secara eksplisit merupakan rumusan yang khas Kristiani) Schneiders mengatakan mengalirnya istilah itu namun dapat dirumuskan sebagai usaha sadar dan sengaja untuk mengintegrasikan hidup seseorang, bukan hanya dalam arti integrasi diri dan pengembangan diri, tetapi dalam arti transendensi diri (menempatkan diri mengatasi) cakrawala keprihatinan tertinggi.

        Dalam merumuskannya sebagai istilah akademis, ia menyarankan sebagai berikut: Spiritualitas adalah suatu bidang studi yang berusaha mempelajari melalui suatu cara inter-disipliner (lintas keilmuan) pengalaman spiritual. Di sini pengalaman spiritual digunakan untuk menunjukkan bukan hanya pengalaman keagamaan dalam arti teknis, tetapi juga pengalaman sejenis mengenai makna dan nilai tertinggi yang transcendent dan daya penyatuan hidup pada orang-perorangan dan kelompok-kelompok.

ii) Hans Urs von Balthasar merumuskan spiritualitas sebagai cara seseorang memahami keberadaannya yang mempunyai komitmen moral dan religius, dan caranya dia cenderung (biasa) bertindak atau bereaksi atas pengertian ini.

iii) Yohanes dari Salib, salah seorang guru besar hidup rohani dapat dikatakan (dalam rumusan yang longgar) memberikan pengertian Spiritualitas sebagai berikut: Spiritualitas adalah usaha dari seseorang atau suatu kelompok untuk mencari dan berada di hadirat Tuhan, sesame dan kosmos sedemikian sehingga berada dalam suatu komunitas hidup dan perayaan dengan mereka. Pola umum dan khusus serta kebiasaan-kebiasaan dalam interaksi  yang berkembang dari ini selanjutnya membentuk dasar-dasar spiritualitas.

 

 

 

 

 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar