Daftar Blog Saya

Sabtu, 24 September 2022

AMOS MENGECAM KORUPSI DAN KETIDAKADILAN

 Pada Hari Minggu dalam Pekan Biasa XXV-XXVI Tahun C kepada kita disajikan bacaan dari Kitab Nabi Amos. Tiga hari pertama Pekan Biasa XXV Tahun C juga disajikan bacaan dari Amos. Kita segarkan ingatan kita mengenai Kitab Amos.

Kitab Amos merupakan suatu himpunan nubuat yang diduga berasal dari seorang nabi abad ke delapan SM, dari Yehuda; yang ketiga dari antara kedua belas nabi-nabi kecil. Amos, nabi itu, berasal dari kawasan sebelah selatan kerajaan Yehuda, tetapi nubuat-nubuatnya ditujukan kepada kerajaan utara, Israel.

I.             Penulis dan saat penulisan

Amos adalah seorang gembala dari Tekoa di Yehuda (Am 1:1), dan seorang “pemungut buah ara hutan” (Am 7:14). Latar belakangnya menunjukkan bahwa dia bukan seorang nabi profesional, tetapi ia menyampaikan  nubuat-nubuatnya atas perintah ilahi. Ia hidup pada masa Raja Uzia dan Yeroboam II dari Israel di suatu masa yang relatif damai dan makmur. Nubuat-nubuatnya berasal dari pertengahan abad ke delapan SM sebelum runtuhnya kerajaan utara. Selain dari apa yang terdapat di dalam buku Amos, tidak ada rujukan yang diketahui mengenai nabi ini dalam kitab lain.

                Secara tradisional, buku Amos dianggap berasal dari Nabi Amos sendiri. Para ahli umumnya sudah mencapai konsensus dalam hal ini, sekalipun banyak ahli abad keduapuluh melihat ada unsur-unsur pokok yang tua dari nubuat Amos disisipkan dan ditambahkan oleh para editor yang lebih kemudian (sebagian sebelum masa Pembuangan, sebagian sesudahnya). Para ahli yang lebih mutakhir menyatakan penghargaannya atas buku itu, bukan karena soal bahan yang asli dan bahan tambahan di dalamnya, tetapi sebagai suatu keutuhan sastrawi. Sebagian ada yang menyatakan bahwa buku itu memancarkan kejeniusan Amos sendiri, ditulis pada abad kedelapan SM oleh sang nabi atau salah seorang dari rekan sezamannya.

 II.            Isi

1.            Pengantar (1:1)

2.            Hukuman (1:2 – 2:16): Amos  menyatakan hukuman atas tetangga-tetangga Israel,Israel sendiri dan Yehuda. Nubuat-nubuat mengecam Damaskus (1:3-5), Gaza (1:6-7), Tirus (1:9-10), Edom (1:11-20), Amon (1:13-15), Moab (2:1-3), Yehuda (2:4-5)dan Samaria (2:6-16). Hukuman atas Yehuda dan Israel adalah karena mereka melanggar hukum ilahi (2:4, 11-12).

3.            Wacana (3:1—6:14): serangkaian wacana atau pidato, masing-masing dimulai dengan perkataan “Dengarlah firman ini” (3:1; 4:1; 5;1). Maksudnya adalah mengeluhkan kesalahan dan dosa-dosa yang dibuat Israel dan penderitaan yang tak pelak lagi akan menjadi konsekuensinya. Bagian ini berisi gambaran yang suram tentang Hari Tuhan, dengan diajukannya pertanyaan, “Bukankah hari Tuhan itu kegelapan, dan bukan terang, kelam kabut dan tidak bercahaya?”

4.            Visiun/Penglihatan (7:1 – 9:10): Ada lima visiun atau penglihatan mengenai hukuman, masing-masing dengan sebuah simbol – belalang (7:1-3), api (7:4-6), tali sipat  (7:7-9), buah-buahan musim kemarau (8:1-14), dan suatu altar di samping atau di mana Yahweh berada, diikuti dengan ancaman kehancuran total atas Israel (9:1-10).

5.            Kesimpulan (9:11-15): menggambarkan pemulihan Kerajaan Daud.

 III.           Pesan Kenabian

Kitab Amos mungkin merupakan tulisan profetis pertama dalam Kitab Suci, dan yang pertama juga  menyampaikan ramalan berakhirnya kerajaan utara dari Israel. Gayanya lugas dan langsung mengenai sasaran, tetapi irama poetisnya amat kuat dan kiasan-kiasannya penuh warna dan menyolok.

                Amos berbicara menentang korupsi atas barang milik dan penyelewengan keadilan yang akan mendatangkan Hari Tuhan. Amoslah yang pertama kali menggunakan ungkapan “Hari Tuhan” itu, menandakan suatu masa yang sungguh-sungguh gelap akibat kekalahan dan penderitaan (5:18-20). Ancamannya sudah muncul: Asyur akan segera menyerang (sekitar tahun 734 SM), membawa penderitaan besar kepada Israel.

                Amos menyatakan kuasa dan keadilan Tuhan yang universal. Tuhan dengan adil menghakimi semua bangsa dan menentukan nasib mereka (1:3-2:3; 2:9; 6:14; 9:7); terutama sekali, Ia mengadili mereka jika hukum moral dilanggar. Pesan ini ditujukan terutama kepada kerajaan utara dn ibukotanya, Samaria, yang hidupnya selalu dalam kepalsuan agama. Karena Samaria gagal setia kepada Allah dan gagal melaksanakan kewajiban perjanjian, maka hukuman ilahi akan ditimpakan pada mereka (3:2). Pendeknya, status bangsa Israel sebagai bangsa terpilih tidak mengurangi atau meniadakan kewajiban-kewajiban moral bangsa itu, sebaliknya menjadi bangsa pilihan juga mengemban tuntutan yang lebih besar. Selain itu ibadat tanpa sikap yang benar adalah kekejian dan Tuhan sudah berdiri di altarNya untuk menjatuhkan hukuman (9:1-4).

                Tetapi nubuat itu bukan hanya pesan kekelaman. Kitab Amos berakhir dengan suatu catatan yang sarat harapan: Amos adalah yang pertama yang mengajar bahwa mereka yang setia akan luput dari bencana (3:12). Akan datang suatu masa yang lebih baik, suatu masa harapan, ketika Kerajaan Daud akan dipulihkan (9:11-15).


Bambang Kussriyanto

Sumber: Scott Hahn, Catholic Bible Dictionary, Double Day,  2009.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar