Daftar Blog Saya

Rabu, 28 September 2022

BAHAGIA SELAMANYA ITU MITOS. Hubungan Relasi Hati yang Mencintai Berfluktuasi

 Permenungan untuk Kerasulan Keluarga 1



Bambang Kussriyanto

Hubungan cinta atau hubungan apa pun dengan seseorang setelah melewati masa awal yang menggebu-gebu, selanjutnya akan disadari tidak selalu membahagiakan. Ada orang yang malahan lebih merasa enakan jika sendirian saja, atau paling tidak mengharapkan situasi yang  baginya sama saja dengan ketika sendirian.                               

                Adakah sesuatu yang membuat gembira (pekerjaan baru, atau rumah baru, misalnya), dan kemudian setelah lewat beberapa waktu, ternyata beberapa hal di dalamnya membuat sewot, dan menemukan tantangan persoalan baru? Memang darinya didapatkan sesuatu yang diinginkan, tapi ada juga hal-hal baru yang memberatkan dan masalah-masalah. Fantasi tentang hubungan dapat membuat orang jatuh "down" lebih dalam, misalnya ketika semula ia membayangkan kemesraan suatu acara, dan ternyata yang kemudian terjadi jauh dari yang dibayangkan. Seandainya orang menyikapi kenyataan “sesuatu” sebagaimana yang dialami, orang dapat mempunyai gambaran lain yang menyenangkan juga… walaupun memang ada saat-saat berat, namun selanjutnya diikuti dengan kegembiraan lagi.

                Memang ada “kecemasan pra-kelahiran” yang kemudian menjadi “haru-biru pasca kelahiran”, dalam fantasi tentang menjadi orang-tua yang menyebabkan depresi, ketika disadari bahwa bayi baru bukan hanya kegembiraan, tetapi juga membawa tuntutan juga. Fenomen seperti ini muncul lebih luas daripada sekedar berkenaan dengan kelahiran anak saja. Banyak pasangan yang baru menikah yang terobsesi oleh berbagai bayangan sebelum pernikahan, tetapi kenyataan hidup pernikahan selanjutnya membuat mereka kecewa. Banyak orang berhasil menyelesaikan pendidikannya, mendapat pekerjaan atau kenaikan pangkat, membeli mobil baru atau apa saja, lalu terkejut karena semua itu ternyata tidak menjamin kebahagiaan.                                         

                Bagaimana pun, setiap orang mengalami fluktuasi perubahan suka-duka, sedih-gembira, naik turun sepanjang hidup, dan perasaan itu juga terdapat dalam setiap hubungan relasi, bagaimanapun idealnya di permulaan. Ada periode nyaman dan masa tidak nyaman. Kadang dirasakan perlakuan yang baik membahagiakan, dan kadang dirasakan juga perlakuan yang bagi kejam, betapapun “baiknya” atau “hebatnya” seorang pasangan atau mitra.

                Kebahagiaan bersama selalu merupakan alasan untuk hidup bersama. Namun tujuan hubungan relasi meliputi juga bangunan keseimbangan di dalam dan di sekitar diri, dan membantu penerimaan dan pupusan akan hal-hal baik dan keutuhan diri. Sesudah keindahan awal dalam hubungan Anda berlalu, upaya melepaskan diri dari ilusi (kesadaran bahwa: waaalah, ternyata tidak semua hal dalam hubungan ini membuat bahagia) niscaya membantu mengingatkan akan kebenaran dasar ini.                                       

                Dalam masa permulaan yang menggebu-gebu, jika terutama yang dipandang adalah salah satu saja (entah daya tarik, sifat-sifat positif, dan peluang untuk bahagia selamanya) – semua membawa orang pada ilusi. Gejala memandang hal-hal yang positif belaka biasa disebut “efek lensa merah-muda” dalam psikologi, “kaca mata mawar”. Namun selanjutnya, ketika suatu relasi berjalan lebih lanjut lagi, sebagian besar orang lalu melihat sisi-sisi negatif, tetapi peraliham semacam itu juga akan membawa orang pada ilusi yang lain (katakanlah suatu “ilusi biru”).                                                                 

                Kedua fase itu sama-sama mencerminkan perspektif yang tidak seimbang dan tidak bisa disebut cinta sejati. Untuk mengalami hati yang mencintai, adalah bijaksana untuk memoderasi kecenderungan berlebihan (yang menyebabkan takut kehilangan dan putus asa) dan rasa kecewa (yang menyebabkan rasa tidak percaya dan mendorong undur diri). Kita perlu belajar untuk tidak terlalu lekat dengan seseorang atau mengharapkan sesuatu yang tidak ada; kita belajar menerima dan mensyukuri diri kita sekarang ini. Mencintai apa yang ada.                                                          

                Pasang surut dan lekuk-liku emosi tidak akan hilang. Sebaliknya seperti osilasi mata kita (membesar atau menyempit), perubahan emosi itu dapat bertambah besar atau bisa menyesakkan. Karena diri pribadi kita sendirilah (dan bukan orang lain) yang dalam hidup ini dapat memungkinkan  tetap merasa gembira atau sedih, diterima atau ditolak, manis atau pahit, murah hati atau serakah, sopan atau kasar, dan seterusnya. Pribadi kita memang seperti itu  dan merasakan semua itu, karena itulah sifat-sifat pokok kita sebagai manusia : kita memerlukan kedua sisi dari kehidupan itu untuk berkembang maju.                                                   

                Pengalaman nyata lebih mengungkapkan kebenaran ketimbang ilusi dan fantasi. Akan sangat baik jika kita tidak sekedar bersikap seolah-olah hanya tinggal memesan paket suatu kehidupan emosional dan mengharapkan paket lengkap itu disampaikan kepada kita semacam pizza relasi. Akan sangat hebat jika kita siap menjelajah ke berbagai arah hasrat yang tidak terperikan dan khas pada diri pribadi manusia –sehingga hubungan relasi dengan orang lain dapat membantu kita berkembang dengan memperluas kemampuan untuk merasa, berpikir dan untuk mengalami situasi beraneka ragam. Akan sangat menakjubkan jika orang lain tidak hanya memberi kepada kita pengalaman hidup, tetapi juga membantu kita agar lebih mendalam memahaminya!                          

                Jika kita mengancang hubungan relasi dengan mengingat-mengingat semuanya itu, tentulah penghargaan kita akan banyak bertambah jadi rasa syukur. Alih-alih kecewa karena tidak bahagia, kita dapat mulai mengenali semua sudut kehidupan dan bertumbuh dari pengalaman itu, entah dalam jalinan relasi dengan seseorang dalam menjalani hari-hari, atau sendirian saja, dan apakah itu untuk masa yang panjang, ataupun hanya untuk sementara.                                                                                                                              


Tidak ada komentar:

Posting Komentar